
Sera hanya terdiam dengan wajah yang tak peduli saat menyaksikan gadis pemburu jin di depannya itu sedang menangis tersedu-sedu tanpa alasan yang jelas dan berbeda dengan dirinya Arian tampak panik dan bingung seraya mencoba beberapa kali menenangkan gadis pemburu jin itu.
“Sudahlah berhenti menangis” Arian menyentuh pelan pundak gadis pemburu jin itu.
Gadis pemburu jin itu sedikit mengintip dari balik tangannya saat terisak dan melirik Arian untuk beberapa saat, Arian yang menyadari lirikan itu tersenyum lebar namun senyuman nya seketika sirna saat gadis itu kembali menutupi wajahnya dengan tangan kemudian kembali menangis dengan begitu kencang.
“Hiks” gadis pemburu jin itu makin terisak.
Arian yang menyerah dengan tingkah gadis pemburu jin itu hanya bisa murung dan tertunduk kemudian bergumam pada dirinya sendiri.
“Makin kencang...”
“Aku tidak tau kau menangis karena apa!” Arian yang kali ini meninggikan nada bicaranya tampak berkaca-kaca juga karena emosional berkat kekesalannya pada tangisan tidak jelas gadis pemburu jin itu.
“Kau tidak mengenaliku?” tanya gadis pemburu jin itu saat tangisan nya mereda.
“Sumpah aku tidak mengenalimu” jawab Arian dengan penekanan wajah yang membentuk air muka jujur dan tak mengerti.
Setelah tangisannya benar-benar terhenti dengan seketika, gadis pemburu jin itu menyarungi kembali kedua pistol yang digenggam nya di samping pinggulnya seperti koboy wanita kemudian menepuk-nepuk kan kedua tangannya yang agak kotor karena memegang kedua pistol itu kemudian tangannya itu dia pakai untuk mengusap matanya yang sembab karena air mata.
Gadis itu memperbaiki ekspresi wajahnya yang berantakan dengan diganti dengan wajah yang mengeluarkan senyum tipis “Ini aku Ali.”
“Ali?” Kata Arian yang merasa heran.
Gadis pemburu jin berambut pendek putih itu mengangguk sembari menunjuk-nunjuk wajahnya didepan Arian.
“Benarkah kau Ali?” Arian pun langsung teringat teman laki-laki kecilnya yang bertetangga dengannya saat dirinya berumur 9 tahun, dan seketika Arian begitu bahagia saat mengetahui jika Ali yang tiba-tiba saja pindah keluar negeri saat itu telah kembali.
“Serius kau bernama Ali?” celetuk Sera yang merasa aneh mendengar nama yang biasanya digunakan untuk anak laki-laki tersebut.
“Namaku Alya sebenarnya tapi Arian dan beberapa teman kami sejak kecil memanggilku Ali” jawab gadis berambut pendek putih itu dengan cepat saat menoleh pada Sera yang ada di belakang Arian.
“Tapi..”
Arian beberapa kali memerhatikan tubuh ramping gadis berambut pendek putih itu agak lama dan melihat wajah cantiknya yang datang bersama rumbai rambut lurus bewarna putihnya yang cukup pendek sebatas leher dengan kulit yang putih juga.
Arian pun kemudian membandingkan dengan Ali temannya saat kecil dulu yang sangat kucel dan berkulit sawo matang juga sering memakai seragam anak laki-laki dan Arian dapat menyimpulkan hanya warna rambut lah yang sama dari Ali dan gadis pemburu jin di depannya itu, namun Arian tetap meyakini jika Ali itu laki-laki karena bagi Arian mungkin saja tidak hanya Ali yang memiliki rambut berwarna putih tersebut di dunia yang luas ini.
“ Ali itu laki-laki” Arian berkata saat menopang dagunya dengan telapak tangan.
Bola mata gadis pemburu jin yang mengaku sebagai Ali teman masa kecil Arian itu kembali berkaca-kaca kemudian dengan volume suara yang mirip seperti berbisik gadis itu berkata “Jadi benar yang dikatakan teman-teman kecil kita yang lain..”
“Dulu kau menganggap aku sebagai seorang laki-laki...”
Gadis pemburu jin itu mulai mengusap-usap matanya.
“Iya” Arian mengangguk pelan.
“Dia menangis lagi”
Celetuk Sera lagi namun kali ini menggunakan tatapan menyipit yang merendahkan dengan air muka datar.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” Arian membalas tatapan Sera dengan tatapan dingin.
