
"Tidak papa, papa jangan khawatir soal itu! Aku yakin kalau Renata sudah menyesali perbuatannya, dia tidak mungkin berani menyakitiku lagi." Jessie mengenggam tangan papanya untuk menyakinkannya, "Kalau kita bisa memaafkan Mike kenapa juga kita tidak memberikan kesempatan untuk Renata, dia masih memiliki ayah yang harus dia jaga pa. Aku tidak setega itu menjauhkan mereka pa."
Jason menghela nafasnya panjang, dia terdiam memikirkan baik buruknya jika dia harus melepaskan Renata.
"Apa Ayah Renata menemuimu?" tanya Jason.
"Iya pa, aku benar-benar nggak tega melihat raut wajah sedihnya, dia keliatan kangen banget sama Renata pa."
Jason terdiam lagi, sebenarnya dia juga merasa iba pada Ayah Renata, karena hanya Renata yang pria itu miliki sekarang.
"Papa, tenanglah aku yakin baik-baik saja karena ada Kak James yang selalu menjagaku, apalagi ada papa yang selalu mengawasiku. Mari kita saling memaafkan pa dan membuka lembaran yang baru."
"Baiklah sayang, kalau itu kemauanmu, segera aku akan menyuruh Sam membebaskan Renata dan mengantarkannya ke apartemen ayahnya." Jason pun akhirnya menyetujui permintaan Jessie.
"Makasih banyak papa, aku tahu papaku sangat baik sekali dan luar biasa! Aku sayang papa!" Jessie memeluk papanya dan mencium pipi papanya sekilas.
"Dasar perayu ulung! Awas kalau tidak berhati-hati lagi!"
"Hehehe, siap komandan!" Jessie berbinar bahagia dan memberi hormat pada papanya.
Setelah berbincang sedikit lama, akhirnya Jessie dan James pamit pada Jason untuk kembali ke mansion mereka.
***
Saat hampir pukul 7 malam, Samuel baru sampai di apartemennya.
"Ceklek!"
Dia membuka pintu apartemennya dan melihat Renata yang tersenyum menyambutnya dan baju rumahan yang dia belikan dari balik pintu.
"Selamat datang Tuan Samuel,"
Sesaat Sam merasa terpesona dengan kecantikan Renata, tapi dengan cepat dia bersikap dingin lagi.
"Hm,"
"Sini aku bawakan tasnya! Aku sudah memasakkan makanan untukmu Tuan, dari bahan makanan yang kau belikan tadi."
Hati Sam tiba-tiba menghangat, dia merasa tengah disambut seorang istri di rumah. Tapi dia tidak memiliki keinginan untuk menjadikan Renata istrinya karena jelas Renata bukan tipenya, Sam tahu jika wanita itu tega berkhianat dibelakang James yang notabenenya seorang pria tampan dan kaya raya apalagi dirinya yang hanya seorang asisten, bisa jadi Renata akan menginjak-injak harga dirinya.
"Hm, terimakasih. Aku mandi dulu, nanti kita makan malam bersama, ada yang akan aku bicarakan padamu soal Tuan Jason."
Seketika Renata menjadi tegang mendengar nama Jason, dia takut pria paling berpengaruh itu kembali mengurungnya di markasnya.
Setelah menyelesaikan mandi dan makan malam bersama, kini Sam dan Renata duduk di sofa.
Sam terlihat tenang, menghisap rokoknya sembari mengotak-atik ponselnya juga bertelanjang dada seperti biasanya.
Sedangkan Renata lagi-lagi hanya bisa menunduk menunggu apa yang akan diucapkan oleh Samuel. Dia menunduk bukan hanya karena takut mendengar kenyataan saja tapi dia takut tidak bisa menahan diri saat melihat tubuh indah pria tampan itu. Samuel benar-benar se**sy dimatanya, dia sadar dia mulai jatuh cinta dengan pria menawan itu.
