
Dua jam sebelumnya.
Mereka sarapan bersama di rumah Bunda, rumah yang tadinya sunyi sekarang jadi ramai dengan kedatangan menantu di rumah itu.
"Pokoknya Keyla harus makan yang banyak ya nak, cucu bunda juga butuh makan di dalam sana." Bunda dengan antusias mengisi piring Keyla dengan beragam macam lauk pauk.
Keyla melongo melihat isi piringnya sudah seperti porsi makan untuk dua orang, banyak sekali.
Ya Allah, ini penyiksaan namanya, aku harus makan semuanya gitu? Mau di taruh di mana makanan sebanyak ini, lambungku cuman satu dan ukurannya juga kecil.
Menoleh pada Oca, Ayah dan Dimas seolah meminta bantuan.
Ayah memberi respon dengan wajah sedih yang di buat-buat, dia paling tidak bisa membantah perkataan bunda, dia juga kasihan pada menantunya.
"Bunda, apa itu nggak kebanyakan." Kata Ayah mencoba menolong Keyla.
Bunda menatap ayah dengan senyum mengembang sempurna, " Ayah, Keyla harus makan banyak dia kan sedang hamil cucu kita, iya kan Keyla." Menoleh lagi pada Keyla.
"I.iya Bun." Memberi senyum paksa.
"Bunda, istriku tidak bisa makan sebanyak itu, nanti kalau dia kesusahan bernafas bagaimana, justru malah menyakiti istriku dan calon cucu bunda kan." Dimas membuka suara, kasihan juga melihat istrinya tidak bisa berbuat apa-apa.
Bunda mengangguk paham, " Oh gitu yah, yasudah makan saja separuhnya, nanti kalau nggak bisa di habisin suruh Dimas saja ya yang habiskan ya."
"Iya Bunda." Keyla bersorak senang dalam hati, setidaknya dia tidak mati konyol karena kekenyangan.
Selesai makan kedua lelaki beda usia itu pergi keruang tamu mengobrol berdua, sudah menjadi kebiasaan antara Ayah dan anak lelaki.
Sedang ketiga wanita itu membereskan bekas makan mereka.
"Ini biar bunda saja yang cuci." Bunda mengembil alih piring yang bendak di cuci Oca dan Keyla.
"Tapi bun." Keyla ingin menolak, tidak enakan rasanya bila harus seperti itu, tapi tatapan bunda membuat dia pasrah saja.
"Yaudah bun, kami ke kamar dulu ya." Kata Oca sembari menarik tangan Keyla menjauh menuju kamar kakaknya yang di tempati pasutri itu.
"Key." Mereka sedang duduk bersila di atas tempat tidur.
"Iya, kenapa Ca?" Menoleh pada Oca disampingnya
"Aku pinjam mobil mu ya." Ragu-ragu.
"Boleh, tapi ada di apertemen."
"Nanti aku yang ambil di sana." Oca bersorak dalam hati.
"Mau kemana sih, kenapa nggak pakai mobil mas Dimas saja, kebetulan nganggur tuh di depan." Saran Keyla, dari pada Oca harus ke apertemen lagi yang akan memakan waktu lamu mending dia pakai mobil kakaknya saja kan toh juga tidak ada yang memakainya sekarang.
Aduh Key bukan itu masalahnya, aku juga punya mobil sendiri kali, tapi ini genting banget buat ngejebak orang itu biar di kira aku itu kamu dengan aku pakai mobil kamu.
"Mobil kak Dimas itu kegedean tahu, aku mau pakai mobil kamu saja." Memperlihatkan pupy eyes andalannya.
Keyla turun menuju meja rias, memeriksa tas selempangnya,"Baiklah, karena aku orang baik dan rajin menabung, nih kuncinya kebetulan aku bawa." Memberikan kunci mobilnya pada Oca.
"Oke, makasih kakak iparku yang cantik." Mereka pun tertawa bersama karena candaan yang mereka buat sendiri.
"Yasudah, aku pergi dulu ya ada urusan." Pamit Oca hendak beranjak dari kamar itu.
"Emang mau kemana sih?" Bertanya penasaran.
Terlihat Oca berpikir sejenak, " Ada deh, tenang ya mobil mu aman bersamaku." Setelahnya dia berjalan keluar kamar.
Dimas menunggu di depan pintu kamar, melihat adiknya keluar dari kamar, Dimas segera menghampiri adiknya itu.
