
"Apa yang kamu bicarakan sayang? Sudah pasti aku akan menerima kamu apa adanya! Bagaimanapun kondisimu aku akan selalu ada disisimu asal tidak ada wanita lain lagi dihidupmu," jawab Jessie dengan yakin.
"Jangan meragukanku sayang! Lagipula siapa yang akan mau dengan pria cacat sepertiku?" James merendah.
"Sudahlah sayang jangan berfikir terlalu jauh, kita berdoa saja agar kamu segera sembuh!"
"Amin Ya Robbala'laminn, terimakasih sayang!" James mengamini doa istrinya.
"Sama-sama sayang,"
Dan bibir keduanya pun bertautan dengan sangat lama dan penuh kelembutan, merasakan rasa yang manis dari masing-masing. Hingga rasa panas bercampur g41r4h, perlahan mulai menjalar ke dalam tubuh mereka.
"Kita lanjutkan di kamar sayang," ucap James dengan suara beratnya saat melepaskan tautan mereka berdua, dan Jessie hanya bisa mengangguk patuh.
Selang beberapa menit berlalu, kini mereka pun telah berada di ranjang favorit mereka dan melanjutkan ritual kenikmatan mereka yang sempat tertunda.
Malam ini adalah malam perpisahan bagi keduanya, sebelum akhirnya mereka berpisah untuk sementara waktu.
Dan diakhir kegiatan favorit mereka, James terus berucap kata cinta pada istrinya. Semakin lama, cintanya tumbuh semakin besar dan rasanya sangat berat meninggalkan wanita kesayangannya itu. Tapi dia bertekad ingin segera sembuh, agar bisa menjadi pelindung bagi istri maupun keluarganya.
***
Di tempat yang lain..
Dengan tiga orang yang sama, satu laki-laki dan dua orang wanita sedang berbicara dengan serius.
"Bagaimana rencanamu kemarin? Berhasil kah?" tanya sang pria.
"Yah.. seperti yang kau lihat! Gagal total!" ucap Renata dengan membentuk kedua tangannya dengan tanda 'X'.
"Ck! Kau benar-benar tidak bisa diandalkan NONA!" geram si pria.
"Pria menyebalkan itu sudah tidak mencintaiku, aku sudah tidak berpengaruh sama sekali padanya maupun istri bocahnya itu!" ucap Renata dengan kesal.
"Kamu kan yang sudah pacaran bertahun-tahun dengannya! Harusnya kamu bisa tahu donk kelemahan dia dimana, masa gitu aja nggak bisa!" cibir teman wanitanya.
"Kamu sendiri bagaimana? Sampai sekarang saja kamu juga nggak bisa kan membuatnya jatuh cinta padamu! Julukan si penakluk pria nggak pantas jika disematkan padamu!" balas Renata.
"Sudah-sudah jangan berdebat kalian! Aku masih membutuhkan kalian, seharusnya kita bisa saling mendukung bukan menjatuhkan!" ucap si pria memperingatkan.
Kedua wanita itu pun sama-sama kesal dan saling membuang muka.
"Kalau begitu kali ini aku yang maju, sepertinya harus aku sendiri yang turun tangan," ucap pria itu tersenyum menyeringai.
**
Pagi-pagi sekali Jessie dan James sudah bangun, Jessie membantu suaminya untuk mempersiapkan segala hal yang akan dibawa ke Singapura nantinya.
Setelah semua persiapan selesai, mereka berdua pun sarapan bersama.
"Sayang, apa Nerissa akan ikut ke Singapura?" tanya Jessie sedikit khawatir.
Dia menyalahkan dirinya sendiri, bagaimana bisa di melupakan wanita pengganggu lainnya? Dia takut jika suaminya bersama wanita lain tanpa pengawasannya, wanita itu bisa berbuat nekad pada sang suami.
"Dia udah nggak kerja disini lagi mulai hari ini sayang," jawab James.
"Eh kenapa kau memecatnya sayang?" Jessie terkejut sekaligus bahagia.
"Aku tidak memecatnya sayang, tapi kontrak kerjanya sudah berakhir. Lagipula aku kan mau ke Singapura, lalu buat apa dia masih bekerja disini sayang?"
"Aku kira kamu akan mengajaknya kesana sayang," tebak Jessie.
