
Pertama kali masuk di pintu utama pusat perbelanjaan itu udara dari pendingin ruangan membuat Oca bergidik geli merinding, maklum saja ruangan ini full ace apalagi di luar suhunya berbeda jauh dari suhu dalam ruangan ini.
Oca merapatkan jaket denim yang di kenakannya, untung saja jilbabnya agak tebal dan sedikit panjang jadi bisa melindungi kulitnya dari suhu dingin.
Di kejauhan Oca melihat seseorang yang tidak asing lagi baginya, lelaki itu masih memakai setelan formal kemeja biru dongker dengan celana bahan panjang jangan lupakan lengan kemejanya yang di gulung sampai sikut, oh ayolah siapa yang tidak terpesona melihat mahakarya Tuhan yang satu ini, Oca saja sampai melongo.
Bunda berjalan terlebih dulu, ketika sadar tak menemukan keberadaan Oca di sebelahnya tadi, bunda refleks berbalik ke belakang.
"Ya ampun ini anak, cepetan Ca." Bunda tak habis pikir dengan kelakuan anak gadisnya ini, tadi menyuruh cepat sekarang malah dia yang berlama-lama, melamun lagi.
"Iya bunda, he he." Oca menyengir menanggapi omelan bunda.
Duh, malu-maluin kamu Ca.
Bunda mengambil salah satu troli belanjaan lalu mereka masuk ke bagian rak bahan dapur terlebih dulu.
Memilih berbagai macam sayuran segar mulai dari bayam, buncis, brokoli tak lupa juga mengambil wortel dan kentang untuk di masukkan ke dalam troli, Oca bertugas mendorong troli sementara bunda bagian memilih-milih belanjaan yang akan di belinya.
"Bunda beli eskrim juga ya." Saran Oca lebih kepada berharap.
"Yasudah sana ambil, bunda mau cari buah-buahan dulu ."
Oca dengan semangat empat lima berlari kegirangan mencari eskrim, tentu saja itu eskrim rasa coklat, Oca kan maniak coklat.
Menggeleng heran melihat kelakuan Oca seperti anak kecil itu, walau bagaimanapun Oca akan terus di anggap anak kecil oleh keluarganya mau sebesar apapun dia sekarang, itu sudah keputusan mutlak Ayah Sultan.
Bunda melanjutkan mencari buah sementara Oca sibuk mencari tempat eskrim berkumpul.
"Nah ketemu kan he he." Oca memilih-milih jenis eskrim apa yang akan di belinya. "Duh, yang mana ya." Bingung mau memilih yang mana pasalnya rata-rata eskrim di dalam lemari pendingin itu terlihat menarik semua untuk di rasa.
Apa aku ambil semuanya saja ya, kan ada bunda yang bayarin hihi."
Tanpa pikir dua kali Oca memborong beberapa jenis eskrim rasa coklat, belum puas dengan eskrimnya Oca berjalan lagi mencari cemilan untuk teman nonton drakornya nanti, tapi sebelum itu dia terlebih dulu mengambil keranjang untuk tempat belanjaannya karena genggamannya sudah tidak muat lagi di penuhi berbagai jenis eskrim.
Menuju ke rak keripik, berjejer berbagai jenis keripik dengan berbagai jenis varian rasa, ada yang original sampai rasa balado semua ada, sungguh ini suatu kenikmatan bagi Oca apalagi ada bunda yang bayarkan.
"Wah, ini kayaknya enak deh." Memasukkan lagi keripik yang menurutnya enak itu. " Yang ini juga, ini sama yang ini." Beberapa menit berlalu dia habiskan dengan memborong cemilan, Oca memang seperti itu kalau soal makanan jadi lupa waktu, tapi anehnya badannya tak gemuk-gemuk meski banyak makan.
Bunda kelimpungan mencari keberadaan Oca, sebentar lagi masuk waktu magrib dan anak satu itu belum nampak juga hilalnya di depan mata, bunda juga sudah mencari di bagian tempat eskrim tapi nihil, Oca tak ada di situ, sudah di telfon juga tapi tak ada jawaban.
"Ya Allah ini anak, tadi nyuruh cepat-cepat sekarang malah dia yang lama."
Akhirnya bunda memutuskan untuk pergi ke kasir membayar belanjaannya, urusan Oca nanti saja pasti juga akan ketemu, pikirnya.
