My Genie Wife

My Genie Wife
Status Yang Dicabut



Arian bisa mengetahui jika suasana Alia di hari kemarin hingga hari ini sedang tidak baik-baik saja, selalu termenung di tengah pelajaran, kurang berbicara, tak bersemangat, bahkan akhir-akhir ini agak menjauh dari Sera dan Eru padahal beberapa bulan yang lalu sangat akrab, Arian pun mengkhawatirkan kondisi Alia yang mungkin akan mengganggu ujian kenaikan menuju kelas dua belas yang akan dilaksanakan kurang dari dua minggu lagi.


Berkali-kali Arian berusaha mengajak mengobrol untuk sekalian mengajaknya belajar bersama di perpustakaan dengan Sera dan Eru sepulang sekolah nanti, namun Alia hanya menanggapi sedikit dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Arian, Arian pun merenung dan tak menyerah dan akan mencoba terus menghibur teman masa kecilnya itu sampai Alia bisa ceria kembali seperti semula.


***


Dengan kepala yang menunduk Alia berjalan dengan langkah pelan dan merenungkan sesuatu dipikirannya dengan air muka datar saat berjalan menuju rumah sepulang sekolah dan tak lama kemudian gadis itu mengecek jam modis yang terikat di tangan kirinya dengan pelan juga dan memerhatikan angka 17.50 pada jam tangan nya itu.


“Sudah saatnya kah”


Alia berkata dan menurunkan tangannya, dengan wajah yang sedikit ketakutan kemudian melebarkan langkah agar mempercepat jalan menuju ke rumah.


Saat tiba  Alia berdiri dengan tertib ditengah-tengah ruang tamu rumah nya yang tak memiliki properti apapun sembari memejamkan mata seakan menunggu sesuatu di sana dan beberapa saat kemudian 3 titik cahaya muncul dan mengitari tubuhnya kemudian berhenti dan berjejer tepat dihadapannya.


Alia pun membuka mata dengan perlahan dan melihat proses perubahan cahaya itu yang perlahan-lahan berubah wujud menjadi sosok 3 roh manusia bercahaya dengan pakaian serba putih di hadapannya. 1 orang laki-laki dewasa, 1 orang kakek tua dan seorang nenek yang sama tua nya, dengan tubuh yang melayang secara tenang dan serius memandangi Alia dihadapan mereka.


Salah satu pria paruh baya ghaib dihadapannya mengeluarkan sebuah gulungan kertas yang muncul begitu saja dengan ajaib dari telapak tangannya, pria dewasa itu berdeham kemudian berkata lantang “Baiklah langsung saja kita akan mulai penghakiman.”


“Di mulai dari pengungkapan pelanggaran peraturan sebagai pemburu jin Nyonya Alia Letisha” pria paruh baya yang membuka gulungan kertas itu saat berdiri ditengah barisan menoleh ke kanan dan kiri pada kedua roh berwujud kakek nenek disebelahnya.


“Baik tuan hakim” Alia berkata dengan nada hormat kemudian menundukkan kepalanya.


Alia sudah menduga akan dihadapkan dengan penghakiman sebagai keturunan pemburu jin karena telah melanggar banyak hal setelah bertemu dengan Arian dan Sera saat itu, dia jarang membasmi jin bahkan karena masih memendam perasaan tak biasa terhadap Arian dia juga ikut membantu misi Arian untuk memulangkan jin dan tibalah dia dihadapan ketua, wakil ketua dan hakim yang telah berwujud roh karena sudah lama meninggal untuk dihukum dan dia sudah mendapat peringatan status nya sebagai pemburu jin akan dicabut dalam penghakiman ini.


Sang roh hakim berdeham untuk memulai proses penghakiman Alia “Alia Letisha tidak sedikit pun selama beberapa bulan terakhir memburu jin untuk dieksekusi dan dihilangkan keberadaanya.”


“Kemudian membantu tuan putri dari kerajaan jin dalam misi untuk memulangkan jin ke dunia mereka” mata hakim itu semakin kearah bawah saat membaca gulungan surat itu, namun karena menyadari jika roh kakek yang merupakan ketua pemburu jin itu menoleh padanya dia pun memindahkan arah matanya pada kakek itu.


“Hanya menangkap?” kata roh kakek tua yang merupakan sang ketua itu saat keningnya mengerut.


Hakim yang menyimak hanya diam membisu saat menanggapi kemudian mengangguk pelan.


Ketua pemburu jin kemudian menoleh pada Alia dan mengelus-elus janggutnya yang cukup panjang kemudian berkata tegas dengan nada yang berat dan dalam pada Alia “Padahal hanya kau lah satu-satunya pemburu jin terakhir di dunia ini.”


