My Lecturer is Husband

My Lecturer is Husband
Bab 37



Oca mengendarai mobil itu dengan kecepatan sedang menuju gedung tempat penyekapan Keyla yang telah di rencanakan kedua pria di belakangnya.


Oca tak habis fikir dengan jalan pikiran wanita itu, niat sekali ingin mencelakai orang hanya karena obsesianya ingin memilkili lelaki yang sudah beristri, dan parahnya lagi lelaki itu adalah kakaknya dan istri dari lelaki itu adalah sahabatnya, Keyla. Tentu saja Oca tak ingin tinggal diam jika ada yang berniat mengusik ketenangan keluarganya.


"Berapa bayaran kalian melakukan aksi itu?" Melihat kedua pria dibelakangnya dari pantulan kaca mobil depan.


Kedua pria itu hanya diam, entah tidak berani menjawab atau memang ada hal lain.


Oca merasa geram, sisi lain dalam diri Oca yang tak banyak orang ketahui telah nampak, tegas, kejam, dan tak berbelas kasih, lihatlah karena aura menakutkan dalam dirinya membuat kedua pria itu tak mampu berkutip, dan juga meraka terlalu meremehkan kemampuan Oca tadi.


"Kalian tuli ya!" Kata-kata tegasnya sudah mulai keluar, keningnya sudah menyatu menukik tajam, artinya dia dalam keadaan kesal sekarang.


Kedua pria itu saling melirik, ketakutan. Hebatnya Oca, hanya dengan gertakan dan tatapan tajamnya membuat nyali keduanya menciut.


Tak lama ponsel mereka berbunyi, satu panggilan masuk.


Oca melikir ponsel yang berdering itu, menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Dari siapa" Melirik ke arah dua pria itu bergantian, dari raut wajah mereka kentara sekali kalau yang sedang menelfon adalah wanita itu.


Oca merebut paksa ponsel itu," Jawab pertanyaannya dengan tenang, jangan sampai dia curiga atau kalian yang akan menanggung akibatnya." Oca mengangkat panggilan dan melospiker volumenya.


"Bagaimana."Ucap orang di sebrang sana.


"Beres nona, dia sudah bersama kami sekarang." Berusaha tenang, meski sudah gugup setengah mati.


"Bagus, jangan sampai gagal." Wanita itu mematikan telfon sepihak.


"Bagus juga akting kalian." Oca tersenyum miring.


Melihat mobil adiknya berhenti,Dimas pun memberhentikan mobil yang di kendarainya, berjalan kearah mobil Oca.


Oca membuka pintu mobil saat melihat kakaknya telah berdiri di samping mobilnya.


"Kenapa dek?"


"Dia nelfon kak."


"Oh gitu, kita tukaran saja ya nanti kakak yang bawa mobil ini." Saran Dimas.


Oca nampak berpikir beberapa detik lalu setelahnya dia mengangguk menyetujui, mereka bertukar mobil.


***


Tiba di gedung tua itu Oca dan Dimas mulai menyiapkan rencana mereka waktu itu, semua orang sudah siap di posisinya masing-masing.


Oca duduk di kursi membelakangi pintu sambil menunduk.


Derit pintu terbuka dari luar, suara langkah kaki terdengar berjalan perlahan menghampiri tempat Oca duduk sekarang.


"O.oca." Terbata-bata, dia terkejut seharusnya Keyla yang berada di situ dan bukan malah Oca, mundur selangkah masih bingung dengan situasi.


Oca menyeringai tipis, " Kenapa? kamu kaget ya aku bisa ada di Sin." Oca berjalan perlahan mendekati wanita itu membuatnya berjalan mundur.


"T.tapi a.aku." Sudah mulai gugup, perasaannya jadi was-was, semua di luar dugaan, tak seperti yang dia harapkan.


"Tapi apa Sindi, kamu sudah rencanain ini dari jauh hari kan, kamu mau nyekap Keyla di tempat ini, tapi sayangnya rencana mu gagal terlebih dulu, heh." Oca makin mendekat, satu alisnya terangkat dengan senyum miring memberi kesan menantang, Sindi merubah mimik wajahnya, tidak terima dengan semua ini, rencananya gagal total.


"Hah, emang kenapa, nggak ada Keyla kamu pun bisa gantiin dia." Sindi, wanita itu berbalik menantang Oca, dia masih punya sedikit keberanian sekarang, dia bahkan tidak tahu bahwa banyak pasang mata yang melihatnya sekarang tanpa dia ketahui.


