My Lecturer is Husband

My Lecturer is Husband
Bab 35



Di sepanjang jalan menuju apertemen, Keyla pergunakan waktu luang itu untuk fokus pada artikel yang sedang di bacanya seputar kehamilan. Seolah mengingat sesuatu, Keyla menoleh pada Dimas di sebelahnya.


"Mas." Ucapnya.


"Hm." Pandangannya masih fokus mengarah ke depan sambil memegang setir mobil yang di kendarainya.


"Tadi Bunda nanyain kabar, terus suruh kita mampir ke sana, rindu katanya." Melihat ekpresi suaminya yang masih fokus menyetir.


Dimas menoleh sembari tersenyum, tangannya terulur mengelus kepala Keyla yang tertutupi hijab, "Iya, malam ini kita nginap di sana." Kata Dimas dan kembali fokus menyetir mobil lagi.


"Beneran ya mas." Senyumnya merekah, dia juga rindu dengan bunda, sudah beberapa hari ini tidak saling memberi kabar, walau bagaimana pun juga bunda sudah dia anggap ibu sendiri seperti posisi Ummi di hatinya, ibu mertuanya itu baik sekali dengannya, beruntung memiliki ibu mertua yang sayang pada kita.


"Humairah." Melirik pada Keyla, wanita itu terlihat bahagia sekali.


"Iya mas." Menunggu perkataan Dimas selanjutnya.


"Ana Uhibbuka fillah Zaujati." Ucapnya dengan pelan tapi mampu membuat sisi dalam hatinya berdebar setelah mengatakan itu.


Allahu, jantungku apa kabar sekarang, padahal dia hampir tiap hari mengatakan itu tapi tetap saja tubuhku bereaksi di luar dugaan seperti ni, aku butuh nafas bantuan sekarang.


Tidak tahu ingin menanggapi bagaiamama lagi setiap ucapan cinta dari suaminya, intinya Keyla bahagia sekali, wajahnya sudah bersemu merah menandakan dia begitu bahagia bercampur malu, entah kenapa sekarang dia tidak bisa mengalihkan pandangan dari mata hitam legam di hadapannya.


Begitu pun dengan Dimas, seolah hanyut dalam pandangan mata bulat itu sampai tak menyadari lampu merah sudah berganti hijau dan pengendara di belakang sana sudah mengklakson sedari tadi, mau bagaimana lagi jika virus bucin mode on, bumi serasa milik mereka berdua yang lain ngontrak.


Sudah lebih dari lima detik, baru tersadar setelah pintu kaca samping Dimas di ketuk oleh petugas polisi yang sedang berjaga.


Dimas membuka setengah kaca mobilnya, tersenyum kalem pada polisi itu.


"Maaf pak, lampu merah sudah berganti hijau silahkan melanjutkan kendaraan anda." Kata pak polisi itu tegas.


"Iya pak, maaf saya kurang fokus." Dimas pun melajukan kembali mobil pajeronya dengan perasaan malu.


Keyla sedari tadi menahan tawa, "Ha ha." Dan tawa itu pun keluar tanpa di minta, baru pertama kali dalam sejarah hidupnya melihat dosen killer ini begitu malu, ekspresi wajahnya lucu sekali, rasanya ingin sekali dia mengabadikan momen itu di ponselnya tapi terlambat karena ekspresi wajah itu berganti datar lagi, cepat sekali.


"Ya Allah mas, nggak jadi romantisan kan, lagian sih sudah tahu masih di jalan malah ngungkapin perasaan, kan di tegur pak polisi ha ha, nggak nunggu sampai rumah aja gitu." Cerocos Keyla panjang lebar dengan sisa tawa membuat Dimas mendelik ke arahnya.


"Kalau tiba di rumah Bunda mas akan kurung kamu di kamar." Menyeringai, sudah merasa menang sekarang. Suka sekali menjahili istrinya apalagi dengan ekspresi wajah seimut itu, membuat Dimas ingin segera sampai di rumah untuk menuntaskan rasa gemasnya.


Jleb, Keyla telan ludah sendiri, kalau kata-kata itu sudah keluar berarti selama di rumah bunda nanti dia akan di dalam kamar terus menemani kebucinan suaminya, padahalkan dia sudah menyusun rencana ingin lepas rindu sama bunda, ngobrol seharian bareng Oca di kamarnya sambil nonton drakor di temani keripik singkong.


