
"Ohh kirain.....
-----
"Kirain kamu akan ngungkapin isi hatimu mas, jujur aku sangat menantikan saat itu tiba. Tapi kenapa malah terus kamu tutupi. Mau sampai kapan kamu membuatku nyaman berada didekatmu? Aku perempuan yang butuh kepastian. Dimana kepekaan mu? Apakah mencintaimu harus sesabar ini? Menganggap semua perhatianmu hanya sebatas wajar agar aku tidak tersakiti? Tapi nyatanya aku sudah tersakiti karenamu" Batin Nisa sambil memainkan ponselnya kembali.
Ada rasa sedih yang dalam hati Nisa, ia sebenarnya sudah membaca semua tingkah laku Evan yang tergambar jelas diwajahnya. Beberapa ungkapan cinta sudah ia tolak demi menanti ungkapan isi hati Evan. Tapi apa, sepertinya Evan hanya menganggap Nisa sebagai adik.
"Apa kamu ada rasa padaku, sa? Berbulan bulan aku memendam rasa ini. Apa kamu tau bagaimana perasaanku? Seberapa dalam cintaku padamu? Kamu satu satunya wanita yang mampu meluluhkan hatiku. Sejak pertama kali aku mengenalmu, aku merasa nyaman berada didekatmu. Ingin ku ungkapkan semua rasa ini, rasa yang telah memihak padamu. Tapi aku tak mampu melakukannya, aku takut...takut akan penolakan darimu" batin Evan sambil menatap Nisa dengan tatapan sendu.
Keduanya terlarut dalam pikiran masing masing, saling menanti ungkapan cinta yang tulus dari hati. Apa mungkin waktu belum mengizinkan mereka untuk bersama dan menjalani suatu hubungan yang lebih serius dari sekedar "Adik Kakak" ??
Dikamar
Rangga yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung mendapat senyuman manis dari istrinya yang sudah menantinya di atas ranjang. Dengan menggunakan bathrobe hitam favoritnya, Rangga langsung menghampiri April dan tidur dipangkuannya.
"Gak pake baju dulu, mas?" Tanya April sambil membelai lembut rambut Rangga
"Gausah, paling nanti juga harus mandi lagi" balas Rangga singkat.
"Mas..."
"Hmmm..."
"Mas Rengga itu saudara kembarnya mas ya?"
"Iya, kenapa?"
"Sudah menikah dan tinggal di kota B?"
"Iya sayang"
"Hmmm...mas kan dokter nih, terus mas Rengga apa?"
"Pilot bar 2"
"Wowww...."
"Keluargaku memang mayoritas dokter tapi mas Rengga memilih untuk menjadi pilot. Dulu sebenarnya mas juga ada keinginan menjadi seorang jaksa tapi....langsung berubah haluan dan masuk ke FK. Dan jadilah dr. Elrangga Hardinata Lee"
"Iya tau..."
"Kapan kamu wisuda, sayang?"
"Tunggu informasi mas"
"Ciee yang mau jadi Amd. Kep,,,semangat ya sayang"
"Aduuhh mas geli tau"
"Mas kasih 2 pilihan untuk kamu. Setelah lulus mau lanjut Kedokteran atau S1 Kebidanan?"
"Kalo aku gak pilih semuanya gimana? Apa ada pilihan lain, mas?"
"Ada dong...."
Rangga langsung duduk dan membisikkan lanjutan ucapannya.
"Jadilah istri yang nurut sama suami. Cukup berdiam dirumah dan tidak bekerja. Bahagiakan suamimu lewat perhatian dan juga service plus plus darimu" wajah April langsung memerah mendengar ucapan suaminya.
"Kan aku udah nurut mas, aku juga udah perhatian" elak April.
"Didapur dan dikasur sayang, itu yang paling utama. Hilangkan lelahku dengan senyum manismu dan juga itu jangan dilupakan" ucap Rangga lalu tersenyum nakal.
"Biarin.."
"Oh iya, mas lanjut ambil spesialis ya?"
"Iya, kenapa?"
"Enggak kok.."
Rangga memang bukan lulusan psikolog, tapi dia tidak mudah untuk dibohongi. Rangga tau istrinya sedang menyembunyikan sesuatu dan ada yang mengganggu pikirannya.
"Sayang, ungkapkan semua yang mengganggu pikiranmu, aku telah sah menjadi suamimu. Semua bebanmu juga akan menjadi bebanku. Jujurlah sayang, katakan saja" ucap Rangga lembut.
"Mas, maaf bukan nya aku tidak pecaya padamu, tapi..." April tidak berani melanjutkan ucapannya.
"Tentang biaya hidup kita dan juga biaya spesialis yang aku ambil? Apa karena itu kamu menolak pilihan yang aku berikan?" Tanya Rangga yang dibalas anggukan pelan dari April.
"Tenang sayang, mas sudah pikirkan semuanya. Untuk biaya kuliah mas, kamu gausah khawatir ya" ucap Rangga sambil menggenggam tangan April.
"Sekarang kamu ambil amplop yang ada dilaci itu ya" lanjut Rangga sambil menunjuk laci yang dimaksud.
April hanya mengangguk lalu berjalan ke arah lemari kecil yang memiliki 3 laci.
"Yang ini mas?" Tanya April sambil memegang sebuah amplop berwarna coklat.
"Bawa sini sayang"
April kembali naik ke ranjang dan memberikan amplop itu pada suaminya.
"Ini mas..." amplop itu langsung dikembalikan ke April.
"Ini buat kamu sayang, buka aja"
April membukanya amplop itu, ia terkejut saat mengetahui isinya. 2 kartu bewarna hitam dan 3 buah buku Bpkb.
"Mulai sekarang atm itu kamu yang pegang, pinnya tanggal pernikahan kita. Dan mobil yang kemarin hadiah dari papa itu sudah atas nama kamu. Sedangkan 2 bpkb lainnya masih atas namaku" jelas Rangga sambil memeluk April dari belakang.
"Visa infinite card?" Gumam April yang masih belum percaya.
"Iya, gausah tanya isinya berapa tapi inshaallah isinya setiap bulannya nambah kok" ucap Rangga.
"Dari?"
"Dari saham yang ditanam papa atas namaku"
April membuka salah satu buku yang menarik perhatiannya. Ia kembali terkejut saat melihat isinya.
"Ini mobil sport kan?" Tanya April sambil menunjuk sebuah buku.
"Benar sekali. Mobil sport warna putih yang sudah aku modifikasi semuanya. Emmm...sekitar 6 tahun yang lalu sering aku pakai buat balapan" ucap Rangga pelan.
"Mas pernah ikut balapan? Balapan resmi apa balapan liar?" Tanya April serius.
"Bukan pernah sih tapi sering banget, dan dua duanya mas pernah ikut" ucap Rangga.
Mulut April terbuka karena tak percaya apa yang dikatakan suaminya.
"Hmmm...baiklah mungkin sudah saatnya kamu mengetahui semua tentangku" ucap Rangga pelan.
----
Terima kasih sudah membaca🙏bila berkenan, harap tinggalkan jejak kalian😊