
"Morning sayang" ucap Rangga tiba-tiba masuk ke kamar. April hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya.
"Sakit dek? Maafkan mas yang terlalu bersemangat tanpa memberimu waktu untuk istirahat." Ucap Rangga sambil memeluk April dari belakang.
"Alhamdulillah sadar" jawab April lalu membalikan tubuhnya menatap Rangga kemudian menangkup pipi Rangga dan mengecup bibirnya..
"Nah udah mulai berani nih sekarang" goda Rangga.
"Kamu suamiku mas, apa salahnya?" Balas April.
Rangga tersenyum dan memeluk April.
"Nisa sama Evan kemana mas?" Tanya April.
"Mas juga gatau tadi habis subuh mas cari dirumah gak ada" jawab Rangga.
"Oh ya?" Ucap April sambil melepas pelukan suaminya. Rangga hanya mengangguk pelan.
"Yuk cari" ajak Rangga.
"Sejak kapan Nisa dekat sama Evan mas? Tanya April sambil berjalan keluar kamar.
"Sejak kita lamaran" jawab Rangga enteng.
.....
"Assalamualaikum" ucap Evan.
"Waalaikum salam. Dari mana kamu?" Tanya Rangga dengan menatap tajam ke arah Evan. Evan yang mengerti sifat kakaknya, dibalik perhatian dan kasih sayang, Rangga adalah orang yang cenderung keras dan tegas.
"Duhh yang habis fitnes seneng banget deh" goda Evan pada kakaknya.
"Apa maksudmu dek?" Tanya Rangga semakin tegas.
"Tenang mas, ini semua juga demi mas Rangga dan mbak April" jawab Evan sambil tersenyum.
Rangga mengernyitkan keningnya lalu menatap ke arah Nisa dan Evan secara bergantian. Evan yang ditatap kakaknya malah tersenyum sedangkan Nisa hanya mengangguk pelan.
"Apa kalian sadar semalam kami tidak pulang ke rumah tamu?" Tanya Evan.
"Hah? Semalam gak pulang? Tidur dimana kamu? Anak gadis orang kamu ajak apa?" Tanya Rangga dengan penuh penekanan sambil menarik Evan lalu disandarkan ke tembok dan menguncinya.
"Tidur ditaman dan Nisa gak aku apa-apain kok" balas Evan santai.
"Selamat mas, sudah menjadi suami yang seutuhnya. Aku dan Nisa rela tidur di luar agar tidak mengganggu quality time kalian" bisik Evan lalu pergi berbaring di sofa.
Rangga yang mendengar ucapan Evan terkejut lalu tersenyum bahagia mengetahui adiknya yang sangat mengerti situasi.
"Istirahatlah, nanti setelah dhuhur kita pulang ke rumah" ucap Rangga yang melihat wajah lelah adiknya.
April hanya diam melihat drama kakak adik dipagi hari.
"Sayang, ikut mas yuk, ngajar santri bela diri" aja Rangga pada istrinya.
"Yaudah ayuk"
Dilapangan belakang sudah berkumpul beberapa santri yang menunggu kehadiran Rangga. Karena memang sudah menjadi kebiasaan setiap Rangga mengunjungi ponpes maka beberapa santri meminta untuk diajari ilmu bela diri oleh Rangga.
"Ustadz ayooo" ucap salah satu santri saat melihat Rangga datang.
"Sayang, kamu duduk disana dulu ya. Nih bawa" ucap Rangga sambil meunjuk sebuah kursi yang berada dibawah pohon lalu memberikan ponselnya kepada istrinya.
"Oke" ucap April sambil menerima ponsel suaminya lalu berjalan ke kursi yang dimaksud suaminya.
Setelah materi bela diri kini saatnya untuk mencoba satu persatu keahlian yang sudah dikuasai para santri.
"Ustadz, maaf boleh saya meminta perempuan itu yang menjadi lawan latihan saya?" Tanya salah satu santri sambil menunjuk ke arah April, istrinya.
Sebenarnya ada keraguaan dalam diri Rangga untuk memperbolehkan permintaan santri yang telah dianggap sebagai atlet bela diri diponpes.
"Silahkan tanya langsung ke orangnya" ucap Rangga lalu tersenyum.
Santri itu langsung berlari menghampiri April. Karena terlalu asik dengan game yang ada diponsel suaminya membuatnya tidak sadar dengan keberadaan seorang santri putri yang memanggilnya dari tadi.
"Ustadzah....halooo....ustadzahh..." panggil salah satu santri.
"Ehhh iya, maaf ada apa?" Tanya April.
"Ustadzah, maaf kalau saya meminta ustadzah untuk menjadi lawan latihan bela diri saya boleh? Nama saya Vina." Tanya santri yang bernama Vina itu lalu tersenyum manis hingga satu lesung pipit tercetak jelas dipipi kirinya.
"Ustazdzah? Aku gak salah dengar?" Batin April bertanya tanya.
------
Terima kasih sudah membaca🙏harap tinggalkan like, komen dan juga vote bila berkenan😊