My Lecturer is Husband

My Lecturer is Husband
Bab 33



Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Dimas sudah dalam perjalanan untuk menjemput istrinya.


"Ummi." Mencari keberadaan Ummi yang tak dia lihat sejak bangun tidur lima menit yang lalu.


Menuruni tangga menuju lantai satu, melihat Rasyid yang sedang bersantai di ruang tivi.


"Kak." Menghampiri kakaknya, ikut duduk di kursi sofa.


"Kenapa dek." Mengalihkan atensi dari layar tivi, menoleh pada adiknya yang sudah duduk di sebelahnya


"Kakak lihat Ummi nggak?" Bertanya, mengedarkan pandangan, barangkali dia menemukan keberadaan Ummi di sini


"Ummi." Berpikir. "Oh iya, Ummi sama Abah keluar tadi."


"Kemana kak?" Menatap kakaknya.


"Nggak tahu sih, kakak cuman di suruh jagain kamu, katanya kamu lagi tidur tadi." Jelas Rasyid.


"Gitu yah." Cemberut.


Rasyid dengan refleks memeluk adiknya dengan sayang, sudah menjadi kebiasaan Rasyid akan memeluk adiknya bila sudah cemberut begitu, dia gemas sekali.


Masih asik berpelukan sampai tak menyadari kehadiran Dimas, berdiri menjulang dibelakang sofa yang mereka duduki, wajahnya merah padam menaham getaran rasa cemburu, yang benar saja dia cemburu dengan kakak iparnya sendiri, hey mereka itu kakak adik tahu tidak semestinya kamu cemburui. Batinnya berteriak bahwa yang mereka lakukan di depannya itu hal yang wajar sebagai saudara kandung, tapi sisi lain dalam dirinya memberontak bahwa wanita di pelukan lelaki itu adalah miliknya, tidak rela bila ada yang menyentuh seujung rambut pun, walaupun itu saudaranya sendiri.


"Ehem." Berdehem.


Keyla yang menyadari kehadiran suaminya lantas melepas pelukan Rasyid dengan cepat, berlari kearah suaminya, seperti sedang ketangkap basah sedang berselingkuh saja.


Kenapa mukanya jadi merah begitu sih, menyeramkan sekali, jangan bilang dia sedang cemburu karena aku meluk kak Rasyid, yang benar saja, dia itu kakakku tahu.


Rasyid yang kaget dengan gerakan tiba-tiba adiknya merasa heran.


Keyla memeluk tubuh Dimas dengan erat.


Ambil hatinya key, ayo peluk yang erat biar dia nggak marah lagi, bayi besarku ini menggemaskan sekaki sih kalau sedang cemburu.


"Eh Dimas, baru tiba ya." Sapa Rasyid melihat kehadiran adik iparnya, pantas saja tadi adiknya lari seperti kesetanan, ternyata pawangnya sudah muncul ya, geleng-geleng kepala melihat tingkah pasangan satu ini, bikin iri sekali membuat jiwa kejombloannya meronta-ronta.


"Iya baru saja." Kata Dimas singkat.


"Mas langsung mau pulang ya?" Masih di pelukan suaminya, mendongak untuk melihat wajah lelaki itu.


Lihatlah, tadi wajahnya menakutkan sekali sekarang berubah lucu begitu, cepat sekali.


Dimas mengangguk, dengan wajah yang di buat lelah seolah sedang meminta perhatian pada istrinya.


Keyla cemberut, padahal dia ingin berlama-lama dulu di sini.


"Kenapa hm?"


Keyla menggeleng, masih dengan wajah yang cemberut, sangat lucu menurut Dimas.


"Mau nginap di sini?" Bertanya lagi.


Wajah Keyla berubah sumringah, "Emang boleh?" Bertanya antusias.


"Boleh." Tersenyum lebar.


Refleks Keyla mencium wajah Dimas saking senangnya, tidak tahu saja dengan perbuatannya itu membuat Dimas tak tahan ingin mengurung istrinya dalam kamar saja seharian.


Rasyid, lelaki itu malu sendiri menyaksikan adegan romantis adiknya, sudah seperti nonton drama secara langsung, membuat orang jadi iri saja.


"Ehem, di sini masih ada yang jomblo ya." Sindir Rasyid, pura-pura melihat ponsel.


"Makanya cepat nikah Syid." Kata Abah yang baru saja muncul bersama Ummi.


Keyla yang menyadari kehadiran orang tuanya lantas menyembunyikan wajah di dada bidang Dimas, merasa malu sekali sudah kepergok melakukan itu oleh orang tuanya sendiri.


