
Menjelang sore Keyla duduk manis di depan tivi sehabis mandi, memakai baju kaos berlengan pendek dipadukan dengan celana kain sebatas lutut rambut yang di gulung handuk sehabis keramas, duduk bersandar di sofa matanya fokus pada layar tivi di depan sana tapi tangannya memegang garpu dan mulut tak berhenti mengunyah sepiring batagor yang di pesannya tadi secara online.
Bunyi pintu yang di buka dari luarpun tak mengusik fokus Keyla yang sedang asik menonton tayangan di tivi sambil menikmati sepiring batagor.
Dimas yang baru saja masuk merasa heran dengan tingkah istrinya hari ini tak biasanya dia seperti itu. Kemarin-kemarin kalau dia baru saja pulang kerja pasti istrinya akan senantiasa menyambut di depan pintu dengan senyum manisnya, tapi lihat lah sekarang, dia malah asik sendiri dengan dunianya. Tak mau ambil pusing Dimas langsung saja mendekati istrinya berdiri tepat di belakang wanita itu.
"Fyuhh." Meniup tengkuk leher Keyla membuat si empunya merasa geli dan mengusap-ngusap tengkuknya.
"Astagfirullah." Merasa geli juga gemas dengan kelakuan suaminya ini.
"Mas, jangan di gituin tahu, geli." Merengek tatkala tangan Dimas mulai menggelitik punggungnya, membuat fokusnya teralihkan dari layar tivi.
"Siapa suruh suami pulang kerja malah di anggurin." Pura-pura merajuk.
"Iya maaf mas a.aku nggak dengar tahu, haha." Terengah-engah sambil tertawa sebab rasa geli dari gelitikan jemari Dimas yang makin menjadi.
Keyla terbaring di sofa karena tak bisa menopang berat badannya sendiri efek gelitikan Dimas di tubuhnya, handuk yang semula melilit di rambut basahnya terlepas jatuh ke lantai membuat rambut panjangnya terurai bebas, posisi Dimas yang menindih tubuh Keyla membuat rasa canggung menderap hati keduanya tapi tak juga berani merubah posisi mereka yang masih saling tatap-tatapan.
Dimas menyangga berat badannya dengan memegang sandaran sofa dengan kedua tangan agar tak menyakiti istrinya dengan bobot badannya yang berat, memerangkap Keyla di bawah tubuh tegapnya.
"Mas." Cicit Keyla malu-malu.
Posisi macam apa sih ini buat jantungku makin menggila saja di dalam sana.
"Hm." Masih menatap kedua mata bulat Keyla seolah di sana terdapat sesuatu yang sangat indah untuk di pandangi.
Pura-pura menutup hidung, "Kamu bau mas, mandi dulu sana." Mendorong dada bidang Dimas pelan, bermaksud mengusir secara halus.
Tapi Dimas tak mengindahkan sindiran itu malah mengikis jarak di antara mereka hingga satu ciuman berhasil ia dapatkan di bibir mungil Keyla.
Cup, mendaratkan ciuman lagi di tempat yang sama. "Itu untuk istri yang tidak menyambut suaminya pulang kerja."
Cup, masih di tempat yang sama untuk ke tiga kalinya, "sekarang kita impas." Senyum kemenangan terbit di sudut bibirnya.
Keyla terdiam, sepersekian matanya mengerjap cepat dengan mulut yang mengatup, oh jangan lupakan semburat merah di kedua pipi cuby nya, sudah seperti tomat cerry.
"Mas." Menutup wajah dengan kedua tangan karena rasa malu yang tiba-tiba muncul.
"Masih saja malu ya." Terkekeh, menarik Keyla duduk kembali di sofa.
"A.aku belum siap tau." Merengek, masih menyembunyikan wajah di balik telapak tangan.
Dimas melepaskan tangan yang menutupi wajah istrinya, mengangkat dagu Keyla dengan jari telunjuk hingga pandangan mereka sejajar.
"Humairah."
"I.iya mas." Cicit Keyla.
"Kenapa wajah mu bertambah cantik begini hm?" Mulai menggoda.
"Ha?" Tak bisa di pungkiri Keyla bertambah malu, menggit bibir bagian dalam guna mengurangi rasa gugup yang mendominasi.