Oca memperlihatkan kunci mobil di hadapan kakaknya.
"Dapat dong, aku langsung pergi sekarang saja, mereka sudah menuju apertemen kakak sekarang."
"Tapi dek." Dimas khawatir, tidak tenang membiarkana adiknya pergi sendiri dan menghadapi ke dua pria itu sendirian, dia juga ingin turut serta paling tidak dia bisa memastikan adiknya aman.
Melihat raut khawatir di wajah kakaknya, Oca tersenyum untuk meyakinkan kakanya.
"Aku bisa kak, tenang saja aku bisa jaga diri sendiri." Kata Oca meyakinkan Dimas bahwa dia bisa melakukan itu sendirian.
"Hah." Menghembuskan nafas gusar, " Yasudah, kalau terjadi apa-apa langsung hubungi kakak ya."
"Oke deh."
Tiba di apertemen milik kakaknya, Oca mencari keberadaan mobil Keyla, menekan tombol otomatis pada kunci mobil dan alarm mobil itu pun berbunyi.
"Nah itu dia." Mengampiri mobil Keyla yang terparkir.
Membuka pintu mobil itu lalu masuk ke dalam, duduk di belakang kemudi.
"Hufh, Bismillah." Oca menjalankan mobil itu keluar dari basemant apertemen.
Oca terus melihat di kaca spion samping kanannya, di belakang sana sudah ada orang suruhan wanita itu yang mengikuti mobilnya.
Bagus, kalian sudah masuk perangkapku sekarang.
Oca menambah kecepatan mobilnya, orang di belakang sana pun sama, menambah kecepatan kendaraan mereka mengikuti laju mobil Oca.
Oca menjalankan mobilnya memasuki gank sempit dan sunyi, mematikan mesin mobil, Oca masih memperhatikan pergerakan orang di belakang sana dalam diam.
Kedua pria itu keluar dari mobil mereka, berjalan menghampiri mobil Oca. Oca masih diam memperhatikan hingga salah satu dari mereka mengetuk kaca mobil Oca.
Oca keluar dengan aura wajah yang tentang, seperti tidak takut dengan kedua pria itu.
Setelah melihat orang dalam mobil itu keluar, kedua pria itu saling bertatapan, melihat kembali lembar foto yang di berikan nonanya, dan benar wanita di hadapan mereka sekarang bukanlah orang yang sama seperti di foto, mereka salah orang, tapi mobil yang di kendarainya sama persis.
Melihat keterbingungan mereka Oca tersenyum miring, "Kenapa? kalian salah orang ya." Pura-pura bertanya.
Kedua pria itu mengangguk bersamaan.
"Kalian tidak salah orang, kalian sudah menangkap orang yang benar." Ucap Oca lagi, membuat kedua pria itu bingung.
"Apa maksud kamu." Ucap salah satunya, merasa di permainkan dengan gadis kecil di depannya sekarang dia pun maju selangkah hendak menyerang Oca tapi pergerakannya kalah cepat dengan pergerakan Oca yang sudah menendang perutnya cukup keras terlebih dahulu, pria itu terpental mundur, memegangi perutnya yang nyeri.
Pria satunya merasa tertantang, tidak terima temannya di perlakukan seperti itu, apa lagi dengan seorang gadis kecil.
Sudah maju, memasang ancang-ancang ingin menyerang Oca.
Oca dengan gerakan cepat, memutar kaki bagian kiri hingga mengenai kepala pria itu, dia pun sama terpental ke belakang, memegangi kepalaya yang berdenyut nyeri, darah segar sudah meluncur di kedua hidungnya efek tendangan Keyla yang cukup keras.
Oca tersenyum bangga dengan keahliannya ini.
"Cuma sebatas itu kemampuan kalian, ha ha."
Kedua pria itu bangkit lagi, mereka menyerang Oca secara bersamaan, dua lawan satu hingga kedua pria itu ambruk ketanah, wajah mereka sudah babak belur.
"Hufh, kalian membuang energi ku saja." Oca mengikat tangan dan kaki mereka, menyuruh mereka untuk masuk kedalam mobil yang di kendarai kedua pria itu tadi.
Oca menelfon kembali kakaknya. Tak lama Dimas pun datang dan mengendarai mobil Keyla, mengikuti mobil yang di kendarai Oca dari belakang.
Bersambung.