
Ustadzah?" Panggil Vina lagi.
"Ahh...iya. Emmm boleh deh, ayoo" ucap April mengiyakan.
April menghampiri suaminya yang sudah menatapnya sambil tersenyum lalu menyerahkan kembali ponsel suaminya.
"Mas yang nyuruh ya?" Tanya April sambil menatap Rangga dengan tajam.
"Dia sendiri yang minta" ucap Rangga lalu tersenyum.
"Hati hati ya dia atletnya bela diri. Dia juga sudah sering menang lomba" bisik Rangga sebelum April memulai perkelahiannya.
April hanya tersenyum sambil menatap suaminya.
Ketika April dan Vina sudah siap untuk berkelahi (kalau dalam ilmu bela diri yang ada didaerah author biasanya disebut dengan jatahan, yaitu antara pelatih dan siswa bela diri berkelahi untuk mencoba sejauh mana keahlian siswanya) tiba tiba ponsel Rangga berbunyi dan Rangga harus segera mengangkatnya.
Rangga memberikan kode kepada April sebelum mengangkat telpon, April yang mengerti langsung menganggukkan kepalanya.
"Gimana mau tunggu ustadz atau langsung sekarang aja?" Tanya April pada Vina.
"Terserah ustadzah aja" balas Vina lalu tersenyum.
"Oke langsung aja ya" ucap April yang langsung disetujui oleh Vina. "Hmm....atlet bela diri ya? Boleh juga sekalian mengingat gerakan bela diri yang dulu pernah aku ikuti" batin April lalu tersenyum.
20 menit Rangga menerima telepon tanpa menghiraukan perkelahian antara istrinya dan siswanya. Ketika Rangga menoleh ke belakang, ia terkejut melihat istrinya yang sudah duduk diatas siswanya sambil menarik kedua tangan Vina kebelakang.
"Astagfirullah..." ucap Rangga sambil berlari menghampiri mereka.
"Ustadzah ampunn" ucap Vina memohon pada April untuk melepaskan tangannya.
"Sayang...."
April yang melihat Rangga datang langsung melepaskan tangan Vina lalu membersihkan tubuhnya sambil tersenyum ke arah suaminya.
"Vina, kamu apain?" Tanya Rangga.
"Lah kan dia sendiri yang minta aku buat jadi lawan latihannya" ucap April enteng.
"Kamu kalahin dia? Dia kan atlet bela diri disni sayang. Belum ada yang bisa mengalahkan dia selain aku" jelas Rangga.
"Gak percaya? Tanya aja sendiri sama orangnya"
Rangga langsung menoleh ke arah siswanya yang sedang menahan sakit ditangannya.
"Kamu kalah?" Tanya Rangga.
"Iya ustadz, awalnya ustadzah sama sekali tidak membalas tendangan dan pukulan saya. Beliau hanya menangkis saja" ucap Vina.
"Cuma ditangkis? Kok bisa jatuh?" Tanya Rangga penasaran.
"Sebelum saya jatuh, ustadzah sempat memberikan tendangan yang biasanya ustadz pakai lalu saat saya mencoba membalas, ustadzah langsung menangkap kaki saya lalu mendorongnya" jelas Vina.
Vina hanya menangguk. Rangga kembali menatap April yang masih sibuk membersihkan bajunya.
"Sakit ya? Ayo aku obati dulu" ajak April.
"Mas, ada p3k?" Tanya April pada suaminya.
"Sebentar ya" Rangga pergi mengambil kotak p3k yang ada diruang kesehatan.
.....
Setelah mengobati Vina, Rangga menghampiri istrinya dan duduk disebelahnya.
"Sayang, mas boleh coba?" Tanya Rangga.
April mengernyitkan dahinya. "Coba apa?" Tanya balik April.
Rangga tersenyum. "Kamu kan bisa ngalahin Vina, nah apa mas boleh coba kemampuan bela diri kamu?"
"Tapi..."
"Gapapa kok, tenang aja"
"Yaudah deh ayo"
April hanya bisa pasrah jika suaminya yang menjadi lawannya. Dengan disaksikan beberapa santri mereka berdua sudah berdiri saling berhadapan dan memasang kuda kuda.
"Mas ini serius? Tanya April ragu.
"Serius lah. Keluarkan semua yang kamu bisa, sayang" balas Rangga.
"Ciaaa..."
"Baghh.."
"Bughh...."
"Brakk...."
Semua pukulan dan tendangan yang dikuasai April, ia tunjukkan pada suaminya. Sedangkan suaminya hanya menangkis satu persatu pukulan dan tendangan yang diberikan April.
"Ehh..tunggu tunggu. Ini kan tendangan dan pukulan yang ada di taekwondo. Masa sih April pernah ikut taekwondo?" Pikir Rangga saat menerima pukulan dan tendangan dari istrinya.
Karena berpikir, Rangga menjadi lengah sehingga satu tendangan tornado lolos tanpa adanya tangkisan darinya, tepat menghantam bahunya yang membuatnya sedikit terhuyung ke samping.
"Awwssshh"
-----
Terima kasih sudah membaca🙏