My History

My History
18. Duet Romantis



"Mas, mau ngapain?" Bisik April.


----


Rangga hanya tersenyum lalu memberi sebuah kode pada Wedding Musikal. Tak lama kemudian, sebuah lagu yang berjudul Janji Suci milik band Yovie & Nuno terdengar begitu merdu.


Ketika musik dimulai, Rangga langsung memposisikan dirinya dan juga April untuk saling berhadapan. Ditatapnya kedua mata April dengan serius dan senyuman manis terukir di bibir keduanya.


Rangga pun mulai menyanyikan lagu yang sudah ia pilih dari awal...


*Dengarkanlah, wanita pujaanku


Malam ini akan kusampaikan


Hasrat suci kepadamu, dewiku


Dengarkanlah kesungguhan ini


Aku ingin mempersuntingmu


'Tuk yang pertama dan terakhir


Jangan kau tolak dan buat 'ku hancur


'Ku tak akan mengulang 'tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


Dengarkanlah, wanita impianku


Malam ini akan kusampaikan


Janji suci, satu untuk selamanya


Dengarkanlah kesungguhan ini


Aku ingin mempersuntingmu


'Tuk yang pertama dan terakhir*.....


Duet dari pengantin diakhiri dengan pelukan hangat dari Rangga dan kecupan singkat dikening April. April hanya tersenyum sambil meneteskan air mata bahagia begitupun dengan mama Livia yang menangis karena terharu.


Semua orang bertepuk tangan, memang suara Rangga sangat merdu dan mampu meluluhkan hati orang yang mendengarnya.


Acara resepsi berjalan dengan lancar dan meriah. Suasana malam yang romantis ditambah dengan angin malam yang menyejukkan. Acara malam ini ditutup dengan nyanyian lagu yang dibawakan oleh Evan dan Nisa. Keduanya duduk berhadapan dengan gitar yang dibawa oleh Evan untuk mengiringi lagu yang akan dinyanyikan oleh Nisa.


Sesuai request dari pengantin, judul lagu yang dinyanyikan adalah Sempurna milik band Andra & The BackBone.


Petikan gitar mulai terdengar mengawali lagu tersebut. Pandangan Evan tidak lepas dari Nisa yang menatapnya sambil menyanyikan lagu dan beberapa kali senyuman manis terukir dibibir Nisa. Meskipun bukan sepasang kekasih namun mereka terlihat sangat serasi dan romantis.


*Kau begitu sempurna


Dimataku kau begitu indah


Kau membuat diriku akan s'lalu memujamu


Disetiap langkahku


Kukan s'lalu memikirkan dirimu


Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu


Takkan mampu menghadapi semuaa


Hanya bersamamu ku akan bisa


Kau adalah darahku


Kau adalah jantungku


Kau adalah hidupku


Lengkapi diriku


Oh sayangku, kau begitu


Sempurna, Sempurna*...


----


Tepat jam 12 malam resepsi berakhir, keluarga Rangga langsung kembali rumahnya. Rangga meminta April untuk lebih dulu ke kamarnya karena Rangga masih ada urusan dengan beberapa temannya.


"Dek, mama tadi gak dateng ya" ucap April menghampiri Nisa yang duduk bersandar disofa.


Lantai 2 dirumah orang tua Rangga terdiri dari 2 kamar tidur, 1 kamar mandi yang ada diluar kamar dan didepan kamar adalah ruangan yang berisi tv dan sofa dengan kasur tipis yang berada ditengah sofa.


Nisa menatap kakaknya, ada rasa sedih yang membesit dihatinya. Bagaimana tidak, ia tau perasaan kakaknya.


Coba bayangkan, sebuah pernikahan yang pernah menjadi impian dengan hadirnya orang tua yang menjadi pendamping dan ikut menyaksikan hari bahagia putrinya tidak ada yang hadir satu pun. Sedih kan pastinya?


"Mbak, aku tau gimana perasaan mbak. Pastinya sedih tapi masih ada aku. Mbak, yang sabar ya" ucap Nisa.


Rangga yang sudah berdiri dibelakang istrinya, langsung memberikan kode pada Nisa untuk tidak memberitahu kehadirannya. Rangga mendekati istrinya lalu memeluknya dari belakang, kepalanya disandarkan dibahu istrinya.


"Jangan sedih ya, keluargaku kan sudah menjadi keluargamu sekarang" bisik Rangga menenangkan April yang mulai terlarut dalam kesedihan.


Rangga yang merasakan air mata istrinya jatuh membasahi pipi, langsung duduk disamping istrinya. Menghapus air mata yang jatuh, mengecup seluruh wajahnya lalu membawanya kedalam pelukannya.


Drama yang terjadi membuat mereka tidak menyadari Revan yang sudah duduk disamping Nisa.


"Itu kenapa?" Bisik Evan.


"Gausah ikut campur" bisik Nisa.


"Mau dipeluk kayak gitu juga?" ledek Evan yang langsung mendapat tatapan tajam dari Nisa.


"Gausah aneh aneh" bentak Nisa.


Bentakan Nisa langsung membuat Rangga dan April menoleh ke arahnya. Evan hanya tersenyum setelah mendapat bentakan dari Nisa.


"Ke kamar yuk" ajak Rangga yang langsung diangguki oleh April.


"Dek, ingat jangan yang aneh aneh" ucap Rangga sebelum masuk kamar.


.....


Jam digital yang menempel didinding sudah menunjukkan pukul 1.24 dini hari. Tapi kedua mata Nisa belum bisa terpejam bahkan masih fokus melihat siaran acara yang ada ditelevisi.


-----


Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak๐Ÿ™๐Ÿ˜Š