MY LOVE IS MY HERO

MY LOVE IS MY HERO
Bab 25. Nasib Si Penggoda



Dua Minggu kemudian..


James dan Jessie telah kembali ke mansion mereka sendiri.


Terlihat James begitu memanjakan istrinya, dia rela bangun pagi demi memasak untuk istrinya. Semakin lama cinta James juga semakin besar pada Jessie, dia selalu menyatakan cintanya setiap hari pada istrinya sampai Jessie sendiri terkadang bosan dengan James yang berlebihan.


James juga melarang Jessie untuk bekerja kembali, dia masih trauma dengan Jessie yang pernah diculik dua kali.


Dan saat pergi Jessie kemanapun, dia selalu menemaninya walau sesibuk apapun pekerjaannya di kantor.


"Sayang, hari ini aku mau ke salon. Aku mau pergi dengan Kak Shafa, jadi jangan mengikutiku terus! Kita mau quality time berdua." ucap Jessie yang masih memakan sarapan buatan sang suami.


"Aku tetep harus ikut sayang! Aku nggak mau kamu kenapa-napa!" kekeh James.


"Astaga suamiku! Kenapa sih makin lama makin posesif parah! Melebihi Kak Barrack tau nggak!" keluh Jessie.


"Aku bukan anak kecil sayang, yang selalu dikuti trs! Lagipula kami kan bawa bodyguard dan Kak Shafa juga pandai beladiri bahkan lebih jago dari Kak James, jadi apalagi yang harus ditakutkan!"


Sedangkan James hanya mencibir mendengar istrinya meremehkannya. Dia memang tahu kemampuan beladiri Shafa jauh diatasnya, tapi tidak seharusnya Jessie mengatakan segamblang itu padanya.


"Ya sudah pergilah dengan Shafa, tapi kamu harus selalu berhati-hati! Ajaklah Shafa walau ke toilet sekalipun!"


"Sesuai keinginan anda Tuan Posesif!" Jessie memutar malas bola matanya.


Akhirnya setelah menyelesaikan sarapan mereka, James pun berangkat ke kantornya dan Jessie bersiap-siap sembari menunggu kedatangan kakak iparnya.


***


Di malam harinya, di markas utama milik Jason, terlihat Renata masih di kurung oleh Jason untuk menebus kesalahannya karena pernah bersekongkol dengan Mike.


Dia lebih kurus dan tidak terawat, dia duduk sembari menyandarkan tubuhnya di tembok yang ada di dalam penjara dengan tatapan kosong.


Dia sangat merindukan ayahnya dan menyesali semua yang pernah dia perbuat pada Jessie maupun James. Dia terus meminta maaf pada Tuhannya agar diberikan kesempatan untuk berubah menjadi orang baik.


Beberapa anak buah Jason berjaga di depan penjara sembari bermain kartu dan menenggak minuman keras mereka.


Semakin lama, permainan itu semakin membosankan bagi mereka, mereka mengumpat tak jelas untuk meluapkan kekesalan mereka.


Lalu salah satu dari mereka berinisiatif untuk mengeluarkan Renata untuk menemani mereka minum, dan rencana itu pun disambut baik oleh ketiga temannya yang lainnya.


"Ceklek!"


Salah satu dari mereka membuka kunci penjara Renata, mereka memborgol gadis itu terlebih dahulu agar Renata tidak mudah untuk kabur.


"Ada apa ini?" tanya Renata dengan binggung saat tangannya sedang diborgol.


"Diamlah cantik! Kami ingin mengajakmu bersenang-senang! Aku tahu kau bosan kan kedinginan terus disana?" ucap pria itu menatap Renata dengan tatapan 'haus'.


"Jangan macam-macam kau bre***sek!" Renata memberontak saat pria itu akan menyeretnya keluar.


"Diamlah! Aku tahu kau juga menginginkannya wanita j****ng!" ucapnya dengan kasar, dia menyeret Renata dengan paksa dan mendudukkan Renata disalah satu kursi yang ada diantara mereka dan mengikat tubuh Renata di kursi itu.


Semua pria disana memandang Renata dengan tatapan penuh minat, sehingga membuat Renata bergidik ngeri. Dia tidak bisa membayangkan jika dia harus diper**** ramai-ramai oleh pria-pria yang sedang mabuk itu.


Dia terus berdoa dalam hatinya, semoga Tuhannya melindunginya. Dia terus meminta pertolongan pada Tuhan, berharap ada seseorang yang mau menolongnya. Dia berjanji akan mengabdikan dirinya pada orang yang bersedia untuk menolongnya saat ini.


