My Genie Wife

My Genie Wife
Penasaran Saat Cemburu



Sera dan Eru bergaul, beraktifitas dan bergabung dengan ekskul di sekolah ini bahkan menjadi populer dalam waktu seminggu di sekolah ini. Berbanding terbalik dengan Arian yang tidak tampak bergaul dengan siapapun selain dengan Gani guru olahraga yang masih muda, sangat kurang aktifitas dan tidak bergabung dengan ekskul manapun.


Bahkan seharian ini karena merasa tidak sebanding dengan Sera dan Eru dia menjauhi dua gadis jin itu dan mengabaikan mereka lagi hingga benar-benar menunjukkan jika mereka bertiga tidak akrab.


Lagipula bagi Arian bermain dengan teman dan bergabung dengan ekskul hanya akan  membuatnya letih, dia membutuhkan tubuh yang semangat untuk bekerja paruh waktu sepulang sekolah agar bisa mengumpulkan uang kuliah, karena hutang ayahnya bisa dibayar dia pun benar-benar bisa fokus bekerja untuk sekarang.


Setelah lonceng pulang sekolah berbunyi, Arian melihat jam ditangan nya, kemudian sedikit berpikir untuk menerka-nerka jarak waktu pulang dan waktu kerjanya, kemudian dengan cepat mengambil tas dan langsung keluar kelas, tanpa sedikit pun menoleh atau mengajak Sera dan Eru pulang bersama hanya untuk berbasa-basi.


“Kupikir karena perjalanan hari minggu kemarin aku dan dia bisa akrab layaknya teman dekat” gumam Sera pada dirinya sendiri kemudian menoleh pada Eru agar pengawal pribadinya itu juga mendengar, Eru pun mengangguk pelan dengan air muka yang sedih saat melihat tuan putrinya bergumam dengan nada kecewa.


Arian berlari kecil menuju perpustakaan untuk mencari buku yang pernah direkomendasikan oleh Reina padanya kemudian sembari masuk perpustakaan dia berkata “masih ada waktu satu jam sampai masuk kerja....”


Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Arian yang pernah bekerja paruh waktu di perpustakaan umum untuk bisa menemukan buku rekomendasi Reina, dia pun langsung bergegas menuju penjaga perpustakaan agar cepat pulang, namun niatan pulangnya dia batalkan ketika dirinya menoleh kebelakang dan menemukan Reina yang sedang berdiri mencari dan membaca buku.


Rambut sebahu yang diselipkan pada telinga memperlihatkan lengkung leher yang begitu indah dengan kulit putihnya dari Reina, wajah manis Reina yang fokus saat membaca membuat Arian terpukau.


Dengan wajah yang berseri Arian mendekati Reina dengan langkah pelan kemudian pura-pura mencari buku sembari menoleh pada Reina dan menyapanya dengan senyuman, Reina yang menyadari Arian yang mendekatinya dan memberikan senyuman itu langsung membalas dengan senyuman juga.


“Manisnya~” Arian memuji senyuman Reina dalam hati.


Setelah sapaan senyuman diantara mereka muncul, hanya hening yang muncul untuk beberapa saat karena tak ada satu pun dari mereka berdua yang  berbicara karena diganggu kegugupan, Reina pun sesekali melirik Arian begitu pula sebaliknya Arian hingga akhirnya mata mereka berdua pun bertemu.


Arian dan Reina yang mengalihkan pandangan karena malu dan canggung pun membalut suasana diantara mereka berdua, tetapi meski begitu Reina yang masih bisa fokus akhirnya memutuskan untuk mulai berbicara agar kecanggungan tersebut hilang.


“Arian”


“Iya?” Arian dengan Cepat menyahuti Reina.


“Sera itu kerabat jauh mu ya?”


Reina bertanya tanpa melihat wajah Arian.


“Memangnya kenapa?” jawab Arian penasaran.


“Sepupu?” kata Reina Lagi.


Arian yang bingung dengan pertanyaan Reina tentang Sera meski memiliki rasa bahagia karena menerka jika Reina cemburu itu, beberapa saat memikirkan jawaban yang tepat kemudian berdalih dengan perkataan yang rumit “Sangat susah dijelaskan, hubungan jauh sebelah ayah dari ibuku, tapi  juga kenal dengan ayahku dari sebelah paman ayah.”


“Be-begitu”


Jawaban singkat Reina itu sesuai dengan keinginan Arian yang menggunakan dalih rumit nan membingungkan agar Reina tidak membahasnya lagi sehingga kebohongannya tentang Sera yang merupakan istri jin bisa selamat.


“Kenapa?” tanya Arian mencari tahu apa yang membuat Reina ingin menanyakan hal itu.


“Aku hanya penasaran seperti apa hubungan kalian, soalnya sepertinya kalian sangat akrab saat diluar” Reina berkata sembari menyeringai tipis pada Arian.


“Katanya kalian pergi berdua di hari minggu?”


Pertanyaan Reina itu hampir membuat Arian menjatuhkan buku pinjaman yang digenggamnya karena terkejut kenapa Reina bisa mengetahui jika dirinya dan Sera pergi kemarin saat menyelesaikan tugas.


