
"Keyla.." Teriak Oca di kejauhan sambil berlari mengejar Keyla di depan sana.
"Huf huf." Mengatur nafas sehabis berlari mengejar Keyla di koridor tadi.
"Kamu kenapa sih kayak anak kecil saja lari-lari." Mulai mengomeli perbuatan sahabatnya itu.
"Ih Keyla, aku cuman mau jalan bareng kamu doang tahu." Cemberut menanggapi perkataan sahabatnya ini.
"Ya nggak usah lari-lari kan, nanti kamu jatuh." Mengomel lagi, tidak seperti Keyla biasanya yang lembut.
"Iya maaf." Mengalah saja, percuma berdebat dengan orang yang lagi sensian begini dia tidak akan menang lagian juga ini untuk kebaikannya sendiri, pikirnya.
"Pagi-pagi sudah mengomel saja, hih." Bergumam-gumam.
"Ngomong apa!" Ucap Keyla sinis.
"E.enggak he he." Cengengesan menanggapi Keyla.
Keyla memilih berjalan mendahului Oca menuju kelas mereka.
Oca masih diam di tempat memperhatikan Keyla yang mulai menjauh, "Kenapa sih itu anak pagi-pagi moodnya buruk begitu, apa karena nggak di kasih uang jajan ya sama kak Dimas, hm mereka yang bermasalah kok aku yang kena imbasnya ya." Bermonolog sendiri.
Sampai di kelas, Keyla mencari tempat duduk di bagian paling belakang pojok kanan.
Oca yang baru saja masuk celingak-celinguk mencari keberadaan Keyla, "Nah itu dia." Menghampiri Keyla yang tengah duduk menelungkupkan kepala di atas meja.
"Key." Panggil Oca memegang bahu Keyla.
"Hm." Hanya deheman sebagai jawabannya.
"Kamu sakit ya?" Mulai khawatir.
"Enggak." Mengangkat kepala bersandar di sandaran kursi.
"Terus kenapa jadi lemas begini." Bertanya lagi, tangannya terulur menyentuh kening Keyla.
Badannya hangat.
"Nggak tahu." Cemberut.
"Ca." Menoleh pada Oca yang sedang menatapnya serius.
"Iya kenapa?"
"Pengen makan batagor." Mulai merengek manja pada adik iparnya itu.
Lha, tadi dia marah-marah sama aku kenapa sekarang merengek seperti anak kecil begini.
Oca mulai bingung dengan tingkah Keyla hari ini, cepat sekali moodnya berubah-ubah.
"Iya, aku temenin setelah kuliah ya." Menurut saja apa keinginan kakak iparnya ini.
Turuti saja Ca dari pada sisi menyeramkannya keluar lagi.
Bergidik ngeri membayangkannya
***
"Oca cepetan." Merengek lagi, menarik tangan Oca yang masih sibuk membereskan peralatan kuliahnya dengan tidak sabaran.
"Iya sabar Key." Cepat-cepat memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
"Ayo." Mendahului Keyla berjalan keluar kelas.
"Oca." Merengek lagi, menarik-narik tas ransel Oca.
"Iya kenapa Keyla!" Mulai jengkel.
Keyla berhenti melangkah, matanya sudah mulai berkaca-kaca sehabis di bentak oleh Oca barusan.
Oca berbalik melihat Keyla.
"Hiks." Menangis pelan sambil menunduk.
Ya Allah, kenapa lagi ini.
Oca frustasi sendiri, segera menarik tangan Keyla memasuki lif yang akan mengantar meraka sampai di lantai dua tempat kantin berada.
Diperjalanan mereka berpapasan dengan Dimas, lelaki itu berhenti melangkah, memperhatikan dua orang wanita yang di kenalnya sedang berjalan kearah kantin.
Dimas juga berjalan mengikuti dua wanita itu, Keyla dan Oca.
"Kamu duduk di sini oke, aku pesanin batagor sama jus jeruk kesukaan kamu." Setelah mendudukkan Keyla, Oca bergegas menuju stan penjual batagor.
Dimas mengamati istrinya diam-diam, dengan jarak dua meja di belakang istrinya duduk Dimas masih bisa mendengar pembicaraan mereka ditambah suasana kantin yang masih sepih pagi-pagi begini.
"Kenapa nggak bilang sama aku kalau mau makan batagor." Bergumam-gumam.
Merogoh saku celana bahannya mengeluarkan ponsel, mengetikkan sesuatu di ponsel itu.
Keyla sedang duduk manis menunggu pesanannya tiba, dia begitu ingin sekali memakan batagor pagi ini sampai-sampai merengek pada Oca, hal yang tidak pernah dia lakukan selama ini, Keyla juga heran apa yang menimpa dirinya sekarang sehingga melakukan hal yang kekanak-kanakan macam itu.
