My History

My History
14. Atlet silat



"Mas, maaf" ucap April yang merasa bersalah.


Rangga hanya tersenyum lalu menghampiri istrinya dan melayangkan satu tendangan Dwi Hurigi namun tidak tepat sasaran karena April langsung menghindarinya. Rangga langsung mendekati April dan memberikan satu bantingan sehingga tubuh April jatuh sempurna ditanah. Meskipun jatuh tapi Rangga tetap menahannya agar tidak terlalu sakit.


"Awssshh..." April langsung mencubit pinggang suaminya karena bantingan yang diberikan membuatnya sakit dibagian pinggang.


"Aduduhh sakit sayang" ucap Rangga sambil meringis kesakitan.


"Sakit mana sama aku? Semalem udah dijebol dan sakitnya aja masih sampai sekarang, Ehh paginya malah dibanting" protes April.


"Hehe...maaf sayang, habisnya kamu terlalu bersemangat dan mas bingung mau ngajak berhenti gimana jadi langsung dibanting aja" ucap Rangga lalu tersenyum.


Rangga mengajak April kembali duduk di kursi bawah pohon untuk sekedar beristirahat sejenak.


"Sayang, kamu bisa taekwondo belajar dari mana?" Tanya Rangga sambil menatap istrinya yang sibuk bermain diponselnya.


"Di Dojang (tempat latihan)" sahut April singkat.


Ponsel yang semula dipegang April langsung diambil oleh Rangga dan membuat April menatap ke arah suaminya. Menyadari tatapan suaminya yang sedang tidak bersahabat, April tersenyum lalu bersandar dibahunya sambil menggenggam tangan Rangga.


"Jangan marah dong sayang" ucap April sambil memainkan tangan Rangga.


"Adek dulu pernah ikut taekwondo dan sudah sampai ke sabuk merah. Adek juga sering ditunjuk maju lomba dan alhamdulillah selalu menang" jelas April.


"Sabuk merah? Wahh pantas aja keahlianmu cukup baik" sahut Rangga kagum.


"Dulu waktu masih latihan, adek pernah jadi atlet loh" ucap April bangga.


Prokk prokk. "Hebat juga ya istriku ini" ucap Rangga lalu memeluk istrinya.


"Mas...."


"Eumm...."


"Kenapa dipanggil ustadz? Dan kenapa adek juga dipanggil ustadzah? ....


Oh iya waktu itu kan belum selesai ceritanya, gimana lanjutannya mas?"


Saat Rangga hendak menjelaskan, tiba tiba...


Drrrrttt.....Drrrrttt.....Drrrrtt


"Halo ma, ada apa?"


......


"Oke mah, Rangga balik sekarang"


.....


"Mama mas?" Tanya April.


Rangga mengangguk. "Mama nyuruh kita pulang karena ada beberapa tamu yang harus mas temui" jelas Rangga.


Melihat ekspresi kecewa istrinya karena tidak mendapatkan sebuah jawaban dari pertanyaannya tadi, Ia pun membujuk istrinya agar mau mengerti situasi saat ini.


"Jangan cemberut gitu dong, nanti mas akan cerita semuanya. Tapi setelah resepsi ya"


April hanya mengangguk lalu tersenyum.


"Ayoo pulang tamu, bersih bersih terus pamit sama abi dan umi" ajak Rangga.


Setelah mandi dan berpamitan kepada abi dan umi, mereka semua kembali ke rumah orang tua Rangga.


"Assalamualaikum" Rangga memasuki rumah dan langsung menuju ke ruang tamu.


"Waalaikum salam..." jawab semua orang yang ada diruang tamu.


"Halo partner, apa kabar?" Tanya seseorang yang langsung memeluk Rangga.


"Baik, kamu gimana?" Tanya balik Rangga.


"Seperti yang kamu lihat" balasnya lalu tersenyum.


April yang baru masuk langsung terkejut melihat seorang laki laki yang sangat dikenalnya. Ia langsung berlari dan memeluknya. Rangga yang melihat istrinya memeluk laki laki lain langsung menariknya dan memeluknya dengan erat dari belakang.


"Mas, apa kabar? Kenapa gak datang waktu pernikahan April?" Tanya April tanpa menghiraukan tatapan tajam suaminya.


"Tunggu tunggu, ini suami kamu?" Tanya laki laki itu.


"Iya namanya mas Rangga, suaminya April" ucapnya lalu tersenyum.


"Kenapa kamu gak bilang kalau yang kamu nikahin itu adekku" ucap Laki laki itu sambil meninju pelan bahu Rangga.


"Loh? Mas Haris udah kenal sama mas Rangga?" April terkejut mendengar ucapan sepupunya.


Yap...laki laki itu adalah sepupu April yang tinggal di kota C. Kedekatan mereka berdua memang seperti adik kakak tapi ketika pergi bersama mereka lebih terlihat seperti sepasang kekasih.


"Dek denger ya, suami mu itu teman sekolahku dari masih bocah" jelas Haris.


Rangga masih terdiam mendengar percakapan istrinya dengan teman lamanya. Ia masih belum bisa mencerna ucapan temannya dengan baik.


Apa hubungan mereka sebenarnya?


-----


Terima kasih sudah membaca🙏