"Memangnya kamu mau aku dirawat seorang perawat wanita di negara orang?" goda James dan Jessie menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Aku tahu yang kamu inginkan sayang, aku tidak akan membuatmu was-was hanya karena ada wanita lain yang berada dekat denganku, aku telah menunjuk dua anak buah Fino yang terbaik untuk membantuku dan menemaniku disana." tambah James.
Mendengar ucapan suaminya, membuat Jessie menjadi sangat lega, dia tidak harus memikirkan hal-hal buruk yang berhubungan dengan wanita lain.
Beberapa menit berikutnya, Fino dan dua anak buah terbaiknya muncul dihadapan James.
"Selamat pagi Tuan Muda, Nyonya Muda," sapa Fino.
"Selamat pagi Kak Fino," jawab Jessie dengan senyuman manisnya.
"Pagi juga Fin," jawab James.
"Boss, semua persiapan sudah selesai, Jet pribadi anda juga sudah siap. Apa anda sudah siap untuk berangkat?" tanya Fino.
"Sudah, ayo kita ke bandara sekarang!" ajak James.
"Baik Boss," ucap Fino dengan patuh.
Terlihat dia menyuruh beberapa anak buahnya untuk mengangkat koper James untuk dimasukkan ke dalam mobil.
Dan mereka semua pun berangkat ke bandara.
Selama perjalanan ke bandara, James terus menggenggam tangan istrinya dan sesekali mengecup punggung tangan istrinya, seolah enggan meninggalkan wanita kesayangannya itu.
Saat mereka telah tiba di bandara, James memeluk Istrinya dan berpamitan padanya, dia seolah enggan melepaskan pelukannya begitu pula dengan Jessie.
"Kalau aku kangen nanti gimana sayang?" ucap Jessie yang masih ada dipelukan suaminya.
"Aku sih yang lebih kangen kamu sayang!" kekeh Jessie.
"Ya sudahlah kita sama-sama kangen berat, tapi saat aku nggak ada kamu jangan nakal ya sayang!" James mengingatkan.
"Mana pernah aku nakal sayang, kamu juga jangan nakal disana sayang! Aku akan selalu setia menunggu kedatanganmu kembali."
"Terimakasih sayang, aku juga akan selalu setia walaupun nggak ada kamu, aku nggak akan macam-macam. Percayalah padaku istriku sayang!"
"Iya suamiku, semoga semuanya lancar dan suamiku yang tampan ini sembuh kembali," doa Jessie.
"Amin Ya Robbala'laminn.. Terimakasih sayang! Aku berangkat ya istriku. Jaga diri baik-baik di rumah, selalu bawalah banyak pengawal saat bepergian! Aku sangat mencintaimu Jessica istriku."
"Iya sayang, akan aku lakukan semua keinginanmu! Hati-hati di jalan sayang! Aku juga sangat mencintaimu suamiku."
Rasanya Jessie ingin sekali menangis, tapi dia mencoba tahan. Dia hanya tak ingin terlihat sedih saat melepas kepergian suaminya, dia terus berdoa dalam hatinya, semoga Allah selalu melindungi sang suami dimanapun berada.
Dan akhirnya mereka pun berpisah untuk sementara waktu.
**
Satu minggu berikutnya..
Jessie dan James masih terus intens berkomunikasi, sebenarnya Jessie ingin sekali terbang ke Singapura menjenguk sang suami, tapi sayang pekerjaannya sangat banyak dan atasannya melarangnya untuk cuti sementara waktu.
James sendiri juga mengerti kondisi istrinya, dia tidak menuntut Jessie harus datang menemuinya karena Jessie sendiri juga memiliki banyak pekerjaan. Dia juga harus fokus dengan pengobatan dan terapi pada kakinya.
Hingga diakhir minggu ketiga..
Jessie baru diijinkan atasannya mengambil cuti 1 minggu untuk menjenguk suami tercintanya. Dia tidak memakai Jet pribadi milik suaminya saat akan terbang ke Singapura tapi dia memilih berangkat dengan pesawat komersil karena ingin memberikan kejutan padanya.
Sepanjang perjalanan ke Singapura, hati Jessie begitu riang gembira membayangkan akan bertemu dengan suaminya, untuk melepaskan kerinduan yang sudah banyak menumpuk di dalam hatinya.
