
Setelah selesai shalat subuh Keyla merebahkan diri di atas sajadah yang masih terbentang di lantai masih dengan menggunakan kerudung membungkus tubuh mungilnya, entah mengapa tiba-tiba rasa kantuk mulai menguasai tidak seperti biasanya. Sedang Dimas tadi pergi shalat berjamaah di masjid, jadilah Keyla sendiri di apertemen.
Dimas baru saja tiba dari masjid, mengucap salam tapi tak ada yang menjawab akhirnya dia memilih masuk ke kamar saja.
Membuka pintu kamar melihat istrinya terbaring di lantai, segera ia menghampiri wanita itu.
"Pantas saja tidak membalas salamku, ternyata ketiduran ya." Berguman-gumam.
"Humairah." Menepuk pelan pipi cuby Keyla, tapi belum ada pergerakan dari wanita itu.
"Humairah." Memanggil lagi tepat di telinga Keyla dengan sedikit pelan.
"Hm." Hanya deheman yang terdengar, tanpa berniat membuka mata.
Dimas berinisiatif ingin menggendong saja istrinya untuk di tidurkan di atas tempat tidur, baru ingin mengangkat badan Keyla tapi wanita itu sudah terbangun duluan, Dimas mengurungkan niatnya untuk beridiri masih dengan menggendong Keyla di pelukan.
"Mas, sudah pulang ya." Suaranya pelan, tidak ada niatan merubah posisinya sekarang justru lebih merapatkan tubuhnya menghirup dalam aroma tubuh Dimas di dada bidang pria itu.
"Tidur di ranjang ya, nanti badanmu sakit kalau tidur di lantai." Berbisik pelan.
"Iya, tapi sambil di peluk ya." Merengek manja, membuat Dimas tak tahan hingga menggendong tubuh mungil itu lalu dia baringkan secara perlahan di tempat tidur.
"Kerudungnyan nggak di buka?" Ikut berbaring juga di samping istrinya.
Keyla menyipitkan mata sebab kantuk yang masih membekas, " Enggak usah kayak gini aja." Masuk lebih dalam ke pelukan Dimas, mendusel-duselkan hidungnya di dada bidang suaminya yang tertutupi baju koko putih.
"Kamu kenapa hm?" Merasa geli dengan perbuatan Keyla, ingin menahan tapi ia urungkan melihat istrinya merasa nyaman seperti itu.
"Mas." Mendongakkan wajah menatap Dimas.
"Iya." Menunduk mensejajarkan pandangan mereka.
"Aku ingin muntah." Raut wajahnya terlihat tidak nyaman dengan sesuatu yang mendesak ingin di keluarkan di dalam sana.
"Kamu sakit?" Bertanya khawatir, mengecek suhu tubuh Keyla dengan menempelkan punggung tangan di kening wanita itu.
"Badanmu hangat."
Keyla yang sudah tak tahan segera bangun dari berbaringnya, membuka kerudung dengan tidak sabaran lalu berlari tergesa-gesa ke kamar mandi.
Dimas melongo melihat itu.
Dia kenapa?
Segera menyusul istrinya di kamar mandi.
"Huek, huek." Berjongkok di atas kloset memuntahkan isi perutnya namun hanya cairan putih yang keluar.
Dimas membantu dengan memegang rambut istrinya yang terurai dengan satu tangan menekan tengkuk Keyla guna memperlancar proses muntahan itu keluar.
"Huek, huek." Muntah lagi, tapi hanya cairan putih yang keluar sama seperti tadi.
Dimas mulai khawatir, "Kita ke rumah sakit ya." Membantu Keyla berdiri.
"Nggak usah mas, nanti juga baikan kok." Menjawab lesuh.
"Tapi aku nggak tega lihat kamu seperti ini Humairah." Berbicara sedikit membentak sebab ke khwatiran terhadap istrinya lebih besar takut terjadi apa-apa pada wanita itu.
"Mas, aku nggak apa-apa kok beneran deh." Memaksa tersenyum meski kepalanya sudah terasa pening wajahnya pucat pasih penglihatan mulai buram, tak lama tubuh mungil itu amruk di pelukan Dimas.
"Humairah!." Sudah panik setengah mati, menggedong tubuh ringkih itu di letakkannya di atas tempat tidur.
Cepat-cepat mencari ponsel, mencari kontak seseorang di sana untuk di hubungi hingga panggilan pun tersambung.
"Hallo, assalamu'alaikum, kenapa Dim?" Suara orang di sebrang sana masih terdengar serak, mungkin baru bangun dari tidur, bagaimana tidak kalau Dimas saja menelfon pagi-pagi begini.
"Wa'alaikumussalam, Syid ke apertemen ku sekarang, cepat." Mendesak orang di sebrang sana untuk segera menemuinya.
"Iya ada apa?" Bertanya heran sekaligus mulai panik.
"Keyla Syid Keyla." Berbicara setengah-setengah membuat Rasyid di sebrang sana mulai gelisah.
