
Dimas sudah tiba di kelas sejak sepuluh menit yang lalu dan memulai sesi mengajarnya, berusaha fokus tapi perasaannya serasa tidak nyaman seperti ada sesuatu yang akan terjadi, tapi dia tidak tahu apa itu.
Berusaha keras mengenyah pikiran-pikiran buruk di kepala, tapi tak menemukan titik terang. Dimas menududukkan diri di kursi guna menenangkan pikiran, merapalkan istigfar berulang kali, hatinya sedikit tenang sekarang.
Ting.
Suara notif pesan baru saja masuk.
Ocalina
Assalamu'alaikum, kak ada hal penting yang mau aku sampaikan, ini tentang Keyla, sekarang aku di ruangan kakak.
Dimas membaca pesan teks itu dengan perasaan campur aduk, apakah ini pertanda dari perasaan tidak tenangnya tadi, tapi hal penting apa itu? sudah menduga-duga dalam hati barangkali itu hal buruk atau apapun itu yang menyangkut keselamatan istrinya.
Positif thingking dulu Dim, mungkin saja hal itu hal lain.
Dengan rasa penasaran yang besar, Dimas dengan segera menyelesaikan perkuliahan pagi ini meskipun waktunya masih tersisa setengah jam lagi.
"Mungkin sampai di sini saja perkuliahan kita, nanti kita sambung pekan depan, terimakasih."
"Iya pak." Mahasiswa didiknya merasa heran dengan tingkah dosen yang terkenal killer itu, baru pertama kali mendapati pak Dimas bersikap seperti ini, yang biasanya tegas, tepat waktu, tapi sekarang seperti tidak bersemangat.
"Pak Dimas kenapa ya."
"Ngga tau, mungkin ada masalah kali."
"Mungkin saja, kasian ya dia kelihatan nggak semangat gitu."
"Sudah-sudah, kenapa jadi ngeghibah sih, pasti kalian juga senang kan cepat keluar." Ucap lelaki bertubuh tinggi itu.
Mereka hanya diam, tak bisa mengelak karena memang itu nyata, tapi ada juga sebagian yang merasa kecewa tak bisa berlama-lama melihat dosen ganteng itu.
Dimas berjalan keluar dengan sedikit berlari menuju ruangannya.
Membuka pintu dengan tidak sabaran.
"Dek." Tanpa mengucap salam langsung menghampiri Oca yang tengah duduk di sofa, membuat adiknya itu terkejut, mengelus dada pelan.
"Astagfirullah."
"Maaf, sekarang cepat katakan hal penting apa itu, dan istriku kenapa." Bertanya tidak sabaran, duduk menghadap Oca di sofa ruangannya.
Oca dengan tenang mengeluarkan ponsel miliknya, tidak tahu saja Dimas sudah menunggu adiknya bercerita dengan gelisah.
"Dek, ngomong cepat." Mendesak Oca yang masih fokus pada ponsel di genggamannya.
"Iya kak, sabar dulu, ini masih aku cari vidionya."
"Nah ini." Menyodorkan ponsel miliknya ke hadapan Dimas, memperlihatkan vidio yang tengah di putar.
"Ini apa dek." Bingung, tidak mengerti kenapa malah di perlihatkan vidio orang yang sedang memasuki sebuah bangunan tua? tapi ini mirip mahasiswinya, Dimas terus-terusan berpikir apa hubungan semua ini dengan istrinya?
Oca mengambil lagi ponselnya, "Kakak tahu kan itu siapa?" Kata Oca.
Dimas mengangguk.
"Kakak dengar kan apa yang dia omongin di vidio itu?" Kata Oca lagi.
Dimas mengangguk lagi.
"Nah, orang yang dia ingin sekap di gedung tua itu adalah istri kakak, Keyla." Ucap Oca serius.
"Kenapa bisa seperti itu." Terkejut.
"Sebenarnya dia suka sama kak Dimas, dan pas tahu kakak sudah menikah dia nggak terima makanya dia mau pisahin kakak sama Keyla dengan cara mencelakai Keyla." Jelas Oca.
"Ini nggak bisa dibiarin dek, kita harus bertindak kalau perlu kakak mau laporin polisi sekarang juga." Sudah berdiri, tapi tangannya ditahan oleh Oca.
"Tunggu kak, jangan panik gitu, mending sekarang kakak duduk dulu." Menuntun Dimas untuk duduk kembali.
"Aku punya cara untuk menggagalkan rencananya." Kata Oca.
"Bagaimana?" Sudah tidak sabaran.
Oca menceritakan semua rencananya untuk menggagalkan niat buruk wanita itu pada Keyla, Dimas menyimak dengan baik sesekali mengangguk paham.
