MY LOVE IS MY HERO

MY LOVE IS MY HERO
Bab 26. Si Dingin Tapi Baik Hati



Pagi-pagi sekali, Renata terbangun dari tidurnya. Dia hampir berteriak saat melihat dirinya tak memakai sehelai benangpun yang sedang berada di sebelah pria tak memakai apapun juga.


"Astaga! Kenapa aku kemarin seperti j****g yang tidak tahu malu? Dengan mudahnya aku meminta tidur dengannya." ucap Renata menyesali perbuatannya.


Dia jelas mengingatkan percintaan panas mereka walau dalam keadaan setengah sadar, saat bayangan malam itu terlintas dipikirannya, tubuhnya tiba-tiba meremang.


Dia segera pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya, setelah selesai dia menuju ke dapur milik Sam tanpa membangunkan pria yang sudah menyelamatkannya itu.


Terlihat Sam tak memiliki banyak bahan makanan, hanya ada Roti, telur dan beberapa sayur dan daging asap di lemari esnya.


Dan akhirnya Renata membuatkan sandwich untuk sarapan mereka.


Bau sandwich dengan isian keju, sayur, daging asap dan telur yang di sedang dipanggang itu sampai ke kamar Sam.


Sam terbangun dari tidurnya, dia mengerjapkan matanya, bau sesuatu yang enak dan gurih itu membuat perutnya tiba-tiba berbunyi.


"Krukkk! Krukkk!"


"Astaga! Enak sekali baunya, siapa yang memasak pagi-pagi begini?" gumam Sam.


Dia ingat jika semalam dia telah melewatkan makan malamnya karena menolong Renata dari beberapa anak buahnya yang tidak tahu diri.


"Ah Renata! Mana wanita itu!" tanyanya pada dirinya sendiri sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.


Dia ingat dia menyerang wanita itu dengan buas, benar-benar malam yang sangat menyenangkan baginya. Dia terlalu sibuk hingga lama tak bersentuhan dengan wanita yang biasa dia sewa, tapi sekalinya bersentuhan dia tidak ingin berhenti rasanya. Dia ingat Renata sampai tak sadarkan diri karena ulahnya.


Dan sekarang Sam yakin, jika wanita itu sedang membuat sarapan di dapurnya. Dia pun segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


***


Setelah menyelesaikan mandinya Sam memakai celana training hitamnya tanpa memakai baju, terlihat tato indah bergambar elang memenuhi sebagian dada atasnya hingga bahunya, tubuhnya tinggi besar dan atletis sehingga membuat siapapun akan terpesona melihat keindahan tubuhnya.


Sam melihat Renata memakai kemeja putihnya, terlihat kebesaran tapi benar-benar se**y dimatanya. Jika saja mereka ada hubungan khusus saat ini, mungkin saja Sam akan menyerangnya lagi, tapi Renata hanyalah musuh dan tawanan Bossnya, dia tidak memiliki alasan untuk bersikap spesial pada wanita itu.


"Eheemmm!" Sam berdehem saat akan duduk di kursi makannya.


"Ah Tuan Sam, kamu sudah bangun?" ucap Renata yang tersenyum salah tingkah.


"Hm," ucap Sam singkat, terlihat Sam tidak begitu peduli, dia sibuk mengotak-atik ponselnya sembari menghisap rokoknya.


"Maaf aku lancang menggunakan dapurmu tanpa meminta ijin," ucap Renata merasa tak enak, karena melihat wajah Sam yang datar dan dingin.


"Hm, tak masalah!"


"Ya Tuhan ini orang kaku sekali sih! Apa dia lupa, aku sudah membuatnya senang semalaman? Ah bukan.. Saling memberikan kesenangan lebih tepatnya. Dasar si dingin tapi baik hati!" gumam Renata dalam hatinya.


Wajahnya tiba-tiba merona mengingat aktivitas mereka semalam, entah kenapa hatinya tiba-tiba berdebar memikirkan Sam yang luar biasa.


Dia bukan wanita suci, dulu saat pertama melakukan hal seperti itu dia melakukannya bersama kekasih pertamanya, tapi saat bersama James yang merupakan kekasih keduanya, dia tidak berhubungan intim.


