
Tetes hujan membasahi ibukota pagi ini, membuat orang-orang memilih bergelung dalam selimut tebal mereka, menghalau hawa dingin dari efek hujan deras di pagi hari. Hujan membawa berkah bagi bumi, menyuburkan tanaman, mengisi wadah-wadah bagi mereka yang kekurangan air dan memberi kenyamanan untuk terus rebahan di tempat tidur.
Setelah shalat subuh tadi, mereka melanjutkan tidur kembali karena lelah sehabis beribadah di dukung dengan kondisi hujan di pagi hari. Keyla merapatkan selimut tebalnya sebab hawa dingin menelisik ke permukaan kulitnya.
Dimas sangat menikmati pemandangan pagi ini, menyugar surai istrinya yang tergerai bebas menutupi wajah, sebelah tangannya di jadikan sanggahan kepala menyamping ke arah Keyla berbaring.
Tangan kanannya tergerak mengelus perut istrinya di balik baju. Tidak puas, tangannya menyingkap sedikit baju istrinya kemudian mengelus permukaan perut Keyla, tempat bakal calon anaknya bersemayam.
Hatinya menghangat, seperti merasakan ikatan batin yang kuat dengan anaknya.
Assalamu'alaikum anak Ayah, baik-baik ya di dalam sana, jagain bunda dari dalam sana, Ayah akan melindungi kalian.
Dimas dengan iseng meniup wajah Keyla berulang kali membuat wanita itu terusik.
Keyla menggeliat, mengerjapkan mata perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina.
"Mas." Merengek, sebab Dimas mengusik tidur lelapnya, padahalkan dia sangat lelah, sebab Dimas meminta melakukan program baby twins semalam.
"Kenapa hm?" Pura-pura bertanya.
"Kenapa wajah ku di tiup kayak gitu sih." Suaranya masih serak, terdengar seksi di telinga Dimas.
"Mau menggodaku ya." Alisnya naik turun.
"Maksudnya?" Kening Keyla berkerut, tak paham dengan perkataan suaminya.
"Suaramu terdengar seksi." Kata Dimas pelan, tersenyum jahil.
Seketika wajah Keyla bersemu, menyembunyikan wajah di dada bidang suaminya yang bertelanjang dada.
"Kenapa harus malu." Ucap Dimas menggoda.
Hey, kata-kata mu itu membuatku malu tahu, suara ku seksi katanya.
Refleks Keyla menggigit tubuh Dimas di bagian depan, membuat lelaki itu meringis geli.
"Aw, ha ha." Menangkup wajah Keyla menjauhkan wajah wanita itu dari dadanya.
"Sudah mulai nakal ya."
Keyla tersenyum mengejek.
Dimas sudah mendekatkan wajah ingin membalas, tapi di tahan olehnya.
"Kenapa?"
"Mas, aku mau bantuin Ummi di dapur." Ucap Keyla beralasan agar tidak di eksekusi oleh suaminya.
Ayolah, luaskan aku untuk beranjak dari sini, aku sudah melihat sinyal bahaya di matamu.
Nampak Dimas berpikir sejenak, senyum jahil terbit di sudut bibirnya.
Dia sudah tersenyum begitu, perasaanku tidak enak ya Allah.
"Lima menit saja." Katanya, menarik selimut tebal itu menutupi tubuh mereka berdua, dan terjadilah sesuatu yang sempat terlintas di kepalanya.
***
"Key." Sapa Oca di sebelahnya.
Menoleh, " Kenapa Ca." Menunggu perkataan Oca selanjutnya.
"Nggak jadi deh."
Keyla memutar bola mata malas, " Ck, ngesellin." Kata Keyla jutek.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 lewat 59 menit, dosen baru saja masuk di kelas mereka, hari ini mereka ada jadwal kuliah di jam 10.
"Oke, siapkan kertas dan alat tulis kalian, hari ini kita kuis." Ucap dosen wanita itu datar tanpa ekspresi.
"Aduh bagaimana ini, belum ada pemberitahuan sebelumnya kalau hari ini ada kuis."
"Mampuskan mana belum belajar lagi."
"Bagi jawaban ya.".
Dosen itu yang di ketahui bernama Feby menoleh pada mahasiswanya yang sedang berbisik-bisik.
"Saya menyuruh kalian menyiapkan kertas dan alat tulis, bukan menyuruh kalian berisik!" Suaranya lantang, membuat seisi ruang hening seketika, tidak ada lagi yang berani bersuara bahkan menoleh ke samping pun mereka tidak punya keberanian sama sekali, beginilah jika sudah berhadapan dengan dosen killer, jangan di anggap remeh bisa-bisa nilai akan menjadi eror.
