My History

My History
9. Tentang Kamu



Rangga menarik nafasnya dalam dalam lalu menghembuskannya, air matanya menetes secara perlahan. Melihat suaminya menangis April pun memeluknya dan menghapus air matanya dengan ibu jarinya.


"Mas, maaf terlalu memaksakan" ucap April merasa bersalah.


"Enggak kok sayang, mas udah tau masa lalu kamu sekarang giliran kamu tau masa lalu mas"


Rangga mengambil nafasnya lalu mulai bercerita.


Orang yang ada dirumah tadi orang tua mas dek sedangkan Abi dan Umi itu orang tua asuh nya mas.


Papa keturunan asli Jepang sedangkan mama kandungku blasteran Jepang-Indonesia karna keluarga mama yang di Indonesia (nenek) beragama islam yang kuat maka kakek ku memutuskan untuk menjadi mualaf dan menikah dengan nenek. Karna itulah aku juga beragama Islam.


Papa dan mama menikah bukan dasar cinta mereka juga bukan dijodohkan tapi keluarga mama yang kenal dekat dengan keluarga papa mengharapkan mereka menikah.


Papa adalah pemilik salah satu rumah sakit di Jepang yang membuat papa dan mama kandungku terpisah. Papa tinggal di Jepang dan mama tinggal di Indonesia. Mama tak mau tinggal di Jepang karena ingin merawat nenek dan kakek, akhrinya papa yang tinggal di Jepang. Papa hanya pulang satu tahun sekali. Mama tak pernah mempermasalahkannya.


Tapi setelah papa pulang membawa perempuan dan meminta izin mama untuk menikahinya karna perempuan itu hamil anak papa. Usia kandungannya sekitar 6 bulan saat itu. Perempuan itu adalah mama Livia, perempuan yang berdiri disamping papa tadi. Bagaimana perasaan mama kandungku saat itu? Hancur setelah mengetahui bahwa papa mencari pelampiasan hasratnya selama tinggal di Jepang. Mama menangis di hadapan ku dan mengikhlaskan papa memiliki 2 istri.


2 hari setelah perkenalan mama Livia, akhirnya papa dan mama Livia menikah di depan mama kandung. Mas memeluk mama yang sedang menangis, dan mas gak tau kalau pelukan itu adalah pelukan terakhir dari mama kandungku.


Tepat jam 1 malam aku keluar kamar untuk ke kamar mandi, perasaan mas saat itu mulai gak enak. Seperti ada yang mengikuti mas dari belakang. Dan ketika mas balik badan, mas langsung dibius dan diseret keluar rumah oleh 2 orang bertopeng.


Saat mas sadar pemandangan yang tidak mengenakkan ada di depan mata mas. Mama di tali di sebuah kursi lalu 3 orang menyiksa mama dengan goresan pisau. Kata-kata yang diucapkan mama adalah tolong lepaskan putraku, jangan sakiti dia.


Mas hanya diam berharap semuanya hanya mimpi buruk, tapi jeritan mama yang membuat mas tersadar bahwa itu nyata. Mereka bertiga juga memperkosa mama dengan paksa. Melihat semua itu, aku mencoba berontak tapi pisau yang dipegang oleh orang yang berdiri disampingku menggores bahuku dan darah mengalir dari bahu kananku.


Mereka bertiga membawa mama ke sebuah tempat seperti hutan, dan mereka mengubur jenazah mama disana. Setelah itu mereka memulangkanku ke rumah sebelum adzan subuh.


Papa yang melihat keadaanku penuh darah dan luka menganga di bahu langsung membawa ku ke rumah sakit. Karena aku tak kunjung mau bicara akhirnya papa memeriksakanku ke bagian psikolog. Dokter mengatakan bahwa aku mengalami depresi parah. Papa tak tau apa yang sebenarnya terjadi padaku, dan yang papa tau mama diculik.


Karena tuntutan pekerjaan akhirnya papa dan mama Livia kembali ke Jepang. Sedangkan aku tinggal bersama nenek dan kakek.


"Oh iya mas ini anak kembar lo" ucap Rangga memaksakan untuk tersenyum.


Aku dan kembaranku, Rengga tinggal bersama nenek dan kakek. Hanya sekitar 2 bulan bahkan depresi ku belum sembuh total nenek dan kakek membawa kami ke ponpes ini dan menitipkannya ke Abi dan Umi. Kakek menceritakan semua apa yang aku alami, Abi dan Umi menerima kehadiran kami dan menganggap kami sebagai anaknya. Setelah 1 minggu aku dan Rengga tinggal di ponpes, kakek dan nenek meninggal karena kecelakaan.


Kehidupanku berubah 180°ketika aku masuk ponpes. Karna depresi ku yang belum sembuh total, aku sering menangis histeris apalagi saat melihat luka yang ada di bahu kananku. Sehingga Abi melukis lafadz الله di bahu kananku untuk menutup luka tersebut.


Meskipun tak tertutup sempurna tapi cukup mengurangi depresiku. Kurang lebih 5 bulan akhirnya aku sembuh dan kembali seperti orang normal dan saat itulah papa datang bersama mama Livia sambil menggendong bayi laki-laki, dan itu adalah evan.


Semua peraturan diponpes tetap ku lakukan tapi karna aku masuk ponpes bukan atas dasar keingingan, maka saat lulus smp aku meminta untuk keluar dari ponpes dan tinggal di kota B bersama saudara kembarku dan seorang pembantu.


Mas,....


----


Terima kasih sudah membaca🙏