My Lifestyle

My Lifestyle
Without you Dad(Tasya)



Masih dalam suasana duka Tasya dan mama masih terkadang bersedih karna kehilangan orang tersayang mereka. Ya papa Tasya adalah orang yang paling sayang dengan keluarganya sesibuk apa dia akan selalu menempatkan waktu untuk keluarga. Sebelum meninggal papa James merencanakan untuk liburan di Lombok dengan keluarga. Tetapi Tuhan lebih sayang dengannya sehingga dipanggil pulang lebih dahulu.


"Papa aku tahu papa sudah bahagia disana sekarang waktunya aku dan mama bahagia disini. Terimakasih juga papa sudah membuat kedua orang tua Daniel untuk percaya kepada aku sebagai calon pendamping hidupnya Daniel. Terimakasih papa sudah memberikan kebahagiaan kepada kami selama ini. I love you Daddy." seru Tasya di depan makam papanya.


Saat ini Tasya menjenguk makam papa James bersama Daniel untuk mendoakan papa James dan merawat makamnya. Setelah selesai disana Daniel dan Tasya hendak pergi menuju kafe karena sekarang adalah hari Minggu jadi tidak ada kegiatan sama sekali. Selama perjalanan mereka berdua hanya diam karena Tasya masih bersedih.


"Sayang sudahlah jangan bersedih terus. Ada aku disini yang akan membahagiakan kamu selamanya. Senyum dong jangan murung." kata Daniel memecah keheningan selama perjalanan. Tasya tidak menjawab tetapi hanya tersenyum kepada Daniel.


Tasya POV


"Daniel paling bisa membuatku tersenyum dalam kondisi seperti ini, semoga aku bahagia bersama Daniel." batinku.


Kami berduapun sudah sampai di kafe dan langsung menuju meja setelah memarkirkan mobil dahulu. Setelah itu kami langsung memesan makanan dan menunggunya sambil bercanda melupakan kesedihan.


"Tasya..." sapa seseorang dari belakang mengejutkan aku.


"Kak Jerry. Sedang apa kakak disini?" tanyaku saat melihat siapa yang menyapaku tadi dan langsung memeluknya dan tidak sadar ada Daniel didepanku saat ini.


"Kakak ada rapat penting sama klien disini. Kakak turut berdukacita ya atas meninggalnya papa James. Kamu harus kuat kan sudah ada tunangan kamu yang menjagamu." jawab kak Jerry dengan melihat Daniel yang seperti marah.


"Sayang jangan cemburu kak Jerry ini saudara ku yang ada di Berlin. Itu kenapa kemarin pas pertunangan kita kemarin dirinya tidak hadir." jelasku ke Daniel supaya tidak marah.


"Maaf kak, aku sudah cemburu terlebih dahulu sebelum tahu siapa kakak." kata Daniel dengan sedikit menurunkan egonya dengan meminta maaf.


"Iya gak papa kok Dan. Wajar kalau cemburu itu namanya kamu memang cinta sama adikku yang nakal ini." kata kak Jerry menggodaku.


"Apa sih kak? Tasya udah gak nakal ya sekarang." jawabku kesal sedangkan Daniel menahan tawa melihat kedekatan ku dengan kak Jerry.


"Ya sudah kakak pulang dulu ya. Kalian hati hati kalau pulang nanti. Niel Kakak titip adik kakak satu ini yang nakal." seru kak Jerry masih menggodaku saat mau pergi.


"Apa sih..." ucapan ku terpotong oleh Daniel. "Iya kak. Kakak tenang aja sama aku pasti aman Tasya." balas Daniel. Setelah itu kak Jerry pun pergi meninggalkan kami berdua.


"Iya sayang kak Jerry satu satunya kakakku dan dia perhatian sama aku sejak dulu. Itu kenapa aku bisa dekat dengan kak Jerry." balasku ke Daniel.


"Bisa kulihat dari komunikasi kalian berdua dan keakraban kalian." balas Daniel lagi.


"Ya mau bagaimana lagi yang. Aku anak tunggal, papa juga anak tunggal hanya dari mama saja aku punya kakak." balasku.


Kami berduapun memakan pesanan kami dengan diam tidak ada perbincangan lagi karena kami berdua tidak suka makan dan berbicara. Setelah selesai makan kami masih berdiam di kafe itu untuk mengisi waktu senggang. Kami berdua juga membahas masalah pernikahan kami berdua dan kami berencana menikah setelah Dela dan Jose menikah.


"Sayang apa tidak sebaiknya kita menikah setelah lulus saja yang?" tanya Daniel.


"Tidak sayang aku tidak mau terlalu lama pernikahan kita aku takut terjadi seperti papa. Aku tidak mau sampai terjadi apa apa diantara kita nantinya sayang. Kalau kita menikah secepatnya kan kita bisa saling melindungi." jawabku sedih kembali karena mengingat janji papa sebelum meninggal dan itulah alasan kenapa aku ingin cepat menikah.


"Ya sudah kalau kamu inginnya seperti itu. Aku hanya bisa menuruti keinginan kamu sayang." jawab Daniel dengan lembut.


"Terimakasih sayang kamu memang orang yang tepat disampingku dan orang yang mengerti keinginan aku." jawabku dengan senyum yang kembali muncul setelah kesedihan itu datang.


Kami berduapun memutuskan untuk pulang kerumah dan beristirahat lebih dahulu karena hari ini hari yang melelahkan. Daniel langsung berpamitan untuk pulang dan tidak mau mampir ke rumah terlebih dahulu. Saat aku memasuki rumah aku melihat mama sudah lebih bersemangat sekarang dan saat ini sedang memasak kue kesukaanku.


"Papa Tasya janji akan membuat mama selalu bahagia papa tenang saja di surga. Tasya dan mama akan selalu bahagia disini dan akan menjalani keseharian kami tanpamu dengan kondisi bahagia. I love you papa." ucapku dalam hati dengan menyaksikan mama sedang memasak.


❤️❤️❤️***TBC❤️❤️❤️


❤️❤️❤️Thank you so much reder setiaku yang sudah mau menunggu update terbaru ku. Gimana ceritanya bagus gak yang ini, komentar saja dan jangan lupa like dan rate bintang 5 ya guys kalau ada sekalian vote guys. ❤️❤️❤️


❤️❤️❤️Love you reader setiaku ❤️❤️❤️


❤️❤️❤️Kyoshiro❤️❤️❤️***