MY LOVE IS MY HERO

MY LOVE IS MY HERO
Bab 20. Marah



Selang 45 menit berlalu, bertepatan dengan Myra dan James datang, akhirnya dokter pun keluar dari ruang UGD.


"Bagiamana keadaan adik saya dok?" tanya Barrack dengan panik.


Semua pun ikut mendekat ke arah dokter wanita itu.


"Maaf jika saya harus mengucapkan berita buruk ini, Nona Jessica telah mengalami keguguran karena benturan benda keras pada tubuhnya,"


"Astaghfirullah Hal'adzim.." seru semua bersamaan.


Mereka sangat terkejut mengetahui jika Jessie ternyata sedang hamil dan saat ini malah kehilangan bayinya.


"Istri saya hamil dok?" tanya James dengan tubuh gemetar dan wajah putus asanya.


"Iya, Tuan. Apa anda tidak tahu?" tanya dokter itu dan James menggeleng pelan.


"Kehamilan Nona Jessie memasuki usia 6 Minggu, tapi sayangnya kalian harus kehilangan bayi kalian." ucap dokter itu dan tiba-tiba membuat dada James menjadi susah untuk bernafas.


"Tapi anda jangan khawatir, rahim nona tidak bermasalah jadi kemungkinan hamil kembali sangat besar. Kondisi nona juga sudah mulai stabil, hanya tinggal pemulihan saja untuk beberapa hari kedepan. Dan silahkan jika ingin masuk tapi kalian harus bergantian satu-satu!"


James limbung dan menyandarkan tubuhnya ke tembok, kenyataan pahit itu terlalu mendadak baginya.


"Baik dokter, terimakasih banyak." ucap Myra pada sang dokter.


Myra pun masuk kedalam ruangan putrinya dirawat, dia pun menangis disana di samping putrinya yang tengah terbaring lemah dan pucat.


Dan semua yang di luar pun mendekat ke arah kaca dan melihat Jessie dari arah luar.


Semua bersedih melihat keadaan wanita kesayangan mereka yang terbiasanya manja dan ceria kini terbaring tak berdaya, sungguh begitu sakit, hati mereka.


James merasa sangat bersalah, lagi-lagi tidak bisa melindungi istrinya dengan baik, dia binggung bagaimana dia sanggup mengatakan pada istrinya saat dia tersadar nanti, jika mereka telah kehilangan bayi mereka.


Tiba-tiba Barrack mendekat pada James, dia mencengkeram baju James lalu melayangkan bogem mentah padanya.


"Bugghhh!"


"BARRA! Hentikan!" teriak sang ayah.


Sudut bibir James berdarah dan dia pasrah jika Barrack memukulinya, agar rasa bersalahnya sedikit berkurang.


"Apa yang kau lakukan Barra! Semua terpukul dengan keadaan ini, jangan terus menyalahkannya!" bela Jason.


Barrack tak begitu mengindahkan ucapan papanya, dia masih terdiam dengan tangan yang masih mencengkeram baju James, dia berusaha menekan segala amarahnya agar tidak memukul James dengan brutal.


"Aku sudah memperingatkan kamu, JAMES! Jika kamu tidak mencintai adikku kembalikan dia padaku baik-baik! Jangan pernah menyakitinya atau aku sendiri yang akan menghabisimu! Mulai saat ini tinggalkan Jessie!" geram Barrack.


"Maafkan aku Barra! Aku tidak bermaksud menyakiti istriku, ini hanyalah salah paham. Aku sudah mencintainya sebelum kejadian ini terjadi dan aku tidak akan pernah meninggalkan istriku." jujur James.


"Jangan keras kepala kau James!" Barrack menekan James ke tembok.


"Barra jangan mengancamnya! Dia sudah mengatakan sejujurnya jadi sudah seharusnya kita memberinya kesempatan! Lagipula kejadian naas ini bukan sepenuhnya salah James, tapi yang jelas penjahat itu adalah salah satu musuh dari keluarga kita. Jadi semua ini adalah salah kita Barra!" Jason mengingatkan


Dan Barrack pun melepaskan cengkeramannya dari James.


