My Lecturer is Husband

My Lecturer is Husband
Bab 38



"Aku enggak nyangka ya, orang yang selama ini kita kenal baik ternya aslinya seperti itu." Kesya berseru, walau bagaimana pun dia yang lebih dekat dengan Sindi, apa-apa semuanya dengan Sindi, dan wanita ini sangat pandai dalam menyembunyikan jati dirinya.


"Hum, mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi." Menarik nafas dalam, Oca menepuk bahu Kesya pelan, "kamu yang sabar ya, masih ada kami kok yang siap sedia jadi teman baik kamu." Oca menguatkan Kesya.


"Iya, terimakasih untuk semuanya." Mereka saling berpelukan.


Hikmah dalam kejadian ini membuat pertemanan mereka semakin akrab, yang dulunya hanya sebatas sapa-menyapa sekarang lebih kepada saling memberi perhatian satu sama lain.


***


Keyla sudah mengetahui kejadian kemarin, dan tadi pagi Dimas baru saja memberitahuinya.


"Humairah, kamu sedang memikirkan apa, hm?" Dimas langsung bertanya tatkala melihat istrinya yang hanya melamun, dari pertama masuk mobil hingga sekarang Keyla hanya diam, tak seperti biasanya yang selalu berkoar dengan segala tingkah menggemaskannya.


"Heh, iya mas." Tersadar dari lamunan, Keyla mengubah kembali mimik wajahnya menjadi ceria, meskipun tidak terlalu natural.


"Kamu kenapa sayang, ada sesuatu?" Dimas memfokuskan diri pada Keyla, duduk menyamping menghadap istrinya.


Masih dalam mobil, tapi mobil itu sudah berhenti sejak lima belas menit yang lalu, mereka sekarang sedang berada di area parkir fakultas.


"Enggak mas, hanya saja aku masih kepikiran kejadian kemarin." Pandangannya mulai sayu. "Aku punya salah ya mas sama dia sehingga dia berniat buruk seperti itu."


"Kamu nggak salah sayang." Kedua tangannya menangkup wajah Keyla sembari mengelus pelan. "Hanya saja semua terjadi karena kehendak Allah, kita juga tidak bisa mencegah seseorang untuk berbuat buruk pada kita, ambil saja hikmah dari kejadian kemarin, boleh jadi itu kode dari Allah untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya, mungkin selama ini kita kurang taat sehingga di beri teguran seperti itu." Penjelasan bijak dari Dimas membuat air mata Keyla tak urungnya mengalir.


Yang dikatakan Dimas ada benarnya, itu adalah terguran untuknya, selama ini ibadahnya kurang over, hanya menjalankan yang seperlunya saja padahal sebelum menikah dulu dia paling rajin menjalankan segala macam bentuk ibadah kepada Allah. Dan ini bukan salah Dimas atau salah pernikahanya, ini murni salah dirinya sendiri yang mulai lalai.


Keyla menangis sesegukan, Dimas dengan sisi kelembutannya menarik wanitanya dalam pelukan, mengelus pelan punggung Keyla dibalik jilbab.


Beruntungnya sudah dipersatukan dengan lelaki yang baik akhlaknya, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?


"Sudah ya, sekarang kita masuk atau kamu mau bolos saja hari ini nanti istrahat saja diruangan mas." Ucap Dimas memberi pilihan.


Seketika Keyla ingin tertawa sekarang juga, benarkah ini Dimas si dosen killer itu, dia saja akan sangat marah jika ada yang tidak mengerjakan tugas yang diberikannya dan sekarang dia menawarkan Keyla untuk bolos di mata kuliahnya. Wah, cinta memang merubah segalanya ya.


"Mas." Menatap Dimas penuh tanya.


"Iya kenapa."


"Barusan mas ngajak aku bolos ya."


"Kapan?" Pura-pura bertanya, iseng ingin mengerjai istrinya.


"Heh, tadi itu apa dong."


Ini aku yang salah dengar atau gimana ya.


"Emang mas ngomong apa tadi?"


"Nggak tahu." Cemberut, baru saja senang ingin bolos kuliah sebab dia juga merasa lelah dan ingin istirahat saja ternyata dia hanya dikerjai, menyebalkan sekali suaminya ini.