Tidak tega melihat gadis pemburu jin yang masih menangis itu Arian pun mengambil inisiatif dan menyentuh kedua pundak gadis yang mengaku sebagai Ali teman masa kecilnya tersebut kemudian berkata “Iya, kalo sekarang aku tentu saja menganggap mu sebagai wanita. ”
“Benarkah?” Meski nafasnya masih tersendat gadis itu mencoba mengusap tangisannya kemudian melirik Arian kembali.
“Iya benar” Arian melepas tangannya yang menyentuh pundak gadis pemburu jin itu.
Kemudian dengan melirik kearah lain dari wajah gadis pemburu jin itu Arian dengan sedikit tersipu berkata pelan “mana mungkin aku tidak menganggap mu sebagai wanita dengan penampilan yang seperti itu.”
“Seperti apa?” gadis pemburu jin itu mengakhiri tangisannya dan dengan cepat mengusap kembali air matanya kemudian memberikan senyuman dengan seringai lebar karena begitu bahagia.
Arian sedikit melirik wajah dan tubuh gadis pemburu jin itu yang memiliki paras cantik dan tubuh ramping dengan proporsi yang sedikit berisi di bagian-bagian menarik pada tubuh wanita di bandingkan dengan Eru dan Sera yang memiliki ukuran standar yang dimiliki oleh gadis seumuran mereka.
Arian mengalihkan pandangannya saat dirinya hampir terhisap dalam pemandangan empuk dari gadis pemburu jin itu kemudian dengan sedikit tergagap dia berkata “Se_Se,seperti itu lah pokoknya.”
Entah mengerti atau tidak maksud dari perkataan Arian barusan gadis pemburu jjn itu hanya bisa tersenyum dan mengangguk beberapa kali menanggapi perkataan Arian itu dan saking bahagia nya dia tidak bisa menahan hasrat nya yang ingin sekali memeluk Arian karena senang telah bertemu kembali dan di akui sebagai seorang wanita oleh teman kecilnya yang di sukai nya sejak kecil.
Gadis pemburu jin itu melompat kearah Arian dan memeluk tubuh Arian kemudian bergumam “Syukurlah.”
Arian yang merasakan sebuah dekapan erat yang empuk, lembut nan hangat dari gadis dengan rambut putihnya yang wangi itu hampir tidak bisa menahan hasrat remaja nya, darahnya yang terpompa kuat pun tiba memenuhi kepalanya dan membuat wajahnya memerah.
“Oii” Arian pun beberapa kali mencoba melepas dekapan erat gadis itu namun karena sangat kuat Arian yang gagal mencoba akhirnya pasrah untuk menikmati pelukan itu.
Arian menoleh pada Sera dengan wajah Sendu yang merasa bersalah dan seakan ingin mengucapkan kata-kata maaf yang kelihatan dari air muka nya, namun bukannya memaklumi atau membantu Arian melepaskan pelukan gadis pemburu jin itu Sera kembali menatap Arian dengan ekspresi yang merendahkan dan begitu dingin pada suami kontraknya itu.
Arian pun merasa kesal dan dengan nada bergetar karena seolah-olah ingin menangis dia berkata “Tatapan mu itu, benar-benar jahat Sera.”
Sera menghela nafas kemudian membenarkan ekspresi wajahnya untuk kembali seperti biasa kemudian memaksa melepaskan pelukan gadis pemburu jin itu pada tubuh Arian kemudian dengan sedikit rasa amarah dia berkata “Hei” jangan seenaknya melakukan hal tidak senonoh seperti itu pada Arian!”
“Haa” gadis pemburu jin yang merasa tindakannya tidak di sukai itu melepaskan pelukan eratnya pada Arian kemudian setelah menghela nafas panjang juga dia bertanya dengan nada kesal “Memangnya siapa kau berani melarang aku?”
“Aku Istri nya!” Sera merangkul tangan Arian dan menyenderkan kepalanya pada pundak Arian untuk menunjukan kemesraan.
Arian pun hanya bisa termangap cukup lama mendengar perkataan mengejutkan Sera yang sekali lagi sangat tak ia duga akan keluar begitu lancarnya dari mulut Sera.
Kemudian diantara keadaan itu Arian menyempatkan untuk mencoba melirik gadis pemburu jin di depannya demi memastikan reaksi orang yang mengaku sebagai teman masa kecilnya itu.
“Istri?” gadis pemburu jin itu berkata.
Arian menemukan jika ekspresi gadis itu sangat mirip dengan ekspresi yang digunakannya saat ini berkat perkataan Sera.