"S14l4n! Akan aku habisi mereka yang sudah membuat adikku kehilangan bayinya!" umpat Barrack dengan kemarahan luar biasa.


"Bughh! Bughh!"


Dia pun menghantamkan tangannya pada tembok rumah sakit hingga jari-jarinya memerah.


"Sayang, kendalikan emosimu!" Shafa mendekati suaminya dan memegang punggung suaminya dengan lembut.


Gery pun menghampirinya dan berusaha menenangkan sahabatnya.


"Ayo kita ngopi dulu di luar Barra! Agar hatimu sedikit bisa tenang!" Gery merangkul bahu Barrack dan menariknya pergi dari sana.


Setelah beberapa jam berlalu, Jessie telah di pindahkan ke ruang perawatan.


James terus berada di samping istrinya dan tidak mau beranjak sama sekali, begitu pula dengan Myra sang ibu.


Barrack dan Shafa memutuskan tidur di hotel yang dekat dengan rumah sakit, menunggu hingga Jessie tersadar dan memastikan semuanya baik-baik saja sebelum mereka kembali ke negara asal mereka.


Sedangkan Jason terus sibuk dengan ponsel dan laptopnya, dia terus mencari informasi tentang siapa musuhnya yang berani mencelakai putri tercintanya.


"Beristirahatlah sebentar sayang! Ini sudah larut malam, jangan sampai kau sakit juga, kamu harus kuat demi putrimu!" ucap Jason berkata lembut pada istrinya.


"Tapi kalau Jessie bangun dan mencariku gimana pa? Aku disini saja aku nggak apa-apa!" tolak Myra.


"Kan sudah ada suaminya yang menjaganya, ma. Kalian bisa bergantian menjaganya nanti,"


"Benar kata papa, ma. Biar aku yang menjaga Jessie, mama istirahat saja. Jika Jessie bangun nanti aku akan membangunkan mama," ucap James pada sang mama mertua.


Myra pun akhirnya mengalah dan tidur di ranjang khusus untuk penunggu pasien yang berada tak jauh dari ranjang Jessie.


**


"Dor! Dor! Dor!"


"Dasar tidak ada yang becus kalian! Bagaimana bisa tawanan kita bisa kabur? Kalian benar-benar tidak bisa diandalkan!" geramnya.


Kemudian terdengar ponselnya berbunyi.


"Drrttt.. Drrttt!"


"Iya hallo,"


"Bagaimana kau ini? Kenapa tawanan bisa lepas? Aku membayarmu mahal untuk menangkapnya tapi kamu tak becus menjaganya! Kembalikan uangku sekarang!" geram pria itu dari seberang telepon.


"Aku tidak akan mengembalikannya, itu sudah menjadi resikomu karena telah membayar jasaku! Apa kau tahu gara-gara menculik satu orang saja, aku banyak kehilangan anak buahku dan uangmu itu tidak sebanding dengan kerugian yang aku dapat!" ketua gengster itu balik memarahinya.


"Dasar bre****sek! Tapi dalam perjanjian kita kau akan mengembalikan semuanya jika tidak berhasil! Jangan membodohiku kau!" teriak pria itu.


"Kau sendiri tidak mengatakan jika target adalah bagian dari salah satu orang yang berpengaruh disini! Aku banyak merugi karena kau tidak memberikan informasi yang akurat! Kau itu yang bodoh, kau tidak mengenal siapa lawanmu! Jadi kau tanggung sendiri resikonya!"


"Tit!"


Ketua gengster itu mematikan sambungan teleponnya sepihak.


"Bre***sek! Dasar tidak becus!" teriak sang pria dengan kesal.


"Kan sudah aku peringatkan, brother! Langsung suruh habisi saja! Kenapa harus menunggu? Kesempatan kita tidak datang 2 kali kau tau! Sekarang mereka akan lebih waspada menjaga bocah manja itu dan kita pun akan kesulitan menangkapnya lagi!" ucap Renata pada pria itu.


