My Lecturer is Husband

My Lecturer is Husband
Bab 16



Menunggu dengan tidak sabaran untuk cepat sampi di rumah, taksi yang ia tumpangi baru saja berjalan keluar dari kawasan Bandara SokarnoHatta membelah jalan kota yang agak lenggang meski ada beberapa pengendara lain yang hilir mudik tapi tak seramai di siang hari.


Sesekali mengetuk-ngetukkan jari di jendela mobil yang mulai basah terkena rintik hujan membawa hawa dingin menelisik masuk ke pori-pori, merapatkan jaket yang ia kenakan guna menghalau hawa dingin.


Mencoba memejamkan mata tapi bayangan istrinya menari-nari di kepala membuat fokusnya teralihkan. Menarik nafas gusar hingga istigfar kerap kali ia rapalkan untuk menenangkan hati.


Mulai memasuki kawasan perumahan mencari alamat yang di maksud hingga berhenti di depan gerbang rumah yang menjulang tinggi, ia telah sampai di rumah mertuanya. Keluar dari taksi setelah membayar sewa lalu mengucapkan terimakasih.


Berjalan mendekati gerbang, tangan kanannya mengetikkan sesuatu di layar ponsel, tak lama gerbang rumah itu terbuka munculah Rasyid yang datang menyambutnya dan mempersilahka masuk.


"Keyla mana Syid?" Memulai obrolan ringan.


"Ada di kamarnya, langsung masuk aja Dim, aku mau tutup pintu dulu."


"Oh iya, aku duluan ya ke atas."


"Iya."


Rasyid menutup pintu lalu menguncinya.


Sedang Dimas melangkah menaiki tangga menuju kamar Keyla, berhenti di depan pintu tangannya bergerak memutar handel pintu mendorongnya perlahan, matanya di sambut dengan susana kamar yang tamaram menghalau jarak pandang, tapi bisa ia lihat istrinya tengah berbaring di tempat tidur.


Menaruh koper terlebih dahulu, mengganti pakaian yang agak basa terkena rintik hujan, walau tadi dia sudah memakai baju baru ketika hendak berangkat dari Surabaya tapi tetap saja rasanya tidak nyaman jika memakai baju yang sama dengan kondisi yang agak lembab.


Keluar dari kamar mandi berjalan menghampiri istrinya, menaiki tempat tidur perlahan agar tidak mengusik orang yang tengah terlelap. Memposisikan diri bersandar di sandaran tempat tidur di samping Keyla, tangannya terulur memindahkan helaian rambut yang menutupi wajah Keyla, senyumnya terukir.


Dimas membukuk kan badan mengecup kening Keyla, pandangannya tertuju pada kemeja yang Keyla pakai, "Apa ini, sebegitu rindukah sampai memakai kemeja ku." Terkekeh sendiri merasa gemas dengan istrinya.


Dia juga ikut merebahkan diri mencari tempat nyama dengan mendekap istrinya mengeratkan pelukan membawa wajah Keyla untuk bersandar di dada bidangnya, mengecup puncuk kepala yang tak memakai hijab. Dia pun menyusul istrinya terlelap.


***


Keyla mengerjapkan mata menyesuaikan cahaya yang masuk, "Hoam, jam berapa ini." Bertanya pada diri sendiri, menatap jam beker di atas nakas, "Jam empat, bentar lagi shalat subuh." Ingin beranjak bangun tapi gerakannya tertahan merasa ada sebuah lengan kekar yang memeluk tubuhnya, "Heh tangan siapa ini." Menengok ke samping, matanya membulat tatkala netranya menangkap sosok yang beberapa hari ini meninggalkannya.


"Mas." Mencubit diri sendiri merasa tak yakin dengan penglihatannya mungkin saja dia sedang bermimpi pikirnya.


"Aw." Meringis merasa perih dengan cubitannya sendiri.


"Nggak mimpi kok, ini nyata tapi..." Perkataannya tertahan sebab Dimas telah lebih dulu membuka mata.


"Hai Humairahku." Bibirnya mengukir senyum melihat pandangan heran istrinya.


Menarik wanita itu untuk berbaring kembali.


"Hu.humairah siapa mas?" Bertanya ragu.


"Kamu."


Menunjuk diri sendiri seolah berkata 'aku.'


Dimas mengangguk meng-iyakan.


"Humairah nama yang Nabi serukan untuk memanggil istrinya Aisyah, dan Humairah nama yang aku pilih sebagai panggilan sayang untuk mu."


Jangan di tanya apa yang Keyla rasakan, tentu saja jantungnya bekerja ekstra di iringi pipi cuby yang bersemu merah, menggemaskan.


"Nah pipinya memerah lagi kan."


Keyla menggigit bibir bagian dalam untuk mengurangi rasa gugup, menunduk menyembunyikan rona wajahnya.


