
Saat diantar kedua bapak-bapak yang mirip karakter Man in Black kembali ke dunia manusia dengan portal, mengiyakan pinta Raja Ifarid yang meminta izin agar Sera dan Eru tinggal dirumahnya, bahkan Sera dan Eru yang ikut memasuki portal bersamanya ketiga hal itu hampir saja Arian lupakan dan mengira semua kejadian fantasi malam kemarin itu mimpi.
Kelelahan atas ditimpa banyaknya hal diluar nalar yang telah terjadi adalah penyebabnya, namun Arian mengingatnya kembali berkat melihat kedua gadis yang ada dirumahnya pagi ini.
Arian ingat jika raja Ifarid saat menyuruh anaknya Sera sebagai istri kontraknya tinggal serumah dengannya dan menyertai Eru penjaga pribadinya sekaligus sebagai pengawas agar Arian tidak macam-macam saat tinggal satu atap dengan putrinya, karena Arian dan putrinya hanya terikat kontrak serta demi masa depan pemimpin kerajaan jin yang baik sang raja tidak membutuhkan keturunan setengah manusia dari Arian.
Arian memerhatikan kedua gadis yang memakai seragam putih abu-abu seperti yang ia kenakan sekarang tetapi dia tidak menghiraukan kemana kedua gadis jin itu akan bersekolah karena masih shock dengan kejadian pagi ini, dan masih mengingat-ingat apa saja yang terjadi malam kemarin di dunia jin, Arian sedikit menggaruk kepalanya kemudian berkata "Aku baru ingat jika mengiyakan semua permintaan raja Ifarid malam kemarin."
Arian memegangi keningnya yang sedikit bengkak.
“Huh” Arian sedikit menghela nafasnya karena agak kecewa jika semua yang dialaminya nyata, Arian kemudian menarik nafasnya dalam-dalam agar tenang dan dengan cepat dia pun memaklumi semua hal yang dialaminya karena dia sendiri yang memulai.
Kedua gadis jin yang tiba-tiba saja tinggal dirumahnya dan kehebohan pagi tadi jika ada orang lain dirumahnya pasti akan kebingungan dan mungkin Arian akan kebingungan menjelaskannya Arian yang sadar jika drinya sendirian melihat sekeliling ruang makan kemudian berkata pelan "Untung saja aku tinggal sendirian."
"Maafkan aku ya" Arian berkata saat menoleh pada Eru yang duduk di satu meja makan yang sama dan berhadapan dengannya serta sedang memegangi segelas teh hangat tanpa meminumnya.
"Maafkan aku juga soal gayung nya" Eru berkata pelan saat jari telunjuknya ia ketuk-ketukan pada gelas teh gadis itu juga sesekali melihat kening Arian yang bengkak.
Arian tersenyum menanggapi perkataan Eru itu dengan sedikit berkeringat dingin saat mengingat betapa kuatnya lemparan Eru yang mengenai kepalanya hingga membuat gayungnya pecah kemudian berkata “Tidak usah dipikirkan.”
Keheningan pun tercipta setelah percakapan singkat kedua orang itu selesai hingga membuat mereka canggung, namun untungnya kecanggungan itu diselamatkan oleh senyuman ceria Sera yang hangat saat membawakan tiga piring nasi goreng pada nampan untuk dimakan bersama sebagai sarapan pagi.
“Silahkan” Sera menyerahkan nasi goreng itu pada Arian dan Eru.
“Enak juga” Kata Arian dalam hati saat mencoba masakan Sera itu di suapan pertama.
"Ayah dan ibumu dimana?"
Tanya Sera yang ikut menyuapi sarapan yang ia buat sendiri.
"Ibuku sudah lama meninggal saat melahirkan ke dua adik kembarku" Arian menjawab saat menoleh pada foto ibunya yang tertempel tak jauh disebelahnya pada ruang makan ini.
"Ayah ku 3 tahun lalu menghilang entah kemana"
Arian menghirup sedikit teh yang dibuat Sera.
Arian meletakkan gelas tehnya kemudian lanjut berkata "Untung saja dia meninggalkan rumah ini untukku, jika tidak, aku akan melarat."
“Maaf" diantara kunyahannya Sera berkata pelan saat merasa pertanyaannya agak sensitif.
"Santai saja" Arian pun menanggapinya dengan senyum tipis.
"Dimana adik kembarmu?" kali ini Eru yang bertanya saat akan memulai suapan pertama nasi goreng buatan tuan putrinya.
"Mereka tinggal bersama pamanku dan istrinya" jawab Arian.
"Karena tidak juga diberi anak sampai sekarang jadi mereka mengasuh kedua adikku."
Arian mengakhiri perkataannya dan setelah itu tidak ada pertanyaan yang terlontar dari kedua gadis itu karena sama dengannya gadis itu sedang asik mengunyah makanan.
Dentingan sendok ke piring dan keberadaan orang lain dirumahnya itu pun memunculkan senyum bahagia yang terselip diantara kunyahan Arian karena senang rutinitas pagi harinya yang sepi telah berubah.