Sama halnya dengan bunda, Oca juga sibuk mencari keberadaan bunda, " Heh, bunda kemana ya?" Sudah berkeliling di tempat semula mereka berpisah tapi tak ada juga di situ.
"Aduh ini gimana sih, mana nggak bawa ponsel lagi, yasudah lah mungkin bunda sudah di mobil.
Bunda sudah selesai membayar semua belanjaannya, memilih untuk menyimpan belanjaan itu di mobil sembari menunggu Oca tiba.
Rifki, lelaki itu masih memperhatikan wanita yang di lihatnya tadi, benar tidak salah lagi itu gadis kecilnya, senyumnya terbit di sudut bibir.
Dia memutuskan mengikuti dari belakang dan gadis kecilnya itu tengah menuju kasir tentunya untuk membayar belanjaannya terlihat dari kerajang yang ia pegang semua penuh dengan cemilan, melihat itu tak urungnya membuat Rifki terkekeh, " Ternyata kebiasaan ngemilnya tidak berubah dari dulu."
Rifki berdiri tepat di belakang wanita itu, dan untungnya dia tidak mengetahui keberadaan Rifki, mungkin belum menyadari.
"Oke mbak totalnya 150 ribu 500 rupiah ya, mau bayar tunai atau pakai kartu mba." Kata kasir wanita itu sopan sambil tersenyum ramah.
"Tunai saja kak." Oca mulai memeriksa saku jaketnya tapi tak menemukan dompet berwarna coklatnya itu.
Oca mulai panik ternyata dompet beserta ponselnya tertinggal di mobil.
Ya Allah bagaimana ini.
"Total semua dengan belanjaan saya mbak." Rifki menyerahkan keranjang belanjaannya sambil memberikan kartu kredit berwarna gold miliknya.
Oca berbalik, terkejut melihat siapa orang yang saat ini berbaik hati padanya, dia Rifki lelaki yang di lihatnya tadi.
Ya Allah, aku tidak sedang bermimpi kan, ini nyata kan, wahai jantung berkerjasama lah denganku untuk sekarang, rasanya aku mau pingsan saja.
Semua sudah dibayar, belanjaan Oca dan Rifki di tempatkan di kantung yang terpisah atas permintaan Rifki, dan kedua kantung itu di pegang olehnya.
Oca masih bingung mau bereaksi bagaimana, berterimakasi lalu pergi atau tetap diam menunggu pria itu berbicara duluan. Salahkan saja sifat pelupanya yang membuat dia berada di situasi segugup ini, di tambah tatapan orang-orang kepadanya, tidak lebih tepatnya kepada pria yang ada di depannya sekarang.
Mereka sudah ada di area parkir khusus mobil. Rifki berbalik menghadap Oca di belakangnya, "Di mana mobil mu."
"Ha?" Jawaban macam apa itu.
"Mobilmu dimana?" Bertanya lagi masih dengan soal yang sama.
Oca tidak bersuara hanya menunjuk letak mobilnya terparkir, di sana bunda sudah berdiri sambil melambaikan tangan ke arah anaknya.
"Kenapa lama sekali Ca, bunda sudah dari tadi nungguin kamu tau." Bunda terus saja mengomeli Oca. "Eh ada nak Rifki toh." Kata bunda menyapa Rifki di belakang Oca.
Heh, kok bunda kenal sih.
"Iya tante, oh iya ini belanjaan Oca."
Dia tahu namaku juga?
Oca terdiam menyaksikan interaksi Bunda dan Rifki di depannya, mereka terlihat akrab sekali, pikirnya.
"Saya permisi dulu tan, adik saya sudah nungguin di mobil." Pamit Rifki dan berlalu pergi setelah mengucap salam.
"Ca, Oca." Menepuk bahu anaknya yang sedang melamun, lagi.
"Eh iya bun."
"Ayo kita pulang." Bunda mendahului Oca masuk ke dalam mobil.
"Eh iya."
Rasanya banyak sekali hal yang terjadi pada Oca hari ini, mulai dari dompetnya yang tertinggal, bunda dan Rifki yang ternyata saling kenal dan juga pria itu tahu namanya.
Eh tunggu dulu, uangnya belum aku kembalikan, duh.
Bersambung.
Di part ini khusus untuk Oca dan Rifki ya, jadi maklum Keyla dan Dimas ngga nongol hihi.