"Kenapa harus malu, aku ini suami mu sayang." Menarik dagu Keyla untuk mensejajarkan wajah mereka, menatap tepat ke bola mata bulat itu. Mendekatkan wajah mengikis jarak.


Keyla tak urungnya memundurkan wajah tapi Dimas menahan kepalanya hingga ia terdiam dan satu kecupan mendarat di bibir mungil wanita itu hanya menempel cukup lama.


"M.mas." Mengerjapkan mata merasa kaget dengan kelakuan suaminya.


Keyla hanya mampu menyembunyikan wajah memerahnya di dada bidang Dimas, ia begitu malu.


Aaaaa, aku malu tau mana belum cuci muka lagi, kalau aku belekan gimana, entar dia ilfil lagi sama aku,, Ummi apa yang harus aku lakukan sekarang, kenapa sih main nyosor-nyosor saja aku kan masih bau baru bangun juga, hih.


Tak lama suara adzan berkumandang bagaikan malaikat penyelamat bagi Keyla agar bisa menghindar untuk sementara.


Alhamdulillah adzan, saatnya kita pakai jurus menghindar iya aku harus menghindar dulu sekarang aku malu ihhhh, langsung lari saja ya, oke satu..dua .tiga.


"Mas aku mau ke kamar mandi dulu." Beranjak cepat sedikit berlari ke kamar mandi hingga ia menghilang bersamaan dengan pintu kamar mandi yang tertutup, "Huh, selamat, oke sekarang kita cuci muka terus wudhu, huh tenang Keyla tenang." Berusaha menenangkan diri.


Beberapa menit kemudian dia keluar setelah berwudhu, membuka lemari mengambil kerudung dan perlengkapan shalat suaminya.


Dimas juga telah masuk ke kamar mandi untuk berwudhu, tak lama ia keluar menghampiri Keyla, memakai baju koko yang telah istrinya siapkan, pamit pada istrinya untuk shalat berjamaah di Masjid bersama Abah dan Rasyid.


***


Usai shalat Keyla merapikan tempat tidur, kejadian tadi yang suaminya sebut sebagai 'Morning Kiss' terbayang di kepala. Keyla menggelengkan kepala mengusir pikiran itu, "Hah, mending sekarang aku ke bawah bantuin Ummi." Menyudahi kegiatannya lalu turun ke bawah.


"Assalamu'alaikum Ummi."


"Wa'alaikumussalam nak, Dimas udah pulang ya."


"Iya Ummi, tadi malam." Mengambil bahan masakan untuk di olah.


"Ummi mau masak sup sama ayam tumis kecap." Kata Ummi lagi.


"Uhum, Keyla yang masak sup nya Ummi yang masak ayam nya ya, biar cepat selesai." Membagi tugas mengerjakan pekerjaan masing-masing. Kebetulan di rumah ini tidak menyediakan asisten rumah tangga karena Ummi tidak mau mengurangi kewajibannya sebagai istri, jadilah Ummi langsung yang turun tangan membuat segala masakan dan membersihkan rumah jika Keyla tak ada di rumah, dan sekarang kesempatan Keyla untuk membantu Ummi kebetulan dia juga berada di sini.


Masih asik dengan kegiatan memasak mereka terdengar salam dari luar ketiga lelaki berbeda usia itu memasuki rumah.


"Wah harumnya jadi lapar kan." Kata Rasyid sumringan mengusapi perut ratanya.


"Ganti baju dulu baru makan." Jawab Ummi.


Ketiganya beranjak ke kamar masing-masing untuk mengganti pakaian.


Selesai dengan masakan yang di buat, Keyla segera menuangkan makanan ke dalam wadah lalu menatanya ke meja makan.


"Hah selesai."


"Panggil mereka makan Key." Perintah Ummi.


"Iya Ummi."


Baru saja Keyla hendak beranjak untuk memanggil ketiga pria itu, tapi mereka bertiga sudah terlihat sedang menuruni tangga bersamaan seolah-olah mereka sedang janjian saja berjalan bersama.


Keyla mempersilahkan Dimas duduk saat pria itu sudah berdiri di samping meja, menuangkan makanan kedalam piring Dimas seperti yang biasa Ummi lakukan pada Abah.


Ini sudah benar kan, hah ternyata tidak sulit.


Rasyid menatap iri, ingin juga dilayani seperti itu, "Aku juga dek ambilin."


"Ambil sendiri Syid, udah gede juga." Itu suara Ummi yang menimpali.


"Makanya cepat nikah biar ada yang urusin." Kini giliran Abah yang memojokkannya.


Mereka terkekeh melihat Rasyid cemberut.


Memulai makan mereka setelah berdoa di selingi candaan sebagai pelengkap sarapan pagi.


Bersambung.


Aaaa pen cepat Nikah biar ada yang bisa di ajak bercanda, ini hape mulu teman ngobrolku heran deh😣(Mafkeun jadi curhat)