My Genie Wife

My Genie Wife
Putri Yang Hilang



“Istri?”


Serentak seluruh teman kelas arian  yang ada didalam kelas IPA 3 itu histeris seketika mendengar perkataan Sera yang mengejutkan dan mendengar hal itu pun Eru langsung reflek untuk melompat dari bangkunya dan dengan cepat meraih mulut Sera dengan kedua telapak tangannya untuk menutup mulut Sera tanpa memikirkan rasa hormat.


“Hehehe" Eru terkekeh meski air muka cemas mengalir diwajahnya.


“Tuan pu_”


Eru berdeham.


“Maksudku Sera, sejak kecil sering bermain rumah-rumahan dengan Arian”


Eru memerhatikan setiap wajah anak SMA didepannya yang memperlihatkan ekspresi bingung karena masih tak memahami perkataannya.


“Aku sering pura-pura jadi anaknya dan mereka berdua pura-pura menjadi suami istri “


“Haa?” beberapa teman-teman kelas Arian tambah kebingungan karena penjelasan Eru.


“Ka-karena mereka juga sangat dekat sejak kecil”


“Hehe” Eru hanya bisa terkekeh.


“Jadi dia terbiasa menganggap dirinya seorang istri”


Eru melepas kedua tangannya dan memberi isyarat dengan pandangan pada Sera.


“Alasan macam apa itu?” Tanya kesal sekaligus bingung muncul dari dalam hati Arian.


“Oh, Begitu Rupanya” beberapa teman sekelas Arian berkata serentak.


Teman-teman kelas Arian kemudian memberikan tatapan sinis padanya dan memberikan aura tekanan yang begitu kuat.


“Wah, Mereka seperti ingin membunuhku”


Arian mengalihkan tatapan-tatapan itu dan berpura-pura tidak menyadari apapun dari hal yang terjadi barusan.


“Tapi, syukurlah mereka percaya” Arian mengelus dadanya beberapakali.


“Terimakasih Eru” Arian berkata dalam hati sembari memandangi Eru yang sudah berusaha menyelamatkannya dari suasana canggung yang begitu genting.


“Kenapa kau mengatakannya?”


Meskipun pelan ada nada amarah yang tersirat pada pertanyaan Arian yang baru saja menarik tangan Sera beberapa menit sejak kejadian yang disebabkan kecerobohan sera tadi dan menyeretnya ke dekat toilet siswa.


“Aku keceplosan, maafkan aku” Sera berkata pelan dengan nafas yang tersendat.


“Aku kesal saat dikatakan saudara jauh mu”


Mata gadis jin itu pun berkaca-kaca karena takut akan Arian yang marah padanya.


“Ha, hanya karena itu?”


Tanya Arian lagi yang kali ini mengerutkan keningnya kemudian lanjut berkata “Sudah kubilang ayahmu sudah susah payah mengatur identitas itu untuk kita”


Sera memberanikan diri menatap Arian untuk berkata“Kau mengabaikan ku dan berbicara dengan gadis bernama Reina itu.”


Arian terdiam mendengar perkataan Sera itu dan merasa aneh kenapa Sera harus peduli soal dia yang berbicara dengan Reina.


Arian berdeham kemudian menghela nafasnya “Haa aku tidak mengerti.”


“Terserah siapa yang aku ajak bicara kan” kata Arian saat berbalik badan.


Arian merasa terganggu dengan Sera yang mengusiknya bersama Reina serta kesal karena Sera begitu keras kepala mengenai identitas saudara jauh yang dibuat ayahnya. Arian juga berpikiran jika Sera dan Eru yang sudah populer karena kecantikan mereka tidak perlu dekat dengan dirinya yang biasa saja,  sehingga dari pikirannya itu emosi pun memenuhi mulutnya untuk berkata dengan nada rendah “Lagipula aku tidak ingin terlihat akrab denganmu.”


Arian meninggalkan Sera di depan toilet siswa dan berjalan cepat Sera pun tidak menanggapi perkataan  Arian itu dan hanya tertunduk untuk waktu yang lama.


Sejak pelajaran setelah istirahat pertama dimulai, hingga sampai bel istirahat kedua berbunyi Arian sama sekali tidak mendekati Sera dan Eru yang dikerumuni banyak teman untuk mengobrol. Sera dan Eru yang mengetahui jika mereka di abaikan Arian pun hanya bisa memaklumi tindakan Arian dengan wajah yang murung.


Seperti biasa setiap istirahat kedua setelah makan di kantin Arian duduk dekat lapangan basket didekat sebuah pohon sekolahnya pada siang hari yang terik ini untuk nongkrong sambil melihat orang-orang bermain basket bersama seorang guru laki-laki muda yang lebih tua darinya 4 tahun dengan nama Gani pada name tag nya yang merupakan teman dekatnya sejak SMP.


