
"Ikut aku sebentar" Haris menarik tangan April dan Rangga lalu membawanya ke taman belakang rumah.
"Aku belum paham maksud kalian apa" ucap Rangga penuh tanda tanya dalam pikirannya.
"Kebiasan deh orang ini" ucap Haris sambil menonyor kepala Rangga.
"Paham deh tentang masa lalu kamu" lanjutnya.
"Masa lalu? Maksudnya apa?" Tanya April bingung.
"Bentar dek tanya nya satu satu aja. Minta penjelasan dari suamimu" ucap Haris.
"Aku butuh penjelasan dari kamu dulu" ucap Rangga.
"Kok malah aku? Yang suaminya April siapa?" Balas Haris santai.
"Aku suaminya, apa hubungan kamu dengan istriku?" Ucap Rangga sambil menatap Haris.
"April pacar gelapku" ledek Haris.
April melongo mendengar ucapan sepupunya, sedangkan Rangga jangan ditanya sudah pasti marah karena cemburunya.
"Aku gak bercanda! Apa kamu lupa siapa aku? Mau kenalan denganku?" Ucap Rangga sambil menarik baju Haris dan bersiap membogem wajah temannya.
"Udah cukup! Mas Haris jangan bercanda deh. Gak lucu tau, langsung aja jelasin apa susahnya sih" ucap April kesal melihat mereka berdua yang hampir berkelahi.
"Lucu loh dek, habisnya suami kamu terlalu kaku sih gak bisa diajak bercanda" ucap Haris disertai tawa ringan.
"Lepasin dulu ini baru aku jelasin" lanjutnya.
Rangga menghempaskan Haris dengan kasar lalu kembali duduk seperti semula. Tatapannya masih belum bersahabat seperti sebelumnya.
"Jelasin sekarang!" ucap Rangga tegas sambil menatap Haris sedikitpun.
"Tenang mas Rangga sayang" goda Haris lagi.
"Gausah bercanda!" Marah Rangga sambil memukul meja didepannya.
"Astagfirullah" gumam April sambil mengelus dadanya.
"Mah, mas dimana?" Tanya Evan pada mamanya.
"Ke taman belakang sama temannya tadi" ucap mama Livia.
"Oh iya, Nisa sayang....kamu nanti pesta pakai gaun ya? Gantiin kakaknya Evan yang gak bisa hadir malam ini" pinta mama Livia.
"Tapi tante..." Nisa merasa tidak enak karena harus mengenakan gaun keluarga yang sudah dipesan mama Livia.
"Gak papa sayang, nanti kamu pasangan sama Evan ya" bujuk mama Livia.
"Wahh...ide bagus tuh ma, biar aku gak sendirian" sahut Evan bahagia.
"Mau nya tuh" ledek mama Livia.
"Mau kan, sayang?" Tanya mama Livia.
"Baik tante. Nanti Nisa pakai gaunnya" balas Nisa lalu tersenyum.
Suasana diruang tamu sangat nyaman dan tenang sedangkan ditaman belakang penuh dengan bentakan ditambah dengan candaan dari Haris yang semakin memperburuk suasana.
"Tolong hentikan perdebatannya, aku udah capek dengar kalian berantem. Dan mas Haris tolong langsung jelasin, gausah buat suasana disini semakin panas" protes April.
"Padahal lagi seru dek, tapi yaudahlah aku akan jelasin" ucap Haris menyerah.
"Jadi gini Nisa itu sepupuku, udah aku anggap seperti adik sendiri sih. Ayahnya dia adiknya mamaku. Karena kedekatan kita sering banget orang ngira kalo kita itu pacaran, padahal sepupu an. Udah jelas?" jelas Haris.
"Benar apa yang dikatakan Aris, sayang? Dia cuma sepupu kan?" Tanya Rangga memastikan.
"Benar kok apa yang dikatakan mas Haris, aku cuma sepupunya. Tapi lebih aku anggap sebagai kakak" ucap April meyakinkan.
"Oh iya kalian pasti lupa apa yang pernah terjadi 5 tahun yang lalu" lanjut Haris.
"5 tahun yang lalu? Ada apa?" Tanya April bingung.
-----
Terima kasih sudah membaca🙏harap tinggalkan like, komen dan juga vote bila berkenan😊