My Lecturer is Husband

My Lecturer is Husband
Bab 6



Dihari yang sakral ini siapapun yang pernah mengalami pasti merasakan yang namanya tegang, gugup, senang dan bahagia bercampur jadi satu rasa yaitu rasa haru. Pernikahan yaitu bersatunya dua insan dalam ikatan halal menurut Agama dan juga Hukum adalah momen sekali seumur hidup bagi yang ingin menikah sekali saja. Walau momen itu cuman terlaksana sehari tapi hari-hari sebelumnya dapat membuat kita tegang setengah mati dan begitupun hari sesudahnya akan menjadi pengalaman berarti dalam menghabiskan sisa hidup bersama pasangan, makanya kita disarankan untuk mencari pasangan yang baik begitupun dalam Islam memprioritaskan akhlak dalam mencari pasangan hidup setelahnya baru rupa, kekayaan dan juga bibit bobot keluarga.


Setelah shalat subuh tadi, Dimas tak henti-hentinya mengulang perkataan yang akan dia ucapkan pada saat akad. Meskipun dia adalah seorang dosen, tapi yang namanya mengucapkan akad di hadapan penghulu tidak semudah yang di bayangkan, buat yang belum menikah dan akan segera menikah percayalah hal seperti ini akan kalian rasakan nanti.


Ayah sultan masuk kedalam kamar anaknya yang tidak tertutup, mengambil duduk di samping Dimas yang tengah duduk di pinggiran tempat tidur. Menepuk bahu anak lelakinya itu, "Tenang nak, Ayah percaya kamu pasti bisa mengucapkan itu tanpa kendala, nanti jangan bikin malu Ayah ya." Sambil terkekeh pria paruh baya itu menyemangati anaknya.


"Iya Ayah, Dimas pasti bisa." Menjawab mantap sambil memeluk Ayahnya.


"Yasudah, ayo kita berangkat sekarang, setengah jam lagi akad akan dimulai." Menggandeng tangan anaknya beranjak dari tempat mereka duduk lalu keluar menuju lantai bawah yang di sana sudah berkumpul keluarga inti yang akan menjadi pengiring pengantin pria menuju kediaman calon pengantin wanita tempat akad diselenggarakan.


Oca tidak ikut serta mengantar sang kakak, sebab ia telah lebih dulu tiba di rumah Keyla, katanya ingin menemani sahabatnya itu di hari bahagia ini.


Keluarga inti Bahtiar telah memasuki mobil masing-masing yang akan membawa mereka ke tujuan.


Di rumah Keyla sudah ramai dengan keluarga besar Keyla dan segala perlengkapan untuk akad nanti, rumah utama sudah di hias sedemikian rupa agar terlihat menarik untuk tempat akad diselenggarakan, orang-orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Keyla sekarang tengah berada dalam kamarnya, kamar itu sudah diubah menjadi kamar pengantin pada umumnya.


"Masya Allah key kamu cantik banget." Kata Oca memuji tampilan sahabatnya ini, Keyla memang pada dasarnya sudah cantik di tambah make up yang menyempurnakan penampilannya hari ini membuat orang yang melihat terkesima dibuatnya.


Ummi Khadijah masuk ke dalam kamar anaknya, berjalan mendekat ke arah Keyla dan Oca duduk, wanita paruh baya itu menundudukan diri di samping keyla, anaknya.


"Ini beneran anak Ummi kan?" tanya Ummi dengan candaan.


"Iya ummi ini masih anak Ummi kok tenang aja." Jawab Keyla dengan candaannya juga.


"Tapi bentar lagi jadi istri orang kan?" Itu bukan suara Ummi melainkan Oca yang menimpali candaan antara ibu dan anak itu. Mereka lalu tertawa dengan candaan yang mereka buat sendiri.


Tiba-tiba pintu terbuka dari luar dan munculah Kak Rasyid dengan setelan jas rapi, "Pengantin pria sudah datang, sepuluh menit lagi akad akan segera dimulai." Setelah mengatakan itu Rasyid keluar lagi, karena dia akan menjadi salah satu saksi dalam pelaksanaan akad nikah adiknya.


Tak berselang lama terdengar suara penghulu memulai sesi akad.


"Bismillahirrahmanirrahim, Ananda Dimas Melianto Saputra Bahtiar saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Keyla Nadira Harahap binti Rahman Harahap dengan seperangkat alat shalat dan uang seratus juta rupiah di bayar tunai." Sambil menjabat tangan Dimas.


"Saya terima nikah dan kawinnya Keyla Nadira Harahap binti Rahman Harahap dengan maskawin tersebut di bayar tunai". Dengan satu tarikan nafas Dimas mengucapkan akad.


"Bagaimana para saksi, Sah." Intruksi pak penghulu.


"Sah". Jawab para saksi nikah dengan lantang.


"Alhamdulillah," Ucap penghulu sambil mengangkat tangan membacakan doa setelah akad.


"Sudah jangan nangis nak, bedak kamu luntur tuh." Hcap Umminya yang sama dengannya menangis haru. Ibu dan anak itu saling berpelukan. Oca juga memeluk sahabatnya dari samping.