"Ha ha, pipi mu bertambah merah begitu, menggemaskan sekali istriku ini." Menarik Keyla dalam pelukan.
Tangan Keyla terulur mencubit perut rata Dimas.
"Aw." Masih dalam posisi memeluk Keyla. "Sudah berani main tangan ya."
"He he, hari ini kamu berbeda mas." Cengengesan menatap wajah Dimas.
"Berbeda bagaimana?" Balik menatap.
"Banyak bicara dan nempel terus sama aku."
"Karena." Masih berpikir. "Karena aku ingin saja seperti ini."
"Benarkah?"
Mengangguk.
"Yasudah sana mandi mas, sudah sore ini kamu dari luar harusnya langsung mandi bukan langsung meluk aku tahu, jadinya badanku bau lagi karena kamu peluk tapi belum mandi." Mulai mengomel tapi masih saja memeluk tubuh suaminya.
Dimas hanya tersenyum menanggapi omelan Keyla.
***
"Mas." Memanggil Dimas yang masih fokus di layar laptop.
"Hm."
"Kamu sudah janji kan mau bantu kerja laporan ku."
"Hm."
"Mas." Mulai jengkel.
"Hm."
Hm hm terus dari tadi, hey aku bukan orang yang bisa mengartikan bahasa isyarat mu itu tau, irit sekali sih bicaranya buat orang jengkel saja.
Tapi kata-kata itu hanya terucap dalam hati, dongkol sendiri, memilih tidur membelakangi Dimas, diam tidak berbicara lagi. Ngambek mode on.
Dimas menoleh pada istrinya yang tiba-tiba saja diam, bukan bermaksud tidak ingin menggubris wanita itu hanya saja tadi dia sedang menyelesaikan pekerjaannya di laptop agar bisa mengobrol dengan istrinya tanpa gangguan.
Akhirnya Dimas menyudahi pekerjaannya, menutup laptop lalu menyimpannya di atas nakas.
Mendekat ke arah Keyla berbaring, "Iya aku akan bantu mengerjakannya."
Keyla masih saja diam dengan posisi berbaring membelakangi Dimas.
"Hey." Tangannya terulur membalik posisi berbaring Keyla hingga kini berhadapan dengannya.
"Kenapa menangis." Mulai khawatir melihat air mata Keyla.
Keyla masih diam, tapi air mata tak kunjung berhenti mengalir di sudut mata dengan mulut yang cemberut seperti anak kecil yang sedang merajuk saja.
"Kamu kenapa hm, ada yang sakit?"
"N.nggak." Terbata-bata.
"Terus kenapa kamu menangis, apa karena aku?"
Keyla menggeleng.
"Terus?"
"Nggak tahu tiba-tiba langsung nangis saja hiks." Tangis pun meledak.
Kenapa jadi cengeng begini sih, padahal kan tadi pura-pura ngambek doang kok langsung jadi nangis.
Menarik istrinya dalam pelukan, mengusap rambut Keyla untuk menenangkan wanita itu.
"A.aku cengeng ya mas." Sesegukan karena tangis.
"Nggak kok, kamu cantik kalau sedang menangis." Bercanda mencairkan suasana.
"Berarti kalau nggak lagi nangis aku jelek!" Menatap wajah Dimas sinis dengan mulut yang cemberut, lucu.
"Nggak sayang, dalam keadaan apapun kamu tetap cantik kok, beneran deh." Menahan senyum.
Astaga padahal tadi dia sedang merajuk tapi sekarang jadi galak begini, cepat sekali perasaannya berubah-ubah.
"Nggak bohong kan?" Suaranya memelan lagi.
"Serius." Menarik kembali dalam pelukan, menyandarkan dagu di atas kepala Keyla sesekali menghirup ubun-ubun wanita itu.
"Sudah ya sekarang kita tidur oke." Ucap Dimas lagi.
Keyla hanya mengangguk, membalas pelukan Dimas memebenamkan lebih dalam wajahnya di dada bidang suaminya itu.
Keyla juga tidak tahu kenapa sekarang dia jadi begitu lembek dalam artian cepat sekali perasaannya menjadi melow hanya karena hal sepele, seperti tadi tiba-tiba langsung menangis seperti ada desakan dari dalam hingga tidak bisa mencegah perasaan sedih itu muncul.
Bersambung.