“Maafkan aku ketua” Alia berkata setelah menatap mata sang hakim sebagai respon menanggapi kemudian menundukkan kepala nya cukup lama karena rasa bersalah.


Sama dengan ketua dan wakil ketua keturunan pemburu jin, Hakim itu masih membisu seakan menunggu penjelasan selanjutnya dari Alia tentang alasan dirinya melakukan pelanggaran-pelanggaran yang fatal, Alia pun yang tau jika ditunggu menghela nafas panjang kemudian memberanikan diri melanjutkan perkataannya “Mereka teman pertama ku tidak mungkin aku mengkhianati mereka terlebih_”


“Apanya yang teman! Kau itu telah membuat malu keturunan pemburu jin!”


Perkataan Alia di potong dengan nada tinggi serta secara cepat oleh roh kakek tua yang merupakan sang ketua sekaligus pemburu jin laki-laki terakhir yang emosi dengan Alia yang menyatakan pertemanan pada keluarga kerajaan jin.


Alia yang mengetahui betapa dihormatinya roh kakek yang membentaknya itu hanya bisa terdiam kaku dan semakin dalam menundukkan kepalanya. Roh nenek tua yang ada di sana terbang perlahan mendekati Alia dan menyentuh serta mengelus pundak gadis yang sedang ketakutan itu untuk menenangkannya.


Meski masih tertunduk Alia tetap berusaha menanggapi perkataan roh nenek tua itu dengan anggukan pelan.


“Tidak apa-apa Reina”


Roh nenek tua itu berkata lagi namun kali ini sambil menyentuh dagu Alia kemudian mengangkatnya, Alia yang memiliki darah pemburu jin tentu saja mampu disentuh roh nenek tua itu meski dengan wujud astral sehingga membuat gadis yang matanya telah berkaca-kaca itu menatapnya dengan wajah cemberut yang penuh rasa bersalah.


Roh nenek tua itu memberikan senyuman baik yang begitu hangat dengan tulus pada Alia dan malah membuat tangisan Alia mengalir deras, seakan menanggapi anak kecil roh nenek tua itu tertawa kecil melihat tingkah Alia yang menangis karenanya kemudian berkata “Aku tau betapa Indahnya masa muda.”


“Apa!?”


Roh ketua melirik sinis pada Roh nenek tua itu dengan nada kesal.


“Tidak ada, silahkan lanjutkan”


Roh nenek tua menjawab cepat demi menghindari keributan kemudian kembali ke barisannya tadi.


“Kau selalu saja memanjakan cucu mu” Ketua pemburu jin itu berkata saat masih memerhatikan roh nenek tua dengan seksama dengan tatapan mata dalam dan ekspresi datar.


“Tapi bagaimana pun peraturan tetaplah peraturan”


Dengan tetap menjaga senyuman hangatnya roh nenek tua itu kembali berkata pada Alia.


“Apalagi aku hanya seorang wakil” roh nenek tua  itu mengakhiri perkataanya saat telapak tangannya membentuk pose segitiga, yang diikuti dengan sang ketua pemburu jin.


“Baiklah kita mulai pembacaan mantra pelepasan senjata pusaka” kata sang hakim saat melihat roh ketua dan roh nenek tua yang telah memasang ancang-ancang untuk melakukan sebuah ritual kepada Alia.


“Maafkan aku nenek”


Alian yang tersengal berkata ketika sadar jika pistol pemburu jin yang tersorong di pinggangnya perlahan-lahan menjadi debu bercahaya saat ketiga roh didepannya itu membaca mantra dengan memberi pose segitiga pada telapak tangan. Tidak lama kemudian pistol yang telah menemaninya beberapa tahun ini pun benar-benar lenyap.


Setelah selesainya proses itu, ketiga roh tadi juga perlahan menghilang dan roh nenek tua yang juga merupakan nenek kandung Alia bertanya untuk memastikan kehidupan ke depan Alia ditengah-tengah proses itu “Tabunganku masih cukup banyak kan?”


Alia mengangguk dengan air mata yang masih mengalir deras.


“Aku ingin kau tetap menjalani hidup mu dengan bahagia” roh nenek tua itu memeluk tubuh Alia.


“Sudah lama nenek ingin kau bebas seperti ini...”


Dengan debu cahaya terakhir, roh nenek Alia benar-benar menghilang dihadapannya, tangisan gadis itu pun semakin mengalir deras karena merasa jika kesalahannya lah yang membuat dicabutnya status pemburu jin miliknya sehingga tidak akan lagi bisa bertemu roh nenek nya karena telah kehilangan kekuatan supranatural.