Keyla diam-diam saja, meski tadi malam dia tidak sempat belajar di tambah tadi pagi suaminya minta jatah 5 menit yang menjadi berjam-jam, mengingat itu wajahnya memerah seketika.
Oca menoleh, melihat wajah Keyla yang sudah memerah.
Pasti lagi ingat adegan mesranya sama kak Dimas, oke yang jomblo harap maklum, telan ludah saja kita, sabar.
Kuis telah di mulai, dosen sudah membacakan soal-soal kuis, mereka menulisnya di selembaran kertas, menjawab soal-soal yang telah di berikan dengan berbagai ekspresi wajah masing-masing, ada yang berpikir keras, ada yang wajahnya murung kentara sekali dia tidak tahu jawaban kuis itu, bagi mereka yang otaknya di atas rata-rata pasti akan dengan mudah menjawab soal-soal itu, seperti halnya Keyla, Oca dan sebagian teman yang lain, mereka menjawab dengan tenang.
Waktu terus berjalan, tak terasa waktu 30 menit yang di berikan untuk menjawab soal-soal telah berakhir.
"Waktu habis, kumpulkan jawaban kalian sekarang." Ucap bu Feby datar.
Mereka bergegas mengumpulkan lembar jawaban, meski ada sebagian yang mengisinya cuman beberapa poin saja, sudah pasrah bilamana mendapatkan nilai rendah, jangan salahkan otak mereka yang pas-pasan tapi salahkan siapa yang memberi kuis tapi tidak menginformasikan dulu sebelumnya.
Bu Feby telah keluar selesai memberi kuis, katanya ada keperluan mendadak, membuat mereka berseru bahagia.
"Key." Panggil Sindi, berdiri di depan meja Keyla.
"Kenapa Sin." Menoleh pada orang yang memanggilnya.
"Perut mu sudah agak buncit ya, pasti pak Dimas bahagia bentar lagi punya anak dari kamu." Kata Sindi pelan, melirik ke arah perut Keyla yang tertutupi khimar.
Keyla tersenyum paksa, merasa tidak enak bila membahas urusan pribadi seperti ini, apa lagi di tempat umum begini.
Oca menatap Sindi sinis, tidak suka dengan wanita itu, belakangan ini suka sekali mencampuri hidup Keyla, menanyakan apa saja yang menyangkut hal yang sangat pribadi.
"Key kamu lapar kan tadi, ayo kita ke kantin." Ajak Oca.
Keyla menatap bingung, perasaan dia tidak pernah mengajak Oca ke kantin dan dia juga tidak sedang lapar sekarang.
Oca mengedipkan mata memberi kode, seolah mengerti Keyla menurut saja, dia juga ingin menghindari pertanyaan Sindi jika di ladeni maka akan panjang lebar.
Sindi menatap kepergian mereka dengan wajah datar.
"Kenapa Sin." Sapa Natali, dia juga sempat melihat Sindi yang menatap Keyla dan Oca seperti itu, merasa heran saja seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan.
"Eh, e.enggak kok." Gugup, memberi senyum paksa.
"Aku duluan ya." Setelahnya dia pergi tanpa menoleh kebelakang, berjalan cepat.
Natali mengangkat kedua bahu acuh, tidak ingin mencampuri urusan orang.
"Kamu beneran mau ke kantin ya." Tanya Keyla, pasrah saja tangannya di tarik seperti itu.
"Nggak sih, tapi ayolah aku pengen minum, haus." Memperlihatkan senyum andalannya jika sedang merayu Bunda.
Keyla menggelengkan kepala, Oca kekanak-kanakan sekali pikirnya.
Dari kejauhan ada seorang wanita yang melihat ke arah mereka dengan ekspresi wajah datar menyiratkan rasa benci yang mendalam.
Awas saja kau wanita kampungan, sekarang aku biarkan kau tertawa bahagia begitu, tapi lihat saja nanti, bahkan untuk bernafas pun aku tidak akan mengizinkan mu.
Tangannya mengepal kuat, dadanya naik turun menahan amarah dan rasa benci, mebuat wanita itu kehilangan akal, ingin mencelakai orang yang di bencinya tanpa berpikir, ada yang tengah mengawasinya di balik tembok, pria itu yang tak lain adalah Dimas tersenyum miring, dia sudah membuntuti wanita itu sejak keluar dari kelasnya.
Tak akan ku biarkan kau menyentuh istriku apa lagi melukainya, kau akan menyesal nanti, obsesi mu itu dapat menghancurkan hidup mu, kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa sekarang.
Bersambung.