
Pulang dari apertemen kakaknya Oca izin pada Bunda ingin pergi ke suatu tempat.
"Bun, Oca mau keluar boleh ya." Memperlihatkan pupy eyesnya, terlihat sangat imut.
"Heh kamu ini selalu saja punya cara buat Bunda nggak bisa nolak." Menggeleng.
"Jadi boleh kan?" Kini matanya di buat membulat sempurna dengan bibir yang mengatup menggemaskan.
"Iya boleh." Kata Bunda.
"Yeiy, makasih Bunda." Mencium pipi Bunda lalu beranjak keluar setelah memberi salam terlebih dahulu.
Dan di sinilah dia sekarang mencari buku novel di jejeran rak buku, matanya fokus melihat tiap judul novel yang menarik untuk dia baca tapi belum menemukan satupun yang sesuai ke ingingan.
"Hah, kok nggak ada yang bagus-bagus ya." Membuang nafas gusar, sudah dari setengah jam yang lalu berkeliling mencari novel yang bagus tapi tak membuahkan hasil sama sekali.
Berpindah lagi ke rak yang lain. "Nah ini bagus, ambil yang ini saja deh." Mengambil satu buku, berjalan lagi, manik matanya fokus pada buku yang sedang di pegangnya, sampai tak menyadari ada seseorang yang juga sedang berjalan kearahnya dengan fokus ke arah lain, dan saling tubrukkan pun tak bisa mereka cegah.
"Aduh." Mengusap kening yang baru saja membentur sesuatu yang padat.
Buku yang di pegangnya tadi dan buku yang di pegang orang itu berjatuhan di lantai, mereka sontak memungut buku masing-masing tanpa sengaja tangan mereka saling bersentuhan, aksi saling tatap-tatapan pun terjadi sudah mirip seperti adegan selow mention di drama Korea ketika pemain wanita dan pria di drama itu tak sengaja saling berpegangan tangan. Yah, kurang lebih seperti itu untuk di jabarkan.
Orang itu yang tak lain adalah Rifki dengan segera menarik kembali tangannya.
"Maaf." Berdiri kembali, mengatur nafas pelan, menatap sekilas ke arah Oca yang masih berjongkok di lantai, ingin mengulurkan tangan untuk membantu tapi dia urungkan lagi niatnya mengingat Oca bukanlah mahromnya yang harus dia sentuh sesuka hati.
Oca yang terbengon pun tersadar dari lamunan, berdiri kembali setelah mengambil bukunya yang terjatuh.
Canggung, saling salah tingkah sendiri dengan apa yang baru saja terjadi.
"Maaf." Sekali lagi Rifki mengucapkan kata maaf.
"I.iya kak, aku juga minta maaf." Membuka suara sepelan mungkin sudah mirip seperti orang yang sedang berbisik tapi masih bisa di dengar oleh Rifki.
"Aku duluan." Rifki memilih beranjak terlebih dulu, tidak tahan dengan situasi jika berlama-lama berdekatan seperti itu.
"Iya." Cicit Oca, memandangi tubuh tegap itu yang mulai menjauh hingga menyisahkan bayangan kecil di kejauhan.
"Hah, itu kak Rifki kan, ya Allah jantungku kok berdetak kencang begini sih." Memegang tempat jantung berada mengusapnya pelan beharap detakannya akan kembali normal seperti sedia kala.
Beda halnya dengan Rifki, senyum terbit di sudut bibirnya mengingat kejadian tadi, "Ya Allah perasaan apa ini." Berbisik lirih mencoba mengenyah bayangan Oca di kepala, gadis kecilnya itu tambah menggemaskan saja sekarang.
Sabar Rif, belum saatnya.
Mengucap istigfar berulang, tidak seharusnya memikirkan wanita yang belum halal baginya sekarang.
***
"Mas itu tolong di mixer sampai benar-benar lembut ya."
"Iya sayang." Mengangguk patuh.
Sekarang Keyla dan Dimas tengah sibuk membuat kue bolu, tiba-tiba saja Keyla ingin memakan kue bolu buatan suaminya, walaupun tidak sepenuhnya Dimas yang membuat ada campur tangan Keyla juga dalam proses pembuatannya.
