
Hari ini Keyla akan turun lapangan untuk melakukan sebuah penelitian. Keyla dan Oca serta empat teman lainnya berada di kelompok yang sama, setiap kelompok berisikan enam orang di tugaskan di daerah yang berbeda, mereka di tugaskan mencari masalah yang berkaitan dengan status gizi di lingkup wilayah pesisir tempat mereka di tugaskan, mereka melakukan penelitian dengan menyebar kuesioner berisikan pertanyaan-pertanyaan seputar masalah gizi.
Sekarang kelompok Keyla sudah berada di kantor lurah untuk memberikan surat izin, pak lurahnya dengan senang hati menerima kedatangan adik-adik mahasiswa di daerahnya, pak lurah menghimbau kepada warganya untuk saling membantu mempermudah tugas mereka dengan mempersilahkan adik-adik mahasiswa untuk mendata di rumah mereka dengan menjawab setiap pertanyaan yang ada pada kuesioner tersebut.
Mereka menyebar ke setiap rumah warga, Keyla berdua dengan Oca dan teman-teman yang lainpun sama, menyebar di tiga puluh responden yang terpilih secara random.
"Alhamdulillah selesai juga." Ucap Keyla sembari berteduh di salah satu pepohonan rimbang.
Sudah selesai menyebar semua kuesioner di tiga puluh responden mereka yang terpilih secara random.
Menyeka peluh yang keluar sebab matahari yang mulai terik, sinarnya menerpa kulit yang mulai kemerahan karena panas.
"Ini kan sudah terisi semua, kita langsung balik saja ya." Ucap Natalia teman kelompok Keyla.
"Iya, nanti laporannya kita kerja bersama." Ucap Anton pria bertubuh tinggi yang juga teman sekelompok Keyla.
"Yaudah ayo, kalian mau nebeng mobil aku nggak kebetulan aku bawa mobil." Tawar Keyla pada teman-temannya yang tidak memiliki kendaraan.
"Iya deh, Anton sama Fadli kan pakai motor masing-masing, kalau naik motor pasti panas aku sama Natali naik mobil Keyla saja." Saran Sinta yang sejak tadi menyimak.
"Oke deh, Ca kamu nggak apa-apa kan naik mobil sendiri." Melihat pada Oca yang pasti akan sendiri mengendarai mobilnya, kebetulan juga dia bawa mobil.
"Nggak masalah kok, lagian aku mau singgah di temapt lain dulu habis ini." Mengangguk meyakinkan.
Mereka pun beranjak di kendaraan masing-masing, dua lelaki itu Anto dan Fadli mengendarai motor besar mereka masing-masing, sementara Oca dan Keyla masuk ke dalam mobil dengan dua teman Keyla ikut masuk di mobil Keyla.
"Key aku duluan ya." Ucap Oca, membunyikan klakson mobil dua kali bermaksud untuk pamit.
Keyla mengangguk saja, mengendarai mobilnya membelah jalan raya yang agak padat di siang hari ini.
Mobil Oca sudah lebih dulu melaju hingga tak terlihat lagi sebab arah mereka yang berlawanan.
"Key kamu sudah punya pacar ya." Tanya Natali tiba-tiba membuat Keyla terdiam sesaat mencerna perkataannya.
"Enggak emang kenapa?" Melirik sekilas ke arah Natali yang berada tepat di sampingnya dan kembali fokus di balik kemudi.
"Aku pernah lihat kamu loh belanja di mini market sama cowok terus kalian sambil gandengan gitu ya aku pikir itu pacar kamu." Natali berterus terang dengan apa yang sempat dia lihat di mini market sore itu.
Deg.
"Ha ha, salah lihat kali Tal, atau yang kamu lihat mungkin kak Rasyid kakak aku." Mencari alasan agar Natali tidak memperpanjang pembicaraan yang hanya akan membuat rahasia yang selama ini dia simpan terungkap.
****** jangan-jangan Natali lihat aku belanja sama Mas Dimas waktu itu.
"Kalian ngomongin apa sih, seru banget." Sinta yang sejak tadi sibuk dengan ponsel kini ikut nibrung dalam pembicaraan mereka.
"Nggak kok Sin." Jawab Keyla.
Perasaan yang aku lihat waktu itu emang beneran Keyla deh sama cowok tinggi, tapi mukanya cowok itu nggak asing kayak sering ketemu di kampus, hm aku penasaran pasti ada yang di sembunyiin Keyla nih.
