My Lecturer is Husband

My Lecturer is Husband
Bab 26



Setelah mengetahui istrinya sekarang hamil, Dimas menjadi pria yang sangat over protektif pada Keyla, pokonya hal sekecil apapun yang ingin di kerjakan istrinya harus dengan seizinnya dulu. Mungkin karena ini anak pertama jadi dia begitu antusias takut terjadi apa-apa pada istri dan bakal calon anaknya nanti jika istrinya dibiarkan bekerja.


Seperti halnya pagi ini, padahal Keyla hanya ingin membuat sarapan saja di dapur, tapi Dimas dengan sikap posesifnya tidak mengizinkan istrinya untuk melakukan itu, katanya biarlah dia yang mengambil alih pekerjaan istrinya di rumah.


"Mas, aku cuman mau buat sarapan tahu." Sudah memohon dengan sangat, dia cuman mau buat sarapan saja bukan mau goyang zumba yang harus di larang-larang begitu, dia kan juga tahu apa yang boleh dan tidak boleh di kerjakan saat hamil begini.


"Nggak boleh Humairah, kamu mau makan apa nanti mas yang masakin." Memilih menawarkan diri untuk mengerjakan apa yang istrinya inginkan, membuat sarapan, dari pada melihat istrinya kenapa-kenapa nanti.


"Yaudah, aku pengen makan nasi goreng sama ayam tumis kecap." Cemberut dan memilih mengalah saja dari pada dia kelaparan karena berdebat terus.


Menggendong Keyla yang masih sementara duduk di sofa kamar membuat wanita itu memekik kaget.


"Mas." Sudah mempelototi minta di turunkan, tapi Dimas dengan sengaja malah menciumi wajah Keyla.


Ya Allah, aku yang hamil kok malah dia yang manja begini sih, apa aslinya emang seperti ini ya, wajahnya saja yang sedingin es tapi hatinya selembut sutra, eh kok malah ngelawak sih.


Keyla pasrah saja di gendong begitu, menghadapi sifat suaminya yang mulai manja memang harus extra sabar.


Mendudukkan Keyla di kursi dapur, "Tunggu di sini, pesanan mu akan segera di masak." Sudah seperti pelayan resto saja Dimas ini.


Dimas mulai beraksi, mengeluarkan bahan-bahan makanan mentah dari dalam kulkas, membuat nasi goreng terlebih dahulu setelah itu membuat ayam tumis kecap pesanan istrinya.


Beberapa menit kemudian masakannya pun matang, segera Dimas menata ke atas piring untuk di hidangkan di atas meja.


"Wah, kamu bisa masak ya sayang." Matanya berbinar melihat makanan favoritnya di depan mata sampai tidak sadar dengan apa yang telah dia ucapkan barusan.


Mulai mencicipi makanan itu, diam sejenak membuat Dimas harap-harap cemas dengan rasa masakannya.


"Gimana?" Bertanya tidak sabaran melihat istrinya yang hanya diam tidak merespon.


"Enak." Mulai menyuapi lagi makanan itu ke dalam mulutnya dengan mimik wajah bahagia.


"Ha ha, sudah ku bilang kan aku jago dalam memasak." Menyombongkan diri.


"Iya mas, sekalian nanti yang nyapu, nyuci piring, nyuci pakaian sama bereskn rumah dan masak makan siang dan malamnya kamu juga ya mas, setelah ini aku mau tidur." Tersenyum cerah di akhir kata seperti menemukan hadiah undian.


Rasakan itu mas, siapa suruh kan ngelarang ini itu, yasudahlah kita bobok cantik aja ya nak biarkan ayahmu yang bekerja, hihi.


Mengelus perut ratanya di bawah meja, senang sekali melihat ekspresi wajah Dimas sekarang.


"Iya." Seketika wajahnya berubah lesu.


Hm, tidak masalah ini demi anak dan istri Dim.


Selesai dengan makannya, Keyla benar-benar ingin melakukan perkataannya tadi yaitu rebahan lagi setelah makan padahal ini masih pagi.


Baru saja ingin melangkah, bunyi bel yang di tekan dengan tidak sabaran menghentikan langkahnya.