"Campurin susu sama margarin mas." Menginterupsi lagi.
"Iya iya." Mengambil susu dan margarin cair, mencampurkan pada adonan yang sudah di mixer lalu memixernya lagi hingga tercampur rata.
"Ini aku masukin ke dalam oven kan." Tanya Dimas ketika adonan telah siap di panggang dalam wadah.
"Iya mas, atur waktunya sampai 25 menit ya." Merapikan kembali alat-alat bekas membuat adonan bolu tadi.
Dimas membantu istrinya mencuci alat-alat yang kotor, Keyla bagian menyabuni sedang Dimas yang membilasnya, kerja sama yang romantis kan.
"Sudah sayang, sekarang kamu duduk saja di kursi ya biar mas yang beresin ini." Menyuruh Keyla untuk duduk di kursi saja ketika melihat wanita itu ingin membereskan peralatan yang habis mereka cuci, katanya biarlah dia yang mengerjakan semuanya, sudan terlihat seperti suami idaman bukan.
Keyla duduk mengamati kegiatan suaminya sembari mengelus perutnya yang masih datar.
Sehat-sehat ya nak di dalam sana, Bunda dan Ayah tidak sabar menantikan kehadiranmu di sini.
Tersenyum bahagia di tiap elusan tangannya di perut .
Ting.
Bunyi alarm oven digital menandakan kue bolu yang mereka panggang sudah matang.
Dimas dengan segera mengeluarkan kue bolu itu.
"Wah, aromanya harum sekali." Matanya berbinar ketika melihat kue bolu yang baru saja di keluarkan Dimas dari dalam oven.
"Sabar sayang, ini masih panas nanti lidah mu bisa terbakar." Khawatir melihat istrinya yang tidak sabaran ingin segera mencicipi kue bolu itu padahal baru saja di keluarkan dari dalam oven asap saja masih menyembul keluar begitu, sudah kebayangkan panasnya bagaimana.
Cemberut, "Iya ini mau aku di dinginkan dulu dalam kulkas." Tidak ke habisan cara.
Dimas tepok jidat, yang benar saja kue bolu mau di taruh dalam kulkas, ini kue bolu loh bukan puding coklat atau ice kream, ada-ada saja istrinya ini.
"Tunggu sebentar aku ambilkan kipas." Tak ingin kalah juga Dimas segera mengambil kipas mini dalam kamar, dari pada dongkol sendiri melihat istrinya menaruh kue bolu dalam kulkas.
Melihat Dimas sudah hilang di balik pintu kamar Keyla dengan iseng mencomot bolu yang masih panas itu untuk di makan, baru saja masuk ke dalam mulut Keyla sudah meringis kepanasan seperti lidahnya sedang terbakar.
"Aw panas." Mengeluarkan lagi bolu itu, mengipas-ngipas lidahnya yang nyeri kepanasan.
"Sudah di bilangin kan masih panas, masih juga ngotot di makan." Tiba-tiba Dimas muncul tanpa Keyla sadari.
"Sini." Dimas dengan tak terduga meraup bibir mungil Keyla.
Terdiam, mengerjapkan mata berulang, menahan nafas. Keyla mati kutu kalau sudah seperti ini.
Dimas melepaskan ciumannya, "Gimana sudah nggak panas lagi kan?" Menatap kedua bola mata Keyla yang masih mengerjap.
"Humairah." Panggil Dimas lagi.
"Eh, iya." Tersadar, jarak mereka yang hanya beberapa senti tak urungnya membuat Keyla gugup, oh jangan lupakan pipinya yang memerah, sudah seperti kepiting rebus.
Terkekeh melihat tingkah istrinya yang masih saja malu-malu.
"Nah ini sudah dingin." Menyodorkan potongan bolu yang sudah sedikit mendingin.
Keyla dengan senang hati langsung menyantapnya sampai-sampai kedua pipinya gembung penuh dengan bolu, memang ya kalau orang yang sedang mengidam tingkahnya bertambah absurd begini, tapi menggemaskan.
Bersambung.