Aduh nggak bisa dibiarin ini, sebelum negara api menyerang aku harus cari cara biar bisa bebas, aku juga ingin lepas rindu sama bunda dan juga ingin nonton drakor sama Oca, mas Hyun Bin tolongin aku. hiks.


Di tempat lain wanita itu sudah mulai menjalankan rencananya untuk menyekap Keyla di gedung tua waktu itu.


"Pokoknya kalian harus buat dia masuk di gedung itu, bagaimana pun caranya." Ucap wanita berambut sebahu itu ke pada dua orang pria dewasa di hadapannya, kelihatan dari tampilan mereka seperti bukanlah orang baik.


Badan mereka besar dan berotot dipenuhi tato di seluruh lengan keduanya, wajah mereka tegas tanpa ekspresi seakan dalam pandangan mata mereka dapat melemahkan lawan tanpa perlawanan, sangat menakutkan, seperti kebanyakan penjahat pada umumnya.


"Siap, kami akan melaksanakan perintah nona tanpa kendala, percaya pada kami." Ucap salah satu dari kedua pria itu dengan percaya diri.


"Bagus, ini uang kalian, sisanya akan menyusul jika pekerjaan kalian sudah beres." Menyerahkan amplop coklat tebal berisikan uang pada pria yang berbicara tadi.


Mereka menerima uang itu dengan senyum miring lalu beranjak pergi, menyisahkan wanita berambut sebahu itu sendirian.


Menyeringai, selangkah lagi dia bisa membuat lawannya terkulai tak berdaya pikirnya, tapi dia tidak tahu dengan siapa dia berhadapan sekarang, padahal bisa saja dialah yang akan masuk ke dalam perangkapnya sendiri.


"Masih belum sadar diri juga wanita busuk itu, emang kamu pikir semudah itu bisa mencelakai Keyla? Maaf ya aku lebih cerdik dari kamu dan juga kamu tidak ada bandingannya denganku." Oca sudah menahan geram sedari tadi, dia sudah tak tahan ingin menyerang wanita itu sekarang, tapi dia masih punya akal sehat untuk tidak merusak apa yang telah dia rencanakan untuk menggagalkan rencana wanita itu.


Oca sudah berinisiatif ingin mengikuti kemanapun wanita itu pergi untuk menacari informasi, berkat keahliannya memata-matai ditambah kecerdasannya dalam ilmu IT dia bisa menggunakan kemampuannya untuk melacak keberadaan wanita itu.


Mengamati setiap gerak gerik wanita itu di kejauhan, Oca sudah berdiri disana sejak 20 menit yang lalu jadi dia mengetahui semua rencana wanita itu dari awal.


"His, aku udah pengen jambakin rambutnya, tanganku udah gatal ini, jaman sekarang masih ada juga ya wanita modelan dia, kesel deh." Sudah kesal sekali.


Keesokan harinya, mereka mulai menjalankan rencana awal, menjebak Keyla untuk masuk dalam gedung yang telah di siapkan sebelumnya sebagai tempat penyekapan, dia yakin sekali tempat itu tidak mudah di temukan karena berada di tempat terpencil dan jauh dari pemukiman warga.


Menempelkan ponsel di telinganya, "Bagaimana?"


"Beres nona, dia sudah bersama kami sekarang." Ucap pria suruhannya.


"Bagus, jangan sampai gagal." Suaranya tegas memerintah orang suruhannya itu.


Hah, ****** kau wanita kampungan, sebentar lagi Dimas akan menjadi milikku, ha ha.


Di dalam mobil Oca menyeringai pada dua orang pria di belakangnya, mudah sekali pria itu di taklukkan padahal kemarin mereka terlihat menakutkan sekali, tapi lihatlah sekarang wajah mereka ketakutan begitu dengan kedua tangan dan kaki yang terikat.


Patut berbangga diri dengan ilmu bela diri yang dia pelajari, sekarang dia sudah mempunyai kemampuan untuk mengalahkan orang-orang yang seperti mereka, sisa satu lagi yang harus dia tumbangkan.


Bersambung.