My Lecturer is Husband

My Lecturer is Husband
Bab 29



Setelah Dimas keluar dari kelas Keyla suasana kelas yang tadinya senyap langsung riuh kembali, teman-teman Keyla datang memberondong ke tempat Keyla duduk saat ini.


"Key ya ampun kok kamu nggak pernah cerita sih." Kata Sinta heboh.


"Iya ih, kan kalau gitu kita-kita nggak terlalu ganjen sama pak Dimas." Ucap Sindi menimpali, terdengar serius tapi tersirat rasa iri di sana.


"Berarti yang gue lihat keluar dari mobil pak Dimas waktu itu Keyla dong, kok nggak terpikir ya padahalkan pakaiannya sama persis." Kata Kesya mengingat kejadian di parkiran pagi itu saat memergoki seorang wanita keluar dari mobil dosennya.


"Eh tapi gue penasaran deh gimana awal mula kalian kenal." Giliran Natali yang bertanya antusias.


"Iya ceritain dong Key."


Keyla bingung mau menjawab bagaimana, haruskah dia mengulang masa-masa itu lagi? Biarlah hanya orang terdekatnya saja yang tahu.


"Ha ha, apaan sih kalian." Kata Keyla tersenyum ragu.


Oca mulai risih dengan pertanyaan-pertanyaan itu, dia ingin cepat ke kantin sekarang perutnya sudah lapar minta di isi sedari tadi, tapi lihatlah orang-orang ini berkerumul di tempat duduk mereka seperti wartawan saja.


"Mereka di jodohin." Kata Oca menimpali.


"What! kok kamu bisa tahu sih Ca?"


"Iya lah aku tahu orang aku adik iparnya Keyla." Menjawab santai.


"Astaga-astaga jadi pak Dimas kakak loh gitu."


Oca hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Gila ya bumi ini sempit banget." Ucap Kesya mendramatisi.


Oca mulai beranjak menarik sebelah tangan Keyla yang masih duduk diam.


"Kami permisi ya mau ke kantin." Kata Oca datar berjalan menarik sebelah tangan Keyla.


Teman-teman yang lain mengangguk pasrah, tak bisa juga memaksa orang lain untuk menceritakan kisah hidupnya meskipun itu teman mereka sendiri, tak terkecuali seorang wanita yang memandang kepergian mereka dengan seringai tipis di sudut bibirnya.


Suasana di kantin kebetulan ramai pagi ini tidak seperti biasanya yang masih sepih pagi-pagi begini.


"Mau makan apa bumil." Kata Oca pelan mendudukkan Keyla di kursi dengan hati-hati.


"Nasi goreng deh sama jus jeruk." Tersenyum manis memperlihatakan deretan gigi putihnya hingga matanya ikut menyipit.


"Oke deh, tunggu ya aunty pesanin dulu." Sembari mengelus perut rata Keyla di bawah meja.


Keyla terkekeh menanggapi perlakuan Oca padanya.


Setelah Oca pergi memesan makanan mereka, tiba-tiba ada yang menarik kursi di samping Keyla duduk.


Sontak Keyla menengok kesamping.


"Eh pak Dimas." Terkejut, sudah was-was melihat pandangan orang-orang yang mengarah kepada mereka tepatnya kepada Dimas, lengan kemejanya sudah di gulung sampai siku memperlihatkan lengannya yang kekar jangan lupakan rambutnya yang di tata rapi menyamping, siapa yang tidak ingin melihat pemandangan seindah itu duplikat Hyun bin sekali, membuat wanita-wanita heboh sendiri dengan hayalan-hayalan sempurna mereka tentang dosen famous satu ini.


"Kalau diluar kelas manggilnya mas bukan pak, sekarang aku suamimu bukan dosenmu." Tatapannya fokus pada Keyla seakan di dalam kantin ini hanya ada istrinya seorang, di tambah senyum sejuta wattnya membuat siapa saja yang melihanya pasti akan menjerit tertahan saking terhipnotis dengan senyuman semanis itu.


Keyla gugup setengah mati, ayolah di tatap selekat itu membuat denyut nadinya melemah apalagi di tempat umum begini.


Ya Allah rasanya aku ingin menghilang saja dari tampat ini.


Oca datang sebagai penyelamatnya, setidaknya dia bisa mengalihkan perhatian.


"Bumil makan dulu jangan pacaran mulu." Sindir Oca setengah berbisik.


