
"Hei princess! Berhati-hatilah!" ucap seorang pria yang menarik tangan Jessie dan membawa Jessie dalam dekapannya.
Jessie sempat melihat wajah pria yang menolongnya itu, sebelum pria itu membawa ke dalam dekapannya dan dia sangat mengenali pria itu.
"Kak Gery!" seru Jessie dengan perasaan lega, dengan cepat Jessie menjauh dari dekapan pria itu, yang merupakan sahabat kakak sekaligus sahabat suaminya.
Pengendara ATV yang seorang bapak dan bocah laki-laki pun berjalan mendekati Jessie untuk memastikan keadaannya dan meminta maaf karena tak sengaja akan menabrak Jessie.
Sedangkan Jessie menerima permintaan maaf mereka, karena Jessie sendiri pun merasa bersalah, dia tidak berhati-hati.
Gery merasa kagum melihat adik sahabatnya ini, walaupun Jessie dilahirkan dari keluarga kaya raya tapi dia bukan tipe wanita yang sombong dan arogan.
James mengepalkan tangannya kuat menahan panas dihatinya, tapi apalah daya dia hanya bisa melihat dan tidak bisa melakukan apapun untuk istrinya.
"Hm! Kamu disini sendiri Jess? Lain kali berhati-hatilah Jess!"
"Hehehe iya Kak, makasih ya! Aku kesini sama Kak James,"
James yang tau jika itu sahabat segera menghampiri mereka berdua, setidaknya Jessie dipeluk sahabatnya sendiri bukan orang lain.
"Hmm sama-sama. Mana b3d3b4h itu? Aku sangat merindukannya." ungkap Gery.
"Hmm, Kak James lagi.." Jessie binggung menjawab, dia tidak mungkin mengatakan pada Gery jika suaminya sendang bersama mantan kekasihnya saat ini.
"Ada apa kau mencariku Cassanova busuk!" umpat James dengan wajah ditekuk, sedangkan Gery begitu sangat senang bertemu sahabat lamanya itu.
Gery tahu James sedang cemburu, sudah pasti karena dia telah tak sengaja menyentuh miliknya, lalu dia mendekat kan bibirnya pada telinga James dan membisikkan sesuatu.
"Jangan marah James, aku hanya memeluknya sebentar. Tapi kalau kamu menyakitinya aku bisa mengambilnya dari pelukanmu!" bisik Gery di telinganya.
"Jangan macam-macam kau bre***sek!" geram James.
Jessie hanya terdiam, dia tak mengerti pembicaraan dua sahabat itu.
Gery terkekeh penuh kemenangan, lalu dia mengernyit heran saat menyadari James yang duduk di kursi roda.
"Hei bro! Aku kangen sama kamu dan teman-teman kita yang lain!" ucap Gery antusias yang memeluk James sekilas.
"Hm, aku juga merindukan tingkah konyolmu Ger! Bagaimana, sudah berapa banyak wanita sana yang kau kencani?" cibir James.
Beberapa tahun ini Gery tinggal di Singapura untuk mengembangkan bisnis keluarganya yang ada disana.
"Aku sudah tobat dan akan menikah beberapa bulan lagi,"
"Jiaahh.. Kadal gurun bisa tobat juga ternyata," cibir James sembari terkekeh.
"S14l4n kau James!" umpat Gery.
"Eh kamu kenapa? Kenapa jadi pakai kursi roda? Macam kakek tua aja kamu!" tanya Gery penasaran.
"Biasalah, saking cintanya sih aku sama tanah air jadi aku guling-guling aja di aspal," jawab James asal, Jessie dan Gery terkekeh.
Jessie tak menyangka James bersikap konyol saat bersama sahabatnya, berbeda saat bersamanya terlihat dewasa dan kaku.
"Kalau kamu seperti ini bagaimana bisa kamu melindungi istrimu James! Wanita tidak cuma butuh uang tapi kasih sayang, rasa aman dan nyaman juga!" protes Gery.
