My Lecturer is Husband

My Lecturer is Husband
Bab 13



Melihat keluar jendela pesawat sesekali mengembuskan nafas berat, memang sesak rasanya meninggalkan orang terkasih apalagi yang setiap hari berada di sisi.


Ternyata begini rasanya berpisah dengan pasangan halal, Allah hamba serahkan dia dalam lindungan-Mu.


Merogoh saku celana mengeluarkan benda pipih persegi, membuka kunci benda itu, di layar terpampang foto sang istri yang dia ambil secara diam-diam kala itu. Ingatannya terbayang beberapa hari yang lalu, saat dimana dia baru saja bangun dari tidur wajah istrinya pertama kali terlihat ketika membuka mata, alis yang tersusun rapi pipi yang cuby hidung kecil dan bibir yang mengerucut, menggemaskan, "tidur saja kamu semanis ini." Mengecup bibir itu sekilas, terbesit ide di kepala untung mengabadikan moment ini, mengambil ponsel di atas nakas lalu memotret wajah istrinya, "lucu, ini akan aku jadikan walpaper."


Tersenyum sendiri tatkala mengingat kejadin waktu itu. Terdengar pemberitahuan bahwa pesawat akan segera lepas landas. Dimas menyandarkan punggung di sandaran kursi, memejamkan mata perlahan barangkali istrinya akan datang dalam mimpi.


Keyla saat ini berada dalam taxi yang akan mengantarnya kembali pulang, melihat keluar jendela kendaraan berlalu lalang di sekitar. Ponselnya bergetar sebuah panggilan masuk.


Ummi❤️ is calling...


Menjawab panggilan itu.


"Assalamu'alaikum Ummi."


"Wa'alaikumussalam, nak kamu dimana?"


"Ini lagi di jalan Mi, ada apa?".


"Kamu ke rumah Ummi ya, tadi nak Dimas telfon Ummi katanya dia keluar kota hari ini, kamu di suruh nginap di sini dulu"


"Iya ummi, tapi Key mau ke apertemen dulu mau ngambil barang."


Yang tadinya ingin tinggal sendiri di apertemen karena ingin merasakan kehadiran suaminya niatan itu batal, dia pun tak bisa menolak ajakan Ummi apalagi suaminya sendiri yang meminta langsung.


"Yaudah, nanti Ummi suruh Rasyid jemput kamu di apertemen ya nak, kamu jaga diri di situ, Ummi tutup dulu Wassalamu'alaikum."


"Iya Ummi, Wa'alaikumussalam."


Sedang di rumah orang tua Keyla Ummi heboh sendiri menyuruh anak lelakinya untuk menjemput adiknya.


"Kak Rasyid." Teriak Ummi dari lantai bawah.


"Iya ummi, ada apa." Keluar dari kamar menuju lantai bawah, menghampiri Ummi yang baru saja memanggilnya.


"Kamu jemput adik kamu sekarang ya."


"Keyla mau nginap di sini Ummi." Bertanya dengan senyum yang mengembang.


"Iya, suaminya keluar kota hari ini, Ummi juga nggak tenang kalau anak itu harus tinggal sendiri, kamu tau sendiri kan adik kamu itu penakut." Khawatir mengingat anak gadisnya itu tidak bisa dibiarkan tinggal sendirian.


"Iya Ummi, Rasyid jemput Keyla sekarang." Bergegas kembali ke kamar mengambil kunci mobil, tak lama dia turun lagi, "Ummi Rasyid pergi dulu, Assalamu'alaikum." Pamitnya lalu menghilang di balik pintu.


***


Mengambil beberapa pakaian yang akan ia bawa ke rumah orang tuanya, tidak terlalu banyak karena di sana juga masih tersisa pakaiannya dulu sebelum ia menikah. Melihat ke pojok ruangan di sana terletak keranjang berisikan pakaian yang siap di cuci.


Turun dari ranjang menghampiri keranjang itu lalu membukanya, mengambil kemeja yang suaminya pakai tadi, menghirup aroma suaminya yang masih melekat, "aku bawa saja ya biar bisa di cium-cium hihi." Seperti mendapat jakpot dia begitu senang membawa kemeja itu, kalau tidak bisa memeluk orangnya langsung biarlah pakaiannya saja di sini juga masih tersisa aroma tubuhnya jadi kalau rindu tinggal memakai kemeja itu lalu memeluk diri sendiri itu bisa membantu pikirnya.


