
"Sudah masuk shalat Ashar, kita shalat dulu ya baru balik." Saran Keyla, tak ingin melewatkan waktu berharga itu.
"Yasudah ayo, kita ke musholah sekarang." Jawab Kesya menyetujui, mereka segera ke musholah untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim.
Melaksanakan shalat dengan kusyu, setelahnya mereka menyimpan kembali kerudung yang baru saja mereka kenakan.
"Ini kita langsung pulang kan?" Kesya membuka suara.
Oca menoleh pada Kesya di depannya, "Iya, nanti aku yang anterin kalian sampai rumah dengan selamat." Candaan Oca dengan senyuman.
"Nggak Usah Ca, aku pulang sama kakak ku, kebetulan dia lagi di sini singgah makan." Terang Kesya.
"Jadi, kami pulang berempat saja ya." Ucap Oca lagi.
Kesya mengangguk, merapikan kembali pakaian dan jilbabnya yang agak berantakan, "Aku duluan ya, kakakku sudah nungguin di bawah." Memasukkan kembali ponsel yang baru saja berdering, berpamitan kepada temannya dan bergegas menemui kakaknya yang di maksud.
"Ayo kita juga pulang." Ajak Oca, mereka jalan sambil bergandengan tangan dengan begitu cerianya menuju basemen tempat mobil Oca terparkir. Masuk ke dalam mobil itu dan Oca mulai menjalankannya keluar dari area Mall tempat mereka berbelanja.
***
Jam sudah menunjukan pukul setengah 4 sore, Keyla baru saja tiba di apertemen mereka.
"Mas Dimas belum pulang ya." Berguman-gumam, melihat apertemen mereka masih sepih, lampu ruangan saja belum ada yang di nyalakan, sehingga apertemen itu terlihat sedikit gelap hanya pantulan cahaya matahari dari luar yang membuatnya sedikit remang.
Menuju kamar menyimpan barang belanjaan yang sempat di belinya tadi.
"Masya Allah lelah sekali," Merenggangkan otot-otot lengan. "Mandi dulu deh baru masak." Dengan gerakan cepat Keyla bersiap-siap untuk membersihkan diri.
Dimas dengan tidak sabaran menyelesaikan semua pekerjaannya, sudah rindu dengan istri kecilnya.
"Dia sudah pulang belum ya." Bertanya pada diri sendiri, tak ingin di bodohi dengan rasa penasarannya itu, segera ia mengambil ponsel untuk menghubungi istri kecilnya di sana.
Selang beberapa detik panggilan pun tersambung.
"Halo Assalamu'alaikum." Terdengar suara merdu Keyla di seberang telpon, Dimas belum juga bersuara entah terhipnotis dengan suara itu ataukah rasa rindunya yang sudah tak terbendung lagi, padahal baru beberapa jam yang lalu mereka bertemu, memang ya kalau sudah terlalu cinta sedetik saja serasa setahun, percayalah.
"Halo, mas..?" Seolah tersadar dengan keterdiamannya Dimas dengan cepat menetralkan perasaan gugupnya, kan malu kalau misal ketahuan sedang melamun.
"Ehem, dimana sekarang?" Berusaha terdengar tegas.
"Di rumah mas, kapan pulang?" Terdengar lagi suara merajuk Keyla di seberang sana. Tidak tau saja Dimas sudah menahan diri untuk tidak berlari kegirangan agar cepat sampai di rumah dan memeluk Keyla memberondonginya dengan kecupan di kening.
Sabar Dimas sabar, orang sabar di sayang Allah.
"Iya ini mau pulang kok." Setelahnya Dimas menyudahi perbincangan mereka via telephone, ingin cepat-cepat pulang kerumah berhubung pekerjaannya sudah terselesaikan.
Di apertemen, Keyla baru saja selesai memasak untuk makan malam mereka nanti, mencuci bekas peralatan masak sembari menunggu suaminya pulang.
Dimas baru saja sampai di apertemen, berjalan mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh Keyla, dia sengaja ingin memberikan kejutan untuk istrinya itu.
Terlihat Keyla tengah menutup tirai jendela dalam kamar mereka, dengan hati-hati Dimas berjalan mendekatinya dan berdiri tepat di belakang Keyla, wanita itu masih belum menyadari kehadiran suaminya.
Greb.
Dalam sekali gerakan tubuh mungil Keyla sudah masuk dalam dekapan hangat Dimas.
Keyla dengan refleks membalik badan, dan ternyata Dimas lah pelakunya.