"Kenapa orang ini suka sekali memperlihatkan otot dadanya sih? Apa dia sengaja menggodaku! Ya Tuhan kenapa aku jadi nggak fokus begini, aku benar-benar ingin sekali menyerangnya lagi." gumam Renata dalam hatinya, baru kali ini dia benar-benar tertarik duluan untuk menyentuh seorang pria karena selama ini dia yang selalu dipuja-puja oleh para lelaki.
"Tadi Jessie datang ke kantor papanya, dia yang meminta sendiri agar membebaskanmu dari hukuman papanya. Jessie memilih untuk memaafkan kamu dan memberikanmu kesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik." Sam mulai membuka suaranya.
"Hah benarkah? Apa semudah itu dia memaafkanku?" tanya Renata tak percaya, tapi hatinya mulai merasa bahagia.
"Sebenarnya ayahmu yang datang ke mansion Jessie dan meminta padanya agar kamu di bebaskan dari Tuan Besar. Dan Jessie pun menyanggupi permintaan ayahmu."
"Astaga, dia benar-benar baik hati sekali, aku sudah jahat padanya, mencelakainya hingga akan merebut suaminya tapi dia dengan mudahnya memaafkanku." ucap Renata dengan mata berkaca-kaca, dia benar-benar menyesal pernah berbuat jahat pada Jessie.
"Sekarang kamu sadar kan, jika kamu dan Jessie sangat jauh berbeda, hati Jessie seperti berlian sedangkan kau.. " Sam menatap Renata sinis seolah mengejeknya.
Renata langsung menunduk melihat tatapan sinis dari Samuel.
"Iya aku sadar, aku memang gadis miskin yang berhati jahat dan tidak tahu diri." ucap Renata penuh penyesalan.
"Baguslah kalau kamu sadar! Bersiaplah aku akan mengantarkan kamu ke apartemenmu setelah ini." ucap Sam cuek.
"Bolehkah aku menginap disini semalam lagi?" tanya Renata.
"Kenapa? Bukankah kamu ingin sekali cepat bebas dari kami?" tanya Sam heran.
"Aku merasa banyak berhutang budi padamu Tuan, sebenarnya aku berharap bisa mengabdikan diriku padamu walau cuma jadi pembantu saja untuk membalas semua kebaikanmu. Tapi sayangnya aku tak bisa berada disini terlalu lama lagi, karena ayahku telah lama menungguku."
"Lupakan semua kebaikanku aku ikhlas membantumu, karena orang lain juga pasti akan melakukan hal yang sama denganku. Jadi jangan merasa terlalu terbebani."
"Tapi tetap saja aku merasa berhutang budi Tuan, lalu apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikanmu?" ucap Renata memandang Sam dengan tatapan mendamba.
"Apa ini disebut dengan penawaran? Atau kamu berharap aku bisa menyentuhmu lagi seperti malam kemarin?"
Sam mencondongkan tubuhnya ke arah Renata, Jarak wajah Sam dan Renata begitu dekat, hanya kurang 5 senti saja hidung mereka bisa saja menempel.
Sedangkan Renata menjadi salah tingkah, dia gugup saat berada semakin dekat dengan pria tampan itu. Bau pria itu begitu menggelitik di Indra penciumannya, sungguh bau yang membuatnya berg41rah dan membuatnya sangat candu.
"A.. Apapun yang kamu lakukan padaku aku bersedia tuan, asal bisa membalas hutang budiku padamu." ucap Renata yang masih gugup.
"Sayangnya aku tidak berminat lagi menyentuh wanita penggoda dan penghianat sepertimu! Kasian sekali James, benar-benar pria bodoh! Dan wanita m*rahan sepertimu jangan pernah berharap apapun dariku!" ejek Samuel.
"Degg!!
Hari Renata begitu sakit mendengar penghinaan Samuel, tapi dia tidak bisa mengelak karena semua yang dikatakan Sam memang benar.
"Ka.. Kau tahu aku mengkhianati James?"
"Aku pernah tak sengaja melihatmu keluar bersama Thomas di sebuah hotel, saat aku bertanya pada Thomas, dia sendiri yang cerita padaku jika kamu adalah pacarnya. Aku tahu Thomas telah memiliki istri karena dia adalah relasi bisnis Tuan Jason."