"Jadi tugas kakak jagain Keyla, kemanapun dia pergi kakak harus ikuti dia." Perintah Oca.
"Iya kakak mengerti."
"Dan aku sendiri yang akan hadapi dia." Menunjuk dirinya.
"Tapi bagaimana jika dia menyakitimu." Khawatir.
"Ck, tenang saja kak aku nggak sendiri kok." Menyeringai.
***
Dalam perjalanan ke rumah Ummi, Keyla terus-terusan melamun sampai-sampai supir taksi yang di tumpanginya memanggil-manggil dari tadi tapi tak di dengarnnya.
"Mba." Masih juga tak di dengar.
Akhirnya supir taksi itu membunyikan klakson mobilnya, seketika Keyla tersadar.
"Eh Astagfirullah." Melihat sekeliling ternyata dia sudah sampai di depan rumah Ummi. "Eh sudah sampai ya." Merasa tidak enak sudah melamun dari tadi.
"Mba lagi ada masalah ya, kalau gitu perbanyak istigfar mba minta pertolongan pada Allah." Benar juga nasihat supir taksi itu, ketika kita punya masalah maka minta pertolongnlah pada Allah, tapi lihatlah yang dia lakukan sekarang hanya melamun seperti tidak ingat kalau masih ada Allah.
Astagfirullah, maafkan hamba ya Allah.
"Iya terimakasih pak nasihatnya." Menyodorkan selembar uang seratus ribu sebagai ongkos taksi lalu keluar.
"Tunggu mba, kembaliannya."
Keyla berbalik dan tersenyum, "Ambil saja pak, anggap saja saya bersedekah." Setelahnya dia masuk ke rumah Ummi.
"Masya Allah, ternyata masih ada orang baik." Kata supir taksi itu, tak lama dia pun pergi mengendarai taksinya.
"Ummi." Tiba-tiba langsung memeluk Ummi.
"Eh kangen ya." Tersenyum membalas pelukan anaknya.
"Sini duduk dulu nak." Mereka duduk di kursi ruang tamu.
"Bagaimana tadi habis chek up?" Menanyai hasil pemeriksaan kandungan Keyla.
"Kata Kak Rifah, kandungan aku sehat Mi udah masuk minggu ke lima sekarang." Sembari mengelus perutnya.
Kening Ummi berkerut bingung, kak Rifah siapa maksud Keyla, pikirnya.
Seolah mengerti dengan kebingungan Ummi, Keyla menjelaskan bagaimana bisa memanggil dokter kandungannya dengan sebutan kak.
"Oh jadi gitu ya, Ummi juga ikut senang mendengarnya." Ikut mengelus perut buncit Keyla.
"Dimas ke kampus ya."
"Iya Ummi."
"Kamu sudah makan belum."
"Sudah sih, tapi Keyla pengen makan lagi." Cengengesan, memperlihatkan deretan giginya.
Ummi dengan refleks mencubit hidung Keyla, kebiasaan dari dulu ketika gemas melihat tingkah Keyla pasti selalu mencubit hidung anaknya ini.
Keyla cemberut, pura-pura merajuk.
"Ha ha, yasudah sini bantu ummi masak."
"Oke deh."
Ponsel Keyla berdering pertanda panggilan masuk.
Cepat-cepat mengecek ponselnya yang ada dalam tas.
Mas Suami is Calling..
"Assalamu'alaikum, ada apa mas?"
"Wa'alaikumussalam, kamu dimana sekarang?" Suara Dimas di seberang sana terdengar khawatir.
"Lagi di rumah Ummi mas, kenapa?".
"Nggak apa-apa, nanti sore mas jemput."
Keyla mengangguk sebagai jawaban, seolah tersadar bahwa suaminya tak akan bisa melihat anggukannya.
"Iya mas, semangat ya kerjanya."
"Iya sayang, demi kamu dan si buah hati." Kata Dimas setengah bercanda.
Pipi Keyla merona mendengar candaan itu, meskipun orangnya tidak ada di hadapannya sekarang tapi dia tetap juga tersipu malu.
Dimas terkekeh, "Pasti pipinya memerah lagi kan." Tebak Dimas, yang pasti dia sudah tahu jawabannya iya.
"N.nggak kok." Gugup.
"Mas tahu sayang."
"Masa sih." Mengulum bibir untuk mengurai rasa gugup.
"Yasudah, mas tutup dulu ya, masih ada kerjaan ini"
"Iya."
"Wassalamu'alaikum." Kata Dimas mengucap salam dan dibalas oleh Keyla. Menyimpan kembali ponselnya dan kembali ke dapur untuk membantu Ummi memasak.
Bersambung.