Karena James bukan tipe badboy, James tidak suka melakukan hubungan diluar batas sebelum sah menjadi pasangan suami istri.


Itu yang membuat Renata jenuh dan bosan dengan James, dan akhirnya dia berhubungan dengan Thomas dibelakang James.


Thomas adalah salah satu rekan Bossnya, mereka berhubungan satu tahun terakhir sebelum James memutuskannya, dia sangat nyaman bersama pria itu sampai sering mengabaikan James. Apalagi Thomas benar-benar memanjakannya, memberikannya materi juga memenuhi kebutuhan biologisnya.


Jadi ceritanya mengenai Thomas adalah bohong belaka, Thomas memang membiayai pengobatan ayahnya tapi itu tanpa sepengetahuan istrinya, istri Thomas sendiri juga tidak pernah menyuruh Renata mengandung anak Thomas.


Tapi saat hubungan Renata dan Thomas ketahuan istrinya, istrinya Thomas mengancam akan membunuhnya jika dia tidak meninggalkan suaminya. Itulah sebabnya Renata kembali mengejar James lagi setelah kecelakaan James itu, karena Thomas sudah tidak bisa diharapkan, bahkan dia meminta semua uang pengobatan ayahnya di kembalikan.


Dari situlah Renata menyadari jika tidak ada pria dalam hidupnya yang tulus kecuali James, dan dia terobsesi untuk memiliki James walau harus menyingkirkan Jessie.


Tapi kini dia benar-benar menyesal pernah menyakiti Jessie, dia sadar jika dia terlalu kotor untuk James yang suci, dan Jessie lah yang paling tepat berdampingan dengan James. Dia berharap masih memiliki kesempatan untuk meminta maaf pada Jessie dan James akan semua perbuatan buruknya.


Lalu tiba-tiba bau gosong menusuk ke dalam hidung Sam.


Sam menoleh ke arah Renata yang sedang melamun.


"Hei lihatlah sandwichmu!" ucap Sam memperingatkan.


"Astaga!" sontak Renata menoleh ke arah telfonnya, dia terkejut saat sandwich miliknya telah gosong satu sisi.


Setelah dia memindahkan sandwich untuk mereka di piring, Renata meletakkan kopi untuk Sam di meja.


"Ini kopimu Tuan Sam!" ucap Renata yang kemudian duduk bersama Sam di meja makan.


"Hm, terimakasih." ucap Sam masih cuek.


"Maaf aku hanya bisa membuatkan sandwich karena bahan makanan di lemari es hanya itu,"


"Nggak apa-apa, ini sudah cukup. Terimakasih sarapannya!" ucap Sam seolah tanpa beban, tapi berbeda dengan Renata.


Hatinya bahagia sekaligus berdebar mendapatkan ucapan terimakasih dari Sam.


"Hei kenapa kau makan roti gosong itu?" seru Sam yang yang mencegah Renata akan menyuapkan roti itu ke mulutnya.


Tanpa banyak bicara, Sam mengambil sandwich itu dari tangan Renata dan membuangnya ke sampah.


"Eh!"


Dia tidak habis pikir kenapa wanita itu masih memakan makanan yang tak layak dimakan itu.


"Makanlah milikku! Biar aku buat sendiri! Tidak seharusnya kamu makan makanan yang sudah tidak layak dimakan lagi!" ucap Sam dengan nada datar, walau nyatanya terselip sebuah perhatian kecil.


Hati Renata nampak berbunga-bunga mendapatkan perhatian seperti itu.


Sontak Renata dengan cepat mengambil satu slice roti yang ada di tangan Sam, dia tidak ingin merepotkan seseorang yang berkali-kali membantunya itu.


"Biar aku buat sendiri Tuan, kamu makan saja milikmu!"


"Hm,"


Sam pun kembali ke meja makannya, mengesap Kopi hitamnya dengan tenang lalu mengigit sandwich buatan Renata, perpaduan begitu enak dan pas dilidahnya.