Arian menanggapi perkataan guru sekolah sekaligus teman dekatnya itu dengan anggukan kecil yang kurang bersemangat.


“Mereka benar saudara jauh mu?” tanya Gani.


“Ya, benar” Arian  menoleh pada Gani dengan matanya yang menyipit karena matahari siang yang begitu terang.


Gani yang menyadari teman dekatnya itu tak bersemangat saat berbicara mencoba mencairkan suasana dengan menggoda Arian dan saat tersenyum Gani berkata “Hati-hati Arian mungkin saja Reina akan mengira ada sesuatu denganmu dan salah satu kerabatmu itu.”


Arian hanya membalas godaan Gani itu dengan helaan nafas yang panjang.


“Aku yakin mereka berdua akan populer”


Mata Gani tertuju pada Sera dan Eru yang sedang berjalan dilingkungan sekolah dengan dilirik para siswa-siswa SMA itu.


“Mereka berdua tak tertandingi Sudah cantik, orang kaya dan mungkin saja membuat Reina tidak berani lagi berbicara denganmu”


Gani terkekeh kemudian menyikut Arian yang masih termenung.


“Orang kaya?”


Arian tersentak dan langsung menoleh dengan secepat kilat pada Gani seolah ingin mematahkan lehernya sendiri karena kaget dengan perkataan teman dekatnya itu yang baru ia sadari.


“Tentu saja kan, dini hari kemarin tiba-tiba saja rumah kepala sekolah didatangi orang tuanya yang ditemani banyak pengawal”


Gani menjelaskan sebuah kronologi yang tak terduga yang disebabkan keluarga kerajaan jin.


“Kemudian memberikan uang banyak yang mungkin bisa membeli gedung sekolah ini agar mereka bisa bersekolah disini”


Menyimak perkataan Gani membuat Arian hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya karena kagum dan tak menyangka dengan tindakan raja jin itu demi putrinya.


“Sebagai orang kepercayaannya, kepala sekolah yang sedang liburan memberitahuku jam 5 pagi ini dan menyuruhku merahasiakannya pada guru lain.”


Gani memperhatikan Arian yang masih terpaku mendengarkan penjelasannya.


“Kau tidak tahu?” tanya Gani karena bingung dengan reaksi temannya itu.


“Ah iya, benar juga aku baru ingat hehe” Arian mengalihkan pandangannya dan terkekeh saat menggaruk rambut kepalanya.


“Pak ada kesurupan masal lagi pak!”


Dari kejauhan ada siswa lain yang memanggil Gani sebagai guru.


Siswa laki-laki itu terengah-engah kemudian melanjutkan perkataannya “Siswa yang kesurupan juga bertambah terus pak, sampai 5 kelas pak.”


“Wali kelas kami minta bantuan bapak untuk mengendalikan situasi sekolah.”


Mendengar perkataan itu Gani sebagai guru paling muda di sekolah itu langsung mematuhi perintah dan dengan cepat berlari kecil untuk mengikuti siswa yang melapor padanya itu menuju tempat berlangsungnya kesurupan masal dadakan disekolah ini.


"Pulanglah Arian, rutinitas Sekolah kita setiap bulan telah dimulai” Gani berteriak pada Arian saat berlari dan mengingatkan temannya itu jika sudah pasti sekolah ini akan pulang cepat lagi seperti yang sudah-sudah karena memang kejadian seperti ini sangat sering terjadi di sekolah ini.


Arian pun seketika mengingat jika ada tugas yang diberikan dunia jin padanya untuk mengganti imbalan jiwa sebagai syarat pesugihan  dan itu adalah memulangkan jin ke dunia asalnya wajah Arian pun berubah menjadi penuh semangat saat menyadari Sera dan Eru bisa membantunya mengatasi masalah rutin di sekolah ini.


“Aku harus mengakhiri kesurupan bulanan rutin disekolah ini” Arian berkata sendiri kemudian berlari kencang untuk mencari Sera dan Eru.


“Eru!”


Teriak Arian saat menemukan Eru yang berdiri cemas diantara kebisingan teriakan para siswa yang kesurupan.


“Dimana Sera?” tanya Arian saat masih terengah-engah.


“Aku kehilangan tuan putri”


Eru berkata saat matanya berputar untuk mencari keberadaan Sera.


Tanpa melihat wajah Arian dengan nada kesal Eru melanjutkan perkataannya “Gara-gara sikap dan perkataan tuan Arian sejak istirahat pertama tadi tuan putri berkata dia sangat kesal dan berlari entah kemana.”