
"Degg!"
Jantung Myra dan Jason terasa seperti berhenti berdetak, mereka binggung harus mengatakan sejujurnya atau tidak pada Jessie.
"Kamu yang sabar ya sayang, Allah lebih sayang pada calon buah hati kalian. Kelak jika kamu dan suamimu telah siap, yakinlah kalian akan diberikan amanah lagi oleh Allah. Terus berdoa dan berusaha ya sayang!" ucap Myra sembari mengelus kepala putrinya penuh sayang.
Dan seketika airmata Jessie jatuh tak tertahan, dia sangat sedih dan terpukul. Belum dia bisa merasakan kebahagiaan menjadi ibu hamil, tapi ternyata Sang Pemilik sudah mengambilnya kembali. Ini semua juga karena dia yang ceroboh.
"Bersabarlah sayang! Kami semua disini sangat menyayangimu," Jason mengusap airmata putri kesayangannya.
"Hiks.. Papa!"
Jessie pun memeluk dan menangis dipelukan sang papa.
Satu jam kemudian Barrack dan Shafa telah datang, dia menghampiri bangkar Jessie.
"Hai adik kesayangan kakak! Bagaimana kabarmu sayang?" tanya Shafa mengenggam tangan adik iparnya.
"Alhamdulillah sudah lebih baik kakak," jawab Jessie.
"Alhamdulillah.. syukurlah kalau begitu,"
"Mulai sekarang kamu tidak diijinkan pergi tanpa pengawalan ketat Jess! Aku juga sudah bilang pada Robert jika kamu telah mengajukan resign dari perusahaannya!" perintah Barrack dengan tegas.
"Astaga Kak Bara! Posesif kakak tuh melebihi suamiku sendiri tau nggak!" ucap Jessie dengan kesal.
"Suamimu itu benar-benar tidak becus menjaga istrinya sendiri! Kalau saja dia bukan teman baikku sudah aku pecat dia jadi adik ipar!"
"Kakak!"
"Sayang!"
"Barra!"
Seru Jessie, Myra dan Shafa bersamaan.
Sedangkan Barrack hanya memutar malas bola matanya.
"Aku masih ingin kerja kak! Aku akan bosen kalau dirumah terus!" rajuk Jessie.
"Kamu kan bisa kerja di perusahaan kita! Nggak usah kamu kerja di perusahaan orang lain, jadilah gadis yang penurut Jessie!"
"Ck! Selalu saja semaunya! Aku ini istri orang bukan gadis kecilmu lagi!" gerutu Jessie pada sang kakak.
Shafa memecah perdebatan kakak beradik itu, "Eh iya, itu kenapa suamimu ada diluar? Apa nggak disuruh masuk aja? Sepertinya dia keliatan sangat lelah," tanya Shafa dan membuat Jessie tiba-tiba menjadi tegang.
"A.. Aku belum ingin memaafkannya kakak, dia selalu menyakitiku dengan bertemu mantan pacarnya!" jujur Jessie.
"Baiklah! Kalau begitu kalian berpisah saja!" sahut Barrack.
"BARRA!" seru Shafa dan Bu Myra bersamaan.
"Ck! Kenapa lagi! Aku hanya memberikan solusi terbaik untuk mereka, aku tidak akan tega jika Jessie disakiti terus seperti itu!" gerutu Barrack.
Jessie hanya terdiam mendengar perdebatan keluarganya, dia tidak tahu harus melakukan apa setelah ini. Dia masih mencintai suaminya tapi disisi lain dia ingin pergi dari pria itu agar tidak merasakan sakit hati kembali. Entah siapa yang harus disalahkan disini atas kehilangan bayinya, suaminya atau dia sendiri.
"Sayang! Kita kan tahu dari Gery jika James tidak menginginkan wanita itu, wanita itu yang datang sendiri dan tiba-tiba memeluk James dengan posesif, sepertinya dia sudah mengetahui tentang kedatangan Jessie dan berusaha membuat hubungan mereka memburuk." ucap Shafa mengingatkan suaminya.
"Siapa yang percaya! Gery dan James itu bersekongkol! Gery kan tidak disana, bagaimana dia tahu jika kedatangan wanita bernama Renata itu tanpa diketahui James sebelumnya?!" sahut Barrack.