"Siapa mas?" Menoleh pada Dimas yang masih duduk di kursi.


"Nggak tahu, aku saja yang buka." Beranjak kearah pintu, membuka pintu itu. Dimas di kejutkan dengan kedatangan rombongan keluarganya, ada Ayah Bunda Oca Abah Ummi dan Rasyid.


Eh, ada apa ini, mereka mau mengunsi ya?.


"Siapa mas." Teriak Keyla dari dalam.


"Oca." Menghampiri Oca yang terlebih dahulu masuk lalu setelahnya di susul dengan keluarga yang lain.


"Hah, Ummi Abah Kak Rasyid, Bunda sama Ayah juga kesini." Bergumam-gumam.


Bunda dan Ummi menghampiri Keyla mengajaknya untuk duduk bersama di sofa ruang tamu, di sana sudah ada Abah, Ayah, Dimas dan Rasyid yang sedang mengobrol.


Keyla bingung, kenapa semua anggota keluarganya ada di apertemennya pagi ini perasaan dia sedang tidak membuat acara atau apapun itu, pikirnya.


Tiba-tiba Oca mengelus perut datarnya yang tertutupi daster, " Bentar lagi dapat ponakan." Tersenyum.


Oh, jadi sudah pada tahu kalau aku hamil ya makanya datang kesini semua, pasti kak Rasyid yang beritahu ini padahal kan rencananya mau buat kejutan, batal deh.


"Kamu nggak boleh kerja yang berat-berat nak, ingat ini anak pertama loh." Wejangan dari Ummi.


"Iya Ummi Keyla nggak kerja yang berat-berat kok." Tersenyum kalem menanggapi.


"Benar itu, pokoknya semua pekerjaan rumah suruh Dimas saja yang kerjakan ya." Giliran Bunda yang memberi wejangan.


"Kamu yang sabar ya Dim, perempuan memang sepertu itu kalau lagi hamil, banyak sekali pantangannya." Ucap Ayah memberi dukungan.


"Iya Dim, Abah juga dulu sama seperti kamu." Melirik pada Ummi penuh arti.


Dimas hanya tersenyum maklum.


Aku kuat kok iya aku kuat.


Menguatkan diri sendiri.


Beda halnya dengan Rasyid, diam seribu bahasa. Entah apa yang dia lakukan dengan duduk diam di sini sepertinya dia tidak di perlukan lagi, lihat saja semua jadi fokus sama bakal calon orang tua baru itu, Keyla dan Dimas. Seketika Rasyid berteriak dalam hati 'Ya Allah aku ingin menikah, tak sanggup hidup terasingkan seperti ini'.


"Kak Rasyid bawa apa itu." Bertanya penasaran melihat paperbag yang di pegang kakaknya.


"Oh ini susu bumil sama vitamin untuk kamu konsumsi dek, dan ada juga obat-obat untuk mengatasi rasa mual, semua sudah kakak resepkan." Sekarang Rasyid bangga dengan profesinya sebagai dokter dia jadi diperlukan sekarang.


"Wah, terimakasih ya kak, tambah sayang deh." Menghampiri Rasyid dan memeluk pria itu di hadapan Dimas.


Tidak tahu saja wajah Dimas sudah merah padam sekarang.


Wajahnya kenapa menakutkan begitu sih, apa karena aku meluk kak Rasyid ya? Hey dia kakakku tahu tidak usah cemburu begitu, buat orang jadi ngeri saja.


Keyla melepaskan pelukan memilih kembali duduk lagi di samping Ummi.


Merenlka bercengkrama panjang lebar seputar kehamilan, apa yang boleh dan tidak boleh untuk dimakan, tidak boleh mengerjakan pekerjaan ini dan itu, harus banyak istrahat dan masih banyak lagi wejangan-wejangan lainnya seputar kehamilan dari para orang tua yang sudah berpengalaman itu.


Sedang pria berbeda usia itu memilih membahas seputar pekerjaan dan bisnis dan berlanjut dengan obrolan seputar olahraga tinju dan sepak bola.


Oca jadi penonton setia memilih menyimak saja.


Ternyata begini ya rasanya ngejomblo, berasa nggak di anggap, hiks.


Bersambung.