
"Hmm! Lakukan saja." James bersikap sedatar mungkin untuk menyembunyikan rasa cemburunya.
"Baik, aku pergi dulu kak!"
"Hmm!"
"Sus tolong, jaga suamiku ya! Pastikan dia makan dan minum obat dengan tepat waktu! Nanti akan aku kirimkan beberapa bodyguard papaku untuk mengawal kalian kemanapun kalian pergi." ucap Jessie pada Nerissa.
"Anda jangan khawatir Nyonya, itu sudah tugas saya."
"Nggak perlu kirimkan bodyguard papamu! Aku sendiri punya anak-anak buah yang bisa diandalkan, jangan terlalu mengurusiku! Urus saja yang bagimu lebih penting!" ucap James tak peduli.
Dia berdiri bertumpu pada kursi rodanya, merambat ke pintu mobil, membuka pintunya lalu masuk ke mobilnya, dengan perasaan kesal luar biasa.
"Kak James tunggu! Kalau kakak tidak mengijikanku, aku tidak akan pergi," ucap Jessie merasa tak enak.
"Pergilah!" James tak peduli.
"Masuklah Suster Risa! Aku sudah lapar!" suruh James.
"Baik Tuan James,"
"Saya permisi dulu Nyonya!" Nerissa mengangguk pada Jessie lalu menutup pintu mobil James.
"Hm," Jessie balas dengan anggukan dan mobil James pun pergi dari pandangan matanya.
Sedangkan Mike dan Robert sudah berada di mobil menunggu Jessie.
Mike berfikir sejenak, mengingat perdebatan kecil dan sikap dingin James tadi. Dia baru tahu jika hubungan pernikahan Jessie dan James nyatanya tidak harmonis, apakah pernikahan mereka hanya pernikahan bisnis? Atau ada alasan lain kenapa James bersikap sedingin itu pada Jessie, padahal terlihat dari sisi Jessie, dia sangat mengkhawatirkan dan mencintai suaminya.
Robert sendiri sudah tahu cerita James dan Jessie, jadi dia tidak kaget. Dia bisa membaca sorot mata James yang cemburu, tapi pria itu terlalu gengsi untuk mengakui perasaannya. Tiba-tiba dia tersenyum lucu mengingat sorot mata cemburu dari suami sekretarisnya itu.
"Kenapa tersenyum Boss?" tanya Mike mengernyit heran.
"Nggak apa-apa, hanya teringat sesuatu yang lucu saja." jawab Robert asal.
"Boss, apa kau tahu jika Jessie dan suaminya terlihat tak harmonis?" tanya Mike penasaran.
"Itu bukan urusanmu! Urusi saja dirimu yang selalu menjadi lebah yang hinggap ke bunga satu ke bunga yang lain! Sesekali pilihlah satu wanita baik untuk menjadi pacar tetapmu!" nasehat Robert.
"Ck! Aku masih muda Boss, umurku saja sama dengan Jessie, seumuranku ini sangat suka dengan tantangan bukannya berkutat meladeni satu orang dengan segala kerepotannya! One night lebih menyenangkan Boss!" Mike menyeringai.
"Dasar Cassanova Bi4d48!" umpat Robert dan Mike hanya terkekeh.
Robert, walaupun dia adalah pria yang tampan, kaya dan dikelilingi banyak model cantik di perusahaannya, tapi dia selalu setia dengan tunangannya, seorang model yang juga bekerja di perusahaan miliknya.
"Maaf kalian jadi menunggu lama!" Jessie datang dan duduk di kursi depan disamping supir pribadi Robert.
"No problem Jess!" ucap Robert.
"Baiklah pak, ayo jalan! Kita ke rumah sakit JK medical center ya!" ucap Jessie pada sang supir.
"Nggak perlu Jess! Kita kembali ke perusahaan aja pak!" sela Mike.
Supir Robert menoleh pada Mike, lalu menoleh lagi pada Jessie, dia binggung siapa yang harus dia ikuti.
"Tapi Kak Mike! Aku nggak ingin lukamu semakin parah dan terkena infeksi!" kekeh Jessie.
"Kalau kau bersikeras aku naik taksi aja!" Mike terlihat akan membuka pintu mobil Robert dan Jessie mencegahnya.