"Kau tahu pekerjaanku banyak, aku baru bisa terbang kesini setelah semua selesai dan aku hanya ingin menghabisi wanita itu dengan tanganku sendiri bukan tangan orang lain! Jadi berhentilah mengguruiku! Aku akan lakukan lagi semampuku walau harus bertaruh nyawa sekalipun!" ucap pria itu dengan kilatan mata penuh dendam.


**


Keesokan paginya Jessie pun terbangun dari tidur panjangnya. Dia mengerjapkan matanya lalu perlahan menyapukan pandangan ke setiap sudut ruangan. Dia melihat sang suami tertidur di samping bangkarnya sembari memegang tangannya, lalu melihat sang mama yang tidur di ranjang yang lain dan sang papa yang tertidur di sofa.


Ada rasa syukur dan bahagia menyeruak di hatinya, dia telah selamat dan berada dikeliling orang-orang yang dia sangat sayangi.


Dia masih sangat marah pada suaminya, sebenarnya dia masih tidak ingin bertemu suaminya, mengingat Renata yang memeluk suaminya dengan posesif membuat dadanya terbakar kembali.


Saat dia mulai menggerakkan tubuhnya, tiba-tiba dia merasakan nyeri pada inti tubuhnya.


"Akhh!" rintih Jessie, dia baru mengingat jika dia telah mengalami pendarahan.


"Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku mengalami pendarahan? Apa aku hamil sebelumnya?" gumam Jessie dalam hati.


Saat James mendengar rintihan Jessie, seketika dia terbangun dari tidurnya.


"Sayang! Bagaimana keadaanmu? Mana yang sakit?" tanya James dengan raut wajah yang panik lalu menggenggam erat tangan istrinya.


Papa Jason dan Mama Myra pun ikut terbangun lalu mendekat ke arah putrinya.


"Aku tidak apa-apa," Jessie melepaskan tangan James dari tangannya.


"Sayang, maafkan aku! Aku.."


"Aku mohon tinggalkan aku Kak James, aku belum ingin melihatmu!" ucap Jessie tanpa memandang wajah suaminya.


"Baiklah sayang, aku akan tunggu di luar sampai kamu siap bertemu denganku lagi,"


James pun mengalah agar tidak ada perdebatan yang tidak penting diantara mereka, dia tahu Jessie hanya butuh kedua orangtuanya saat ini.


Papa Jessie menepuk bahu menantunya sekilas seolah memberikan kode jika dia harus lebih bersabar dan James pun mengangguk lalu keluar dari ruangan Jessie dirawat.


"Jessie sayang, bagaimana keadaanmu nak?" tanya mamanya.


"Alhamdulillah udah lebih baik ma, aku lapar sekali ma, mereka tak memberiku makan kemarin." keluh Jessie.


"Ya ampun, kasian sekali putri mama! Biar mama ambilkan makananmu ya sayang," ucap Myra dan Jessie pun mengangguk.


"Mana yang masih sakit Jess? Maafkan papa terlambat menyelamatkanmu sayang, maafkan semua gara-gara papa kamu seperti ini!" Jason mengenggam erat tangan putrinya.


"Hanya sakit sedikit saja pa, jangan minta maaf terus papa! Jessie sendiri yang ceroboh. Jessie menolak untuk dikawal sehingga harus menyusahkan kalian, maafkan Jessie pa! Jessie akan lebih hati-hati lagi,"


Jason pun mengangguk, "Tidak sayang, kamu tidak menyusahkan papa sama sekali. Kamu masih tanggungjawab kami nak, kami sangat menyayangimu." ucap Jason memandang sendu putrinya.


Lalu dia terdiam karena binggung apa harus menceritakan keadaan yang sebenarnya pada putrinya atau tidak. Dia takut Jessie semakin shock dan akan berpengaruh pada kondisi fisik maupun psikisnya.


Mama Myra pun datang dengan membawa nampan yang berisi makanan dan minuman bergizi untuk Jessie lalu mulai menyuapinya.


"Mama, semalam aku mengalami pendarahan dan rasanya begitu sakit sekali. Apa yang terjadi sebenarnya padaku ma? Apa aku hamil sebelumnya?" tanya Jessie pada sang mama disela aktivitas makannya.