James hanya terdiam dengan tegang, ucapan Gery menampar kesadarannya, dia kesal tapi juga membenarkan ucapan Gery. Bagaimana bisa dia melindungi istrinya jika keadaannya seperti ini. Jika bukan Gery yang mengatakan itu, pasti dia akan sangat marah dan merasa terhina tapi dia sangat tahu Gery hanya memberikan motivasi padanya agar lekas sembuh.
Jessie yang melihat perubahan wajah suaminya, menjadi takut jika James tersinggung dengan ucapan Gery, lalu dia memecah kecanggungan mereka.
"Eh ayo kita makan siang sama-sama! Kita bisa ngobrol sambil santai." ajak Jessie.
"Wahh ide bagus Jess, yuklah! Aku juga udah laper nih," ucap Gery yang akan berjalan menuju cafe.
"Eh tunggu!" seru James dan Jessie bersamaan.
Keduanya takut jika masih ada Renata disana.
"Eh ada apa? Kompak banget sih kalian!" Gery tersenyum lucu.
"Sebaiknya kita cari cafe lain aja, aku udah bosen disini. Panaslah di pantai!" ucap James beralasan.
Dia memilih tak menanggapi ucapan Gery, membicarakannya lagi saat Jessie tak bersama mereka.
"Kenapa nggak dirumah kalian aja? Aku pengennya undang Barrack dan Ken juga,"
"Wah ide bagus Kak, baiklah biar aku telepon pelayan rumah untuk menyiapkan makan siang kita ya!" ucap Jessie antusias.
Dia memang ingin segera pulang dan menangis di kamarnya, dia ingin meluapkan rasa sedih dan amarahnya untuk kejadian hari ini.
"Iya sayang, terimakasih." James mencium singkat tangan istrinya, sedangkan Jessie berpura-pura tersenyum padahal hatinya masih kesal pada suaminya.
***
📞"Bagaimana Rena? Apa kau berhasil mempengaruhinya?" tanya sang pria.
"Jangan ragukan kemampuanku bro, semua sesuai rencana. Sepertinya dia sangat marah pada suaminya dan aku yakin hubungan mereka akan semakin memburuk," ucap Renata sembari tersenyum penuh kemenangan.
"Kerja bagus! Kita bisa segera jalankan rencana berikutnya,"
"Hm, serahkan padaku!" ucap Renata kemudian menutup panggilan teleponnya.
***
Beberapa menit berlalu, akhirnya James, Jessie dan Gery telah sampai di kediaman James.
James dan Gery duduk di ruang tengah sembari menunggu kedua sahabatnya yang lain yang telah mereka hubungi tadi.
Sedangkan Jessie pamit ke kamarnya untuk mandi sejenak, untuk mengusir panas di badan dan hatinya.
Jessie segera masuk ke kamar mandinya dan berendam pada bathtub-nya, dia terus memikirkan hubungan suaminya dan sang mantan kekasih. Semakin dipikir semakin sesak dadanya, rasanya, dia ingin menyerah saat itu juga.
"Kenapa sih dia muncul lagi, apa tujuan dia? Kalau memang Kak James lebih memilih dengannya, Insyaallah aku ikhlas melepas Kak James agar dia bahagia. Aku udah terlalu lelah mengejar Kak James, semua sudah aku lakukan tapi kalau nyatanya dia tidak bisa mencintaiku buat apa aku mencintainya sendirian. Sangat menyesakkan sekali Ya Allah," gumam Jessie sembari menangis.
Setelah dia menyelesaikan mandinya, dia masih terus memikirkan suaminya tapi dia berusaha tidak menangis agar jika kakaknya datang, matanya tidak terlihat sembab, hingga dia ketiduran di ranjangnya.
Dan beberapa menit kemudian, seseorang mengetuk pintu kamar Jessie, tapi si empu tak bergeming sama sekali karena saking nyenyaknya tidur.
"Tok! Tok!"
"Jessie sayang!"
"Ceklek!"
Shafa, sang kakak ipar masuk ke dalam kamarnya dan melihat Jessie yang tengah tertidur.
"Astaghfirullah Hal'adzim.. Putri manjaku lagi tidur ternyata," Shafa tersenyum lembut lalu duduk disamping ranjang Jessie sembari membangunkan adik iparnya dengan lembut.