“Iya, i-itu hanya sebuah perjalanan keluarga dia meminta ku mengantarnya membeli sesuatu” Arian berdalih lagi agar tugas mencari jin nya tidak menjadi hal yang mencurigakan bagi Reina.


“Siapa manusia sialan yang melihatku berdua dengan Sera!"


Jerit kesal dalam hati Arian muncul.


“Sebentar-sebentar, Reina cemburu?” Arian yang begitu percaya diri menerka-nerka maksud dari Reina mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan tadi.


“Novel itu tema dari ceritanya sangat menarik loh”


“Ya sangat menarik”


Arian menjawab cepat dan spontan, matanya pun tak terbantahkan menatap wajah cantik dan manis Reina di depannya seakan sedang memuji gadis manusia itu.


“Ma_maksudku novelnya”


Arian tergagap saat tersadar perkataannya memalukan, untung saja dia bisa membelokkan maksud dari perkataannya.


“Ta_tapi aku belum membacanya, aku baru mau meminjamnya”


Arian tergagap lagi, Arian dan Reina pun melanjutkan pembicaraan mereka tentang novel sampai beberapa menit ke depan.


Setelah pulang dari bekerja paruh waktu, Arian yang baru selesai mandi pergi meraih lemari pendinginnya untuk mengambil minuman yogurt kesukaannya sembari minum dia yang menyaksikan jika di ruang keluarga Sera sedang bermain game didepan tv berkata dalam hati “Sera bermain game kuno lagi”


“Aku belum sempat bertanya kenapa dia sangat suka game jadul seperti NES” Arian memperhatikan konsol yang dipegang Sera.


“Hei Arian” Sera yang sadar jika sedang diperhatikan memanggil dengan nada santai.


“Apa?” jawab Arian yang meminum gelas kedua yoghurt nya.


“Apakah kau merasa melupakan sesuatu?” Sera bertanya dengan tangan yang masih memencet tombol konsol dan sesekali wajahnya terarah pada Arian yang sedang berdiri.


“Tidak” dengan cepat Arian menjawab, kemudian sambil membawa gelas plastik yogurt nya dia mendekat pada Sera yang bermain game dan duduk pada sofa ruang keluarga itu.


“Mengisi daya sihir sebentar” Sera menekan tombol pause, kemudian beranjak dan menuju sofa juga untuk duduk di sebelah Arian si suami kontrak nya itu, demi mengisi daya sihir karena sudah terpisah beberapa jam dari Arian agar bisa mempertahankan wujud.


Arian berdeham mengisyaratkan jika dirinya masih merasa canggung dan gugup dengan ritual pengisian daya sihir yang dilakukan Sera itu sampai-sampai membuatnya membisu, Sera yang hanya diam saat pengisian daya sihir pun melengkapi kesunyian di ruang keluarga itu namun untungnya diselamatkan oleh suara game pada tv yang bervolume kecil


“Kebetulan Eru sedang belanja keperluan makan malam saat ini”


Kata Sera kemudian kepalanya ia sender kan pada pundak Arian.


“Kenapa kau?” Arian yang terkejut bertanya-tanya tentang tingkah laku aneh Sera yang begitu tiba-tiba, jantungnya pun berdebar hebat namun dia langsung mengalihkan fokusnya untuk menghabiskan yogurt nya kemudian meletakan gelas bekasnya di atas meja begitu saja.


“Oi Sera” Arian masih menegur Sera yang tak bergeming di pundaknya sembari melihat sekeliling takut jika ada Eru pulang dan meyakini jika suasana di sekitarnya benar-benar hening, Arian pun khawatir akan terjadi sesuatu hal padanya dan Sera.


Seakan tebakannya benar, tangan Sera meraih tengkuk leher Arian dan melingkarinya agar bisa memeluk suaminya itu dengan erat.


“Ada apa ini?”


Debar jantung Arian semakin kuat darah di sekujur tubuhnya pun terpompa hebat sehingga membuat tubuhnya memerah karena panas saat merasakan kulit hangat Sera yang menyelimuti tubuhnya.


“Sera!”


Sera mendorong Arian dengan tubuhnya dan membuat Arian tertindih oleh tubuhnya pada sofa itu.


“Apakah kau melupakannya?” Sera berkata dengan nada pelan nan lembut.


Arian yang membeku dengan suasana mengejutkan yang menyenangkan ini memerhatikan Sera dengan wajah cemas serta kebingungan.


Arian bisa merasakan jika kulit dari kaki serta paha sera yang mengunakan celana pendek menyentuh kakinya, bahkan tubuh Sera yang mengenakan piyama pink lengan pendek juga sekarang tepat berada di atas tubuhnya yang sedang berbaring.


“Me-melupakan apa?” Arian tergagap dengan volume suara yang begitu kecil.


“Dengan begini kau pasti akan mengingatnya....” Sera menempelkan kedua telapak tangannya pada pipi Arian kemudian mendekatkan wajahnya pada Arian dengan perlahan.


“Sebentar Sera, apa yang kau lakukan!” Arian yang masih kebingungan pun semakin panik.