"Arian"
Eru memanggil Arian yang sedang menenggak air putih.
Arian langsung menoleh pada Eru dan menanggapi Eru dengan anggukan kecil diantara tegukan air minumnya, Eru yang melihat tanggapan itu pun kemudian mengeluarkan sebuah pertanyaan.
"Kau sudah melihat uang satu milyar nya di gudang rumah ini?"
Arian menggeleng pupil matanya pun membesar dia meletakkan gelas air putihnya dengan cepat ke meja kemudian berlari sekuat tenaga menuju halaman belakang rumahnya dan membuka pintu gudang perkakas bekas ayahnya yang cukup besar di sana.
"Beneran ada!" kata Arian kagum saat melihat puluhan ribu uang seratus ribu didalam gudang ayahnya itu.
"Mereka akan penasaran dari mana aku mendapatkan uang sebanyak ini jadi lebih baik aku angsur perbulan saja pada orang-orang yang menagih itu" kata Arian dalam hati sembari menggembok dan memberi rantai serta menghadang pintu gudang itu dengan palang kayu agar uangnya tidak dicuri.
"Kalian bersekolah di sekolah ku juga?"
Arian bertanya saat melihat kedua gadis yang tiba-tiba tinggal dirumahnya itu mengenakan tas dan sedang memasang sepatu didekat pintu keluar rumahnya.
"Ya" Sera mengangguk.
"Haruskah kita satu sekolah juga?"
Tanya Arian santai meski saat ini ia menyimpan pertanyaan-pertanyaan lain di kepalanya.
"Iya, kau harus selalu berada di dekat tuan putri”
Kata Eru saat sedang membetulkan posisi kaus kakinya.
"Kenapa?"
Arian memanggul tas ransel hitamnya dan berjalan mendekati rak sepatu.
"Untuk membuat wujud nyata seperti manusia disini tuan putri harus menggunakan objek yang berbentuk manusia juga"
Perkataan Eru tersebut membuat Arian sedikit memiringkan kepalanya, karena tahu jika Arian kurang mengerti Sera pun menyela pembicaraan "Intinya untuk mempertahankan wujud manusia ini kami berdua membutuhkan energi dari tubuh manusia.”
Eru mengangguk menyetujui penjelasan Sera kemudian lanjut berkata “Para jin menyebutnya sihir mempertahankan wujud.”
"Jika tidak ada maka kami akan lenyap di bumi"
Eru mengenakan sepatunya dengan cepat.
"Kau tau kan anak-anak SMA di dunia ini sering kesurupan”
Sera berkata lagi saat sedang mengenakan sepatu juga.
“Saat itu tubuh mereka di pinjam jin yang ingin mempertahankan wujud" Sera menoleh pada Arian yang saat itu juga melakukan hal yang sama dengan mereka.
"Seberapa jauh jarak aku dan Sera harus berdekatan?"
Arian berkata saat matanya tertuju pada proses menghilangnya tanduk jin yang dimiliki Sera dan Eru yang hilang diantara kerlap-kerlip cahaya, arian pun menganggukkan kepalanya karena paham jika Sera dan Eru menggunakan semacam sihir lain untuk menyamarkan identitas mereka.
"Jarak ya?" Kata Eru sembari membukakan pintu keluar rumah Arian agar suami kontrak tuan putrinya itu bisa segera keluar.
“Tidak begitu spesifik, yang jelas semakin dekat jarak jin dengan manusia maka semakin kuat sihir mempertahankan wujud bekerja"
"Bukannya kalian bisa langsung pulang saja ke dunia jin dan kembali lagi kesini agar wujud kalian bertahan" Arian berkata dan menjadi orang pertama yang keluar rumah.
Eru terdiam sesaat mendengar perkataan Arian karena mencoba memikirkan cara yang dikatakan Arian itu, kemudian sedikit menggeleng.
"Hanya jin pemegang gerbang antar dimensi yang bisa membuka portal” Eru berujar dan sesekali memerhatikan tuan putrinya yang agak lambat saat mengenakan sepatu.
"Jadi kami tidak bisa seenaknya membuka portal untuk pulang"
Eru mengakhiri perkataanya dan membantu sedikit tuan putrinya itu untuk memakai sepatu agar tidak terlambat ke sekolah mereka yang baru.
"Jadi, aku harus terus berdua bersama Sera?"
Tanya Arian yang memerhatikan Sera dan Eru yang ikut keluar rumah juga.
Sera memberikan senyuman yang begitu manis dan bersinar pada Arian dan mendekati laki-laki itu dengan jarak wajah yang sangat dekat kemudian dengan riang gadis itu berkata "Ya Arian, meski cuma terikat kontrak, sekarang aku adalah istrimu jadi tidak ada yang aneh jika kita berdua terus."
Arian mengangguk diantara wajahnya yang memerah dan jantung yang berdegup kencang seketika seakan langsung kalah dengan serangan licik Sera di pagi hari ini.