My Lecturer is Husband

My Lecturer is Husband
Bab 21



Hari-hari berlalu telah terlewati seperti biasanya, hubungan mereka makin harmonis saja dari hari ke hari, meskipun kadang sifat bosy ples muka datar Dimas masih sering nampak tapi Keyla memaklumi itu sebagai jati diri Dimas, yang terpenting tidak kelewat batas saja.


"Mas, tolong ambilin wajan dalam lemari." Menunjuk lemari bagian bawah.


Berjongkok membuka lemari tempat peralatan memasak tersimpan, "yang besar atau kecil." Mengangkat dua wajan berukuran besar dan kecil memperlihatkan pada Keyla, masih dalam posisi berjongkok.


"Yang besar saja mas biar muat untuk bikin dua porsi."


Kembali berdiri, mencuci wajan sebelum di gunakan agar bersih lalu memberikannya pada Keyla.


Sementara Keyla masih sibuk mengupasi bawang-bawangan dan bahan-bahan lainnya untuk membuat dua porsi nasi goreng spesial sebagai menu sarapan mereka.


Keyla dan Dimas membagi tugas dalam membuat sarapan, Keyla bertugas membuat nasi gorengnya sementara Dimas mendapat tugas membuat telur dadar sebagi lauknya, kerjasama yang patut di contoh untuk pasangan-pasangan halal lainnya.


"Itu rempah-rempahnya udah aku siapin ya mas, tinggal kamu campur di telurnya terus kocok sampai merata ya habis itu tinggal di goreng." Intruksi Keyla panjang lebar bak seorang guru di kelas memasak saja.


Menatap istrinya yang tengah memberi penjelasan dengan khidmat. Ayolah Keyla masalah membuat telur dadar Dimas juga tahu, Dia pernah tinggal sendiri dulu sejak SMA setiap hari memasak makanannya sendiri. Tapi Keyla tetaplah orang yang bawel menyangkut persoalan dapur semua harus sesuai instruksinya sendiri, Dimas menurut saja toh itu juga bukan sesuatu yang merepotkan selama Humairahnya senang dia juga ikut senang, membahagiakan istrikan pahala.


Setelah menerangkan perihal tata cara membuat telur dadar, Keyla kembali fokus membuat nasi gorengnya, mengaduk-ngaduk mencampur bahan-bahan hingga jadi suatu hidangan.


Rambutnya yang terurai karena tak memakai jilbab terasa tertarik dan disatukan kemudian di ikat.


"Heh." Merasa terkejut dengan gerakan tak terduga itu.


"Biar tidak gerah sayang."


Duh, romantisnya suamiku.


Selang beberapa menit masakan mereka telah matang, membersihkan terlebih dahulu bekas perlatan memasak mereka baru setelahnya Keyla menata masakan ke atas meja dan mempersiapkan peralatan makan.


"Ayo mas kita sarapan dulu."


Dimas mendudukkan diri di kursi, Keyla menaruh nasi goreng dan potongan telur dadar di piring Dimas, lelaki itu menatap istrinya tanpa kedip menikmati bulir keringat membasahi kening Keyla menambah persen kecantikan wanita itu tanpa memakai hijab, tapi pemandangan ini hanya untuk di dalam rumah saja tidak untuk di pertontonkan di khalayak ramai, Dimas tidak merelakan bila hal itu terjadi.


Keyla mengibas-ngibas kan tangan depan wajah Dimas, "Mas, Mas." Memanggil-manggil nama Dimas.


"Eh iya." Tersadar dari lamunan.


"Kamu kenapa sih mas, pagi-pagi sudah melamun saja, pagi-pagi itu sarapan tau mas biar kuat hadapi kenyataan." Mulai lagi, kelakuan seperti ini yang Dimas sukai selalu berusaha menghidupkan suasana.


"Aku mau sarapan makan kamu saja." Kalimat bernada serius itu membuat Keyla terdiam, mencerna kalimat suaminya dan..


"Hahah, bisa saja kamu mas, emang kamu karnibal apa makan orang." Memegang perut yang terasa geli akibat tertawa.


Tiba-tiba Dimas memerangkap Keyla, menahan tengkuk kepala wanita itu, "Seperti ini." Bibir tipis Dimas menempel penuh pada bibir mungil milik Keyla ciuman itu terjadi begitu saja sampai Dimas melepaskannya karena melihat Keyla yang mulai kehabisan napas.


