
“Arian abda terimakasih telah menerima anakku tinggal di sana”
Kalimat pertama yang Arian baca dalam surat dari Raja Ifarid sedikit membuatnya mengerenyitkan dahi.
Arian membolak-balikkan selembar kertas tipis dari dunia jin yang memiliki gambar-gambar bunga di ujungnya itu kemudian sedikit tersenyum karena lucu melihat pilihan kertas Raja Ifarid dan Surat imut yang baru saja diberikan oleh Eru sesaat akan pergi ke sekolah barusan itu pun dibaca begitu seksama olehnya.
“Dalam waktu beberapa jam pada malam kemarin ini aku telah mengurus semua hal yang dibutuhkan mereka berdua untuk masuk sekolah mu, kemudian agar kau tidak kerepotan menjelaskan tentang siapa Sera dan Eru kami telah mengatur jika mereka berdua adalah saudara jauh mu dari luar daerah yang ingin bersekolah di kota ini jadi agar kedokmu yang mempunyai istri jin karena pesugihan tidak ketahuan, tapi berhati-hati lah dengan putriku yang bodoh dan ceroboh.”
“Dari Raja Dunia Jin Ifarid Ruth”
"Mengatur agar tindak pesugihan ku tidak ketahuan, mertua yang pengertian..." Arian melipat kertas surat itu dan memasukkan kedalam tas ranselnya dengan rapi demi menghargai surat dari sang raja dunia jin itu.
“Kau sudah selesai membaca surat berterimakasih dari yang mulia?” Eru menoleh pada Arian yang ada dibelakangnya.
“Iya” Arian menjawab singkat dan mengangguk pada Eru yang beberapa langkah telah mendahuluinya.
“Tapi menurutku untuk sebuah surat terima kasih rasanya terlalu cepat” Arian mengerutkan dahinya sembari menggaruk rambutnya karena mengingat jika kedua gadis didepannya itu baru tinggal dengannya beberapa jam yang lalu.
Namun Eru tak menanggapi apapun perkataan Arian dan hanya tersenyum lebar menghadap depan seakan sudah mengerti sifat rajanya dan tidak ingin membahasnya.
Sera yang berjalan beriringan disebelah Eru sedikit menundukkan kepalanya kemudian memperlambat langkah kakinya sehingga membuatnya bisa melangkah beriringan dan bersebelahan dengan Arian, Arian yang bingung dengan tindakan Sera itu pun hanya menoleh sedikit pada Sera yang wajahnya berseri-seri itu kemudian langsung mengabaikan Sera dan fokus berjalan.
Eru tersenyum bahagia melihat tuan putrinya yang yang memasang air muka bahagia saat berjalan bersebelahan dengan Arian, karena dia tahu tuan putrinya itu sudah lama memimpikan situasi sedang berjalan seperti kencan remaja SMA manusia pada umumnya seperti dengan Arian saat ini.
Beberapa kali Sera mendekatkan pundaknya pada lengan atas Arian yang memiliki badan yang lebih tinggi darinya itu sehingga beberapa kali juga tersentuh, Arian pun yang sadar akan hal itu beberapakali tanpa mengatakan apapun sedikit menjauh demi menghindari tindakan Sera.
“Sebentar Sera” Arian menghentikan langkah kakinya.
Sera menghentikan langkah kakinya dan menoleh serta memasang wajah yang kebingungan pada Arian, setelah melihat wajah Sera itu Arian menghela nafas kemudian melanjutkan perkataannya “Sebaiknya kau dan aku jalannya agak berjauhan saja.”
“Kenapa?”
Sera memasang wajah yang sedikit kecewa.
“Walaupun kontrak kita kan suami istri” dengan gumaman yang begitu kecil kali ini air muka sedih yang muncul pada wajah Sera.
Arian menggeleng dengan cukup kuat kemudian berkata pelan “Bukan begitu, ayahmu sudah susah payah mengatur identitasmu sebagai saudara jauh ku disini.”
“Ji-Jika kita terlalu menempel nantinya tanggapan orang akan berbeda” Arian berkata seraya meyakinkan Sera yang sedih dan sesekali menoleh kesana kemari untuk memastikan tidak ada yang melihat mereka berdua pada keramaian pagi menuju perjalanan sekolah ini.
“Kau tidak suka?” Sera berkata dengan nada marah dengan sedikit menggembungkan pipinya.
Arian menggerakkan tangannya untuk memberi tanda tidak “Tentu saja su_ “
“Huh” Arian menghela nafas kemudian berjalan cepat mendahului Sera juga Eru didepannya kemudian melanjutkan perkataannya dengan dicampurkan sedikit nada amarah “Akan sulit menjelaskannya jika nanti ada yang melihat.”
Mereka bertiga pun pada keramaian pagi itu berjalan berurutan bagaikan kereta gerbong dan Arian yang berjalan dan Arian sedikit cemas karena saat itu beberapa anak SMA juga ada disekitar sana dan sangat takut jika ada teman laki-laki sekelasnya yang melihat dia bersama dua orang gadis yang memiliki visual menarik.
“Apa yang teman-teman kelasku lakukan jika melihat aku berdekatan dengan gadis secantik Sera?”
Kata Arian dalam hati sembari sesekali melirik dua gadis yang berjalan dibelakangnya itu kemudian bergumam “Bahkan ada Eru.”
