
Arian baru saja membaca pesan dari pemilik rumah kosong yang memiliki segudang game kuno di dalamnya pada Smart Phone murah nya untung saja di rumah itu ada nomor telepon jika ada yang ingin menyewa rumah itu, namun dengan alasan ingin melihat-lihat rumah tersebut sebelum disewa Arian pun mendapat izin dari pemiliknya yang sekarang tinggal di luar negeri.
“Yakin nak? Kalian berdua mau masuk rumah kosong ini.”
Kata seorang bapak tetangga yang menyimpan kunci pada rumah kosong itu saat menghampiri Arian.
“Rumah ini ada penunggunya loh orang yang mau lihat diganggu terus.”
Bapak yang tampaknya sudah agak tua dengan rambut putihnya itu menyodorkan kunci rumah kosong itu pada Arian.
“Yakin pak” Arian mengangguk, kemudian menoleh pada Sera yang sedang terpana saat mengintip lewat jendela jika rumah itu memiliki banyak konsol game kuno yang tak terpakai untuk memastikan jika gadis jin itu juga yakin masuk rumah kosong ini, karena tingkah antusias dari Sera tersebut membuat Arian semakin yakin.
Bapak tua itu juga sesaat melirik Sera dengan kelakuan uniknya kemudian dengan pelan berkata “Kalau begitu saya tinggal ya...”
“Iya pak” Arian menjawab cepat.
Dengan bergidik, bapak tua itu berlari kecil meninggalkan rumah kosong itu meski ada Arian dan Sera karena begitu takut dengan fenomena ganjil selama ini yang sering dia temui.
Setelah mendapat kunci dari tetangga sekitar sang pemilik rumah dengan di buntuti Sera, Arian pun bergegas membuka pintu rumah kosong itu yang terlihat tua namun begitu berat sehingga memunculkan suara berderit yang cukup kuat saat membukanya.
Ada Aroma apak yang menyeruak keluar saat pintu itu di buka, jaring laba-laba pun menghalangi rambut Arian dan Sera sehingga membuat mereka harus menyingkirkan jaring itu sebelum masuk, bahkan saat menoleh melihat seisi rumah dinding yang kusam pun memenuhi sisi rumah itu dan dihiasi dengan beberapa ekor tikus serta kecoak yang berlarian.
Arian dan Sera sedikit bergidik melihat kondisi rumah itu sehingga membuat mereka berdua mampu menyimpulkan jika rumah ini sudah sangat lama tidak ada yang masuk untuk membersihkan apalagi hanya untuk melihat-lihat karena rumor karena ada penunggu yang menggangu setiap ada orang yang ingin memasukinya.
Dari ruang kamar yang berada pada lantai dua sesosok jin berambut panjang yang begitu kusut dengan pakaian serba hitamnya mengintip dari balik pintu ruangan gelap kamar itu sepasang manusia yang sedang masuk tempat tinggalnya.
“Ada tamu ya” dengan seringai lebar jin itu berkata dengan suara yang dalam dan berat.
“Aura ini”
Jin itu memperhatikan Sera disebelah Arian yang sedang memegangi beberapa konsol game yang tergeletak di meja ruang tamu.
Jin itu seketika memasang wajah serius kemudian bergumam “Jin kerajaan.....”
“Kalau begitu aku akan menggunakan kekuatan penuh” Jin itu mengakhiri perkataannya dan keluar ruangan kamara gelap itu untuk turun kebawah.
Di Sore hari ini masih banyak anak-anak SMA yang berkeliaran tanpa mengganti seragam sekolah mereka termasuk Arian dan Sera juga kedua anak laki-laki yang berasal dari sekolah yang sama dengan mereka yaitu Ivan dan Bobi dan saat ini sedang menyusuri jalan di dekat sekolah mereka setelah kelahan bermain bola.
“Itu kan” Ivan berkata, saat melihat Sera dan Arian yang sedang berdiri di depan Rumah kosong.
Langkah kaki mereka yang santai pun terhenti melihat pemandangan yang eksklusif dan aneh tersebut.
“Kenapa mereka berdua di depan rumah kosong?”
Tanya Ivan kemudian sesaat menoleh pada Bobi yang ada di sebelahnya.
Bobi memiringkan kepalanya dan sesaat melihat kearah langit yang mulai menjadi oranye kemudian berkata “Mereka mau melakukan hal nakal apa saat sore hari seperti ini?”
“Tapi kan mereka itu saudara jauh, tidak mungkin melakukan hal nakal” Ivan mengerutkan keningnya.
Bobi menepuk pundak Ivan dengan cukup kuat kemudian berkata dengan senyuman jahil yang cukup tipis “Hanya saudara jauh...”
