My Genie Wife

My Genie Wife
Kabar Seorang Teman



“Reki maafkan aku yang tidak bisa menepati janji”


Dalam alam bawah sadarnya jin penunggu rumah kosong itu bergumam di dalam ruang pikiran yang begitu gelap di dalam alam pikirannya tapi beberapa saat kemudian seakan pikirannya enggan tenggelam untuk waktu yang lama dalam kegelapan itu muncul lah cahaya putih yang lambat laun memunculkan sesosok anak kecil yang sedang duduk di depan televisi dan sedang bermain game.


Tombol-tombol pada konsol game berdetak kuat saat anak itu menekannya beberapa kali dengan cepat juga sekuat tenaga anak itu beberapa kali menoleh dan mengobrol kepada sosok jin yang merupakan proyeksi dirinya di masa lalu, tanpa menghiraukan ayah dan ibunya yang merasa aneh pada anak itu yang berbicara sendiri.


Anak kecil itu sangat senang jika cara menekan tombol yang ia lakukan barusan berhasil membuat nya memenangkan game kuno nya, anak itu kemudian tersenyum pada jin di sebelahnya yang hanya menonton dirinya bermain.


“Berjanjilah untuk bermain bersamaku terus meski nanti aku sudah besar seperti ayah” kata anak kecil itu saat kembali memulai permainan baru.


Anak kecil itu melirik dan menunjuk kearah lemari tempat jenis-jenis game miliknya di susun, kemudian kembali menoleh lagi pada jin itu dengan seringai lebar anak kecil itu melanjutkan perkataan nya “Kita akan bermain semua permainan yang ada di rumahku.”


“Kau berbohong Reki”


Kata jin penunggu rumah kosong itu dalam hati.


“Sampai sekarang kau tidak pernah pulang, bagaimana bisa diriku bermain game dengan mu terus”


Jin itu mengingat jika dirinya selalu menunggu di depan pintu rumah kosong ini dan setiap hari melakukan hal yang sama selama 15 tahun lebih.


“Tapi meski begitu aku yakin suatu saat kau akan pulang kerumah ini, jadinya aku tetap menunggu”


Jin itu menciptakan senyum simpul pada wajahnya.


“Aku sudahmembuat rumah ini menakutkan dan mendapat energi sihir untuk mempertahankan wujudku dari pengakuan orang-orang yang takut denganku, agar bisa bertahan untuk menunggumu”


Jin penunggu rumah kosong itu seakan-akan ditarik dari dunia alam bawah sadar miliknya ke kenyataan saat dia mendengar suar orang-orang bebincang dan tak lama kemudian jin itu benar-benar sadar dan terbangun di hadapan Arian, Sera dan gadis pemburu jin.


“Tapi sekarang aku akan di paksa pulang, oleh dua sosok aneh yang ingin aku pulang ke dunia jin dan tidak bisa menepati janji kita” Jin penunggu rumah kosong itu melanjutkan perkataannya saat melirik pada Arian dan Sera yang ada di depannya.


Jin penunggu rumah kosong itu memegangi bagian-bagian tubuhnya yang di rasa sakit dan agak merinding mengingat pertarungan dengan dua gadis dengan dua jenis ras yang berbeda tadi, kemudian setelah menghela nafas dengan cukup kuat jin itu melanjutkan perkataan dalam hatinya nya “Tapi apa boleh buat aku hanya bisa pasrah karena mereka sangat kuat.”


Di depan matanya jin rumah kosong itu melihat jika Arian sedang memainkan hand phone yang di bawa nya dari dalam tas, jin yang tidak mengerti tindakan Arian itu hanya bisa membisu saat memperhatikan sembari mencoba duduk setelah terkapar tadi.


Arian sempat beberapa kali menoleh pada jin yang sedang mencoba duduk di belakangnya itu saat mencoba terhubung pada seseorang  melalui handphone yang sudah tertempel di pipi nya itu.


“Hai kak, aku Arian yang kemarin ingin  melihat rumah mu” Arian berkata saat telpon nya memunculkan nada yang membuatnya tersambuing dengan seseorang.


“Waah hebat kau bisa masuk ke rumahku bukannya kata orang sangat angker” suara seseorang yang bisa di kenali jin penunggu rumah kosong itu pun muncul. Karena begitu terkejut dengan tindakan Arian yang menghubungi Reki di hadapanya jin itu hanya bisa memberikan gestur membeku kemudian dari termangap saat terkejut wajahnya pun seketika berubah menjadi bahagia karena sadar tidak pernah mendengar Suara Reki lagi semenjak 15tahun ini.


“Tidak, bukan angker, hanya ada penunggunya disini” Hakki menggeleng.


“Apakah kakak ingat sosok teman kakak yang dulu sering bermain disini.” Kata Hakki kemudian menoleh pada jin penunggu rumah kosong itu sembari memberikan senyuman tipis.


“Aaa iya, aku mengingatnya teman saat aku kecil yang ibu dan ayahku sama sekali tidak  bisa melihatnya” Reki menjawab perkataan Arian dengan riang.


“Dia masih ada disini dan sangat bahagia bisa mendengar suara mu” Arian berkata saat memerhatikan air muka jin yang begitu bahagia meski hanya bisa mendengar lewat suara dan sesuai dengan perkataannya pada Reki.