Ya Allah, aku ingin menghilang saja dari bumi ini, kenapa Abah sama Ummi datang di saat yang tidak tepat sih, aku kan malu hiks.


Dimas malah terkekeh menanggapi candaan ayah mertuanya, menunduk melihat istrinya, "Masih malu juga?" Bertanya iseng, padahal dia sudah tahu betul istrinya sedang malu sekarang.


"Ayo kita ke kamar." Berbisik, Keyla hanya mengangguk tak berani mengangkat pandangan.


"Iya nak, kamu sekalian mandi juga ya." Kata Ummi.


"Iya Ummi." Jawabnya.


Keyla berjalan sangat pelan dan sambil menunduk, tidak tahan dengan itu Dimas langsung saja menggendong tubuh mungil istrinya.


Keyla memberenggut, rasanya bertambah malu saja, "Mas." Cicitnya. " Turunin, aku malu tahu." Menyembunyikan wajah di balik jas yang dikenakan Dimas.


"Biarkan saja." Tak menghiraukan.


"Ehem." Abah berdehem.


Mendekati Rasyid yang masih duduk di sofa, "Kamu nggak iri Syid lihat yang seperti itu." Tanya Abah bernada sindiran, kompak sekali mereka ingin memanas-manasi Rasyid hari ini.


"Doakan saja Abah." Tersenyum paksa, memilih beranjak saja dari tempat itu, tidak tahan berlama-lama.


Abah terkekeh melihat ekspresi Rasyid, Ummi menggelengkan kepala.


"Abah mandi sana, senang sekali membuat anaknya merasa terpojok." Kata Ummi.


"Biarkan saja, supaya dia cepat-cepat mencari pasangan hidup Mi." Balas Abah terdengar prihatin.


***


Selesai makan malam Keyla langsung beranjak ke kamar menyusul suaminya setelah membantu Ummi membereskan sisa makan malam mereka tadi.


Membuka pintu perlahan, melihat Dimas sedang bersandar di sofa dengan sebelah tangannya di atas kepala.


Berjalan perlahan mengampiri Dimas, tak ingin mengganggu waktu tenang suaminya. Baru saja ingin melangkah pergi tapi tangannya di tahan.


Menoleh pada Dimas, " Kenapa mas." Bertanya pelan.


Masih memandangi, belum mengeluarkan kata-kata membuat Keyla jadi salah tingkah.


"Mas." Cicit Keyla malu-malu.


"Kemari." Kata Dimas pelan.


"Hah." kurang jelas mendengar perkataan suaminya.


Dimas menarik tangan Keyla, membuat tubuhnya terhunyung ke depan dan jatuh di pangkuan Dimas.


Masih tatap-tatapan, belum ada yang berniat merubah posisi itu.


"Mas." Keyla membuka suara sangat pelan, gugup sekali berada di posisi ini meskipun sering mereka lakukan tapi percayalah rasa malu itu kerap kali hinggap pada dirinya.


Dimas memperbaiki posisi istrinya, mengeratkan pelukan sesekali bibirnya mengecup kening Keyla mesra, membuat wanita itu bersemu merah serasa ada yang menggelitik di perutnya.


"Humairah." Ucap Dimas di sela-sela kegiatannya mengecup kening istrinya.


"I.iya." Gugup.


Tangannya terulur mengelus perut Keyla yang sedikit membuncit sekarang.


"Kamu ingin anak perempuan atau laki-laki?" Wajahnya menunduk, memfokuskan pandangan pada istrinya.


Terlihat Keyla berpikir sebentar, " Um, aku inginnya perempuan, tapi sedikasihnya saja sama Allah mas, mau dia perempuan atau laki-laki yang penting lahir dengan selamat." Tuturnya lembut membalas pandangan suaminya, tangannya juga bergerak ikut mengelus perutnya.


Senyum terbit di sudut bibir Dimas, inilah yang dia sukai dari istrinya, tidak banyak neko-neko.


"Kalau misal mereka kembar bagimana?" Mengelus surai istrinya.


"Ya Alhamdulillah, berarti rezekinya dobel dong." Terkekeh.


Senyum misterius terbit di bibir Dimas, "Bagaimana kalau kita buat lagi biar hasilnya kembar." Alisnya naik turun menggoda.


Mata Keyla mengerjap, bingung mau menjawab apa dan bereaksi bagaimana.


Keterdiaman Keyla dianggap sebagai jawaban iya oleh Dimas, tanpa menunggu waktu lama langsung menggendong tubuh mungil Keyla menuju tempat tidur, program baby twins akan segera di mulai.


Bersambung.