
Diperjalanan kembali kerumah, Keyla uring-uringan sepanjang jalan, ingin makan itu lah inilah pokonya makanan apa saja yang di temuinya di pinggir jalan harus di belikan Dimas untuknya.
"Mas mau yang itu." Menunjuk lagi stan makanan, terhitung sudah kali ke lima dia meminta di belikan di tempat yang berbeda-beda.
"Iya tunggu di sini." Ucap Dimas dengan sabar meladeni keinginan istrinya, keluar dari mobil menuju stan makanan itu.
Kembali lagi membawa sekantung somay goreng.
Mata Keyla berbinar melihat setumpuk makanan di pangkuannya.
"Sudah ya, sekarang kita pulang."Ucap Dimas lelah.
"Iya." Berbicara tanpa melihat kearah Dimas, fokusnya teralihkan dengan setumpuk makanan di hadapannya.
Dimas merutuk dalam hati.
Lihatlah, makanan lebih berharga dari aku.
Tapi mau bagaimana lagi, toh itu sudah resiko yang harus dia tanggung sebab istrinya tengah mengidam karena kemauannya juga kan yang ingin punya anak.
Di lain tempat, Oca terus mengikuti pergerakan wanita itu.
"Mau kemana sih dia, kok malah menuju tempat ini sih, mana tempatnya kumuh kayak gini lagi." Bergumam-gumam sambil bergidik ngeri melihat tempat itu.
Oca terus mengikuti sampai masuk ke dalam gedung tua yang sunyi dan gelap.
Mengendap-ngendap agar tidak menciptakan keributan dari langkah kakinya.
"Hah, tunggu saja gadis kampungan, aku akan menyekapmu di tempat menakutkan ini ha ha." Wanita itu tertawa terbahak-bahak seolah tidak takut dengan suasana mencekam di gedung tua ini, sudah memikirkan bagaimana caranya dia dapat mengurung Keyla untuk membalaskan rasa sakit hatinya pada wanita itu karena telah merebut apa yang dia inginkan, tentu saja pak Dimas.
"Lihat saja, kau akan mati membusuk di sini." Menyeringai, pandangan matanya menyiratkan kebencian yang mendalam.
"Ya Allah, kenapa dia jahat sekali sih, aku nggak percaya dia akan seperti itu padahalkan teman sekelas." Oca mulai kesal dalam hati, tidak menyangka teman sekelasnya akan berbuta seperti itu, padahal selama ini mereka berteman baik.
Oca cepat-cepat keluar dari gedung tua itu, masuk kembali ke dalam mobil yang di parkirnya agak jauh supaya tidak mencurigakan, merekam dalam ingatan tempat ini.
Lama dia berdiam dalam mobil, terlihat lagi wanita itu keluar menuju mobilnya lalu pergi.
Oca juga beranjak pergi dari tempat itu.
***
Keyla tengah bersantai di ruang tengah, duduk di sofa meluruskan kakinya di atas paha Dimas, pria itu memijiti kaki Keyla yang terasa pegal padahal Keyla sudah menolak tadi.
"Mas nggak usah." Kata Keyla mencoba menolak niat baik Dimas, bukan tidak ingin hanya saja dia begitu tidak enak hati, seharusnya dia yang melakukan itu pada Dimas bukan malah sebaliknya.
"Humairah." Matanya sudah melotot, menarik paksa kedua kaki Keyla, ditaruhnya ke atas pahanya.
Keyla diam tak berkutip, mau menolak pun dia tidak punya nyali kalau sudah di tatap begitu, terpaksa menurut saja toh juga dia yang memaksa kan.
Dimas mulai memijit bagian betis Keyla hingga turun ke pergelangan kaki.
"Aw." Keyla meringis, tak sengaja memar di kakinya tersentuh Dimas.
"Kenapa sayang." Mulai khawatir, memeriksa bagian yang sakit itu, Dimas terkejut melihat memar kebiruan di pergelangan kaki istrinya, menatap wanita itu seolah meminta penjelasan.
Keyla menggigit bibir bawah, gugup.
Bagaimana ini kalau dia tahu bisa marah nanti.
"Dapat dari mana ini." Tangannya berhenti memijat, menatap Keyla yang masih menunduk.
"Jawab Keyla!" Sudah menyebut nama tanpa embel-embel Humairah pertanda dirinya sudah tersulut amarah.
Keyla terkejut, baru pertama kalinya Dimas membentaknanya seperti itu. Matanya sudah memerah menahan tangis.
"Dapat dari mana hm." Suaranya mulai memelan tapi masih terdengar nada ketegasan dalam kata-katanya.
"I.itu aku.." Terbata-bata tak mampu berkata-kata lagi.
"Bicara yang jelas." Suaranya mulai keras lagi.
"kapan."
"Kemarin."
"Dan kamu nggak ngomong sama aku, oh bagus. Kamu anggap aku apa hah, aku suami kamu seharusnya kalau terjadi hal-hal seperti ini kamu biacara sama aku, kalau terjadi apa-apa sama kamu bagaimana hm? kamu pikir aku akan tenang! Tidak Keyla aku tidak akan bisa tenang, kamu paham itu." Mengungkapkan segala keresahan di hatinya mendapati istrinya tak memberitahu perihal semacam ini, percayalah suami mana yang tidak khawatir mendapati istrinya kesakitan karena terjatuh dalam keadaan hamil begitu di tambah istrinya tidak memberitahunya sama sekali, itu sama saja tak menghargai keberadaan suaminya, lalu bagaimana kalau terjadi apa-apa padanya siapa yang akan di salahkan nanti. Intinya dia hanya terlalu takut bilamana hal yang tidak di harapkan terjadi pada istrinya.