"Kamu itu berfikiran buruk terus sama sahabatmu! Lagipula apa kau tidak melihat kesungguhan James pada Jessie, bahkan dia tidak memperdulikan keselamatannya saat tahu Jessie diculik padahal dokter yang menanganinya mengatakan jika James masih dibawah pengawasan mereka dan belum diperbolehkan untuk beraktivitas berat."
"Dan aku rasa, sepertinya wanita bernama Renata itu dijadikan pion oleh pria yang menculik Jessie, tujuan mereka sama, sama-sama ingin memisahkan Jessie dan James. Mereka memantau James dan Jessie dari jauh dan masuk disaat keduanya lengah," tambah Shafa.
Mendengar ucapan menantunya Jason tersenyum sangat bangga, dia tahu dari Barrack jika Shafa sangat pandai menganalisa sesuatu, instingnya begitu kuat, dan kini dia telah membuktikannya sendiri. Tanpa dia menunjukkan bukti rekaman CCTV dari Mark, Shafa bisa tahu jika memang Renata terlibat penculikan ini.
"Jangan berspekulasi dulu sayang, kita kan nggak punya bukti untuk melibatkan wanita itu!"
"Tapi benar kata Shafa, Barra. Wanita bernama Renata itu terbukti terlibat, Mark meretas semua CCTV yang ada di sekitar rumah sakit itu, dan dia menemukan rekaman video Renata berbicara dengan salah satu pria yang keluar dari mobil yang digunakan untuk menculik Jessie. Mereka berbicara di depan sebuah minimarket dengan gerak-gerik yang mencurigakan." sela Jason.
"Hah? Benarkah pa?" Jessie terkejut tak menyangka.
"Hm," Jason pun mengangguk, "Mulai sekarang waspadalah saat tak sengaja bertemu wanita itu, dari wajahnya dia terlihat lembut tapi nyatanya dia sangat berbahaya dan manipulatif,"
"Baik Pa," ucap Jessie.
Setelah mereka telah lama berbincang, Barrack dan Shafa pun pamit kembali ke Indonesia lagi, karena pekerjaan keduanya begitu padat.
Sedangkan kedua orangtuanya mengatakan ingin jalan-jalan ke pusat kota, padahal itu hanyalah alasan, mereka ingin Jessie dan James berbicara dari hati ke hati dan berharap hubungan putri dan menantunya membaik lagi.
**
Jessie pun berbaring lagi setelah dia meminum obatnya, sepeninggal orangtuanya, James pun masuk ke dalam.
Dia mendekati bangkar istrinya, duduk disampingnya dan menatap istrinya yang sedang tidur dengan tatapan penuh rasa bersalah dan penyesalan.
"Kak James!" Jessie melotot kaget, dia kira James akan menungguinya di sofa tapi pria itu tiba-tiba ada dihadapannya.
"Sayang, tolong jangan menghindar dariku!" ucap James dengan tatapan sendu, sedangkan Jessie langsung membuang mukanya karena tak kuat menatap mata sang suami.
"Maafkan aku istriku, maafkan aku karena kecerobohanku kamu terluka dan kehilangan bayi kita, maaf aku tidak bisa menjagamu dan bayi kita dengan benar. Tapi percayalah aku tidak memiliki perasaan apapun pada Renata, dia yang tiba-tiba datang dan memelukku padahal aku sudah mengusirnya berkali-kali." ucap James mengenggam erat tangan istrinya.
Jessie masih terdiam, dia tahu tidak sepenuhnya ini adalah kesalahan suaminya.
"Sayang, aku mohon jangan berfikir untuk berpisah denganku, aku tidak akan bisa hidup tanpamu sayang! Aku mohon berikan aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita," James mengiba.
"Berkali-kali aku memberikan kesempatan untuk kakak, tapi kakak masih saja berhubungan dengannya." sela Jessie.
"Sayang, sumpah demi apapun aku tidak pernah menghubunginya sama sekali, dia yang selalu datang tiba-tiba dan memanipulasi keadaan. Sepertinya dia memang sengaja membuntutiku agar dia bisa mendekat lagi padaku dan membuat hubungan kita memburuk terus,"
Sontak ucapannya James membuatnya teringat dengan ucapan Shafa, kakak iparnya. Sepertinya memang benar jika Renata memang sengaja mengawasi gerak-geriknya dan sang suami.