Bel apertemen berbunyi, "Itu pasti kak Rasyid deh." Bergegas membuka pintu, dan benar Rasyid lah yang datang berkunjung untuk menjemputnya.


"Assalamu'alaikum adik kecil." Masuk ke dalam langsung duduk di sofa tanpa di minta.


"Wa'alaikumussalam, cepat banget nyampenya kak." Menghampiri kakaknya lalu duduk di samping pria itu.


"Kakak tadi ngebut, pengen cepat ketemu kamu rindu berat." Sambil mendekati adiknya bermaksud ingin memeluk.


"Ck, kakak lebay deh, jangan manja sama Keyla."


"Lho emang kenapa, kan adik sendiri ini." Berusaha memeluk lagi dan memasang senyum manis andalannya jika sedang bersama adiknya.


"Ish ish, kelamaan ngejomlo jadi kayak gini kan, makanya kak cepetan nikah biar Keyla ada teman ngobrol gitu." Menggoda kakaknya dengan permintaan yang sulit untuk Rasyid penuhi dengan cepat.


"Iya nanti." Menjawab cepat.


"Kapan?"


Keyla hanya cemberut tidak mendapatkan jawaban jelas. Menuju kamar mengambil barang yang sudah ia taruh di dalam tas untuk di bawa.


***


Setelah melaksanakan shalat isya Keyla memilih membaringkan tubuhnya di tempat tidur, mereka juga sudah makan malam tadi.


Mengambil ponsel, memeriksa kiranya ada pesan atau panggilan dari suaminya, tatkala netranya melihat posel itu tidak ada satupun pesan yang dikirimi suaminya, "Jah! kok dia belum ngabarin sih, atau aku aja yang telfon dia yah." Menimbang apakah dia saja yang menelfon duluan, tapi dia urungkan niat itu mungkin saja suaminya masih istirahat pikirnya.


"Aaa aku rindu, baru aja beberapa jam di tinggal udah rindu." Menepuk-nepuk kasur.


"Dia lagi apa ya." Menerka-nerka apa yang di lakukan suaminya sekarang.


Tak lama ponsel yang di genggam berdering, satu panggilan masuk.


Mas Suami😘 is calling...


Sektika senyum terbit di bibirnya, cepat-cepat menggeser hijau ke kanan di layar ponsel, menempelkan benda itu ke telinga. Terdengar suara di sebrang sana.


"Assalamu'alaikum."


Suara itu terdengar lembut di telinganya, seperti menyampaikan pesan rindu.


"Wa'alaikumussalam." Menjawab pelan.


"Kamu sedang apa?"


"Lagi rebahan, mas sendiri?"


"Aku sedang memikirkan mu."


Oh jantung jangan menggila di sana, orangnya tidak ada di sini oke jadi jangan mulai deh, tapi benarkah dia lagi mikirin aku,, Aaaaa aku ingin terbang ke Surabaya sekarang juga, tenang Keyla tarik nafas hembuskan, oke cuman lima hari."


Dia terus merapalkan kalimat-kalimat penguat untuk dirinya, sampai-sampai tak sadar orang di sebrang sana menunggu dengan resah.


"Keyla, hallo."


"Eh i.iya mas." Menepuk jidat sendiri bisa-bisanya dia lupa.


"Kenapa diam hm?"


"Heh, i.itu mas tadi anu ada itu nyamuk iya ada nyamuk lewat." Memberi alasan konyol, kehabisan kata-kata ingin memberi alasan apa.


"Benarkah?"


Lantas Keyla mengangguk, mengingat orang di sebrang sana tidak mungkin melihat anggukannya.


"Iya mas, mas udah makan?".


"*S*udah, kamu sendiri."


"Sudah juga."


"Yasudah, kamu tidurlah aku juga mau tidur."


"Iya mas."


Telfon pun terputus setelah saling memberi salam.


Menaruh kembali ponsel di atas nakas samping tempat tidur.


Beranjak ke kamar mandi membawa serta kemeja suaminya untuk ia pakai.


Memakai kemeja yang kebesaran di tubuhnya, mematut diri depan cermin, "oke saatnya kita tidur." Berjalan naik ketempat tidur, setelah berdoa menarik selimut dan membaringkan diri.


Bersambung.