"Mas." Kedua kening Keyla menukik, bibirnya mengerucut dan mata bulatnya agak menyipit, ingin memberi kesan marah malah terlihat sangat lucu dan menggemaskan bagi Dimas.
Ingin rasanya Dimas menggigit pipi tembem Keyla itu.
"Cantik." Kata Dimas dengan pandangan fokus di wajah imut istrinya semakin lama wajahnya semakin mendekat dan satu kecupan berhasil dia daratkan di kening Keyla, cukup lama.
Tanpa sadar kedua pipi bulat Keyla kembali merona seperti baru saja di taburi blash on merah muda
"Makin hari malah makin cantik ya kamu." Puji Dimas pada Keyla.
Ya Allah, ini kok kata-katanya makin kesini malah makin manis ya bisa diabetes aku tuh.
Keyla memilih menunduk menyembunyikan wajahnya yang makin bersemu merah.
Keyla hanya menjawab dengan anggukan.
"Wah, pantas saja auranya beda." Kata Dimas lagi.
Mentralkan perasaannya, Keyla mengangkat pandangan memberanikan diri menatap wajah Dimas yang tingginya berbeda jauh darinya.
"Kamu bau mas, belum mandi ya." raut wajah Dimas berubah cemberut tapi belum juga melepaskan pelukan pada istrinya.
"Bercanda mas, yasudah sana mandi aku sudah siapin handuk sama baju ganti kamu itu."
"Iya ini mau mandi, tapi.." Dengan sengaja Dimas menggantungkan kalimatnya membuat Keyla penasaran.
"Tapi apa?"
Dengan gerakan Dimas mengetuk-ngetuk bibirnya pelan dengan jari telunjuk.
Keyla yang tidak tahu maksud dari gerakan Dimas itu tak urungnya mengerutkan kening, bingung.
"Apa mas?" Bertanya lagi.
"Kiss me."
"Ha?" Respon Keyla diluar dugaan, membuat Dimas dongkol sendiri, ternyata ngasih kode ke istri itu agak sulit ya, lebih mudah memecahkan rumus phitagoras.
Langsung saja Dimas mengecup sekilas bibir mungil Keyla dan bergegas masuk ke kamar mandi.
Di dalam sana Dimas tertawa dengan senangnya sementara Keyla masih terdiam mencerna apa yang baru saja terjadi.
Ya Allah, jantungku.
***
"Oca". Panggil Bunda dari arah dapur, Oca yang sedang duduk santai di sofa ruang tamu menoleh ke sumber suara.
"Iya bunda."
"Temanin bunda belanja ya Ca."
"Belanja kemana?" Oca mengkerutkan kening.
"Supermarket lah sayang."
"Sekarang?"
"Iya dong sekarang, cepat sana pakai jilbabmu bunda tunggu di depan."
Dengan gerakan lunglai Oca beranjak dari tempat ternyaman itu.
Oca sudah mengganti pakaiannya tadi tak lupa memakai hijab agar auratnya bisa terlindungi dari pandangan yang bukan mahromnya.
Rasanya Oca ingin rebahan di kamarnya sekarang, masih lelah sehabis berbelanja dengan Keyla dan teman-temannya tadi, tapi mau bagaimana lagi ini perintah ibunda ratu yang terhormat mana bisa dia menolak.
Oca mulai menjalankan mobil menuju supermarket tempat bunda biasa berbelanja, selang beberapa menit mobil yang di kendarainya memasuki area parkir supermarket, mencari tempat parkir yang pas dan nyaman kemudian mematikan mesin mobil.
"Bunda."
Bunda menoleh pada Oca di sebelahnya, melihat raut wajah kelelahan Oca bunda juga merasa tidak tega.
"Iya sayang." Kata Bunda penuh kasih sayang.
"Jangan lama ya." Merengek seperti anak kecil, siapa coba yang tidak gemas dengan kelakuan adik ipar Keyla ini.
Bunda terkekeh mengacak puncuk kepala Oca yang tertutup jilbab tak lupa menarik lembut hidung Oca yang sedikit mancung itu membuat si empunya bertambah cemberut.
"Iya cepat kok belanjanya, yaudah ayo turun keburu magrib." Mereka pun turun dari mobil berjalan memasuki supermarket itu.
Bersambung.
Maaf ya baru up lagi, habis rehat nenangin pikiran dan juga tugas kuliah yang bejibun minta di tampol. Cerita ini masih berlanjut, insya Allah cerita Oca juga akan saya gabung di sini, tunggu kelanjutannya ya, aku cinta kalian😘😘