***


Setelah mereka menyelesaikan sarapan mereka, Sam terlihat mengajak Renata bicara.


"Maaf soal semalam, kamu yang memaksaku untuk menyentuhmu! Jadi apapun yang terjadi kedepannya nanti, jangan berharap apapun padaku karena jelas aku tidak akan bertanggungjawab." ucap Sam dengan dingin.


"Aku tahu Tuan Sam, aku cukup tahu diri." Renata tersenyum masam, "Aku sangat berterimakasih padamu karena kamu sudah menyelamatkanku dari pria-pria bre***sek itu. Aku sangat berhutang budi padamu Tuan." ucap Renata dengan tulus.


"Tidak usah berterimakasih, sudah seharusnya aku menjaga tawanan dengan baik."


Renata tiba-tiba tegang, dia sadar jika dia masih menjadi tawanan Jason.


"Drrrrttt!! Drrrrttt!"


Ponsel Samuel berdering, ternyata Jason yang menghubunginya dan Renata tahu karena sempat melirik ponsel Sam.


📞"Selamat pagi Tuan Besar!" sapa Sam.


"Pagi juga Sam.. Apa kamu membawa pergi wanita licik itu?" tanya Jason tanpa basa-basi.


"Benar Tuan besar, maafkan saya, tadinya saya ingin memberitahu anda saat di kantor nanti, tapi keburu anda sudah tahu."


Renata menjadi tegang, dia benar-benar trauma kembali ke penjara itu. Dia tidak mau menjadi sasaran pria-pria mesum yang ada disana.


"Jangan terpengaruh oleh wanita licik itu Sam, kembalikan saja dia ke penjara! Dia pantas mempertanggungjawabkan perbuatannya." ucap Jason tak peduli dengan apa yang terjadi semalam pada Renata.


Memang terlihat kejam, tapi dia tidak peduli karena dia merasa putri kesayangannya juga pernah ada diposisi seperti Renata.


📞"Baik Boss, saya akan mengembalikannya ke markas."


Lalu Jason menutup sambungan telepon mereka.


"Tuan Sam, aku mohon jangan kembalikan aku kesana!" ucap Renata yang tiba-tiba berlutut di hadapan Sam sembari memegang satu tangan pria itu.


Matanya terlihat berkaca-kaca, dia benar-benar tidak ingin kembali kesana, lebih baik dia jadi pembantu Samuel seumur hidup.


Sam menarik tangannya dengan cepat dan membuang mukanya.


"Ah maaf Tuan Sam," Renata merasa tak enak karena memegang tangan Sam dengan sembarangan.


"Aku mohon bantuanmu lagi Tuan, aku rela jadi pembantumu seumur hidup asal jangan bawa aku ke tempat itu lagi." Renata mengiba.


Sam terdiam, dia benar-benar tidak bisa melihat tatapan Renata yang begitu menghipnotisnya, ada rasa iba menjalar di dadanya, dia tahu Renata pasti trauma dengan kejadian semalam.


"Aku tidak janji bisa membantumu! Mungkin untuk malam ini kamu bisa tinggal disini lagi, tapi besok aku tidak tahu! Berdoalah pada Tuhan agar Tuan Jason mau berbaik hati." ucap Sam yang kemudian bersiap akan berangkat bekerja.


"Terimakasih Tuan Sam," ucap Renata dengan wajah yang masih sedih.


Dia hanya bisa berharap pada pria itu. Kalaupun ada sela untuk kabur, Tuan Jason akan mengejarnya sampai ke ujung dunia pun, jadi dia benar-benar akan menyelesaikan semuanya agar dia bisa hidup normal kembali, walau entah harus berapa lama Tuan Jason akan mengurungnya.


***


Sementara di mansion milik James, terlihat keduanya sedang sarapan bersama.


Tapi tiba-tiba salah satu penjaga keamanannya datang.


"Selamat pagi Tuan Muda,"


"Pagi juga Pak Hari, ada apa?" tanya James.


"Ada seorang pria paruh baya ingin bertemu anda, Tuan."


"Siapa? Apa kau sudah menyakan identitasnya?" tanya James lagi.