“Ah benar juga Ivan kemarin yang baru saja mendapatkan pacar mereka siksa dengan gelitik maut”
Arian bergidik membayangkan peristiwa mengerikan beberapa hari yang lalu dari teman kelasnya itu.
“Apalagi gadis dari dunia jin.....” Arian meringis dalam hati dan kali ini membayangkan tingkah gadis yang disukainya sejak lama itu selalu menjauhinya, mengalihkan wajah padanya, memasang muka sekan, bahkan muka takut karena mungkin saja akan ketahuan jika Sera dan Eru adalah gadis jin yang ada karena pesugihan yang dilakukannya.
Beberapa saat kemudian setelah memikirkan Reina Seakan mendapat keberuntungan Reina benar-benar muncul didepan mata Arian dan memberikan senyuman manis nan indah padanya sembari melambaikan tangan saat bertemu di pintu masuk gerbang sekolah.
“Selamat pagi Arian” sapa Reina.
Karena jarang bertemu Reina saat pagi hari sebelum masuk kelas seperti sekarang langkah kaki Arian pun terhenti berkat peristiwa langkah itu. Seketika dadanya berdebar seakan menyetrum Arian pada pagi ini dan membalas cepat lambaian tangan Reina itu, seringai lebar nan berseri pun muncul dari wajahnya.
“Pa-pagi Reina”
Sera yang kali ini gantian mendahului Arian memasang wajah yang datar saat melewati suami kontraknya itu.
“Ooo” Sera berdeham dan air mukanya pun mengalir kearah cemberut.
“Kenapa?” tanya Arian heran saat melihat punggung gadis jin itu.
“Tidak ada” Tanpa menoleh Sera menjawab perkataan Arian dan berjalan cepat memasuki sekolah dan di ekor oleh Eru yang tidak mengeluarkan sepatah kata atau ekspresi sedikitpun pada Arian.
Saat kelas di sekolah Arian itu dimulai saat itu juga wali kelas Arian mengenalkan Sera dan Eru yang merupakan saudara jauh Arian bersekolah dan ditetapkan di kelas Arian tersebut pada anggota kelas IPA 3 itu, sejak tadi sampai perkenalan ini Arian yang takut terkena gelitik maut tidak berani menoleh pada Sera dan Eru karena takut akan hawa ancaman laki-laki dikelasnya, apalagi saat beberapa kali Sera mencoba melambaikan tangan pada Arian saat perkenalan itu laki-laki dikelas Arian langsung melihat Arian dengan sinis.
Sera dan Eru disuruh duduk pada kursi kosong disudut yang tepat berada pada sebelah Arian, saat Sera dan Eru melangkah pelan menuju kursi itu saat itu seantero kelas IPA 3 itu berbisik-bisik memuji kecantikan serta keanggunan dua gadis yang levelnya sangat berbeda itu, dan saat mereka duduk bersebelahan dengan meja Arian, suasana kelas langsung hening dan berganti menjadi ruang kelas dengan hawa membunuh yang kuat.
Beberapa jam kemudian saat jam istirahat tiba Arian dengan cepat beranjak dari tempat duduknya dan berlari kecil kearah meja Reina dan mencegah gadis itu keluar untuk beristirahat dan langsung berkata “Reina ini bukunya.”
“Kau sudah membacanya?”
Reina menyambut buku miliknya yang dikembalikan oleh Arian itu.
“Iya” Arian mengangguk.
“Bagaimana?” tanya Reina yang memasukkan buku yang dipinjam Arian itu kedalam tas ransel biru langitnya yang terlihat begitu feminim bagi Arian.
“Ada plot twist yang tidak terduga kan!” Setelah tersimpan Reina langsung menoleh pada Arian dan menatap dalam mata laki-laki itu dan dengan wajah yang bahagia dan senyuman yang cerah ceria dia berkata dengan begitu semangat.
“Ya ada, tak kusangka antagonis nya seperti itu” Arian membalas dengan senyuman juga meskipun hanya senyuman kecil saat tersipu malu.
Sera yang duduk paling belakang memerhatikan percakapan menyenangkan Reina dan Arian itu dan sedikit menyelipkan wajah kesal diantaranya karena Arian yang sama sekali tidak mengajaknya ngobrol atau menyapanya saat istirahat dan langsung mendekati Reina seakan-akan diabaikan oleh suami kontraknya itu.
Tak lama kemudian beberapa teman-teman kelas Arian mendekati kedua gadis itu dan mengajak mereka mengobrol santai dengan memulai pertanyaan pada Eru.
“Kau Saudara jauh Arian”
“Sepupu ya? “
“Kau juga saudara jauhnya?”
Beberapa teman-teman sekelas Arian kali ini ikut bertanya pada Sera.
“Kau saudara jauh dari sebelah ibunya? ayahnya?”
Sera yang kesal pada Arian yang mengabaikannya dicampur dengan pertanyaan-pertanyaan orang yang datang dan mengatakan jika dirinya adalah saudara jauh Arian disaat status mereka berdua adalah istri kontrak hasil pesugihan membuat amarah putri dari dunia jin itu memuncak sehingga dengan polosnya tanpa berpikir panjang dia mengeluarkan perkataan dari dalam pikirannya dengan spontan. “Bukan, sebenarnya aku adalah Istrinya!”
Arian yang mendengar perkataan bervolume besar dari Sera itu tersentak saat sedang dalam obrolan bersama Reina dan menatap cemas kearah Sera yang ada dibangku belakang itu.