"Hai putri manja kakak! Bangunlah! Kakak mengunjungimu!" ucap Shafa.
Terlihat Jessie menggeliatkan tubuhnya dan membuka matanya perlahan, dia melihat wajah kakak ipar yang sangat disayanginya itu.
"Kak Shafa!" seru Jessie dengan binar bahagia, lalu dia duduk dan memeluk kakak iparnya penuh sayang dan rindu luar biasa.
Walaupun rumah mereka tidak terlalu jauh, tapi keduanya sama-sama sibuk dan jarang bertemu. Shafa yang seorang penyanyi terkenal sibuk dengan show-nya dimana-mana dan Jessie sendiri sibuk di kantor perusahaan Robert.
"Hai princessku, bagaimana kabarmu?" tanya Shafa memandang wajah sang adik ipar.
"Alhamdulillah aku baik kak," jawab Jessie yang tersenyum manis menyembunyikan kesedihannya.
"Kenapa mata kamu sedikit sembab sayang? Kamu habis menangis ya? Apa James menyakitimu?" tanya Shafa dengan nada khawatir.
"A.. aku nggak apa-apa kak, hanya liat Drama Korea yang sedih aja tadi." ucap Jessie berbohong.
Shafa tahu jika Jessie berbohong, karena Gery mengatakan padanya jika tadi dia bertemu dengannya di pantai dan menceritakan Jessie terlihat seperti orang binggung saat Gery menyelamatkan tadi. Shafa langsung tahu jika ada sesuatu yang Jessie sembunyikan walaupun James sendiri beralasan jika dia tadi masih membayar bill dan Jessie terburu-buru keluar untuk melihat pantai.
"Jangan berbohong sayang! Kau tidak bisa menyembunyikan apapun dari kakak!" Shafa menatap intens adik iparnya sehingga Jessie menjadi salah tingkah.
"Rey mana kak?" tanya Jessie mengalihkan pembicaraan mereka.
"Dia nggak ikut dia sama Papa Jason dan Mama Myra. Jangan mengalihkan pembicaraan princess! Kakak nggak suka kamu jadi tertutup begini," Shafa memperingatkan.
Jessie pun menghela nafasnya panjang dan akhirnya menceritakan segala hal yang menimpa dirinya dari awal hingga akhir.
"Ya ampun Jess! Kenapa kamu pendam sendiri? Kami benar-benar nggak tahu hidup kamu seperti ini, kami kira hubungan kamu dan James sudah membaik dan dia sudah benar-benar menerima kamu jadi istrinya. Tapi nyatanya dia tidak sedewasa yang terlihat," Shafa terkejut mendengar semua cerita adik iparnya.
"Kak please jangan ceritain ke Kak Barra, apalagi mama dan papa!" Jessie memohon.
"Aku nggak ingin mereka tahu kesedihanku kak, lagipula Kak James sudah mengatakan jika saat ini dia hanya mencintaiku dan aku juga sangat mencintainya, kami sangat bahagia, kak. Aku rasa suamiku tidak akan terpengaruh dengan keberadaan wanita bernama Renata itu," bela Jessie.
Tadinya dia sudah pasrah jika James meninggalkannya demi mengejar Renata, tapi setelah mengingat ungkapan cinta James tadi malam, Jessie akan berbicara serius lagi dengan suaminya dan memastikan semuanya agar dia tidak terluka lagi.
"Kamu tenang aja sayang, kamu selalu bisa mempercayai kakak iparmu ini." Shafa mengelus rambut Jessie penuh sayang, "Lakukan apapun yang membuatmu bahagia Jessie, karena kakak akan selalu mendukungmu dan berusaha selalu ada untukmu." Shafa tersenyum lembut pada sang adik ipar.
"Terimakasih banyak kakakku sayang!" Jessie memeluk Shafa dengan perasaan campur aduk.
"Hei! Ada apa kalian peluk-pelukan seperti itu?"
Tiba-tiba Barrack suami Shafa sekaligus kakak kandung Jessie, masuk kedalam kamar Jessie.
Dia memandang istrinya lalu bergantian ke arah adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan, sedangkan kedua wanita yang dipandangnya nampak tegang.