
Setelah melaksanakan shalat isya, Keyla bergegas ke dapur menyiapkan makan malam mereka sembari menunggu Dimas pulang, iya Dimas beberapa saat yang lalu izin ke masjid untuk shalat berjamaah, rutinitas yang selalu dia kerjakan setiap hari, karena bagi lelaki yang sudah balig di wajibkan shalat berjamaah di masjid.
"Assalamu'alaikum." Salam Dimas yang baru saja tiba, dan langsung menuju dapur.
Sungguh ini pemandangan yang membuat hati Keyla berdesir, melihat suaminya masih mengenakan baju koko dan sarung shalat, jangan lupakan peci warna hitamnya itu membuat kulit wajahnya yang sudah putih makin bersinar di tambah senyum sejuta wattnya, bisa tidak sih semenit saja tidak membuat jantung Keyla berdebar.
"Wa..wa'alaikumussalam." Tuh kan, menjawab salam saja sampai segugup ini, Keyla berbalik lagi memilih fokus pada pekerjaannya.
"Ha ha". Dimas terkekeh, dia tahu istrinya sedang gugup sekarang. "Masak apa sayang?" Ide jahil terlintas di kepala Dimas, seru saja bila mengajak istrinya bercanda, kan itu juga ternilai ibadah bukan?
"Sayur buncis sama ayam gore.." Ucapan Keyla terhenti tatkala merasakan lengan kekar Dimas melingkari perutnya dari belakang.
Dimas dengan sengaja mengelus perut buncit istrinya sembari menghirup dalam-dalam aroma tubuh Keyla di ceruk leher wanita itu.
Geli sekaligus malu, itu yang di rasakan Keyla sekarang. Meskipun pernikahan mereka sudah berjalan beberapa bulan tapi percayalah berada sedekat ini membuat jantungnya melemah, iya lemah dalam artian tidak sanggup bekerja dua kali lipat dari biasanya.
"Mas." Cicit Keyla.
"Hm."
"Ngga bisa nafas" Cicit Keyla makin pelan tapi masih bisa di dengar oleh Dimas.
"Kok bisa?" Masih juga belum melepas pelukannya.
"Tangan mu mas." Memilih untuk jujur saja, dari pada tidak kelar-kelar makan malamnya kalau begini terus.
"Tetap seperti ini, sebentar saja." Kata Dimas pelan, hembusan nafasnya menggelitik kulit leher Keyla yang tidak memakai jilbab itu.
Ya Allah, punya suami semanja ini ternyata suatu cobaan yang cukup besar.
"Ehem, mataku ternodai ya Allah." Kata seseorang di belakang mereka.
Eh bentar, aku kenal suara ini, ini kak Rasyid kan? Aaa malu tahu di lihatin lagi mesraan begini.
Dimas tetap santai menaggapi sindiran kakak iparnya itu.
Oh iya, jadi ceritanya Rasyid kesini bersama Dimas tadi, mereka ketemu di masjid tempat Dimas shalat berjamaah dan Rasyid kebetulan singgah shalat di situ juga soalnya kalau dia pulang kerumah takutnya tidak sempat shalat Isya berjamaah, dan Dimas meminta agar Rasyid sekalian singgah di apertemennya untuk makan malam bersama, sekali-sekali seperti itu mumpung ada waktu luang.
"Makanya Syid nikah, biar ada yang bisa di peluk."
Skak mat, Rasyid terdiam. Hey! nyari istri itu tak semudah mencari buku di perpustakaan tinggal nyari judul terus ketemu, ini persoalan siapa yang mau menerima kekurangan dan kelebihan man, salah pilih bisa menyesal di kemudian hari, nanti juga kan ada waktunya untuk berumah tangga kok, kalau sudah tiba waktunya, tapi tidak tahu kapan.
"Sekarep mu Dim." Rasyid memutar bola mata malas menanggapi sindiran adik iparnya itu, dasar memang mesra-mesraan nggak tahu tempat.
"Laper ini, mau sampai kapan kalian begitu terus." Giliran Rasyid yang balik menyindir, perutnya sudah berbunyi sejak tadi.
Dimas terkekah lagi, melepas pelukan pada istrinya membiarkan wanita itu menyelesaikan pekerjaannya, masih bnyak waktu sebentar untuk bermesraan lagi kan.