"Eh Kak Mike, tunggu! Baiklah kita kembali ke kantor,"
Akhirnya Jessie pun mengalah.
"Sudahlah jangan terlalu mengkhawatirkan si Buaya Jess, nanti dia GR!" cibir Robert, Mike hanya bisa berdecak kesal, "Kau bisa merawat lukanya saat di kantor nanti!" Robert menengahi mereka.
"Baik Boss!"
Akhirnya mereka pun kembali ke kantor lagi.
***
Di Mansion James..
Saat malam tiba, setelah menyelesaikan makan malam mereka James memutuskan ke ruang kerjanya dan tak memperdulikan keberadaan Jessie, dia hanya diam dan malas untuk membuka suaranya. Dia masih kesal dan masih cemburu dengan kejadian tadi siang.
Sedangkan Jessie juga diam, dia sendiri kesal dengan James yang selalu bersikap cuek dan semaunya padanya. Tidak berusaha menanyakan keadaanya setelah preman-preman itu memukulinya demi membela James, bahkan memar dan sobekan di sudut bibirnya pun masih terasa perih. Dan lebih perihnya lagi ucapan James tadi siang sangat melukai hatinya, menganggap dirinya seperti wanita yang suka berdekatan dengan semua laki-laki.
Jessie membalikkan tubuhnya di ranjang dia tidak bisa memejamkan matanya walaupun dia merasa sangat ngantuk dan capek. dia kesal tapi dia sangat merindukan suaminya. Saat waktu telah menunjukkan pukul 11 malam, akhirnya Jessie menyusul James di ruang kerjanya.
James yang duduk dengan pandangan kosongnya, menjadi terkejut karena Jessie tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Kak James!"
"Jess!" panggil keduanya bersamaan.
"Duduklah, aku ingin bicara!" pinta James.
Dia menyuruh Jessie duduk di sofa di ruangan kerja itu.
"Aku juga ingin bicara kak!"
"Hm!" James mengangguk.
Kini Jessie telah duduk di sofa, dan James menggerakkan kursi rodanya agar lebih dekat dengan tempat Jessie duduk.
Keduanya tiba-tiba terdiam, memikirkan segala yang berputar di otak mereka.
"Aku sudah pikirkan, soal hubungan pernikahan ini." ucap James mengawali perbincangan mereka.
Jessie merasa was-was, dia takut jika James tiba-tiba meminta perpisahan.
"Aku akan membebaskan kamu memilih apapun yang kamu inginkan." ucap James.
"Maksud Kak James apa? Jika Kak James melarang aku pergi aku tidak akan pergi tapi asal Kak James tau, aku bukan seperti wanita yang Kak James tuduhkan!" ucap Jessie menahan rasa kecewanya.
"Bukan itu maksudku, ini bukan tentangmu ini tentang aku sendiri. Dan soal ucapanku tadi siang aku minta maaf, aku tak sengaja mengucapkan itu."
"Hah! Tak sengaja?" Jessie tersenyum masam, "Aku benar-benar sakit hati dengan ucapan kakak," jujur Jessie.
"Aku minta maaf Jess." ucap James dengan nada menyesal.
Jessie hanya terdiam sembari menghirup udara banyak-banyak, laki-laki itu begitu mengesalkan tapi kenapa dia secinta itu pada James. Cinta monyet dan pahlawan masa kecilnya.
"Tempo hari kamu bilang akan kembali ke mansion keluargamu dan ingin berpisah denganku. Jadi aku akan menerima semua keputusanmu,"
"Apa!! Jadi Kak James akan membuangku?! Kak James ingin menceraikanku!" seru Jessie.
"Haissh! Bukan begitu Jessie, aku tak pernah berniat membuangmu atau menceraikanmu, aku hanya ingin kamu menikmati hidup kamu dan bahagia."
"Apa Kak James tahu apa kebahagiaanku?" tanya Jessie dan James menggeleng pelan, tanda dia tak mengerti.
"Kebahagiaanku hanyalah bersama kakak!"
Hati James berdebar ucapan Jessie.