"Assalamu'alaikum". Ucap salam dari luar.


*I*ni suara pak Dimas kan? Aaaa jantung berpihaklah padaku, ini kok dengar suaranya doang bisa berefek ke jantung sih.


"Wa'alaikumussalam." jawab Ummi dan Oca. Keyla hanya diam menunduk tak kuasa melihat langsung siapa yang datang, meskipun ia tahu yang datang itu Dimas, suaminya.


Tak lama pintu di buka dari luar, Dimas masuk dengan gagahnya berjalan perlahan. Ummi dan Oca yang melihat Dimas segera beranjak keluar menyisakan Keyla dan Dimas di kamar itu.


Keyla hanya menunduk diam sambil meremas jemarinya karena gugup yang kian mendera. Langkah kaki Dimas semakin mendekat dan berhenti tepat di hadapan Keyla duduk saat ini.


"Ehem." Berdehem sejenak, "Kamu tidak capek menunduk seperti itu?" Lanjutnya dengan pertanyaan yang membuat Keyla mengangkat sedikit kepala tapi masih dengan pandangan ke bawah. Seakan pandangan di bawah itu lebih istimewa dari pada menatap suaminya sendiri.


"Tatap aku jika sedang berbicara Keyla." Tuturnya lagi dengan suara agak tegas namun tidak keras.


Seketika Keyla mengangkat pandangannya untuk menatap orang yang berbicara, "I..iya Pak, eh Mas." Ucap Keyla gugup, dia bingung ingin memanggil suaminya itu dengan panggilan apa, jadi terpaksalah dia memanggil dengan kata Mas karena panggilan itu pun tak terlalu buruk, pikirnya.


*Y*a ampun keyla, tenang oke tenang, tarik nafas hembuskan huff.


Dimas mengulurkan tangan kanannya yang segera di sambut oleh Keyla lalu di ciumnya tangan itu dengan takzim, *Y*a Allah ternyata begini ya rasanya setelah menikah, cium tangan suami saja gemeteran begini apalagi nanti malam pertama, Aaaaa kenapa jadi mengarah kesitu sih.


Dimas kemudian membacakan doa dengan satu tangan menyentuh kepala Keyla, Keyla hanya meng-aminkan setiap doa yang Dimas ucapkan dengan hati yang berdesir.


"Ayo, kita kebawah." Ajak Dimas menggandeng tangan kanan Keyla lalu ia sematkan di lengannya.


Pandanga takjub terarah kepada mereka yang sedang berjalan menuruni tangga menuju tempat yang telah di sediakan untuk mereka.


Sampai di bawah, Dimas menuntun istrinya kehadapan orang tua mereka untuk menyematkan cincin di jari pasangan masing-masing lalu setelahnya di lanjutkan dengan sungkeman.


Dimas dan Keyla duduk di tempat yang telah disediakan, Ummi memberi nampan berisi kotak cincin dan Dimas mengambil kotak itu lalu membukanya, mengambil satu cincin untuk ia sematkan di jari manis keyla, "Cium tangan suamimu nak." Perintah Ummi di samping Keyla. Keyla pun mencium tangan suaminya sedikit lama, sang foto grafer mengabadikan momen itu begitu pun ketika Keyla menyematkan cincin di jari manis suaminya lalu Dimas mencium kening Keyla.


Keyla dan Dimas duduk dihadapan orang tua Keyla terlebih dahulu, "Ummi, maafin Keyla kalau Keyla banyak salah sama Ummi hiks." Hcap Keyla berderai air mata. "Iyya nak ummi merasa kamu tidak pernah melakukan salah, kamu sudah menjadi anak yang baik selama ini. Jadi istri yang baik untuk suami mu, taat lah kepadanya jangan membangkan padanya, ingat ridho Allah ada pada suami mu sekarang surgamu ada pada suamimu." Petuah Ummi, Keyla hanya mengangguk dalam pelukan sang ibu dengan air mata yang terus mengalir, haru itulah yang ia rasakan saat ini. Beralih pada Abah, Keyla memeluk erat pria paruh baya itu mendengarkan setiap petuah yang Abahnya ucapkan. Begitupun dengan Dimas yang mendengarkan petuah dari Ibu mertunya.


Sekarang giliran sungkeman kepada orang tua Dimas, Keyla mencium lalu memeluk bunda Rahma, mertuanya. "Sekarang kamu sudah jadi anak bunda sayang, makasih untuk semuanya." Sambil sesekali mengusap air mata yang mengalir di kelopak mata, wanita paruh baya itu mengusap punggung Keyla. Dimas juga melakukan hal yang sama pada ayahnya, "Kamu sudah mempunyai tanggung jawab baru nak, bimbing istrimu dengan jalan yang benar dalam mengharap ridho Allah, jangan kerasi dia, jadilah lelaki yang gentelman." Nasihat Ayah Sultan kepada anak lelakinya dalam pelukan."Iya Ayah, tanpa Ayah minta pun Dimas akan membahagiakan istri dan juga anak Dimas kelak.


*A*aaa kok jadi sedih juga ya lihat mereka, nanti juga aku bakal seperti mereka kan. Oca


Bersambung.