"Emang kamu pikir aku takut sama kamu." Ucap Oca tegas, mendorong bahu Sindi hingga membentur tembok, membuatnya meringis, wajahnya merah padam menahan amarah, sedikit lagi kemarahannya akan meledak.


Sindi tak mau kalah, dia mengeluarkan pisau di balik jaketnya, menodongkan pisau itu di hadapan Oca, tapi Oca tak merasa takut sama sekali.


"Hah, kamu masih banyak tingkah juga ya." Oca memberi kode tepukan tangan tiga kali, dan semua orang yang bersembunyi tadi keluar dari persembunyian mereka, suasana mulai mencekam, terlihat Sindi kalah jumblah yang hanya sendiri.


Sindi terkejut, semua teman kelasnya ada di sini terlebih lagi pak Dimas, orang yang membuatnya nelakukan semua ini tanpa berpikir panjang terlebih dulu.


"Sin, aku nggak nyangka kamu bakal kayak gini." Ucap Natali merasa prihatin dengan temannya.


"Kita sudah nganggap kamu teman baik kita, tapi kamu tega mau nyelakain teman kamu sendiri dan kamu juga tanu Keyla sedang hamil, aku nggak habis pikir sama kamu Sin." Giliran Kesya yang membuka suara, sungguh dia juga merasa bingung dengan situasi ini.


Semua orang tidak menyangka dengan sifat asli Sindi, awalnya mereka tidak percaya setelah Oca menceritakan perihal Sindi yang sebenarnya, tapi sekarang mereka di haruskan untuk mempercayai itu di tambah Sindi dengan beraninya menodongkan pisau di hadapan wajah Oca.


"Kamu tidak seharusnya melakukan ini, saya tahu semua ini karena kamu suka dengan saya dan ingin mencelakai istri saya, tapi tidak seperti ini, rasa yang kamu miliki terhadap saya bukan perasaan cinta melainkan obsesi mu hingga kamu tidak bisa berpikir jernih, sebagai dosen saya merasa prihatin terlebih lagi kamu berniat mencelakai istri dan calon anak saya, jujur saya tidak terima itu." Ucap Dimas panjang lebar.


"Maka dari itu, jadikan aku istri kedua mu atau istri mu akan aku lenyapkan." Ucap Sindi mengancam, dia sudah kehilangan akal sehat, berbicara semaunya tapa berpikir terlebih dulu.


Teman-teman yang lain mulai geram dengan tingkah Sindi, sudah bukan Sindi yang ceria dan baik hati sifat aslinya keluar bersamaan dengan obsesi dan sifat keras kepalanya.


"Kamu mimpi saja, sampai kapanpun saya tidak akan menduakan istri saya dan kamu tidak akan bisa menyentuh istriku dengan begitu mudah." Dimas terlihat kesal, andai saja yang berbicara itu bukan wanita, sudah dari tadi bogeman mentahnya meluncur bebas di wajah yang berbicara seperti itu, Keyla tak tergantikan di hatinya mau sesempurna apapun wanita yang di sodorkan padanya, Keyla tetap pilihan utama tidak ada yang lain.


Sindi tidak terima dengan jawaban Dimas, dengan gerakan cepat mengacungkan pisau di tangannya ke arah Oca.


Dengan gerakan cepat Oca menghindar, hampir saja pisau tajam itu mengenai wajahnya.


Oca membalas, menarik tangan Sindi dan memutarnya ke belakang.


"Jangan harap kamu bisa dapatin kakak ku ya, dalam mimpi pun tidak akan aku izinkan, dan setelah ini bersenang-senanglah dalam penjara."


Oca merasa puas sekali membalas perbuatan Sindi, ayolah wanita itu bukan lawan yang sebanding dengannya, dia bahkan dengan mudah mengalahkan anak buah Sindi tadi.


Semuanya berakhir, Sindi di bawa oleh polisi dengan laporan dugaan pembunuhan berencana, dia juga bekas tahanan sebagai pengedar narkoba, sebelumnya dia pernah mencoba membunuh orang tapi di gagalkan oleh pihak kepolisian dan dia berhasil melarikan diri, wanita yang lugu, baik dan ceria itu ternyata menyimpan sejuta rahasia buruk, dia bersembunyi di balik wajah polosnya. Inilah mengapa kita jangan menilai seseorang dari kulit luarnya, yang terlihat baik belum tentu baik, dan yang terlihat buruk belum tentu buruk.


Bersambung.