Mereka makan dalam keheningan, hanya suara piring yang berdenting beradu dengan sendok di atas meja.
"Kapan jadwal cek-up lagi dek." Pertanyaan Rasyid itu membuat Keyla menoleh padanya sekaligus memecah keheningan.
Keyla tampak berpikir sebelum akhirnya dia menjawab, "Insya Allah besok siang kak."
Rasyid mengangguk saja mendengar jawabannya adiknya setelah itu hening kembali.
"Aku bantuin ya". Ucap Dimas ketika melihat istrinya hendak mencuci piring kotor itu.
"Nggak usah mas, mendingan kamu nonton tivi atau ngerjain yang lain gitu." Tolak Keyla secara halus, ini piringnya cuman sedikit tahu dan Keyla bisa mengerjakannya sendiri.
Dimas tidak mengindahkan penolakan Keyla itu, dia tetep ingin membantu istrinya, "Sudah jangan nolak, ini perintah." Keluarlah sudah sikap ditektornya itu.
Pasrah saja kalau sudah begini.
"Mas busanya lari kemana-mana itu, malah jadi kotor semua." Keyla bertolak pinggang, bisa-bisanya mencuci piring sambil main busa-busaan begitu.
"Kan tinggal di bilas sayang."
"Iya tapi basah semua jadinya, kalau nyuci piring itu satu tempat saja yang basah ini malah nyebar kemana-mana kan."
"Iya tinggal di lap kan biar kering."
Oh ayolah, wanita kalau mengurus dapur sangat teliti dan hati-hati, paling tidak suka melihat dapur berantakan apalagi yang biasa kerja di dapur seperti Keyla. Ini alsan Keyla tidak mau Dimas ikut serta membantunya di dapur, kalau engga meluk dari belakang ya begini kerjanya ngerusuh, dan ada saja kata-katanya sebagai balasan kan Keyla jadi kesal sendiri, untung saja tingkat kesabaran Keyla masih tersisa kalau saja dia seorang yang tempramen bisa meledak-ledak ini.
Astagfirullah, suamiku ini imut sekali sih boleh tidak aku cubitin pipinya sampai merah semua.
Dan Keyla hanya bisa sabar menghadapi tingkah suaminya yang setiap hari selalu saja berubah-ubah. sebentar, pantas saja dia seperti itu kan Keyla lagi hamil dan Dimas yang merasakan ngidamnya, oh mungkin karena itu.
Akhirnya selesai juga acara mencuci piring ala Dimas, bukan hanya sekedar cuci piring saja tapi kebanyakan tingkah usil Dimas yang sengaja mengerjai istrinya.
Waktunya bersiap-siap untuk tidur tak lupa memakai skincare yang sudah menjadi rutinitas, wajah juga butuh nutrisi bukan cuman hati.
Dimas lebih dulu berada di tempat tidur, duduk bersandar sambil fokus pada laptop di pangkuannya, nah kalau begini dia terlihat keren dan tampan, apalagi di tambah kaca mata baca yang bertengger manja di hidung mancungnya itu.
Kenapa sih mas gantengmu keterlaluan sekali, untung sudah jadi suamiku, hihi.
"Kenapa senyum-senyum, hm?" Keyla kepergok sedang tersenyum.
Berdehem pelan, "Engga kok, salah lihat kali." Sudah ketangkap basah masih juga tidak mengaku ya.
"Yasudah, sini." Dimas merentangkan tangannya setelah meletakkan laptopnya terlebih dulu.
Keyla dengan cepat menuju tempat tidur, senyumnya merekah. Duduk bersandar di bahu Dimas dengan nyaman.
"Belum ngantuk ya." Tanganya terulur mengelus perut buncit istrinya.
"Ngantuk sih, tapi pekerjaan mas sudah selesai belum?" Balik bertanya.
"Sudah sayang, ayo tidur."
Keyla merebahkan badannya bersamaan dengan Dimas di sampingnya.
Menghadap pada Keyla, menarik wanita itu dalam dekapan lengan kekarnya yang hangat, mencium puncuk kepaka istrinya berulang.
Nyaman, Keyla hanya mampu memejamkan mata. Nyaman sekali berada dalam pelukan suami ketika tidur seperti ini. Hingga mereka terlelap dalam tidur.
Bersambung.