My Lecturer is Husband

My Lecturer is Husband
Bab 7



Usai melaksanakan semua prosesi akad, tukar cincin dan sungkeman, Keyla dan Dimas di perintahkan untuk istirahat terlebih dahulu sebelum melanjut kan pada acara resepsi yang akan di selenggarakan malam nanti. Resepsi akan di gelar di salah satu hotel milik keluarga Bahtiar sesuai kesepakatan para tetua.


Dimas dan Keyla kini tengah berada didalam kamar milik Keyla, terlihat Keyla mencoba untuk melepaskan segala atribut yang melekat di kepalanya namun ia sedikit kesusahan, Aduh ini kenapa susah dibuka sih, perasaan mbak nya tadi pas masang mahkota ini enteng-enteng saja kok pas aku yang buka malah susah di lepas ya.


Dimas jadi gemas sendiri melihat istrinya, padahalkan ada dirinya di situ kenapa tidak meminta bantunya saja, pikirnya.


Dimas pun mendekati Keyla yang duduk di depan meja rias berdiri menjulang di belakang Keyla menghadap cermin.


"Kalau susah di lepas minta bantuan, kan ada aku disini." Dengan telaten Dimas membantu istrinya melepas mahkota itu lalu meletakkannya di meja rias. Aktifitas Dimas tak lepas dari pandangan istrinya yang melihat dari pantulan cermin di depan mereka. Tak lama tatapan mereka bertemu cukup lama, sampai Keyla tersadar lalu mengalihkan pandangannya dengan pipi bersemu merah karena malu.


"Mandilah terlebih dahulu, aku mau ketempat ayah dulu." Dimas beranjak pergi meninggalkan Keyla sendiri.


"Huhf,, Aaaa pipi kok kamu malah jadi merah sih padahal kan tadi cuman tatap-tatapan doang." Merutuki dirinya yang gampang baper hanya karena di tatap oleh suaminya.


Diruang keluarga sudah ramai berkumpul keluarga besar Keyla dan juga keluarga Dimas, tapi sebagian keluarga Dimas tengah mempersiapkan tempat resepsi di hotel.


Dimas menghampiri ayahnya lalu duduk disampingnya, "Bunda dimana yah?" menanyai keberadaan ibunya karena tak melihat wanita itu ketika ia turun kebawah.


"Tadi kembali ke rumah sama adik kamu, katanya ada yang mau diambil."


Mendengar itu Dimas hanya mengangguk paham.


"Keyla dimana Dim?" Sekarang giliran Abah Rahman yang menanyai keberadaan anaknya pada menantunya itu.


"Ada Bah di kamar, kalau gitu Dimas ke kamar dulu." Pamit Dimas, mungkin sekarang istrinya itu telah selesai membersihkan diri makanya dia ingin kembali lagi ke kamar mereka untuk membersihkan diri juga.


Ketika membuka pintu kamar, pemandangan yang pertama kali Dimas lihat ialah keberadaan istrinya yang sedang berusaha menggapai sesuatu di atas lemari, bukan kepada sesutu yang hendak di gapai istrinya itu yang ia lihat melainkan kepada istrinya yang hanya berbalut handuk putih menutupi tubuh bagian atasnya sampai ke paha, pemandangan itu membuat Dimas menelan ludah susah payah.


Untung sudah halal.


Berjalan perlahan mendekati sang istri. Setelah sampai di belakang istrinya, Dimas menyentuh pundak wanita itu dan membantunya mengambil sesuatu di atas lemari.


"Astagfirullah." Kaget Keyla ketika merasakan sentuhan dipundaknya, Keyla lantas berbalik dan betapa terkejutnya ia saat melihat Dimas lah orang yang melakukan itu, wajah Keyla memerah saat mengingat sekarang dia hanya memakai handuk saja.


Keyla menunduk dalam dihadapan suaminya tak lama terdengar isak tangis dari wanita itu. Dimas bingung sendiri, ada apa dengan wanita ini pikirnya, tiba-tiba langsung menangis saja." Hey ada apa?" tanya Dimas terdengar khawatir.


Bahu Keyla bergetar karena isak tangis, bukan karena sesuatu yang menyedihkan sehingga dia menangis tapi karena rasa malu lah yang membuat dia tidak bisa mengontrol diri. "A..aku malu mas, hiks."


Astaga istriku ini, hanya karena malu aku melihatnya seperti itu ia lantas menangis, ck.


Dimas menarik Keyla dalam pelukan, "Kenapa harus malu sayang, aku kan sudah jadi suami mu sekarang, sudah tidak ada larangan lagi untuk ku melihat mu di keadaan seperti itu kedepannya bahkan lebih dari ini." Kata Dimas menyuarakan isi pikirannya.


Berada dalam pelukan Dimas membuat Keyla merasa nyaman dan terlindungi.


***


Banyak orang dari kalangan atas yang datang menghadiri acara resepsi Dimas dan Keyla malam ini, kebanyakan dari mereka adalah kolega bisnis Ayah Dimas dan juga Abah Rahman, sisanya teman-teman Dimas dan sebagian teman Keyla juga tapi tidak banyak.