Ting.
Bunyi notif pesan masuk di ponselnya, mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.
Mas Suami❤️
Assalamu'alaikum. lagi dimana?
Anda
Wa'alaikumussalam, lagi di kantin mas.
Mas Suami❤️
Bersama siapa?
Anda
Sama Oca mas, mau makan batagor ini, hehe😅😅
"Chatingan sama siapa sih senyum-senyum begitu." Ucap Oca yang baru saja tiba membawa sepiring batagor dan dua gelas jus jeruk.
"Eh iya." Keyla tersenyum ke arah Oca memperlihatkan layar ponselnya pada wanita itu.
"Pantesan, eh tapi ngomong-ngomong kalian lucu deh." Berbicara sambil melirik ke arah belakang tempat duduk mereka, melihat orang yang juga sedang memandangi ponselnya belum menyadari bahwa adiknya telah melihat keberadaannya di sana.
"Lucu bagaimana?" Bertanya bingung.
"Ya lucu saja duduk berdekatan dalam satu ruangan tapi ngobrolnya lewat chatingan." Ucap Oca lagi melihat Keyla dan Dimas di belakang sana secara bergantian.
"Hah?" Masih bingung, belum mengerti maksud perkataan Oca.
Oca gemas sendiri dengan Keyla yang lemot mencerna perkataannya, dengan sisa kekesalan yang masih tersimpan karena di repotkan oleh Keyla langsung saja wanita itu memegang wajah Keyla memutarnya pelan menghadap ke belakang, "Tuh sana." Menunjuk ke arah Dimas duduk.
"Eh, itukan Pak Dimas." Masih belum sadar.
"Lha iya, itu suami kamu." Menjawab ketus.
"Astagfirullah, Ca kenapa dia nggak bilang kalau ada di sana."
"Mana aku tahu Keyla, yaudah sana samperin."
"Nggak ah." Cemberut lagi.
"Kenapa?" Bertanya penasaran.
"Ini masih di lingkungan kampus Ca kalau kamu lupa." Mengingatkan keberadaan mereka sekarang yang membuatnya tidak menghampiri suaminya yang duduk di sana, takut ada yang mencurigai mereka, belajar dari kesalahan waktu itu yang kepergok keluar dari mobil Dimas oleh teman sekelasnya, Kesya.
Merekapun memulai makan tanpa mengindahkan keberadaan Dimas di belakang sana, pura-pura tidak mengetahui.
Keyla melahap batagornya dengan begitu tergesa-gesa seperti makanan paling lezat di muka bumi ini saja, sampai-sampai mulutnya belepotan terkena saus kacang.
"Pelan-pelan Key, kayak anak kecil tahu makannya belepotan begitu." Mengusap saus yang menempel di sudut bibir Keyla dengan tisu.
"He he, abis ini enak Ca." Cengengesan sendiri.
Ting
Suara notif pesan lagi.
Mas Suami❤️
Makan pelan-pelan sayang, nggak akan ada yang minta makanan kamu kok.
Balasan panjang lebar itu membuat Keyla malu sendiri ketahuan oleh suaminya, dengan cara makan yang tidak seperti biasanya.
Anda
Kok tahu sih?
Pura-pura bertanya terkejut.
Mas Suami❤️
Karena aku melihat mu di belakang.
Keyla berbalik melihat Dimas yang tengah tersenyum menatapnya.
Mas Suami❤️
Aku duluan ya masih ada urusan.
Keyla tidak membalas lagi, hanya mengangguk pada Dimas yang sudah berdiri melambaikan tangan ke arah mereka dan berlalu pergi meninggalkan kantin.
"Key." Panggil Oca.
"Iya." Melanjutkan lagi makannya tapi kali ini sedikit pelan.
"Kamu berbeda hari ini."
"Beda apanya."
"Tadi pagi kamu marah-marah sama aku, terus tiba-tiba nangis dan sekarang kayak anak kecil, sebenarnya kamu punya berapa kepribadian sih Key dalam sehari berubah-ubah begitu." Mengungkapkan segala isi hatinya yang dia tahan sejak tadi.
"Aku juga nggak tahu Ca, perasaan itu mengalir begitu saja, aku juga heran sama diriku sendiri." Menyudahi makannya menanggapi perkataan Oca.
"Jangan-jangan." Menggantungkan kalimatnya.
"Jangan-jangan apa?" Mulai penasaran.
Kamu hamil.
"Enggak kok." Hanya mengungkapkan dalam hati, ingin memastikan dulu kebenarannya.
Bersambung.