Saat dia telah menginjakkan kakinya di Changi Airport Singapura, Jessie menghubungi Gery untuk mengetahui keberadaan suaminya.
📞"Hallo, Kak Gery! Aku udah sampai di Changi Airport, tolong kakak berikan alamat detail rumah sakit suamiku dirawat." pinta Jessie dengan wajah yang masih berbinar bahagia.
"Eh Jessie, sejak kapan kamu sampai di Singapura?" tanya Gery terkejut.
"Hehehe, baru saja kak."
"Astaga Jessie! Kenapa tidak mengabariku lebih dulu?" gerutu Gery.
"Isshh namanya juga surprise, masa harus ngabarin dulu!" sungut Jessie
"Ya kan mau ngasi surprise-nya ke James bukan ke aku, harusnya kamu hubungi aku dulu jadi anak buahku bisa stay di bandara untuk menjemput kamu! Eh memangnya kamu berangkat kesini sama siapa Jess? Bawa pengawal nggak?" tanya Gery dengan perasaan was-was.
"Aku berangkat sendirian pake pesawat komersil dan aku nggak bawa pengawal, hehehe." jawabnya tanpa rasa bersalah.
"Astaga Jessie! Kamu benar-benar membuatku dalam masalah, kau tahu jika kulitmu yang mulus itu tergores sedikit saja, bisa-bisa kepalaku dipenggal oleh Barrack!"
Gery lebih takut jika berurusan dengan Barrack daripada dengan James, Barrack terkenal berhati dingin pada rivalnya, tak kenal kata ampun dan rasa kasihan. Dan Gery sendiri tak tahu jika Barrack; sebenarnya sudah lama berubah.
"Ya Ampun Kak! Kenapa kakak jadi berlebihan begitu? Tidak ada Kak Barrack disini! Memangnya aku anak kecil, harus dijaga 24 jam, aku bisa bela diri dan menjaga diriku sendiri kak!" keluh Jessie.
"Tetap saja jika ada apa-apa denganmu aku yang disalahkan! Dan apa kamu kira bisa meremehkan penjahat disini? Sudah diam dulu disana! Biar anak buahku yang menjemputmu." perintah Gery.
"Oke Tuan posesif!"
Jessie pun mengakhiri panggilan telepon mereka.
Selang 10 menit berlalu, akhirnya anak buah Gery menghampiri Jessie yang tengah duduk di ruang tunggu.
"Selamat siang nona, saya suruhan Tuan Gery yang bertugas menjemput anda." sapa pengawal itu sembari menunduk sekilas.
"Selamat siang juga," Jessie tersenyum ramah.
"Mari saya antarkan anda ke rumah sakit nona, apa anda sudah siap?"
Jessie mengangguk, "Terimakasih, saya sudah siap. Ayo kita berangkat sekarang!"
"Baik nona,"
Pria itu mengangguk lalu menyuruh dua anak buahnya untuk mengangkat barang-barang milik Jessie ke mobil.
Selama perjalanan ke rumah sakit, hati Jessie semakin berdebar kencang. Berkali-kali dia melihat pantulan wajahnya di kaca kecil yang ada di tas selempangnya, untuk memastikan penampilannya, dia tersenyum tipis karena semuanya terlihat masih sempurna.
Kemudian dia menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk menetralkan detak jantungnya, dan menggenggam erat sebuah kado kecil yang khusus dia belikan untuk sang suami tercinta.
Saat dia telah sampai di rumah sakit, pengawal itu memberitahukan ruangan James di rawat dan mengatakan akan kembali menjemput Jessie jika Jessie membutuhkannya kembali.
Jessie pun mengangguk dan mengucapkan terimakasih pada pria itu, lalu segera pergi mencari ruangan suaminya dirawat.
Beberapa menit kemudian, dia telah menemukan ruangan suaminya, dia melihat jika pintu kamar suaminya tengah terbuka, dia pun masuk tanpa mengetuk pintu lagi, untuk membuat suaminya terkejut.
Saat dia mulai melangkahkan kakinya ke dalam, bukan suaminya yang terkejut akan kedatangannya, tapi dia yang begitu terkejut melihat pemandangan yang ada di dalam ruangan itu.
"Braaakk!"