My Genie Wife

My Genie Wife
Kemudian Teman Masa Kecil



Tepat di depan vila yang mereka sewa, Arian dan Eru berdiri membisu satu sama lain, Eru membisu karena menunggu jawaban dari Arian dan Arian membisu karena belum tau mau menjawab apa.


Beberapa saat kemudian dari bawah sana dia mampu melihat tawa Sera yang sedang mengobrol dengan Reina pada jendela yang terbuka kamar di lantai dua, sehingga membuat Arian mampu memandang cukup lama Sera dari tempatnya berdiri.


Eru yang menyaksikan hal itu pun tersenyum dan mengangguk kecil kemudian bergumam sendiri “Ternyata benar tuan putri yang akan tuan Arian pilih.”


Arian yang sama sekali tidak mendengar gumam dengan suara kecil dari Eru itu, ingin menjawab perasaan Eru berkat melihat senyuman Sera di atas sana, namun saat kembali menoleh pada Eru, dengan perubahan pikiran yang cepat kesatria kerajaan jin itu malah memberikan gestur dengan tangan menyilang seolah menandakan jika dia tidak membutuhkan jawaban dari Arian.


“Tidak usah, aku mungkin tau jawabannya” Eru berkata saat senyum simpul muncul diwajahnya, kemudian berbalik untuk meninggalkan Arian saat genggaman pada tas belanjaannya semakin erat dan kuat karena ada sedikit kekesalan.


“Tapi aku akan memilih untuk selamanya mendampingi hidup tuan Arian dan tetap mencintaimu” kata Eru lagi ketika menoleh sesaat pada Arian sebelum akhirnya berjalan masuk kedalam vila.


Dari wajah Eru yang berjalan meninggalkannya Arian tahu jika gadis jin kesatria kerajaan itu diantara rambut lurus hitamnya yang lurus memasang wajah sendu yang dengan bola mata yang berkaca-kaca, Arian pun hanya bisa menanggapi dengan wajah yang tersirat rasa bersalah saat melihatnya namun Eru yang di pipinya beberapa bulir air mata telah jatuh tak melihat lagi Arian saat berjalan cepat meninggalkan laki-laki yang disukainya itu.


Besoknya saat matahari terbenam di pantai sekali lagi 5 remaja SMA itu mempersiapkan  meja panggangan dan stok makanan beserta alat-alatnya untuk menyambut tahun baru pada malam ini. Di saat keempat gadis dan Arian mengerjakan semua hal yang menyangkut persiapan pesta tahun baru, tiba-tiba saja hand phone kuno Arian berdering dan menunjukan nama yang tak pernah ia duga akan muncul pada layar itu.


Ayahnya menelpon setelah bertahun-tahun lamanya, karena tidak ingin membuat keributan disaat keempat gadis itu sedang fokus bekerja, Arian pun berlari kecil menuju vila dan masuk kemudian duduk pada sofa ruang tamu vila itu, tetapi dengan tidak beruntung sambungan telepon itu tiba-tiba terputus di saat ia belum sempat mengangkatnya.


Arian pun menghela nafas panjang karena kecewa dan dengan cukup kuat membanting hand phone kunonya keatas sofa, dan beberapa kali mengusap-usap wajahnya untuk melampiaskan kekesalan, tak lama berselang Alia pun yang ingin mengatakan sesuatu membuntutinya secara diam-diam sehingga tidak ketahuan oleh yang lain.


Alia langsung memasuki vila itu dan membuat Arian terlonjak karena begitu terkejut dengan kedatangan senyap nan tiba-tiba dari Alia, karena masih berkaca dengan tindakan Alia kemarin, Arian pun sedikit mundur dari sofanya karena waspada terhadap gadis itu yang kini langsung duduk mendekatinya.


“Ma_maafkan aku atas tindakan ku kemarin, aku hanya terbawa suasana” kata Alia dengan air muka yang penuh rasa bersalah dengan sedikit menundukkan kepalanya.


Arian pun yang langsung menerima permintaan maaf dari Alia itu kemudian memberikan senyum tipis sebelum akhirnya terkekeh saat terpikir dengan tingkah Alia yang sama saat kecil dulu karena sering minta maaf atas tindakan-tindakannya yang berani “Sifatmu yang selalu tiba-tiba seperti itu mengingatkanku saat kau masih kecil dulu.”


Arian tertawa kecil kemudian melanjutkan perkataannya “Menolong anak kucing disaat kendaraan di mobil ramai, tiba-tiba mau memarahi 3 anak yang sering menggangguku.”


Alia juga ikut tersenyum kemudian berkata dengan sedikit terkekeh “Iya ujung-ujungnya malah selalu berbalik kau yang jadi melindungi aku.”


“Bahkan sampai sekarang”


Senyum simpul muncul pada wajah Alia saat berkata.


“Karena itu dengan rasa terimakasih untuk selama ini yang semakin kuat untukmu akhirnya perasaan ku pada mu telah berubah dari teman menjadi cinta”


Dengan wajah yang begitu sendu Alia menatap lembut penuh harap pada Arian.


“Dan sekara aku mau berkata, aku mencintaimu” Alia memberikan senyuman manis diantara pipi yang tersirat rona merah.