"Kamu lapar lagi?" Bertanya pada istrinya, pasalnya baru tadi pagi dia sarapan nasi goreng buatannya tapi sekarang memesan menu yang sama lagi. Ayolah Dimas, istrimu itu bukan makan hanya untuk satu orang saja sekarang, ada mahluk lain yang bersemayam dalam rahimnya tentu saja porsi makannya akan bertambah dua kali lipat kan.


Keyla mengangguk sebagai jawaban.


"Kenapa sih, orang lapar juga ya makan dong, lagian makannya buat dua orang kok." Kata Oca membela, benarkan orang lapar pasti harus makan apalagi dalam keadaan hamil begitu pasti nafsu makannya bertambah.


"Yasudah makan yang banyak." Mengalah juga pada akhirnya. Memperhatikan istrinya yang sedang menyuap makanan ke dalam mulut, Dimas jadi gemas sendiri melihat istrinya yang sok anggun begitu, akhirnya mengambil alih sendok yang di pegang Keyla dan berganti dia yang menyuapi wanita itu.


Keyla terkejut, pipinya bersemu merah.


Dimas tak menghiraukan malah makin menarik kursi yang Keyla duduki semakin mendekat dengannya agar lebih leluasa menyuapi Keyla.


Oca merutuk dalam hati.


Nggak di rumah, di tempat umum selalu saja bikin iri manusia berdua ini.


Tapi dia juga merasa senang, hubungan kakak dan sahabatnya baik-baik saja di tambah sebentar lagi mereka akan menjadi seorang ibu dan ayah.


Beda halnya dengan wanita yang duduk di pojokan sana, pandanganya datar seperti menyiratkan kebencian. Menusuk-nusuk daging di atas piring dengan rasa benci yang menggebuh.


Seharusnya aku yang ada di samping pak Dimas sekarang bukan gadis kampungan itu, tunggu saja tanggal mainnya, akan ku buat kau menderita kalau perlu nyawamu saja yang menghilang.


Wanita itu menyeringai di tempat duduknya, padangannya lurus menatap Keyla tajam. Tapi setelah pandangannya bersirobok dengan Oca seketika senyum itu berubah menjadi semanis mungkin seakan menunjukkan kalau dia teman yang baik.


Dia kenapa sih mandangin Keyla sampai segitunya, mencurigakan.


"Kenapa Ca." Kata Keyla membuyarkan lamunan Oca.


"Hah, enggak kok he he." Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Aku tidak boleh membiarkan siapapun yang ingin melukai mu Key, tenang saja aku akan jadi pelindung mu.


Sejatinya sahabat akan selalu ada untuk sahabatnya, begitulah yang Oca rasakan sekarang jiwa ingin melindunginya muncul ke permukaan melihat sinyal peringatan bahaya akan menimpa Keyla.


Dimas hanya memperhatikan interaksi adik dan istrinya itu


"Makan pelan-pelan sayang." Menyodorkan air minum ketika Keyla tersedak dengan makanannya sendiri, tangannya terulur memijit pelan punggung istrinya.


Membuat wanita yang duduk di pojokan sana merasa sangat marah, matanya memerah melihat pemandangan itu.


"Sial." Desisnya.


Dia memilih beranjak pergi dari tempat yang menurutnya sangat mwnyesakkan itu.


Oca memperhatikan pergerakan wanita itu, dia sudah menaruh curiga bahwa ada yang tidak beres sekarang.


Dimas merasa heran dengan tingkah adiknya.


"Kenapa dek?"


"Nggak kak, aku duluan ya, kak aku titip Keyla jaga dia baik-baik." Kata Oca lalu beranjak pergi.


Dimas hanya mengangguk.


"Oca kenapa mas?" Memperhatikan kepergian sahabatnya.


"Nggak tahu, mungkin ada urusan."


"Oh gitu yah." Melanjutkan lagi makannya.


"Habiskan makan mu, setelah ini kita pulang."


"Heh, cepat sekali, emang mas udah nggak ada jadwal ngajar lagi?".


"Aku izin tadi."


"Kenapa harus izin?"


"Ya ingin saja, ingin temani kamu seharian di rumah." Memperlihatkan lagi senyum sejuta wattnya.


Keyla menunduk malu.


Kenapa tambah imut begini sih, kan tambah sayang eh.


Melihat Keyla telah selesai dengan makannya, Dimas menarik tangan istrinya pelan beranjak dari tempat itu, tak meghiraukan pandang orang-orang padanya.


Bersambung.