"Walaupun selama ini kakak tak menganggapku dan tak mencintaiku, tapi aku bahagia berada disisimu kak, karena aku yakin suatu saat perjuanganku tidak akan sia-sia. Sekuat tenaga aku akan berusaha untuk mendapatkan hati Kak James,"
James semakin kalut dan merasa bersalah, dia tahu, dia sudah banyak berhutang nyawa pada istrinya, dua kali Jessie mendonorkan darah untuknya dan bahkan tadi siang wanita yang dijulukinya 'wanita manja dan kekanak-kanakan' itu, menjelma menjadi wanita kuat dan menyelamatkannya lagi.
"A.. Aku tidak pantas untukmu Jess, kamu berhak bahagia dan mendapatkan pria yang lebih baik, bukan pria yang lumpuh dan tak berguna sepertiku ini." James sadar diri.
Jessie mencoba mencerna ucapan James, dia tak percaya James tiba-tiba merendahkan dirinya seperti itu.
"Aku tidak pantas bersanding dengan wanita cantik dan sempurna sepertimu, aku bahkan tidak bisa melindungimu dari para penjahat itu, aku benar-benar pria yang tak berguna. Jadi apapun keputusanmu akan pernikahan ini, aku akan ikhlas menerimanya."
Jessie masih binggung, James yang terbiasa meremehkannya kini mengakui kecantikan dan malah menyebutnya 'wanita sempurna'.
"Aku tahu jika kamu telah menyelamatkanku tiga kali, dua kali kamu mendonorkan darahmu untukku, aku banyak berhutang nyawa padamu Jess. Terimakasih banyak, walau kata terimakasih saja tidak cukup untuk membalas segala pengorbanan kamu. Aku berjanji, mulai saat ini akan memperlakukanmu dengan baik dan selalu ada saat kamu butuh bantuanmu." ucap James tulus.
"Kak James tahu jika kecelakaan yang terjadi beberapa tahun lalu, aku yang mendonorkan darahku buat kakak?" tanya Jessie tak menyangka.
"Iya aku baru menyadari saat aku kecelakaan kemarin, suara kamu begitu familiar di telingaku, suara wanita yang selama ini aku cari. Bidadari sang penyelamatku." ucap James menatap Jessie dengan lembut dan Jessie wajah Jessie merona malu bercampur bahagia.
"Kak James mencariku selama ini?" tanya Jessie tak menyangka dan James pun mengangguk.
"Bagaimana Kak James bisa seyakin itu jika yang menyelamatkan kakak adalah aku, apalagi yang Kak James tahu hanya suaraku aja?"
"Yang membuatku yakin, ada acara donor darah dihari aku kecelakaan motor waktu itu, dan nama sekolah kamu terdaftar sebagai pendonor darah pada hari itu. Apalagi darah kita adalah jenis darah yang langka, lalu siapa lagi yang menolongku jika bukan kamu? Tapi yang membuatku heran, kenapa kamu tidak memberikan identitasmu saat mereka melakukan pemeriksaan darah padamu? Kamu malah memberikan nama tengahmu 'aira' tanpa nama besar keluargamu. Apa sebenarnya kamu tahu dari awal jika yang kamu selamatkan adalah aku?" James memberondong pertanyaan pada Jessica untuk menuntaskan rasa penasarannya.
"Waktu itu aku tidak tahu jika itu Kak James, aku hanya merasa harus membantu seseorang yang sedang membutuhkan saja, apalagi golongan kita jenis golongan darah yang langka. Aku baru tahu jika yang aku tolong itu Kak James saat Mama Nadia menceritakan tentang kecelakaan motor itu, aku terkejut dan tidak menyangka. Tapi aku bersyukur bisa menyelamatkan pria yang aku cintai," ucap Jessie tersenyum manis, dia tidak ragu mengucapkan kata cinta pada suaminya.
"Terimakasih banyak Jessie!" James mengenggam tangan Jessie dengan kedua tangannya.
"Sama-sama Kak! Dan soal identitas, aku juga tidak harus memberikan lengkap karena aku memang ikhlas menolong bukan untuk tujuan lain."
"Kamu memang wanita berhati baik Jess, aku kagum padamu. Sungguh beruntung seseorang yang memilikimu dan dicintai olehmu," James mengelus pipi Jessie dengan lembut.