Mereka semua pun mulai memainkan permainan kartu mereka, saat salah satu dari mereka menang mereka berhak melakukan apapun pada Renata.


Awalnya Renata dicekoki minuman keras oleh mereka.


"Ohook.. Ohook.. Ohoook!"


Renata yang tidak biasa meminum alkohol pun tersedak, tenggorokannya terasa sangat panas dan matanya mulai mengeluarkan air.


Mereka yang melihat Renata tak berdaya pun tertawa terbahak-bahak, saat salah satu dari mereka mulai meraba tubuhnya dan ingin menciumnya, dengan cepat Renata menendang bagian inti pria itu dengan kencang.


"Aarrggghhhh!"


"Bre***sek! Dasar wanita j****ng! Berani-beraninya kau melukai aset berhargaku!" teriak pria itu penuh amarah, dia terseok-seok menghampiri Renata dan menjambak rambut Renata dengan kuat.


"Aarrrrghhhhh! Lepaskan bre***sek!"


Renata mengadu kesakitan.


Pria itu menampar Renata berkali-kali hingga sudut bibirnya berdarah. Dia merobek bagian atas baju Renata hingga terlihat d****mannya saja.


"Ya Tuhan inikah yang dirasakan Jessie saat dia diculik? Merasakan ketakutan yang luar biasa, seakan nyawa sudah berada diujung tanduk? Kenapa aku dulu sekejam itu, menyakiti wanita yang tak bersalah demi obsesiku? Apakah ini karma yang harus aku terima? Mati dalam keadaan yang terhina? Maafkan aku Tuhan, aku berjanji padamu jika diberikan kesempatan, aku akan berubah menjadi orang baik." gumam Renata dalam hatinya, dia menyesal perbuatannya di masa lampau.


Dengan keadaan Renata yang penuh luka dan setengah terbuka seperti itu, pria itu dengan tega mencekoki Renata dengan Alkohol lagi lalu melemparkan dua buah pil ke dalam mulut gadis itu.


"Hmmmph!"


Saat Renata akan memuntahkan pil itu si pria membekap mulut Renata dengan tangannya.


"Telan! Atau aku habisi kau!" teriak Pria itu dengan kesal.


Pil itu berhasil masuk kedalam tubuhnya.


Mereka pun menertawakan Renata tanpa rasa belas kasihan lalu melanjutkan permainan mereka.


Selang beberapa menit kemudian, tiba-tiba Renata merasakan tubuhnya panas luar biasa, perasaannya menjadi gelisah dan seolah sesuatu didalam tubuhnya seolah ingin segera dituntaskan.


Saat keempat pria itu menyadari perubahan wajah Renata yang sudah memerah, salah satu dari mereka pun mendekati Renata, dia mencoba meraba tubuhnya yang terbuka dan akan menciumnya kembali.


"Bugghhh!"


Tak disangka seseorang pria tampan, menendang pria yang akan mencium Renata dengan kuat, hingga pria itu jatuh tersungkur.


Dengan cepat Samuel melepaskan jasnya dan menutupi tubuh Renata yang terbuka.


"Tuan Samuel!"


Keempat pria itu berlutut ketakutan melihat kedatangan Samuel bersama beberapa anak buahnya.


"Dasar ba****gan! Anj****! Be****! Br*****! B***!" umpat Samuel dengan amarah yang luar biasa.


"Aku suruh kalian menjaganya bukan merusaknya! Dimana otak kalian itu! Apa perlu aku lubangi otak kalian semua!" teriak Samuel luar biasa kesal.


Dia tidak menyangka, anak buahnya tega berbuat keji pada tawanan wanita mereka. Bahkan Samuel dan Jason sendiri enggan menyakiti wanita secara langsung, itulah sebabnya mereka memilih mengurung Renata disana agar wanita itu menjadi jera dan tidak menyakiti Jessie lagi.


"Ma.. Maafkan kami Tuan Samuel, kami hanya bermain-main saja tadi, kami tidak bermaksud menyakitinya." ucap salah satu dari mereka dengan gemetaran.


"Dasar kalian tidak berguna! Anak buah seperti kalian tidak pantas berada disini!"


"Ampuni kami Tuan Samuel.. Maafkan kesalahan kami!" mereka mengiba.


"Beri pelajaran pada mereka! Jika mereka melawan habisi saja mereka!" ucap Mike pada anak buahnya.


Beberapa anak buah Samuel yang bersama tadi pun membawa keempat pria mesum itu dan memberikan mereka pelajaran.