Hah hah, suka banget sih kamu mas main nyosor-nyosor, nggak tau apa aku belum siap mana belum mandi lagi, malu akutuh, tenggelamkan saja aku di kerak bumi.


"Manis." Kata Dimas menyudahi ciuman paginya.


"Mas." Cemberut dengan pipi yang memerah di tambah degup jantung menambah frekuensi kecepatan memompa darah di dalam sana.


"Kenapa? mau lagi." Memajukan wajah lagi bersiap untuk melakukan itu.


Menggeleng cepat dengan bibir yang mengatup kuat.


Dimas menyeringai penuh kemenangan melihat istri kecilnya menahan geram karena malu.


Keyla menutup bibir dengan kedua tangan, memulai sarapan pagi sebelum dia yang santap oleh suaminya.


Kenapa kamu begitu menggemaskan pagi-pagi begini.


***


Siang harinya setelah pekerjaan rumah telah mereka selesaikan mulai dari sarapan membersihkan rumah mencuci pakaian semua mereka lakukan berdua, mumpung hari minggu Dimas menyempatkan diri menemani istrinya seharian di rumah membantu mengerjakan sebagian pekerjaan rumah istrinya dan akan seperti itu untuk seterusnya, masuk dalam daftar hoby Dimas sekarang.


Setelah mandi mereka mengistirahatkan diri duduk di ruang tivi, Keyla duduk bersandar di sandaran sofa menjuntaikan kaki ke bawah sedang Dimas memilih berbaring di pangkuan istrinya menjadikan kedua paha Keyla sebagai bantalan kepala, menghadapkan wajah di depan perut rata keyla yang tertutupi baju daster.


"Mas." Memulai obrolan, matanya masih fokus di layar tivi di depan sana mengganti-ganti chanel tivi yang kiranya bagus untuk di nikmati mata.


"Hm." Memejamkan mata mencari kenyamanan di tempat favoritnya.


"Besok aku ada tugas penelitian, kami di suruh turun lapangan di daerah pesisir, mau melakukan pendataan masalah status gizi di sana." Bebicara panjang lebar, meminta izin.


"Tugas kelompok?" bibirnya bergerak mencium perut rata Keyla di balik kain daster.


Heh kok nyaman ya, nak cepat hadir ya di perut bunda, bunda ngga sabar pengen bawa kamu kemana-mana dalam perut, pasti lucu deh jalan-jalan dengan perut buncit hihi.


"Iya mas, aku satu kelompok kok sama Oca." Merasa nyaman, tangannya tergerak mengelus rambut suaminya yang sedikit panjang.


"Tugas dari Bu Lysna ya." Tebak Dimas, bu Lysna itu dosen senior di fakultas mereka paling hoby memberi tugas pada mahasiswa untuk turun lapangan melakukan penelitian.


"Iya mas. kok tahu?" Jemarinya berhenti mengelus tapi masih di posisi yang sama, menunduk menunggu jawaban dari suaminya.


"Itu sudah jadi hal lumrah kalau ada tugas turun lapangan pasti Bu Lysna menanggung jawabnya." Menatap istrinya yang juga sedang menunduk menatapnya, tangannya tidak tinggal diam, memainkan peran membantu mengelus perut rata Keyla, seolah di sana ada cabang bayi yang ingin di belai oleh ayahnya.


"Mas nanti bantuin ya kerja laporannya." Seolah mendapat ide cemerlang keyla tersenyum sumringan sendiri.


Semoga bisa ya Allah, aamiin.


"Boleh." Kata Dimas juga tersenyum tapi kali ini senyum misterius yang ia berikan.


Alhamdulillah, terimakasih.


"Beneran ya mas."


"Iya, tapi ada syaratnya." Sudah kelihatan maksud dari senyum misterius tadi.


Apapun syaratnya aku akan turuti yang penting tugas laporanku bisa di kerjakan


"Syaratnya apa?" Bertanya tidak sabaran.


"Bantu aku melaksanakan progam membuat bayi." Menyeringai menatap kedua mata bulat istrinya.


"Hah!" Mengerjapkan mata berkali-kali.


Syarat macam apa itu! Aaaa boleh tidak aku tarik kembali kata-kata ku tadi, hiks.


"Kenapa, tidak mau ya sudah." Menantang.


Ayolah jawab iya! ini juga menguntungkan kita berdua kan.


"I.iya aku mau." Menjawab cepat.


Turuti saja maunya biar tidak panjang urusan yang penting laporanku dia yang kerjakan, huhu kesannya kaya jual diri ya tapi bedanya sama suami sendiri.


Bersambung.