"Keyla kenapa, bicara yang benar." Sudah begitu panik mendengar nama adiknya di sebut-sebut.
"Keyla pingsan." Ucap Dimas sendu.
Rasyid tak lagi menanggapi, dengan cepat mengambil kunci mobil dan berlari keluar kamar.
"Ada apa nak?" Bertanya lembut menghamiri anak lelakinya itu.
Tak ingin membuat Ummi khawatir Rasyid memilih menyembunyikan fakta tentang adiknya, " Ada urusan mendadak Ummi, Rasyid pergi dulu ya Assalamu'alaikum." Meminta izin lalu berjalan lagi keluar rumah.
"Wa'alaikumussalam." Melihat punggung Rasyid yang mulai menjauh hingga hilang di balik pintu.
Di apertemen Dimas menunggu dengan gelisah, mondar-mandir di samping tempat tidur Keyla tak lama dia kembali duduk di tepian ranjang.
"Sayang bangunlah, jangan buat aku seperti orang bodoh begini." Menggenggam tangan Keyla yang terkulai lemas menciuminya berulang sebagai mantra dengan harapan dapat membangunkan istrinya dengan segera.
Ting Tong.
Bunyi bel pintu terdengar, menyadarkan Dimas dari kekhawatiran. Segera beranjak membuka pintu, sudah bisa di tebak siapa yang datang, dan benar itu adalah Rasyid, kakak iparnya.
"Keyla dimana." Memegang bahu Dimas, keningnya mengernyit karena khawatir juga panik.
"Ada di kamar." Dimas mendahului Rayid masuk ke dalam kamar mereka yang di ikuti Rasyid di belakangnya.
Duduk di samping Keyla yang sedang terbaring.
Rasyid dengan segera mengeluarkan alat medis untuk memeriksa kondisi adiknya, pertama memeriksa mata baru setelah itu memeriksa denyut nadi Keyla.
Dimas harap-harap cemas menunggu hasil pemeriksaan itu, beda halnya dengan Rasyid yang tersenyum lega membuat Dimas bingung dengan ekspresi itu.
"Istriku kenapa? Bertanya tidak sabaran.
"Tenang Dim."
"Tenang bagaimana kalau istriku saja sedang tidak sadarkan diri begitu." Suaranya naik satu oktaf.
Rasyid hanya tersenyum menanggapi.
"Keyla hamil." Kata Rayid pelan penuh makna.
"Jangan bercanda Syid, jelas-jelas tadi dia pingsan." Masih belum sadar.
Sebegitu paniknya sampai-sampai tidak sadar dengan perkataan Rasyid.
"Eh apa? D.dia Hamil." Terkejut dengan fakta itu, mengerjapkan matanya cepat berulang, sedikit menahan nafas menatap pada istrinya lalu memeluk Rayid yang ada di depannya tiba-tiba.
"Jadi Keyla hamil." Tersenyum bahagia mengetahui fakta itu.
Rasyid membalas pelukan Dimas, " Iya, sebentar lagi aku akan jadi seorang paman." Terkekeh sendiri dengan kenyaataan itu, tidak lama lagi panggilannya akan bertamabah dari kakak untuk Keyla, pak Dokter untuk pasiennya dan sekarang akan di panggil paman oleh bakal calon ponakannya.
"Dan sebentar lagi aku akan jadi seorang ayah." Masih saling berpelukan, tidak sadar kalau Keyla sudah terbangun.
Heran melihat kakak dan suaminya berpelukan begitu, sudah mirip teletabis versi nyata.
"Kalian kenapa." Bertanya bingung.
"Kamu sudah sadar sayang." Senyumnya merekah, membantu istrinya yang hendak bangun.
"Kak Rasyid kenapa ada di sini?" Bertanya lagi.
"Suami mu ini yang menyuruh ku datang ke sini." Menggelengkan kepala.
"Mas, kan aku nggak apa-apa, malah jadi ngerepotin kak Rasyid kan." Tidak enakan telah merepotkan kakaknya itu.
"Nggak ngerepotin dek, justru kakak senang sebentar lagi dapat ponakan."
"Maksudnya?" Belum mengerti apa yang di bicarakan kakaknya.
"Kamu hamil sayang." Kata Dimas memberi jawaban, membuat Keyla bungkam.
"A.aku hamil." Menatap suami dan kakaknya bergantian.
Dimas mengangguk mengiyakan, membawa wanita itu dalam pelukan.
"Ehem." Berdehem mencairkan situasi, berasa jadi obat nyamuk menyaksikan kemesraan adiknya.
"Kakak pulang dulu, ada jadwal operasi pagi ini." Akhirnya dia pamit pulang, beralama-lama di tempat ini membuat jiwa kejombloan nya meronta-ronta.
Keyla hanya mengangguk tanpa melepas pelukan suaminya, sampai Rasyid dongkol sendiri dengan pemandangn itu dan memilih segera keluar dan pulang.
Bersambung.