Sementara Renata tak berkata apapun melihat semua itu, dia menangis ketakutan dengan tubuhnya yang masih terasa panas dari dalam, dia berfikir obat apa yang diberikan para b***** itu hingga memberikan efek yang luar biasa seperti itu.


Tanpa banyak bicara, Samuel menggendongnya, ada rasa iba dan bersalah atas keadaan yang dialami wanita itu. Dia tidak mungkin membawa wanita itu ke penjara lagi, karena keadaannya begitu mengenaskan. Jadi dia memutuskan untuk membawa Renata ke apartemennya.


Dia mendudukkan Renata yang masih gemetaran di mobilnya, lalu melajukan mobilnya dengan kencang ke apartemennya.


Sesaat, setelah sampai di apartemennya, Samuel membaringkan Renata di ranjangnya dan dia berencana akan tidur di luar di sofanya.


Saat Sam akan pergi mengambil kotak P3K, tiba-tiba Renata bangun dan dengan cepat memeluk Sam.


Dia menciumi pria itu dengan penuh has**t tanpa malu lagi, karena pengaruh Alkohol dan pil dosis tinggi yang dia telannya tadi.


Sam sempat menepis sentuhan Renata, tapi Renata tak membiarkannya pergi dan terus menghujaninya dengan ciuman-ciuman yang menuntut.


Renata mulai membuka kancing kemeja pria itu satu persatu.


"Hei apa yang kau lakukan! Aku bukan pria seperti itu! Kau itu murahan sekali!" umpat Sam yang mendadak ilfeel pada Renata, padahal sebelumnya dia sangat simpati dengan wanita itu.


Dia mencegah tangan Renata yang bermain-main diatas tubuhnya.


"Maaf aku Tuan Sam, tapi aku mohon bantulah aku, aku sudah tidak bisa menahannya lagi!" terlihat Renata sangat tersiksa, dia menatap Sam dengan tatapan memohon dan wajahnya semakin memerah karena terlalu kuatnya efek obat itu.


"S14l! Obat jenis apa yang mereka berikan padamu! Dasar ba**** mereka!" umpat Sam dengan kesal.


Tanpa banyak bicara lagi Samuel pun mulai balas menciumi Renata penuh dengan ha***, dia menyusuri setiap inci t**** wanita itu dengan lidahnya dan membaringkan wanita itu di ranjangnya.


Sam yang sudah lama tidak bermain-main dengan wanita pun seketika sangat rakus memperlakukan wanita itu.


Hingga tanpa sadar keduanya pun tak memakai sehelai benang pun.


"Jangan menyesal nantinya jika aku tidak bertanggungjawab atas semua yang terjadi padamu!" ucap Sam dengan dingin sebelum dia memasuki wanita itu.


Sedangkan Renata hanya pasrah dan menerima Sam dengan senang hati. Lebih baik baginya hanya disentuh satu orang saja daripada harus disentuh pria-pria mesum itu.


Lama mereka saling beradu, saling memberikan dan menerima kenikmatan duniawi, meluapkan rasa haus yang selama ini mendera dadanya. Mereka seolah menemukan sebuah oase di tengah-tengah gurun yang telah lama mereka lalui.


Hingga diakhir permainan mereka, keduanya pun akhirnya sama-sama tertidur pulas.


***


Sementara di Mansion James, terlihat Jessie sudah tertidur pulas di ranjangnya.


James yang baru keluar dari ruangan kerjanya pun hanya menggelengkan kepalanya melihat sang istri sudah tertidur pulas.


Tadinya dia berharap akan bermanja-manja bersama istrinya, tapi ekspektasinya tidak sesuai dengan kenyataannya.


Lama James membolak-balikkan badannya karena tak bisa tidur, entah kenapa tiba-tiba ha***tnya muncul tapi dia tidak berani mengganggu waktu tidur istrinya.


Hingga Jessie pun terbangun karena merasa terganggu dengan tingkah James yang tidak bisa diam.


"Ada apa sayang?" tanya Jessie yang membuka matanya sedikit.


"Ah akhirnya kamu bangun sayangku!" ucap James dengan binar bahagia.


Tanpa berkata-kata lagi James pun menciumi istrinya dengan penuh naf**.


"Ya Allah sayang, aku masih ngantuk!" keluh Jessie merasa kesal dengan serangan suaminya.


"Dosa lho sayang kalau menolak suami," ucap James yang tersenyum menyeringai tanpa rasa bersalah.


"Baiklah tukang paksa! Lakukan maumu!" ucap Jessie yang hanya bisa pasrah.


James terkekeh lalu mulai menyerang istrinya lagi.


Dan malam itu, keduanya pun juga melakukan ritual untuk pemenuhannya nafkah batin keduanya.