Dimas terkekeh, mengacak jilbab yang Keyla kenakan hingga bentuknya tak beraturan lagi, padahal merapikan jilbab itu tidak semudah yang di bayangkan, kusut sedikit saja akan berpengaruh dengan bentuk wajah, benar kan?


"Yasudah ayo, katanya mau bolos." Mengajak Keyla untuk segera keluar.


"Heh." Tuhkan suaminya ini suka sekali menaik turunkan tensi, untuk sayang.


Lihat nak, Ayah mu menyebalkan sekali, untung bunda sayang.


Dimas sudah keluar duluan, berdiri di samping pintu mobil tempat duduk Keyla.


***


"Key." Bisik Oca, menyenggol pelan bahu Keyla yang tengah fokus pada dosen yang menjelaskan di depan sana. Dosennya sudah bukan Dimas lagi, sekarang pergantian kelas ke dua.


"Kenapa Ca." Menoleh pada Oca di sampingnya.


"Bentar jangan pulang dulu ya." Bisik Oca lagi.


"Kenapa?"


"Ada yang mau aku omongin."


Keyla mengangguk, setelahnya kembali fokus lagi pada dosen yang menjelaskan di depan sana.


Oca tersenyum penuh arti, setidaknya dia berhasil menahan Keyla lebih lama.


Setengah jam kemudian kelas telah selesai, dosen kedua baru saja pamit undur diri karena perkuliahan telah usai. Mereka membereskan kembali segala perlengkapan kuliah untuk di masukkan ke dalam tas masing-masing.


Sebagian teman yang lain telah keluar, menyisahkan beberapa yang masih bertahan.


Keyla menunggu Oca untuk menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan tadi.


"Key." Oca membuka suara.


Keyla diam, memperhatikan Oca yang menyuruh teman-teman yang lain berkumpul di meja mereka.


"Jadi gini Key, kami semua berniat ngajakin kamu jalan-jalan ke mall, udah lama kan kita nggak ngumpul bareng." Ucap Oca lagi menyampaikan maksud dan tujuannya menyuruh Keyla untuk tidak pulang dulu tadi.


"Iya Key, kita-kita mau ngajakin kamu refrehsing gitu, kan selama hamil kamu di rumah terus." Ucap Sinta menimpali.


"Nah iya, kami juga sudah izin kok tadi sama pak Dimas." Giliran Natali yang bersuara.


"Mau ya Key, tenang saja kok kamu dan calon debay aman bersama kami, iya gak." Kesya berseru.


Teman-teman yang lain mengangguk antusias, sangat berharap Keyla menerima ajakan mereka.


Sementara Keyla masih diam, menatap temannya satu per satu, mempertimbangkan ingin pergi bersama mereka atau tidak. Di lihatnya lagi wajah teman-temannya, merasa tidak tega jika menolak karena niat mereka baik. Akhirnya Keyla tersenyum dan mengangguk.


"Iya aku mau kok, he he." Memperlihatkan deretan gigi rapinya.


Mereka berbondong-bondong memeluk Keyla erat, membuat wanita itu terkejut dengan gerakan dadakan teman-temannya ini tapi dia juga membalas pelukan mereka.


Dikejauhan Dimas memperhatikan dengan bahagia, setidaknya istrinya tidak kepikiran lagi masalah kemarin.


"Yaudah ayo berangkat, naik mobil aku aja ya." Oca memberi usulan yang langsung di angguki teman-temannya, mereka pun pergi ketempat tujuan.


Terlihat dari luar bangunan mall yang megah dengan segala kemewahannya menarik minat pengunjung untuk segera menjelajahi apa saja yang ada di dalam sana.


"Kita makan dulu ya, lapar eh." Ajak Oca, mengelus perutnya yang sudah berbunyi, tidak sabaran minta di isi.


Mereka menyetujui saja kebetulan juga belum sempat makan di kampus tadi.


Setelah makan mereka mulai menjelajahi satu persatu toko yang ada dalam mall itu, mulai dari toko seapatu, tas, beragam pakaian modern, perlengkapan bayi, hingga berakhir di kedai ice krim.


Lupa sudah dengan kejadian kemarin, hari ini mereka benar-benar menikmatinya, keseruan-keseruan itu mengalir dengan semestinya membuat mereka tertawa gembira, tali pertemanan mereka kian erat dan bahkan boleh di kata sudah lupa barangkali dengan kenangan mantan, eh.


Bersambung.