Keyka mulai terisak dalam diam.
Seolah pendengarannya tak mendengar suara tangisan istrinya, Dimas beranjak pergi ingin menenangkan pikirannya.
Keyla masih terisak di tempat duduknya, tidak berani mencegah kepergian Dimas, sebab dia tahu dia yang bersalah. Padahal sudah di peringati oleh Dimas jika terjadi apa-apa padanya segera memberitahu lelaki itu, tapi sekarang karena tidak ingin membuat Dimas khawatir dengan menyembunyikan fakta itu malah menjadi bumerang bagi dirinya. Menyesalah pada akhirnya, mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur.
Tiba waktunya makan malam, Dimas masih juga mendiaminya, makan berdua di tempat yang sama dan saling berhadapan tapi seolah menjadi orang asing, tentu saja hati Keyla sakit, mau bagaimana lagi ini kesalahannya sendiri.
Dimas beranjak terlebih dahulu setelah makan tanpa memperdulikan istrinya, jahat sekali.
Keyla menatap sendu kepergian Dimas, segera mengatur bekas makan mereka.
Bagaimana ini ya Allah, aku harus bagaimana agar dia tidak marah lagi.
Dimas memilih duduk di ruang tivi, lebih baik tidak berbicara dulu untuk sekarang, mengalihkan pikirannya dengan menonton tayangan di tivi.
Melirik ke arah dapur, istrinya sedng mencuci piring sekarang, ingin sekali berlari memeluk tubuh mungil itu tapi egonya terlalu besar untuk melakukannya, matanya fokus pada tivi depan sana tapi pikirannya berpikir keras memikirkan istrinya.
Melirik lagi kearah Keyla, ketika melihat wanita itu hendak berbalik Dimas cepat-cepat mengalihkan pandangan.
Rupanya Keyla menuju kamar mereka, mungkin dia ingin segera tidur sebab sekarang sudah menunjukan pukul 9 malam.
Dimas menggusar rambutnya frustasi, haruskah seperti ini terus terhitung dari sore tadi mendiamkan istrinya, menahan diri untuk tidak memeluk dan menciumnya yang bahkan menjadi kegiatan rutinnya setiap hari.
Mematikan tivi dan beranjak menuju kamar.
Ketika memasuki kamar, Dimas berhenti sejenak melihat istrinya yang sudah tertidur di balik selimut tebal.
Berjalan perlahan menghampiri, menaiki tempat tidur secara perlahan lalu berbaring di samping Keyla.
"Tidak baik tidur membelakangi suami." Kata Dimas mengingatkan, tapi Keyla belum juga berbalik menghadapnya, apakah wanita itu sudah tidur, pikirnya.
"Humairah." Memanggil, tapi tidak ada jawaban malah bahunya yang bergetar, sedang apa dia.
"Humairah." Memanggil lagi, tangannya terulur membalik posisi berbaring istrinya agar berhadapan dengannya.
Terkejut melihat mata Keyla yang memerah sebab menangis.
Dimas terenyuh melihat pemandangan itu, jahatkah dia membuat istrinya menangis seperti ini? mulai merasa menyesal dengan perbuatannya, harusnya tadi di bicarakan baik-baik saja tanpa membentak dan mendiamkan yang malah melukai hati istrinya, dan Dimas lupa satu hal bahwa istrinya tengah hamil, sudah jelas perasaanya mudah sekali melow.
"Maaf." Menarik Keyla dalam pelukan.
"Maafin mas." Keyla terisak lagi, kali ini suaranya terdengar sangat jelas dan itu menyakitkan bagi Dimas.
"A.aku juga minta maaf mas, seharusnya a.aku ngasih tahu kamu." Tangisnya semakin kencang, sengaja melap ingusnya yang keluar di baju yang Dimas kenakan sekarang.
"Aku jan.ji akan.."
"Sudah-sudah jangan menangis lagi, tapi itu ingusnya jangan di lap di baju mas dong sayang." Prihatin dengan nasip bajunya yang penuh lendir.
"Tapi dedek pengen kayak gini." Cemberut, matanya semakin genjar mengeluarkan air mata. Memanfaatkan keadaan bahwa melakukan hal itu adalah keinginan dari anaknya yang masih di dalam perut.
"Benarkah? yasudah teruskan saja." Pasrah, kalau sudah begitu mau bagaimana lagi menolak pun dia tidak kuasa kalau istrinya sudah memakai bakal calon anaknya sebagai alasan untuk mengerjainya.
Semenyenangkan mu sajalah sayang, aku tahu kau sedang berbohong sekarang, ingin mengerjaiku ya, tapi tak apalah ini hukuman karena mendiamkan mu tadi.
Keyla dengan tidak tahu malu malah semakin mengeluarkan ingusnya dan melap di baju yang Dimas kenakan.
Rasakan itu mas, salah sendiri kan ngediamin aku, maaf nak Bunda bawa-bawa nama kamu.
Bersambung.