“Kita bahkan tidak tau hubungan mereka itu apakah benar-benar Saudara jauh atau Sepupu, bahkan mungkin saja tidak ada hubungan darah” Bobi mulai melangkah kan kakinya dengan perlahan.
“Mereka masuk loh” kata Ivan saat melihat Sera dan Arian yang masuk ke dalam rumah kosong itu.
“Kita lihat?” Bobi berkata saat menoleh pada Ivan kemudian berlari kecil.
***
Saat turun jin serba hitam tadi mengeluarkan aura menekan yang cukup kuat pada Sera dan Arian, namun karena Arian hanya manusia biasa maka hanya Sera yang bisa merasakannya hingga membuat Sera menahan tekanan aura jin itu yang kuat dengan tangannya bagai sedang diterpa angin badai.
“Apa ini”
“Aura gelap ini”
Semampunya Sera mencoba melihat sosok jin itu dan melihat didepannya jika jin itu sangat mirip dengan mitologi yang diyakini oleh manusia di dunia ini yaitu Genderuwo.
“Dia jin yan benar-benar larut dalam keputusasaan...”
Perkataan-perkataan tersebut tidak di dengar oleh Arian karena sama hal nya dengan Sera tadi sekarang dia yang sangat kagum dan bertanya-tanya kenapa bisa ada orang yang mampu membeli banyak alat game dari tahun-tahun yang berbeda untuk koleksi kemudian meninggalkannya begitu saja di rumah kosong yang menyeramkan seperti ini.
“Game nya banyak sekali”
“Game kuno semua lagi, dasar orang kaya”
Karena tidak mendengar tanggapan apapun dari Sera, Arian pun menoleh pada gadis jin itu dan mendapati jika Sera kelihatan sedang kesusahan, Arian mengambil inisiatif dan dengan cepat membantu Sera agar tidak terjatuh oleh suatu hal yang tidak bisa dilihatnya.
Arian pun mampu melihat wujud dan mendengar suara jin besar mirip Genderuwo itu, saat tangannya yang digunakan untuk membantu mendorong tubuh Sera menyentuh pundak gadis jin itu, Arian pun langsung membisu melihat sosok jin yang cukup menyeramkan seperti itu sampai membuat mulutnya termangap karena terkejut.
“Apa keperluan kalian kesini?”
Jin itu berkata dengan nada suara yang mengintimidasi.
“Kami menyuruhmu pulang ke dunia jin”
Sera yang tak memiliki rasa takut terhadap jin itu menjawab cepat dan tegas meski sedikit terengah-engah.
“Untuk apa aku pulang, tidak ada gunanya hidup di dunia jin yang membosankan” jin itu menjawab lagi perkataan Sera sembari menoleh pada tumpukan alat game kuno di dekat Arian dan Sera kemudian melanjutkan perkataannya dengan nada yang cukup sedih “Selagi Reki belum pulang ke rumah ini aku tidak akan meninggalkan rumah ini.”
“Terserah pokoknya kau harus pulang” Sera yang tidak simpati dengan alasan jin hitam itu, mencoba mendorong tekanan Aura jin tersebut dengan kekuatan sihirnya yang mengalir lewat telapak tangannya kemudian dengan sekuat tenaga Sera akhirnya mampu menepis tekanan itu dan mampu membuat jin hitam itu sedikit terdorong kebelakang dengan kekuatan Sera.
Arian pun dengan lega melepas dorongannya untuk Sera dan memasang kuda-kuda untuk melawan jin itu juga.
“Setelah itu kami ambil sedikit dari alat-alat game ini untuk cindera mata” Sera rumah kosong itu sembari menciptakan penghalang disekitar tubuhnya demi mengantisipasi kekuatan tekanan aura gelap berlebihan dari jin hitam itu.
“Apa! mengambil sedikit dari alat-alat game ini?” sekarang gantian jin itu yang menunjuk setiap alat game yang tertumpuk maupun yang berserakan di lantai.
“Reki akan menangis jika kalian mengambilnya!”
Jin itu meninggikan nada bicaranya.
“Aku tidak akan membiarkannya” Jin itu membesarkan otot-otot pada tubuhnya, urat-urat ototnya pun mengeras sehingga akhirnya mampu membuat dirinya membesar seketika.
“Akan ku habisi kalian”
Jin hitam itu menjerit sekuat tenaga kemudian dengan taringnya dia meraung bagaikan monster yang mengerikan sehingga suaranya memenuhi rumah kosong itu.
“Groaaa”
Sera dan Arian dengan reflek menutup telinga mereka ketika mendengar raungan itu dan Arian yang terperangah dengan yang terjadi pada jin itu berkata pelan dan sedikit bergetar karena takut.
“Ji_Jin itu merubah wujudnya menjadi go_gorila?....”