Sam pun pergi ke kamarnya meninggalkan Renata yang masih terpaku di tempat dia duduk.
***
Keesokan paginya, Renata bangun lebih pagi, dia bersiap-siap untuk pulang ke apartemennya.
"Tok! Tok!"
Dia mengetuk kamar Samuel dan akan membangunkan pria itu.
Tak ada jawaban dari dalam, karena sudah pasti pria itu masih terlelap tidur.
"Ceklek!"
Renata pun memberanikan diri masuk ke dalam kamar pria itu dan berniat berpamitan padanya.
"Tuan Sam," panggil Renata sembari menggoyangkan tubuh Sam perlahan.
"Hm, ada apa?" Sam menoleh dengan muka bantalnya.
"Astaga pria ini! Bangun tidur saja masih tampan." gumam Renata yang terpesona dalam hatinya.
"Aku mau pamit kembali ke apartemenku Tuan Sam,"
"Tunggu aku mandi sebentar, biar aku mengantarkanmu!"
"Baik Tuan, terimakasih."
Renata pun keluar dari kamar Samuel dan menunggunya di sofa.
Setelah Samuel menyelesaikan mandinya, dia pun keluar dan telah rapi dengan setelan jas mahalnya, karena setelah dia mengantarkan Renata dia berencana akan langsung ke kantor.
Lagi-lagi Renata terpukau, dia seolah tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pria tampan itu.
"Ayo berangkat sekarang!" ajak Samuel yang tak peduli dengan tatapan Renata.
"Ba.. Baik Tuan." Renata pun segera tersadar dari lamunannya.
***
Hanya butuh 30 menit saja akhirnya Renata dan Sam telah sampai di apartemen Tuan Joseph.
"Aku antarkan sampai sini saja." ucap Sam.
"Iya tuan, tidak apa-apa. Terimakasih sudah mengantarkanku dan terimakasih banyak atas semua kebaikanmu Tuan."
"Hm."
Sam pergi dan Renata pun masuk dan naik ke apartemennya yang ada di lantai 4.
"Ting tong! Ting tong!"
Renata membunyikan bel apartemen ayahnya.
Selang beberapa menit, pintu pun terbuka.
"Ceklek!"
"Rena sayang!"
"Ayah!"
Renata dan ayahnya pun berpelukan sembari menangis meluapkan rasa rindu mereka.
"Apakah Tuan Jason membebaskanmu sayang?" tanya Pak Joseph yang melepaskan pelukannya.
"Iya ayah, Jessie sendiri yang meminta pada papanya agar membebaskanmu,"
"Dia benar-benar wanita baik Rena, aku tidak menyangka dia menyanggupi permintaan pria tua ini. Ayo kita berterimakasih padanya sekarang!" ajak Pak Joseph.
"Baik ayah,"
Renata memesan taksi online menuju ke Mansion James bersama ayahnya.
Setelah Renata dan ayahnya sampai disana, salah satu pelayan mansion memanggilkan majikanya.
"Selamat pagi Nona Jessie," sapa Pak Joseph saat Jessie dan James datang menghampirinya.
Sedangkan Renata hanya menundukkan kepalanya, sebenarnya dia sangat malu bertemu dengan Jessie dan James tapi dia ingin menyelesaikan semuanya agar tidak ada lagi ganjalan dihatinya.
James melirik Renata sekilas.
"Selamat pagi juga Pak Joseph." Jessie tersenyum manis.
"Saya kesini ingin mengucapkan terimakasih karena anda telah membebaskan putri saya Nona."
"Tidak masalah Pak Joseph, jangan merasa sungkan!"
Tiba-tiba Renata berjalan mendekati Jessie lalu berlutut di depannya.
"Jessie, maafkan aku sudah menyakitimu dan mencelakaimu, aku benar-benar menyesal pernah berbuat buruk padamu Jess, aku telah dibutakan oleh obsesiku sendiri. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya Jessie, aku janji tidak akan pernah berbuat buruk lagi padamu maupun pada James." ucap Renata yang kini sudah berderai airmata.