My History

My History
21. Saudara Kembar



"Sudah sah sayang, jadi dilihat juga gak akan dosa" ucap Rangga.


April hanya terdiam sambil menutup matanya dengan kedua tangannya yang membuat Rangga semakin terkekeh.


-----


"Hadap sini sayang" pinta Rangga lembut.


"Pakai dulu bajunya" balas April sambil menutup mata.


"Udah dipake sayang" ucap Rangga lambil menarik pelan tangan yang menutupi wajahnya.


"Sarapan dulu yuk" ajak Rangga.


"Yaudah ayo" balas April lalu berjalan hendak keluar kamar. Dengan cepat Rangga menarik tangan hingga April kembali berbalik ke arah Rangga.


"Makan disini aja, jadi sayang keluar terus minta sama bi Sari untuk antar makanan ke sini. Ya?" Ucap Rangga.


"Kenapa gak turun aja?" Tanya April bingung.


"Ada seseorang yang gak ingin aku temui dibawah" ucap Rangga singkat lalu pergi balkon kamar.


April yang menyadari mood suaminya sedang bermasalah, ia pun tak ingin semakin memperburuk moodnya. April langsung keluar dari kamar dan turun ke bawah.


Saat sudah berada ruang keluarga, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya.


"Dek?"


April langsung menoleh ke sumber suara. Seorang laki-laki yang sama persis dengan Rangga berdiri dihadapannya. April terkejut, mulutnya menganga melihat orang yang ada didepannya.


"Istrinya Rangga kan?" Tanya laki-laki itu.


"Ehh...iya, ada apa ya?" Tanya April sedikit gugup.


"Rangga dimana dek?"


"Ada dikamar"


"Oke aku ke atas dulu"


Laki-laki itu pergi ke kamar atas untuk menemui Rangga. Sedangkan April masih terdiam disana, pikirannya masih berputar. Siapa laki-laki itu? Kenapa mirip sekali dengan suamiku?


Hingga sebuah panggilan membuyarkan lamunan April.


"Sayang..." panggil mama Livia yang melihat April sedang melamun.


"Ahh, iya ma?" Sahut April kelabakan karena terkejut.


"Ngapain disitu? Rangga mana?" Tanya mama Livia.


"Mas Rangga dikamar ma. April mau ngambilin sarapan, katanya mas Rangga gak mau ketemu sama seseorang" jelas April.


"Oh....yaudah kamu balik lagi ke atas aja. Biar bi Sari yang antar makanannya" ucap mama Livia lembut.


"Gak ngerepotin ma?" Tanya April ragu.


"Iya ma, April ke atas dulu ya" pamit April yang langsung diangguki oleh mama Livia.


Dikamar, Rangga sedang asik berbicara dengan seorang laki laki tadi. April sebenarnya ragu untuk masuk ke kamar tapi ia lebih bingung karena disofa depan kamar ada Evan yang sedang asik bercanda dengan Nisa.


Akhirnya April pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Rangga yang sekarang sudah menjadi kamarnya.


Tok...tok....tokk "Mas Rangga?" Panggil April dari luar kamar.


"Langsung masuk aja sayang" teriak Rangga dari dalam.


Cklekk.... pintu terbuka, ada rasa canggung sebernarnya karena kedua laki-laki itu menatap ke arah April. April langsung menghampiri suaminya dan duduk disampingnya.


"Sayang, kenalin ini Rengga. Saudara kembarnya mas. Dia tinggal di kota B bersama istrinya, Dena. Tapi Dena masih dihotel dan belum kesini" jelas Rangga pada istrinya.


April hanya tersenyum dan mengangguk pelan. "Saudara kembar toh, pantas saja mirip banget" batin April.


Obrolan kedua laki-laki tersebut berlanjut...


"Jadi gimana mas berhasil?" Tanya Rangga.


"Alhandulillah...."


".....Gagal" balas Rengga sambil tersenyum paksa.


"Sabar ya, terus berusaha dan berdoa. Dan untuk konsultasinya tetap ke aku gpp kok" ucap Rangga.


"Oke, tapi...." ucapan Rengga terpotong karena suara ketukan pintu.


Tok....tok....tokk  "Den, ini sarapannya" ucap bi Sari.


Rangga langsung berdiri dan membukakan pintu. Setelah mrngucapkan terima kasih ia kembali ke tempat duduknya semula.


"Belum sarapan dek?" Tanya Rengga.


"Belum, mau sarapan bareng?" Tanya balik Rangga.


"Nggak makasih, aku keluar aja. Sampai ketemu nanti malem, kalo gak ketemu datang aja ke hotel ya" ucap Rengga sambil berjalan keluar kamar.


"Hmmm"


"Yuk sayang makan" ajak Rangga lembut.


April mengangguk sambil tersenyum. Mereka berdua pun makan bersama, bercanda dan saling menyuapi satu sama lain hingga selesai.


"Adek bawa ke bawah dulu ya" ucap April sambil mengangkat nampan yang berisi makanan tadi.


"Gausah, nanti biar diambil bi Sari. Dia setiap jam 9 pasti ke kamar buat bersih bersih" sahut Rangga tanpa menatap April dan fokus ke ponsel.


-----


Terima kasih sudah membaca🙏mohon dukungan dari kalian berupa like, komen ataupun vote😊🙏