Dan suasana kembali hening lagi, fokus dengan pikiran mereka masing-masing.
***
Dimas masih berada di kampus, jam sudah menunjukkan pukul dua siang tapi Dimas sejak makan siang tadi masih betah dalam ruangannya.
Tok tok.
Suara pintu di ketuk dari luar, tak lama terdengar salam dan Dimas membalasnya mempersilahkan orang itu masuk.
Hening.
"Rifki!" Terkejut dengan kedatangan sahabat lamanya itu.
Rifki adalah orang yang sama dengan yang adiknya Oca kagumi. Singkat cerita Rifki dan Dimas telah bersahabat sejak SMA tapi ketika lulus SMA mereka terpisah sebab Rifki memilih melanjutkan studi di Kanada sementara Dimas menetap di Indonesia membuat mereka lost contak beberapa tahun lamanya hingga kini baru bertemu lagi untuk yang pertama kalinya.
Dimas berdiri dari kursi kebesarannya berjalan perlahan mendekati Rifki yang masih berdiri di tempat.
"Lama nggak ketemu Dim." Ucap Rifki memulai obrolan.
Mereka saling berpelukan melepas rindu.
Mempersilahkan Rifki untuk duduk di sofa dalam ruangan itu agar nyaman mengobrol nya.
"Kamu kapan tiba di Indonesia." Mulai antusias menanyai. Beginilah Dimas jika sudah bertemu dengan sahabat pembawaannya selalu ceria beda hal jika bertemu mahasiswinya yang haus belaian kasih sayang wajah datar ples aura dinginnya mode on.
"Sudah dari dua minggu yang lalu Dim, aku juga sempat ke sini beberapa hari yang lalu tapi nggak lihat kamu, aku kira kamu nggak ngajar di sini." Mengingat beberapa hari yang lalu dia datang di kampus ini yang membawanya bertemu dengan gadis kecilnya dalam lif waktu itu.
"Terus kamu tahu dari mana aku di sini." Mulai penasaran.
"Kebetulan tadi aku habis dari ruangannya Kak Revan, kan dia Kejur di Fakultas ini, nggak sengaja ngelihat nama-nama dosen di sini tahunya ada nama kamu, yasudah aku tanya langsung sama kak Revan dan dia nunjukin ruangam kamu di sini." Menjelaskan panjang lebar, kebetulan-kebetulan yang membawanya bertemu dengan sahabat lamanya ini dan kakak dari gadis kecilnya itu.
"Oh iya, apa kabar kamu makin ganteng saja Rif." Bercanda pada sahabatnya.
"Kamu itu yang makin ganteng, nikah nggak bilang-bilang." Menjawab ketus, melirik cincin yang melingkar di jari manis sahabatnya.
"Tahu dari mana aku sudah menikah." Terkejut, pasalnya dia tidak memberitahu perihal pernikahannya pada Rifki mereka saja tidak saling memberi kabar selama ini, jadi pria ini tahu dari mana pikirnya.
"Sayangnya cincin di jari manis mu itu tidak bisa berbohong padakau.
Terjawab sudah rasa penasaran Dimas.
"Haha, iya aku sudah menikah." Tertawa menanggapi perkataan Rifki.
"Dengan siapa?" Mulai penasaran, siapa gerangan wanita yang berhasil menaklukkan sahabatnya ini.
"Mahasiswi ku sendiri." Sambil membayangkan wajah imut istrinya.
"Wah, ternyata ada ya wanita yang bisa menaklukkan hati beku mu itu." Rifki bersorak takjub.
"Nyatanya sekarang hatiku sudah mencair semenjak menikah dengannya." Membayangkan lagi wajah manis itu.
"Wanita yang hebat." Gumam Rifki, tapi masih bisa di dengar oleh Dimas.
Ya, istriku memang wanita yang hebat.
"Oh iya Rif, kamu sudah menikah juga kan?" Membalikkan topik pembicaraan, dia juga penasaran dengan hubungan asmara lelaki satu ini.
"Belum, aku masih menunggu seseorang." Pikirannya mulai berkelana membayangkan gadis kecilnya.
"Siapa?"
"Rahasia."
Dan pembicaraan itu berlanjut sampai mereka tertawa bersama karena merasa lucu dalam pembicaraan mereka.
Bersambung.
***
Mulai terlihat hilalnya persoalan Rifki, kira-kira gadis kecilnya itu siapa ya? (Jawab di komentar)