Karena tidak menyangka akan mendapat pernyataan cinta kedua di dua hari berturut-turut ini Arian yang tidak tau mau menanggapi seperti apa semua yang dialaminya hanya bisa membisu saat memiringkan kepalanya untuk berpikir, kemudian sesaat mengerutkan keningnya.


Setelah menemukan tanggapan dan perkataan yang tepat di otak nya, sembari menggaruk rambutnya Arian berkata “Ma_maaf kurasa aku lebih nyaman jika kau menjadi temanku.”


Alia tertegun dan membisu beberapa saat mendengar perkataan Arian kemudian dengan pelan berkata“Seperti itukah..”


“Baiklah” suara Alia semakin mengecil hingga mirip seperti berbisik.


Alia yang tidak ingin tangisannya berlarut dengan cepat mengusap air matanya, dan dengan mata yang sembab dia pun tersenyum tipis kemudian berkata “Karena kau telah membuat seorang perempuan menangis aku akan memberikanmu pelukan hukuman.”


Alia dengan kebiasaannya yang berani dan tanpa basa-basi langsung memeluk Arian begitu erat, Arian yang tak ingin membuat Alia menangis lagi memilih untuk tidak menolak tindakan romantis dari teman masa kecilnya itu.


“Tetapi aku berjanji akan tetap mencintaimu selamanya bahkan untuk menjadi yang ke berapa pun” kata Alia dalam hati saat matanya terpejam ketika memeluk erat tubuh Arian.


Malam akhirnya tiba Arian dan keempat gadis itu menikmati santapan dari yang mereka masak dan panggang, sembari melihat dari kejauhan di arah pantai lain kembang api bermunculan menggantikan pergantian tahun dan melengkapi kebahagiaan mereka. Namun mereka tidak pernah menyangka jika kelengkapan kebahagiaan itu akan digantikan oleh peristiwa besar mencekam yang akan tiba.


***


“Rumahku...”


Rintih Arian yang berlutut saat melihat jika rumah yang ditinggalnya selama 3 hari telah rata akibat badai awan hitam seperti yang dikatakan pembawa berita pada acara tv yang ditontonnya pada sore yang cerah ini, dari apa yang dikatakan Sera dia bisa melihat jika badai itu adalah wujud tak kasat mata dari sadan.


“Sadan telah bangkit” Sera berkata.


“Kita terlambat”


Langkah kaki yang terburu-buru saat mondar-mandir di depan ruang tv vila itu muncul dari Sera yang begitu cemas dengan kebangkitan Sadan.


“Gelap” Seketika langit pun menjadi gelap padahal tadi begitu cerah, Eru pun langsung berlari menuju pintu keluar vila dan melihat keadaan langit yang telah dipenuhi awan hitam.


“Tuan putri!” kata Eru saat mengisyaratkan harus memulai pertarungan pada tuan putri nya yang sedang cemas untuk mendapatkan perintah.


“Semuanya, Sadan mendekati pantai ini” Reina yang baru pulang berbelanja keperluan liburan berkata dengan wajah yang cemas.


“Dia mencari jin lain untuk diserap energi sihirnya karena nampaknya wujud nya belum sempurna” sambung Alia yang datang bersama karena menemani Reina.


“Baiklah kita akan melawan sadan” Sera memerintah teman-temannya, dan seketika Arian dan ketiga gadis lainnya  mengikuti Sera yang duluan menuju bibir pantai untuk menghadang sadan yang telah tiba dengan wujudnya yang berbentuk siluet bertanduk hitam pekat.


Sera langsung mentransfer kekuatannya pada Arian agar suami kontraknya itu bisa bertarung dan setelah proses itu selesai Alia menembakan pistol buatan kerajaan jin miliknya dan Eru memberikan tebasan jarak jauh pada tubuh sadan, sembari terbang dan dengan tangan kosong Arian dan Sera menyerang kepala sadan mereka berempat pun dilindungi oleh pelindung yang dibuat Reina dari sihir kalung yang ia pakai.


“Kekuatan macam apa ini” kata Arian saat menyadari jika Sadan tak terluka sedikit pun.


Mereka berlima menghentikan formasi serangan dan membisu ketika tertegun dengan kuatnya Sadan yang tak terluka dengan serangan mereka.


Untung saja di situasi mendesak itu portal gerbang dunia jin muncul dan mengeluarkan ratusan prajurit kerajaan jin yang dipimpin oleh panglima kesatria yang datang bersama ibu Sera yang merupakan ratu dunia jin.


“Tuan putri, Eru kalian baik-baik saja?” Kata panglima kesatria kerajaan jin saat berlari kecil mendekati Sera dan Eru.


“Panglima, Ibu” Sera berkata saat menoleh pada ratu kerajaan jin dan panglima kesatria bersama wajah bahagianya yang lega karena datangnya bantuan.


“Kita harus menahannya agar tidak merusak dunia manusia lebih banyak lagi juga sekalian mencegah jin lain lenyap karena di serap sihirnya” dengan wajah yang tegas sang ratu mengeluarkan aura energi sihirnya yang begitu kuat untuk bersiap menyerang Sadan.


Setelah melihat ratunya yang penuh semangat sang panglima pun menunduk pada Sera di sebelahnya kemudian berkata segan “Tapi sebelum itu aku akan menyampaikan sesuatu."