Keyla terlihat berbeda kali ini bukan seperti anak remaja delapan belas tahun ia terlihat sedikit dewasa dengan gaun cantik menutupi tubuh mungilnya di tambah jilbab yang menutupi batas dada, make up yang tidak terlalu tebal namun sesuai dengan penampilannya di sempurnakan dengan mahkota kecil berkilau di atas kepala membuatnya terlihat seperti cinderella versi muslimah.


Dimas pun tak kalah gagahnya mengenakan tuksedo hitam, rambut yang di tata rapi menyamping, mereka terlihat cocok sekali.


"Wah bro lo akhirnya nikah juga, gue kira bakal jadi bujang lapuk, hahah." Ucap sahabat Dimas yang baru datang bersama istrinya.


Dimas hanya terkekeh mendengar ejekan itu.


"Selamat ya, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahma," Kali ini suara Santi istri Dika sahabat Dimas tadi yang memberi ucapan selamat pada Keyla. "Iya mbak terima kasih doanya." Balas Keyla sopan.


Setelah sahabatnya itu berlalu, Dimas melirik istrinya yang terlihat kelelahan, "Kamu capek?" Mencoba bertanya. "Iya sih capek dikit, ini kapan selesainya ya?" Balik bertanya pada suaminya. "Bentar lagi, duduk saja dulu setelah ini kita istirahat." Kata Dimas.


Sampai para tamu undangan telah pulang, Dimas menuntun istrinya ke salah satu kamar hotel tempat resepsi untuk mengistrahatkan diri.


Sampai di kamar, Keyla mendudukkan diri ditepian tempat tidur, Dimas membuka tuksedo nya menyisah kan kemeja putih yang melekat di tubuh proporsional nya.


Kali ini Dimas yang terlebih dahulu masuk ke kamar mandi, selang beberapa menit dia keluar dengan handuk yang membelit tubuhnya dari pinggang sampai lutut.


Keyla terkesima melihat itu, ditambah tetesan air dari rambut yang masih basah menambah kadar ketampanan suaminya.


Allah, kenapa dengan memakai handuk sehabis mandi seperti itu dia jadi tampan sekali sih, berasa mimpi bisa menjadi istrinya.


"Keyla, Keylaa." panggil Dimas tapi tak kunjung mendapat respon. Dimas semakin mendekat lalu menepuk bahu istrinya pelan, "Keyla." Panggilnya lagi dengan nada lembut.


"Eh, i..iya mas." Mengerjap kan mata, ia malu ketangkap basah tengah melihat suaminya tanpa kedip.


"Sana bersihkan dirimu terlebih dulu." perintah Dimas, Keyla hanya mengangguk patuh lalu masuk ke kamar mandi tak lupa membawa baju ganti.


Setelah istiranya tak terlihat lagi, Dimas memakai celana dan kaus berlengan pendek menyimpan handuk bekas ia pakai lalu melangkah menaiki tempat tidur. Kali ini, kamar pengantin itu tak di hiasi sebagaimana kamar pengantin pada umumnya, hanya kamar di rumah Keyla saja yang di hias.


Keyla keluar dari kamar mandi menggunakan pakaian lengkap dan jilbab instan menutupi kepala. Melihat ke arah suaminya sekilas yang tengah asik bermain ponsel, lalu melangkah ke meja rias untuk melakukan ritual sebelum tidur, apalagi kalau bukan scinker-an.


Setelah itu dia juga berjalan menaiki tempat tidur untuk mengistrahat kan diri, seharian di sibukkan dengan segala sesi pernikahan.


Dimas menyimpan ponsel ke atas nakas samping tempat tidur, menoleh ke arah istrinya yang saat itu juga tengah memandangi nya, dia menepuk tempat di sampingnya menyuruh istrinya itu untuk mendekat. Keyla yang mengerti maksud suaminya menurut saja hingga kini dia tepat berada di hadapan Dimas.


Tangan Dimas bergerak membuka jilbab yang istrinya kenakan, Keyla yang melihat itu hanya mampu terdiam dengan debaran jantung yang mulai menggila sambil berusaha memejamkan mata.


Ini dia mau ngapain sih, nggak tau apa jangtung ku hampir copot dengan kelakuannya,, Ummi apa yang harus Keyla lakukan sekarang, bagaimana kalau dia meminta hak nya malam ini.


Tapi itu semua tidak sesuai dengan praduga Keyla, nyatanya Dimas hanya membuka jilbabnya sambil memandangi wajah wanita itu. Terlihat senyum dibibir Dimas, apa yang kau pikirkan gadis kecil.


"Tidurlah." Katanya, lalu menarik istrinya dalam dekapan. Jadilah Keyla tidur dalam pelukan hangat suaminya malam ini. Hanya itu yang terjadi. Nyaman, rasa itu yang Keyla rasakan saat ini sampai ia terlelap dalam mimpi.


Bersambung.