“Maaf tapi karena ini via telepon aku tidak  bisa melihat apa-apa, apa mau mengganti via video call saja?” Reki berkata untuk menawarkan.


Arian kemudian melirik untuk meminta persetujuan jin penunggu rumah kosong itu jika ingin melihat wajah Reki yang sudah besar, namun jin itu menggeleng karena merasa cukup dengan mendengar suara nya Reki saja dan mengetahuui jika anak kecil itu sudah tumbuh besar dari suara nya saja.


Arian menganggu menanggapi gelengan kepala dari jin penunggu rumah kosong itu dan sadar jika jin itu merasa cukup dengan menelpon Reki saja, Arian pun kemudian berkata pada Reki kembali “Tidak apa-apa dia merasa cukup dengan hanya mendengar suara kakak saja untuk saat ini.”


“Ada kah yang mau kakak katakan untuknya?” tanya Arian yang berambisi untuk melunak kan hati jin penunggu rumah kosong itu dengan perkataan-perkataan dari Reki.


“Ada”


“... dan maaf karena sudah membohongimu.”


Nada sedih nan lirih pun muncul dari perkataan Reki.


“Aku tidak bisa kembali kesana lagi karena ada masalah terkait ekonomi keluargaku yang cukup merepotkan."


“Itu saja” Reki mengakhiri perkataannya dengan nada yang begitu lega.


“Terimakasih kak” Arian berkata kemudian bersiap untuk mematikan telepon nya karena misi nya sudah terpenuhi dan berhasil membuat jin penunggu rumah kosong itu benar-benar luluh karena dia melihat jika jin penunggu rumah kosong itu memunculkan ekspresinya yang sedih namun tersirat rasa bahagia dari senyum simpulnya.


“Sebentar,bisa melihat mahluk seperti itu kau seorang Indi_”


Perkataan lanjutan dari Reki itu tiba-tiba saja terputus saat Arian yang tidak tahu ingin menjawab apa, dengan cepat memutus sambungan telponnya dengan terburu-buru diantara nafasnya yang terengah-engah.


“Huh, untung saja kau menyebut nama Reki saat mengamuk tadi, jika tidak aku tidak tahu siapa yang membuat mu bertahan di rumah ini” Arian berkata pada jin rumah kosong itu.


“Dan untung saja orang itu adalah orang yang memiliki rumah ini”


Arian menyimpan kembali handphone nya di dalam tas ransel miliknya


“Untung saja bapak tetangga tadi memberikan ku nomornya”


Arian dengan berani menyentuh pundak jin yang berpenampilan semraut seperti gonderuwo dengan senyuman yang tulus dia berkata “bagaimana apa kau sudah merasa lega mengetahui kabar Reki?”


“Yaa”


Jin penunggu rumah kosong itu mengangguk pelan.


“Terimakasih” kemudian membalas  senyuman Arian dengan senyuman kaku miliknya.


Beberapa saat kemudian dua orang bapak-bapak yang masih konsisten dengan gaya karakter Man In Black pembuka gerbang ke dunia jin itu tiba dan membuka gerbang agar jin yang telah bersedia untuk kembali dunia jin itu bisa melaluinya.


Saat di ambang gerbang portal ke dunia jin, jin penunggu rumah kosong itu menunjuk Semua konsol game yang tergeletak serta tersusun di lemari rumah itu  kemudian berkata “Oh iya silahkan ambil saja, tapi sebelumnya lebih minta izin dulu pada Reki.”


“Aku yakin dia akan mengizinkannya” Jin penunggu rumah kosong itu tersenyum dan menghilang di antara cahaya gerbang portal dimensi itu.


“Baik” Arian menanggapi perkataan jin penunggu rumah kosong itu dengan mengangguk kemudian dengan cepat kembali mengambil handphone nya untuk menghubungi lagi meski kali ini hanya via chat, agar bisa mendapatkan beberapa alat-alat game kuno ini demi Sera.


“Waa beneran di izinkan”


Gumam Arian senang saat mendapat balasan chat dari Reki.


“Terimakasih kak!” Arian berkata kemudian mengetik tulisan yang sama dari perkataannya itu untuk membalas chat dari Reki.


“Ada pemburu jin!” dua jin pembuka gerbang itu berkata Serentak dan langsung menoleh pada Ali teman masa kecil Arian di belakang mereka, saat merasakan aura yang berbeda dari gadis itu.


“Jangan lakukan apa-apa” Sera memerintah bawahan nya itud an memberikan gestur lambaian tangan yang melarang agar kedua jin pembuka gerbang itu tidak melakukan apa-apa pada Ali agar Arian bisa tenang.


“Baik tuan putri” dengan begitu kompak kedua jin pembuka gerbang itu berkata serentak lagi, dan menuruti pinta Sera kemudian beregas kembali untuk masuk menuju gerbang dunia jin nya dan menghilang diantara portal cahya itu yang cahaya nya semakin menipis.


“Sudah selesai...” Sera menghela nafas saat menyaksikan jika gerbang dimensi di depan matanya benar-benar sudah hilang sepenuhnya.


“Tuan Putri, Gerbang Menuju Dunia jin, Hubungan mu dengan Arian” Gadis pemburu jin berkata saat melangkah pelan mendekati Sera.


“Jin macam apa kau ini?” Gadis pemburu jin itu bertanya pada Sera dengan tatapan sinis.