
Suara adzan maghrib memberhentikan cerita Rangga.
"Pulang yuk, udah maghrib" ajak Rangga.
"Iya tapi hapus dulu air matanya" April menghapus sisa air mata di wajah Rangga menggunakan jarinya.
"Makasih sayang" ucap Rangga mengecup sekilas bibir istrinya.
"Main nyosor aja sadar tempat dong. Tuh dilihatin banyak santri" protes April yang menyadari beberapa santri melihat ke arah mereka.
"Biarin aja lah, halal kan bebas" jawab Rangga enteng.
"Berikan aku hakku malam ini sayang" bisik Rangga di telinga April yang membuat wajahnya merah merona.
"Lihat aja nanti malam" jawab April langsung berlari meninggalkan suaminya.
Di rumah tamu
"Sa, mau kemana?" Tanya Evan yang melihat Nisa keluar kamar.
"Mau ke depan mas" jawab Nisa.
"Kemana tuh pengantin baru, udah maghrib gak balik balik" ucap Evan sambil mengikuti Nisa dari belakang.
"Quality time kali" jawab Nisa asal lalu tertawa kecil.
"Nanti malam quality time sama aku yuk" ajak Evan.
"Emmm..lihat nanti ya mas" jawab Nisa.
"Thanks ya" Evan tersenyum lalu dibalas Nisa.
***
Rumah tamu di sediakan Abi dan Umi memiliki 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, dapur dan ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga. Setelah maghrib mereka berkumpul di ruang tamu..
"Assalamualaikum ustadz, ustadzah" ucap Aisyah berdiri di depan pintu.
"Waalaikumsalam" jawab mereka serempak.
"Ais disuruh Umi mengantarkan makanan untuk ustadz dan keluarga"
"Ya ampun Umi, jadi ngerepotin deh...makasih ya neng. Mau masuk dulu?"
"Sama sama ustadz. Saya langsung permisi ya"
Setelah makan..
"Mas, minta izin bawa Nisa keluar sebentar ya" ucap Evan.
"Dianya mau gak tuh yang di ajak jalan?" Goda Rangga.
"Doa nya jelek banget deh" ketus Evan.
"Udah sana nanti malah gak jadi jalan loh" ucap Rangga. "Jagain tuh anak gadis orang" sahut Rangga.
"Siap komandan" Evan mengangkat tangan nya lalu diletakkan di pelipis seperti orang yang sedang hormat. Rangga berlalu sambil menepuk pelan bahu Evan.
Rangga membuka kamar..melihat istrinya yang sedang menatap jendela, Rangga mendekatinya dan melingkarkan tangan nya dari arah belakang. Ia letakkan kepalannya di pundak istrinya.
"Liatin apa sayang?" Tanya Rangga.
"Di sini nyaman ya mas" Rangga hanya tersenyum menanggapi ucapan istrinya.
Rangga memutar tubuh istrinya lalu semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh istrinya. April yang sudah sangat gugup mencoba mundur perlahan hingga tubuhnya menyentuh tembok.
"Mas Rangga mau ngapain?" Tanya April pelan.
"Mau kamu sayang" ucap Rangga lalu menggendong istrinya, menurunkannya di ranjang dan menindihnya.
"Boleh ku lakukan sekarang, dek?" Tanya Rangga.
April sebenarnya belum siap melakukannya tapi dia tidak ingin suaminya menunggu lebih lama. Ia juga tau bahwa menolak ajakan suami itu dosa. Dengan sedikit terpaksa akhirnya April mengangguk, menyetujui permintaan suaminya.
"Kalo belum siap gapapa kok, mas gak maksa"
"Mas, seorang istri tak akan menolak permintaan suaminya. Dan bukannya lebih baik istri yang menawarkan diri sebelum suami minta? Karena itu aku siap kapan pun kamu mau"
Rangga dan April saling melempar senyum manis. Perlahan tapi pasti bibir mereka menyatu, hanya kecupan ringan namun perlahan memanas. Tangan kiri Rangga menekan tengkuk April untuk memperdalam ciuman mereka sedangkan tangan kanannya membuka kancing piyama yang digunakan April.
April hanya bisa pasrah dan memejamkan mata, piyama yang ia kenakan benar-benar terbuka, menampilkan kulit putih mulus nya tanpa sehelai benang.
Suara desahan memenuhi seisi kamar. Malam ini menjadi malam pertama bagi mereka berdua, Rangga melakukannya dengan hati-hati, namun tak membuat April lolos dari rasa sakitnya.
-----
terima kasih sudah membaca🙏dan bila berkenan harap tinggalkan jejak berupa like, komen atau vote😊