Jessie terdiam dan James masih terus mengiba.
"Sayang, percayalah padaku!"
"Baiklah, aku akan berikan kakak satu kesempatan lagi tapi jika kakak terbukti bermain api bersama wanita lain, kakak tidak akan pernah melihatku lagi!" ancam Jessie menatap tajam kearah suaminya.
"Terimakasih sudah mau mempercayaiku lagi, sayang! Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini!"
"Cup!"
Tiba-tiba James mengecup singkat bibir istrinya dan membuat Jessie reflek mendorong dada sang suami.
"Apaan sih Kak James nih!" Jessie pura-pura kesal padahal dia sangat bahagia.
Walaupun dia masih marah pada suaminya, tapi dia sangat bersyukur kini suaminya sudah berjalan normal kembali dan rasa rindunya telah terobati saat ini.
"Sayang, aku sangat merindukanmu. Kau tahu 3 Minggu nggak ketemu rasanya seperti 3 tahun buatku." keluh James.
"Isshh gombal!" wajah Jessie bersemu merah lalu dia membuang mukanya.
"Padahal tadinya aku ingin segera pulang dan memelukmu tapi ternyata Tuhan masih menguji kekuatan cinta kita, tapi sekarang aku bersyukur kita bisa bersama kembali sayang. Aku janji nggak akan menjagamu dengan jiwa dan ragaku, aku sangat mencintaimu istriku!" James pun menciumi tangan Jessie bertubi-tubi.
Dan akhirnya hubungan keduanya pun membaik dan kembali harmonis lagi.
**
Selama beberapa hari ini Samuel dan Tomy ditugaskan oleh Jason untuk mencari wanita bernama Renata itu, Jason dibantu para anak buahnya mencari informasi mengenai gadis itu. Latar belakang dan tempat tinggal wanita itu, bagi Jason semua itu tidaklah sulit, Renata benar-benar salah memilih musuh. Kali ini Jason benar-benar tidak akan melepaskannya.
"Dasar serangga kecil! Apa dia tidak mengenalku hingga dia nekad menyakiti putri kesayanganku!" geram Jason.
"Apa kalian sudah menemukan wanita iblis itu?" tanya Jason pada Sam dan Tomy.
"Kami memang belum menemukannya Tuan Besar, karena sepertinya dia benar-benar bersembunyi dibelakang orang yang tidak bisa kita remehkan, tapi kami sudah menemukan dimana ayahnya berada." jawab Sam.
"Kami telah membawanya untuk memancing putrinya keluar dari persembunyiannya Tuan Besar," Tomy menyeringai.
"Bagus sekali kerja kalian! Selalu bisa diandalkan!" puji Jason pada keduanya.
"Terimakasih Tuan Besar,"
*
*
Sudah satu minggu Jessie dirawat secara intensif di salah satu rumah sakit swasta Singapura, suami dan mamanya selalu setia menjaganya. Bahkan Pak Ronald dan Bu Nadia orangtua James juga mengunjungi Jessie ke Singapura.
Hari ini, mereka pun kembali ke negara asal mereka karena keadaan Jessie sudah membaik dan kondisi kaki James pun juga telah dinyatakan normal kembali.
Jason menjemput putri, menantu dan istrinya untuk pulang ke negara asal mereka menggunakan Jet pribadi miliknya.
Hanya butuh waktu kurang dari dua jam saja, mereka telah sampai di tanah air mereka.
Barrack dan Shafa pun menyambut kedatangan Jessie dan keluarganya dengan bahagia.
"Selamat datang princess! Aku sangat merindukanmu!" ucap Shafa memeluk adik iparnya penuh sayang.
"Terimakasih udah menyambutku kak, aku juga merindukan kakak." Jessie tersenyum manis.
Setelah sedikit berbasa-basi, akhirnya mereka pun pergi meninggalkan bandara menuju Mansion Keluarga Hansel, karena untuk sementara Jessie dan James akan tinggal disana untuk diberikan perlindungan yang lebih ketat.
Tak disangka, saat perjalanan menuju Mansion papanya, mobil yang Jessie dan James tumpangi diberhentikan oleh sebuah mobil berwarna hitam.
"Tin! Tin!"
"Ckittt!"